Mengemis = Kemunduran mental sosial

M. Ziyan Takhqiqi Arsyad10)

 

“Kesejahteraan tidak akan lepas dari pandangan masyarakat terhadap sekelumit kelompok sosial”

 

Sikap sosial di masyarakat tidak selalu membawa dampak yang komperhensif. Sikap memberi kepada pengemis kini menjadi stimulan memunculkan lebih banyak tangan-tangan peminta. Seakan-akan niat tulus untuk membantu sesama menjadi salah arah. Munculah konflik antara niat memberi dan pikiran sadar yang tak ingin melatih orang menjadi peminta. Hal tersebut tidak boleh terus dibiarkan agar tercipta kehidupan selaras seperi yang diharapkan.

Pengemis menurut saya merupakan orang yang terlatih menjadi peminta. Sangat disayangkan profesi pengemis utility value terhadap kehidupan sosial sangatlah rendah. Utility value atau nilai guna salah satunya diukur dari seberapa berguna atau apa timbal balik yang diberikan dari suatu perlakuan. Limited utility value menjadi problematika karena pengemis tidak memiliki nilai sosial dan strata sosial yang diakui masyarakat. Siapapun mereka, pengemis ada dan masih menjadi bagian dari masyarakat meskipun mereka kecil dan dikecilkan.

Berhenti pada nilai guna dalam kehidupan sosial, pengemis memiliki sisi kehidupan lain yang mampu menembus suatu strata dalam ukuran ekonomi. Kondisi demikian terjadi jika penghasilan pengemis melebihi rata-rata penghasilan masyarakat di Indonesia, dapat dipersempit Jawa. Menurut dapat survei rata-rata penghasilan masyarakat indonesia antara 2-4 US $, sedangkan pengemis setiap harinya bisa mengumpulkan sekitar 100 ribu atau 10 US $ (Kompas.com). Nilai penghasilan yang segitu besar dapat memenuhi kebutuhan berskala mewah. Jika diukur, terjadi simpangan sekitar 6-8 US $ yaitu 2 kali lipat penghasilan rata-rata masyarakat Indonesia. Dari ukuran ekomomi pengemis bisa dikatakan makmur.

Pasti ada kondisi keterkejutan masyarakat luas jika tahu penghasilan pengemis bisa mencapai berjuta-juta sebulan. Jika melihat kondisi sosialnya tidak meyakinkan  namun pengemis memiliki kematangan secara ekonomi dan memenuhi kebutuhan materilnya. Disinilah yang tidak boleh dibiarkan jika “manusia” sudah puas dengan kecukupan materi saja. Manusia tidak akan memiliki eksitensi diri jika tidak berkontribusi kepada orang lain. Materialisme dan hilangya eksistensi diri di mata manusia lain, lama-kelamaan dapat membunuh rasa saling membutuhkan sebagai makhluk sosial. Kekhawatiran tersebut mungkin sangat berlebihan untuk masalah pengemis. Yang tidak saya inginkan rasa saling tidak percaya yang nantinya memunculkan sikap saling tidak membutuhkan.

Kunci dari problematika dalam wacana ini yaitu: sikap sosial salah arah, utility value, dan kecukupan material. Rasa sosial akan bangkit jika seseorang peduli pada orang lain atau seseorang melakukan hal untuk kepentingan umum. Di Inggris dikenal kerja sosial untuk hukuman pelanggaran publik, misalnya lalu lintas. Jika kerja sosial diterapkan akan dapat menjaga rasa sosial terhadap pengemis. Jika setiap pengemis diberikan tanggung jawab sosial tertentu. Jika pengemis mau balas budi. Entah mimpi apa itu.

Anggap saja kerja sosial ialah balas budi pengemis kepada orang-orang yang telah mengisi tengadahan tangannya. Misalanya sekelompok pengemis diberikan tanggung jawab membersihkan fasilitas publik terntentu bersama-sama pegawai kebersihan. Atau membantu tugas-tugas publik yang lain. Setidaknya dengan upaya kerja sosial pengemis memiliki kontribusi langsung terhadap masyarakat. Hal tersebut tidak akan membuat pandangan masyarakat terhadap pengemis selalu buram.  Namun, pengelolaan operasional untuk kerja sosial sebagai “suatu gerakan balas budi” apakah suatu hal yang solutif masih perlu dipertimbangkan lagi. Saya hanya tidak ingin melihat “peminta-minta” terus bermental peminta-minta dan nantinya menular dan turun-menurun.

 

“Setiap kelompok manusia pasti dijangkiti patologi sosial tertentu”

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *