MENGOPTIMALKAN LITERASI “MELEK” SAINS DI KALANGAN MILENIAL DENGAN PENDEKATAN PEMBELAJARAN SAINTIFIK

MENGOPTIMALKAN LITERASI “MELEK” SAINS DI KALANGAN MILENIAL DENGAN PENDEKATAN PEMBELAJARAN SAINTIFIK
Oleh : Ghilmani Firdausiyah

Dari tahun ke tahun ilmu sains terus mengalami perkembangan dengan sangat pesat. Ilmu sains memiliki banyak peranan penting dalam kehidupan modern saat ini, tetapi, bagi orang dengan Pendidikan relative rendah mengindikasikan tingkat “melek” atau literasi sains (scientific literacy) yang kurang, sehingga masih harus terus dipupuk. Hal ini dirasa kurang ideal dengan minat masyarakat dalam pengetahuan sains yang tumbuh sejajar dengan perkembangan sains terkini yang sangat pesat. Dalam pembahasannya, terdapat beberapa konteks tentang pentingnya literasi sains bagi masyarakat khusunya generasi milenial, di antaranya dipandang dari sudut: personal, budaya dan ekonomi. Dalam sudut pandang personal menyatakan bahwa literasi sains membantu orang merespon masalah dan tantangan yang muncul, khususnya ketika sains atau ilmu pengetahuan memberi seorang individu kemampuan untuk mengambil keputusan tanpa terpengaruh oleh pendapat orang lain, saat mereka dihadapkan dengan masalah yang memiliki dampak yang besar secara sosial (Zannati, 2019). Roda manusia akan terus berputar, manusia akan selalu dihadapkan dengan berbagai masalah yang menuntut keputusan individu, seperti yang menyangkut gaya hidup, kesehatan dan konsumsi bahan dan energi, di mana dalam hal ini pemahaman sains dapat membantu setiap individu untuk mengambil suatu tindakan atau keputusan berdasarkan informasi yang telah didapat dengan tujuan menjalani kehidupan yang lebih berkualitas. Memandang literasi sains dari sudut pandang budaya menyatakan bahwa literasi sains adalah gagasan, yang mana dalam penerapannya sains menawarkan beberapa pemikiran yang lebih terbuka dan lebih kritis. Dari perspektif ini, ilmu adalah kegiatan proses berpikir, budaya berpikir, budaya penting yang menawarkan cara untuk memahami dunia dan karena itu harus menjadi bagian dari hidup manusia (Zannati, 2019).

Literasi sains dalam sudut pandang ekonomi berkaitan dengan dorongan untuk mendidik masyarakat dengan ilmu pengetahuan. Masyarakat yang “melek” sains menjadi salah satu kunci keberhasilan penerapan sains dan teknologi yang bijaksana di sebuah negara, karena sejatinya negara yang masyarakatnya terbiasa dalam pola pikir ilmiah serta memiliki antusiasme untuk mengetahui dan memahami lingkungannya, akan menjadi negara yang maju dan makmur yang nantinya akan berdampak pada perekonomian negara tersebut. Ekonomi negara maju membutuhkan masyarakat yang terampil secara ilmiah dan teknologi, yang mengisi pekerjaan di bidang sains atau profesi yang terkait teknologi, seperti ilmu komputer dan teknik, dan untuk banyak pekerjaan yang membutuhkan pengetahuan tentang sains dalam masyarakat saat ini, seperti peneliti, dokter, dan konstruksi (Hanushek and Woessman, 2016). Dari beberapa sudut pandang tersebut dapat membantu menginformasikan pemahaman dan definisi literasi sains. Hal ini karena definisi literasi sains telah berkembang dan bergeser dari waktu ke waktu untuk mengakomodasi perubahan ide tentang sains (National Academies of Sciences, Engineering, and Medicine, 2016).

Terdapat beberapa definisi literasi sains, salah satunya dikemukakan oleh Organization for Economic Co-Operation and Development (OECD). Menurut lembaga ini, scientific literacy (melek sains) adalah kapasitas penggunaan pengetahuan ilmiah untuk mengidentifikasi persoalan dan menarik kesimpulan berdasarkan bukti-bukti sebagai upaya untuk memahami dan membantu pembuatan keputusan terkait dengan alam dan perubahan- perubahan yang ditimbulkan oleh manusia terhadap alam. Definisi itulah yang dipakai OECD sebagai rujukan dalam pengembangan Programme for International Student Assessment (PISA). Program ini ditujukan untuk menilai tingkat literasi siswa sekolah menengah atas di negara-negara yang tergabung dalam OECD maupun tidak secara sukarela. Setiap tiga tahun sekali, sejak tahun 2000, OECD menerbitkan laporan mengenai tingkat literasi sains. Saat melakukan riset terhadap publik AS (2007), John Miller, Direktur International Center for the Advancement of Scientific Literacy, mendefinisikan literasi sains ke dalam bahasa yang lebih praktis dan lebih mudah dipahami yakni apabila kita dapat memahami isu-isu ilmiah yang dipublikasikan di majalah dan surat kabar umum, apabila kita mampu membaca laporan tentang lubang ozon sama mudahnya seperti membaca berita sepak bola, berarti kita melek sains. Sedangkan menurut PISA (Programme for International Student Assesment) literasi sains sebagai kemampuan menggunakan pengetahuan untuk mengidentifikasi isu-isu ilmiah, mengidentifikasi pertanyaan dan menarik kesimpulan berdasarkan bukti ilmiah dalam rangka proses untuk memahami alam (Zannati, 2019). Berdasarkan definisi-definisi tersebut, secara umum, literasi sains berarti pemahaman yang luas mengenai konsep-konsep dasar sains.

Literasi sains tidak hanya tuntutan bagi ilmuan saja, tetapi juga penting dimiliki oleh semua kalangan termasuk generasi milenial. Generasi milenial merupakan generasi penerus bangsa yang merujuk pada orang-orang yang lahir alam periode waktu awal 1980-an hingga pertengahan 1990-an dan awal 2000-an yang sebagian besar masih mengenyam bangku pendidikan. Generasi milenial dituntut untuk mampu menghadapi berbagai tantangan pada abad 21. Literasi sains membantu generasi milenial untuk membentuk pola pikir, perilaku, serta membangun karakter manusia yang peduli dan bertanggung jawab terhadap dirinya, masyarakat dan lingkungannya. Kemampuan literasi sains merupakan hal fundamental yang harus dimiliki oleh generasi milenial khususnya pelajar dalam menghadapi era global untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup dalam berbagai situasi dan problematika kehidupan. Literasi sains merupakan kemampuan untuk memahami sains, mengomunikasikan sains, serta menerapkan kemampuan sains untuk memecahkan suatu masalah yang nantinya menjadi bekal dalam lingkungan masyarakat. Meningkatkan kemampuan literasi sains di samping memerlukan motivasi dari pelajar, pengajar juga perlu mempertimbangkan pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan kondisi dan potensi pelajar yang mana pada proses pembelajarannya menitikberatkan pada pemberian pengalaman langsung dan pengaplikasian hakikat sains untuk menunjang kemampuan pelajar dalam literasi sains perlu dilakukan suatu pendekatan pembelajaran yang menggunakan kaidah-kaidah keilmuan sains yaitu pendekatan saintifik (scientific approach). Abidin (2014) mendefinisikan pembelajaran saintifik sebagai pembelajaran yang dilandasi pendekatan ilmiah dalam pembelajaran yang diorientasikan guna membina kemampuan pelajar memecahkan masalah melalui serangkaian aktivitas inkuiri yang menuntut kemampuan berpikir kritis, berpikir kreatif, dan berkomunikasi dalam upaya meningkatkan pemahaman pelajar. Pembelajaran saintifik memungkinkan pelajar untuk menemukan keterkaitan dan menikmati pengetahuan mereka, meningkatkan kapasitas kreatif dan tanggung jawab mereka dalam menyelesaikan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Sejalan dengan hal tersebut, kemampuan literasi sains pelajar pun akan terbangun dengan sendirinya dan akan berkembang selama proses pembelajaran berlangsung (Bybee & Mccrae, 2011). Langkah-langkah dalam pembelajaran saintifik terdiri dari 1) mengamati, 2) mengajukan pertanyaan, 3) melakukan penggalian informasi, 4) menalar, dan 5) mengomunikasikan (Abidin, 2014). Pembelajaran saintifik perlu diterapkan di setiap instansi pendidikan karena melalui pembelajaran ini pelajar dapat menggunakan pengetahuannya untuk memecahkan masalah tertentu dalam kehidupannya.

Ilmu sains memiliki sifat spesifik, sehingga literasi sains harus terus ditanamkan pada masyarakat khususnya generasi milenial, tujuannya adalah agar terbentuk masyarakat yang bertanggung jawab dan kompeten untuk dapat memahami dalam mengambil keputusan terkait dengan sains yang berpotensi untuk menjadi solusi masalah pangan, pertanian, penyembuhan penyakit dan masalah lingkungan. Oleh karena itu, bacaan ini dapat memberikan gambaran dan pemahaman tentang pendekatan pembelajaran saintifik untuk meningkatkan literasi sains di kalangan generasi milenial. Pengajaran dan penerapan metode ilmiah yang baik sangat dibutuhkan untuk menumbuhkan kesadaran pelajar akan pentingnya literasi sains. Hal ini dikarenakan masyarakat yang “melek” sains menjadi salah satu kunci keberhasilan penerapan sains dan teknologi yang bijaksana di suatu negara.

Daftar Pustaka

Abidin, Y. 2014. Desain Sistem Pembelajaran dalam Konteks Kurikulum 2013. Bandung: Refika Adiatama.

Bybee, R., & Mccrae, B. (2011). Scientific Literacy and Student Attitudes: Perspectives from PISA 2006 science.International Journal Of Science Education, 331 (1), 7-26.

Hanushek E dan Woessman L. (2016): Knowledge capital, growth, and the East Asian miracle. Science, 351(6271), 344-345.

National Science Board (NSB). (2016). Science and Engineering Indicators, 2016. Arlington, VA: National Science Foundation.

Zannati, Anky. 2019. Literasi “Melek” Sains Dan Bioteknologi. Pusat Penelitian Bioteknologi – LIPI, Volume 10.

Related posts

Leave a Comment