Love is Hurt?

Love is Hurt?
Oleh: Nafisah

“Akh… “

Suara rintihan itu semakin jelas terdengar di telingaku. Aku bersembunyi di balik tembok beton yang tak jauh dari sumber suara, menetralkan degup jantungku untuk kembali normal. Langkah kakiku sengaja kupelankan agar tidak ada orang yang tahu akan keberadaanku. Aku berusaha mengintip dari balik tembok beton, siapakah gerangan yang tengah merintih kesakitan di malam hari seperti ini?

Deg!

Aku melihat Cala tengah meringis kesakitan, ia tengah bersandar di balik meja kayu sembari memegangi kakinya yang sudah berlumuran darah. Sesegera mungkin aku mendekatinya dan ia nampak terkejut melihat kedatanganku.

“Aksa, hiks tolong aku.” rintihnya sembari menangis tergugu-gugu.

Kulihat kedua matanya sembab, lengan dan kakinya pun penuh lebam.

“Cala, tenang ya, aku akan bantu kamu pergi dari sini.” Ujarku berusaha untuk menenangkannya. Wajahnya dipenuhi rasa takut, berkali-kali ia celingak-celinguk.

Kubantu Cala untuk berdiri lalu kupapah tubuh kecilnya untuk berjalan. Kuputuskan untuk membawa Cala ke rumahku untuk meminta bantuan ibu mengobati lukanya. Otakku sama sekali tidak berhenti berpikir apa yang sebenarnya terjadi dengan Cala, lebih baik aku akan bertanya dengan Cala saat dirinya sudah merasa tenang.

-flashback-

Sekitar pukul sembilan malam, aku diminta ibuku pergi membeli sate ayam. Setelah mendapatkan apa yang kubeli, aku mendengar suara rintihan di sebuah tanah kosong yang hanya berisikan sampah. Awalnya aku merasa takut, barangkali itu adalah makhluk tak kasat mata. Tapi, entah keberanian dari mana aku sudah sampai di tanah kosong nan lapang itu. Seorang gadis tengah terduduk, ia membenamkan kepalanya di kedua lututnya. Saat kepalanya ditegakkan, aku terkejut ketika melihat gadis itu adalah Cala, teman sekelasku. Ia adalah anak yang pintar dan pendiam tetapi kerap kali aku melihatnya murung di taman belakang sekolah. Aku selalu penasaran dengan dirinya, dan baru hari inilah aku menemukan Cala dalam keadaan yang terkapar lemah.

Jarak antara tanah kosong dengan rumahku cukup menguras waktu. Sekitar dua puluh menit, kami berdua sampai di rumah.

Tok tok tok

“Assalamualaikum Buk, Aksa datang!” teriakku sembari mengetuk pintu rumah.

Pintu terbuka memperlihatkan ibu yang menatapku penuh tanya.

“Aksa ini siapa nak? Kenapa ini banyak lukanya?” Tanya ibu sembari membantuku memapah Cala ke ruang tamu dan mendudukkannya ke sofa ruang tamu.

“Ibu bantu Aksa ya, obatin luka Cala, dia teman Aksa.” pintaku pada ibu. Lalu ibu mengangguk dan pergi mengambil kotak P3K dan sebaskom air hangat.

“Luka ini segera dibersihkan nak Cala, takut terkena infeksi.” tutur ibuku sembari membersihkan darah di lutut Cala.

Kulihat Cala meringis kesakitan saat ibu memberi obat merah di setiap lukanya.

“Terima kasih Ibu, Aksa,” cicitnya. Aku bisa melihat Cala menatap ibuku sangat teduh.

“Tidak apa-apa Cala, ini sudah kewajibanku sebagai teman. Apa hari ini kamu mau pulang?”

Cala langsung menggelengkan kepala, raut wajahnya begitu ketakutan. Aku dan ibuku saling berpandangan hingga ibuku menawarkan Cala untuk menginap di rumahku.

“Aksa, antar Cala ke kamar tamu ya.” Titah ibu dan aku kembali mengangguk.

“Cala, ayo kubantu untuk berjalan.” Aku memegangi bahu Cala dari samping, Ia masih diam dan terus meneteskan air mata.

Saat di kamar tamu, ibu datang membawa nampan yang berisi makanan dan minuman untuk Cala karena tubuhnya begitu lemah, wajahnya pun sudah pucat pasi. Pandangannya selalu kosong saat ibuku menyuapinya penuh sabar.

“Buk, Aksa ke kamar dulu ya.”

Ibuku tersenyum lalu membantu Cala merebahkan tubuhnya untuk tidur. Tak berhenti dari situ, ibuku mengusap pelan rambut Cala hingga tertidur pulas.

***

Pagi hari pun tiba, tepat hari ini adalah hari minggu. Aku memilih mendatangi tanah kosong tempat Cala kutemukan. Cukup satu kata yang menggambarkan tempat itu, sepi. Saat aku berjalan agak jauh, aku menemukan sebuah gubuk kecil yang terbuat dari kayu. Aku berjalan mengendap-endap, berusaha untuk tidak menginjak benda yang menimbulkan suara. Aku memilih bersembunyi dibalik tangki air yang letaknya tak jauh dari gubuk kayu. Nampak seorang lelaki tua tengah meracau, tak sekali ia meraung-raung memanggil nama Cala.

“Cala, di mana kamu nak, Ayah rindu sama kamu.” Teriaknya lalu membenturkan kepalanya berkali-kali di dinding gubuk kayu.

Aku terkejut ternyata lelaki tua itu adalah Ayah Cala.

“Ayah menyesal telah membuatmu menderita Cala.” Teriaknya sekali lagi dan kini kedua tangannya dilayangkan di dinding gubuk itu.

Dugaanku benar ternyata Cala mengalami kekerasan oleh ayahnya tapi mengapa sang ayah begitu tega. Kuputuskan kembali ke rumah untuk menemui Cala.

“Assalamualaikum Buk…” panggilku namun tak ada suara yang menyahut.

Aku memilih berjalan menuju taman belakang, terlihat ibu dan Cala sedang berkebun. Hebatnya, Cala bisa membuat ibuku tersenyum manis. Sudah lama aku tidak melihat ibu tersenyum semanis dan selega itu. Aku mengambil tempat untuk melihat mereka dari jarak jauh, mengamati setiap interaksi mereka. Cala ternyata cerewet dan jahil, ia bahkan terlihat melumuri tangan ibuku dengan lumpur begitupun juga ibuku membalas Cala penuh kasih sayang. Ibuku dulu pernah bercerita ingin memiliki anak perempuan, tapi sayang saat mengandung tiga bulan, ibu mengalami keguguran dan rahim ibu harus segera diangkat.

“Aksa” panggil ibu yang akupun tak tahu sejak kapan ibu sudah berdiri di depanku.

“Ah iya Buk, Aksa boleh bicara sama Cala sebentar?” Ibu mengangguk dan akupun menghampiri Cala yang tengah menyirami tanaman.

“Cala bagaimana kabarmu, sudah baikan?” Tanyaku membuat Cala mematikan keran air.

“Sudah Aksa, terima kasih ya atas kebaikanmu dan ibumu. Ibumu sangat baik, beliau menganggapku seperti anaknya.” Aku tersenyum singkat.

“Boleh aku tanya tentang kamu?” Tanyaku sedikit ragu takut Cala akan kembali murung. Ia terlihat diam sejenak lalu mengangguk dan tersenyum simpul.

“Semalam kamu dipukul oleh Ayahmu?” Ia mengangguk lagi.

“Kenapa?” Ia sepertinya agak risih akan pertanyaanku. Ia lalu berjalan menuju gazebo belakang rumahku.

“Ke sini Aksa, capek kalau berdiri terus hehehe.” Teriaknya sembari terkekeh.

Oh rupanya ia capek, aku mengikutinya lalu duduk di sampingnya, Memperhatikan setiap luka lebam di kaki dan dahinya. Aku yang melihatnya saja sudah meringis apalagi Cala yang merasakannya.

Cala tersenyum lebar sembari menatap langit, aku tidak pernah melihatnya tersenyum seperti itu karena seperti yang sudah kubilang Cala termasuk murid yang pendiam dan sering murung di taman belakang sekolah.

“Aksa, jika seseorang sayang sama kita apakah orang itu akan menyakiti kita?” Cala masih tetap dalam senyum lebarnya.

“Maksud kamu, love is hurt?” Aku memiringkan kepala melihat setiap inci wajah Cala, memastikan maksud pertanyaannya.

“Iya.”

Aku langsung menggelengkan kepala, bagiku tidak ada kata menyakiti jika orang itu sayang sama kita.

“Ayah selalu memukulku Aksa.”

Cala mengambil napas panjang, Aku masih menunggunya berbicara.

“Setiap kali aku bertanya mengapa selalu memukulku, jawabannya cuma satu karena aku mirip mama saat muda.”

Aku terhenyak mendengar jawaban Cala. Tidak habis pikir, lantas mengapa ayahnya menyakitinya hanya karena wajahnya mirip dengan istrinya?

“Kenapa memangnya dengan mama kamu?”

Cala menggelengkan kepala, ia tidak tahu alasan ayahnya. Katanya saat ayahnya melihat dirinya, ayah selalu uring-uringan lalu memukulnya hingga dirinya kesakitan.

“Tapi Aksa, setelah Ayah memukulku, Ayah langsung memberikan obat merah untukku lalu memelukku begitu erat, Ayah selalu bilang kalau Ayah sayang padaku.” Jelasnya membuatku semakin bertanya-tanya ada apa dengan keluarga kecil Cala.

Hebatnya, Cala menceritakan itu tanpa mengeluarkan setetes air mata, ia malah tersenyum lebar seakan ia tak pernah disakiti oleh ayahnya.

Aku menghela napas gusar saat Cala tersenyum bahkan tertawa hambar, tapi aku bisa melihat dengan jelas kepedihan di matanya.

“Lalu, apa kamu akan kembali ke ayahmu?”

Cala diam, kedua tangannya terkepal begitu kuat lalu ia mengangguk begitu saja tanpa menatapku.

“Kemarin, aku lihat ayahmu menyesal dan mengatakan bahwa beliau merindukanmu.” Cala melihatku tajam dan mengernyit heran.

“Maaf aku lancang ikut campur.”

Aku hendak pergi meninggalkan Cala, membiarkan dirinya asik dengan pikirannya namun, ia malah mencekal pergelangan tanganku.

“Tidak apa-apa.”

Aku berbalik menatap kedua Netra yang sayu itu.

“Cala, bagiku tidak ada yang namanya love is hurt, mungkin masa lalulah yang menyebabkan ayahmu bersikap seperti itu.”

Cinta dan kasih sayang tidak akan pernah menorehkan luka, mereka akan bertahan jika pikiran dan hati kita sinkron, tidak ada penghambat ataupun pengganggu di dalamnya.

nike-air-force-1-shadow-lucky-charms-dj5197-100-date-sortie | 001 Sale – Discount Nike Air Max 90 PRM Light Smoke Grey DA1641 – mint green nike mens shoes for women pants

Related posts

Leave a Comment