MENGANGKASA

MENGANGKASA
Oleh: Dandy

“5 Tahun lagi apa yang akan kamu lakukan?”

Pertanyaan itu dilontarkan tepat di telinganya. Membuat mulut yang sibuk menyedot boba terhenti sejenak dan bola mata Angkasa tertuju tepat ke senyuman Wulan.

“Apaan sih, Bul?”

“Ya jawab aja.”

Angkasa menengadah ke atas dan menarik napas.

**

Sekelebat bayangan tersebut kembali muncul di ingatan Angkasa. Satu cup boba  favorit Wulan tergeletak di samping meja kerjanya. Ya, dia adalah Angkasa, manusia standar tanpa minat. Jika ada yang bertanya. Apa sih sebenarnya yang Angkasa suka? Jawabannya…, semua.

Iya. Semua.

Dia suka bola, tapi saat melihat drama Koreapun kadang dia sampai meneteskan air mata.

Dia suka olahraga, tapi juga sering menghabiskan waktu dalam bidang gerak tubuh lainnya, yaitu tari, yang lekat dengan perempuan.

Angkasa berjam-jam belajar memperbaiki motor, walau hasilnya rantainya semakin kendor. Sering pula dia bergelut di dapur dan ibunya tak sekali memergokinya, pun saat Angkasa meninggalkan makanan hancur. Teruntuk ukuran anak yang suka berdiam diri di rumah, nyatanya Angkasa tidak masuk kriteria itu. Dia sering nongkrong berhari-hari tidak pulang. Dan sering berhari-hari berdiam diri di kamar. Namun, semua hambar, Angkasa hanya tersenyum, tidak bahagia.

Satu-satunya yang menarik minat pria tinggi itu adalah gadis aktif yang suka jalan-jalan dan memenuhi galeri foto Angkasa. Boba menjadi list teratas minumannya. Walau terkadang was-was terkena gula darah. Tumblr cantik terhias di kamarnya. Bersanding dengan poster bola dan bahkan beberapa band metal. Gelang tali yang sudah mulai usang masih terpasang di tangan kirinya. Ya, bahkan foto Wulan masih terselip di dompetnya.

Wulan, Favoritnya.

Angkasa terburu-buru meremas tiket pesawat yang ada di tangannya saat terdengar suara langkah mendekati bangkunya. Gery menatapnya dari samping sekat yang membatasi tiap karyawan di kantor ini. Mendecak kesal saat tahu ada boba sudah dibuka di samping Angkasa.

“Dua tahun lagi lo harus rajin cek gula darah,” ucap Gery sembari melirik sedikit ke arah Angkasa.

“Kemungkinan dia juga, siapa tahu dokternya sama.” Ucap Angkasa pelan sembari mengembalikan tiket pesawat yang semula berada di dompetnya.

“Hahaha, bedanya dia dianter suaminya.”

“Kemungkinan suaminya itu lo,” tambah Gery dengan cepat saat dia ditatap dengan tatapan tak meneduhkan dari Angkasa.

“Udah dua tahun, gue akui kegigihan lo, tapi yakin?” Lanjut Gery cepat-cepat sebelum melangkah menjauh kembali ke kursinya. Angkasa hanya tersenyum.

**

“Nyelesaiin desain baju yang gue buat, nyelesein rekaman youtube. Dengerin lagu rolling stones, lanjut belajar masak, bener.”

“Ih gak ada anak?” protes Wulan, “Mana banyak banget lagi.”

“Ah hehehehe,” Angkasa menyeringai.

“Kalo aku pastinya udah nikah, nidurin anakku saat kerjaan rumah udah selesai semua.” Wulan menyeringai.

“Dan Rebahan enaaa,” ucapnya girang. Angkasa tertawa, “Iya gue yang mijitin kaki lo yang capek seharian.”

“Dih, emang siapa lo?” tanya Wulan mencibir, tapi sembari menyembunyikan semburat merah di pipinya.

“Kek yang mau nikahin aku aja.” Tambahnya. Angkasa terbahak-bahak, lalu mengarahkan rambut Wulan ke belakang telinga, “Iya, kalau enggak, di mana bulan akan mengangkasa?”

**

Wulan terkejap-kejap di kursi pesawatnya. Menatap jendela yang sudah tertutup dan langit yang masih gelap. Pelan-pelan dia memegangi kepalanya memikirkan sekelebat kejadian yang barusan saja muncul.

“Berapa jam lagi?” tanya Wulan Memandang cowok tinggi di sebelahnya.

“Dua jam.” Jawabnya setelah melihat jam tangannya, “Tidur lagi aja. Ngapain bangun sih?” sambungnya sambil memperbaiki posisi duduk Wulan.

Do U wanna get some food?” Wulan menggeleng dan menyandarkan kepalanya ke bahu si cowok. Mendesah pelan dan menggumam, “Bulan sekarang sedang mengangkasa”

“Apa?”

“Gapapa, Mike.” Wulan memejamkan matanya pelan, di dalam lubuk hatinya menginginkan bayangan itu berlanjut lagi.

**

“Mengangkasa?” Tanya Angkasa meminta penjelasan ke Wulan

“Iya, papa minta aku buat lanjutin kuliah di luar negeri.”

“Terus kerjaanmu disini?”

“Sayang, ini kan juga buat masa depan yang lebih baik juga.” Wulan memegang tangan Angkasa

“Kita jadi jarang ketemu.” Angkasa tersenyum getir ucapannya terpotong untuk mengucap terima kasih ke pelayan yang membawakan pesanan mereka.

“Aku beli boba sendiri dong.”

“Jangan banyak-banyak ishh.”

“Tapi kan kesukaan kamu.”

“Sesuatu yang berlebihan itu enggak baik.” Wulan mendesah, “Seperti kekhawatiranmu ke aku.” Ucapnya lirih.

Angkasa mengangkat alisnya. Tak mengerti.

“Kita bisa tetep jalanin hubungan ini, aku cuma kuliah di sana. Lagian kan kejar gelar S-2.” Wulan melanjutkan, “Gak selama kita dulu.”Angkasa hanya menatap kosong ke mata Wulan. Terlihat jelas menahan air matanya.

“Asa!” Wulan meninggikan nadanya.

“Bulan.” Angkasa memegang kedua tangannya, “Kau menapak Angkasa yang lebih tinggi.”

“Ini bukan alasan untuk itu, setahun lagi kita bertemu.”

“Iya, tangan kananmu digandeng bule yang tingginga 180 cm dan pakaianmu separuh bahan?”

“Jangan konyol. Kamu gak percaya aku?”

“Siapa yang tidak takut? Di kampus yang sekarang aja, kamu jadi idola.”

“Terus?”

“Gadis Indonesia banyak yang suka di Belanda.” Wulan mendesah, “Kamu bikin aku kecewa Saa.”

**

Dua tahun sudah perdebatan itu berlalu. Namun, setiap detail kata-kata kasar yang diucapkan oleh Wulan, serta alasan yang dikemukakan olehnya masih teringat jelas. Esoknya di bangku kerjanya terselip selembar tiket pesawat yang bertujuan Rotterdam. Angkasa memilih menyimpan tiket itu di dompetnya sebagai barang terakhir yang disentuh Wulan dengan tangan halusnya. Sudah semestinya tiket itu mendapat tempat spesial.

Dia tak mau sidik jari ini nantinya dipegang oleh petugas bandara dan disobek pramugari, lalu terbuang di antara lembaran tiket sobek yang berkumpul di bawah pesawat. Tidak! Wulan akan kecewa karena tangannya selalu dia jaga tetap wangi dengan hand parfume yang sekarang selalu dia beli.

Langkahnya terhenti di depan outlet boba yang selama ini rajin dia datangi. Salah satu yang paling ramai di kota. Bahkan sudah 5 kali berganti pegawai. Semuanya mengenal Angkasa. Senyum ramah, mata teduh dan perawakan tinggi tentunya hal yang tak bisa dilewatkan oleh beberapa pegawai wanita di sini.

“Hai Tiara.” Angkasa menyapa dengan ramah.

“Hai, Mas Asa. Biasa `kan?”

“Gulanya kurangin sedikit lagi ya,”

“Hahaha kemanisan ya?” tawa Tiara, “Mas Asa udah manis sih.” Angkasa hanya tertawa. Matanya menoleh ke kanan dan ke kiri, lalu menemukan meja favoritnya sudah terisi.

“Bentar ya mau cari meja dulu.”

“Oh iya tadi udah terisi ya mejanya, cewek cantik tahu yang duduk.”

“Oh iya?” Tanya Angkasa

“Iya, Mas. Sama cowok ganteng lagi, agak bule gitu.” Angkasa mengernyit dan menoleh ke bangku tersebut. Seketika matanya melebar, terkejut. Rambutnya mungkin sedikit lebih panjang, kulitnya lebih putih, tapi tatapan matanya masih meneduhkan. Pakaiannya tidak terlalu mencolok, sangat pas karena yang memakainya sudah memiliki sinar yang sangat terang. Itu yang Angkasa suka. Bulan yang ini tidak butuh bantuan cahaya matahari.

“Mas?” Tiara membubarkan lamunannya. Dan memberikan boba pesanan Angkasa.

“Makasih.” ucapnya singkat dan segera melangkahkan kakinya ke meja yang dituju. Mike mengernyit dan mengarahkan dagunya ke belakang. Sementara Wulan refleks menoleh. Angkasa membeku dan terhenyak. Dia Wulan. Sumber cahayanya ketika malam datang. Dengan berdehem dia mendekat dengan senyum yang selalu Wulan banggakan di tiap malamnya.

“Hai, Bul.” Lirih sekali suara Angkasa hingga di telinga Mike terdengar seperti panggilan Bol.

“Hai, Sa.” Wulan merapikan rambutnya yang tiba-tiba terasa berantakan.

“Gimana kabar kamu?”

“Baik kok, Sa.”

“Harusnya udah balik ke sini ya?” Angkasa mendehem, “Dua tahun cepat ya.” Wulan hanya mendehem tidak mampu mengeluarkan semua kata-kata yang selalu dia rencanakan ketika dia bertemu pria yang telah mengecewakannya ini.

“Ehem.” Mike ikut mendehem, merasa diabaikan dan memandang lurus ke mata Angkasa.

“Oh kenalin, Mike.” Wulan mengenalkan Angkasa.

“Angkasa.” Angkasa mengulurkan jabat tangan sambil mengenalkan dirinya.

“Mike,” tegas dan besar tangannya dirasa Angkasa.

“Ke sini sekalian perpisahan,” Wulan seperti berbicara dengan dirinya sendiri.

Graduate?” Angkasa tertawa, “Tepat waktu ya.” 

“Iya, Sa.”

“Bagus buat kamu, Bul. Eh, Wul maksudnya.”

“Kenapa Bul?” Ucap Mike dengan aksen yang jelas terbata-bata dengan bahasa Indonesia.

Moon.” Angkasa tertawa ketika Wulan dengan muka malas menjelaskan ke Mike. Mata Wulan tertuju ke cup yang dibawa Angkasa, persis dengan pesanannya.

“Sudah malam, gue gak mau ganggu kalian ini,” dengan suara keras dia menyedot boba dan berdehem, “Maaf kebiasaan.”

Wulan menganga dengan mata terbuka tak percaya. Iya, itu kebiasaannya.

“Itu Angkasa, Kak? Yang sering kakak ceritakan?” Mike bertanya dengan menyedot boba di depannya. Wulan hanya mengangguk kecil dan menaruh ponselnya dengan notifikasi terkirim ke Angkasa.

Wulan: “Langit sedang cerah? Bulan hendak kembali mengangkasa?”

Related posts

Leave a Comment