MENULIS ESAI BERSAMA TIA SETIADI

1
239

Tulisan merupakan rangkuman dari workshop menulis esai sastra yang diadakan oleh Pelangi Sastra Malang dan Kafe Pustaka UM pada 30 Januari 2016.

 

Penulis esai harus tahu di mana ia berdiri, untuk apa, dan bagaimana cara ia menerjemahkan setiap gagasan dalam bentuk kata-kata. Esai bukan hanya kumpulan subjektivitas gagasan yang ‘unik’. Lebih dari itu, esai merupakan perspektif atau cara pandang terhadap persoalan kehidupan. Perspektif tiap-tiap kepala berbeda dan keberbedaan itulah yang akan menuntun ke mana arah sebuah tulisan akan dibawa.

Tia Setiadi, seorang esais, pada Minggu (30/01/2016) lalu memberikan kiat-kiat dalam menulis esai (khususnya esai sastra). Kiat-kiat tersebut terangkum dalam workshop menulis esai sastra yang diadakan atas kerjasama antara Pelangi Sastra Malang dan Kafe Pustaka Universitas Negeri Malang (UM). Acara yang berlangsung dari pukul 09.30 hingga 12.09 WIB ini mencoba mengurai seluk beluk esai terutama dalam hal kepenulisan.

Esai menjadi perbincangan menarik. Karya tulis yang lebih mirip seperti ulasan ini begitu renyah dibandingkan karya tulis lain, misalnya opini. Opini menuntut tawaran solusi dari permasalahan. Oleh sebab itu dibutuhkan ketajaman analisa suatu permasalahan. Bahasa yang digunakan cenderung ketat, sistematis dengan mencantumkan referensi yang jelas sehingga  menghindari ambiguitas. Sebaliknya, esai tidak menuntut demikian. Esai memiliki bahasa yang lincah seolah-olah ia dapat menari tanpa beban namun sarat akan terobosan baru yang tidak begitu dipaksakan. Untuk itu Tia menegaskan kembali bahwa esai tidak tertarik untuk menggurui pembaca. Dengan demikian, konsekuensi penggunaan bahasa perlu diperhatikan matang-matang. Sebisa mungkin hindari kata-kata ini harus dilakukanseharusnyaharus disadari, kita harus waspada, atau kata himbauan lain yang seolah-olah menjadikan esai sebagai solusi utama untuk menyelesaikan persoalan. Kelincahan bahasa esai dapat terlihat, salah satunya, dari penggunaan rima atau keselarasan bunyi di tiap kalimatnya. Hal ini tentu sah asalkan makna yang diusung tetap utuh dan mampu tertangkap dengan baik oleh pembaca.

Di awal telah dijelaskan pentingnya perspektif yang akan menjadikan pembeda antar esais satu dengan esais lain. Perspektif itu yang pada akhirnya menjadi kekuatan esai yang sejati. Sokongan unsur subjektivitas harus kuat sehingga seringkali teori harus dikesampingkan. Teori dalam esai bukan merupakan unsur utama. Tanpa disadari, banyak penulis yang mengutip teori sana-sini dengan alasan agar tulisan mereka terasa kuat padahal hal tersebut justru memperburuk kualitas esai, sebab teori hanya digunakan untuk memperkuat gagasan penulis, bukan penentu arah tulisan. Oleh sebab itu, seorang esais harus memiliki pengetahuan yang luas, memiliki sudut pandang yang unik, rasa ingin tahu yang tinggi dan yang terpenting adalah memiliki kepekaan terhadap sisi-sisi kehidupan atau permasalahan sekitar.

Untuk mengembangkan kemampuan tersebut (apalagi esais awam) disarankan banyak membaca esai dari Asrul Sani, Iwan Simantupang, Gunawan Muhammad, Putu Wijaya, dan lain sebagainya. Dengan membaca berulang-ulang karya mereka, penulis dapat mengetahui sudut pandang atau keunikan gagasan oleh esais tersebut. Harapannya adalah dapat digunakan sebagai model (gaya tulisan) dalam menulis esai. Pada awalnya memang seperti menjiplak, akan tetapi lama-kelamaan penulis pasti akan menemukan ke-aku-an yang cocok dalam karyanya.

Kekuatan esai selanjutnya terletak pada judul dan paragraf pertama. Penulis sebaiknya menghindari kata peranannya, implemetasi (buat judul yang padat dan langsung pada topik utama, misalnya Difabel Jangan DilabelGosip dalam Cerpen Royan Julian). Paragraf pertama harus mampu menggiring pembaca untuk lebih tenggelam dalam esai. Salah satu caranya adalah memasukkan pengalaman pribadi (hal ini yang akan menjadi pembeda). Pengalaman itu merupakan ilustrasi yang konkrit sehingga pembaca mampu tergerak hatinya dan seluruh jiwanya. Membayangkan seolah-olah kejadian tersebut nyata di depan mereka. Kemudian barulah dibahas secara mendetail berdasarkan pandangan pribadi (tambahkan referensi untuk bumbu penyedap). Gagasan yang diutarakan sebaiknya terfokus pada satu persoalan (persoalan dipersempit) kajiannya lah yang diperdalam agar tidak melebar kemana-mana). Apabila dipertanyakan, “Bagaimana esai yang bagus itu?” Jawabnya,

Esai (gagasan) yang bagus terlahir dari karya-karya yang bagus.

Oleh sebab itu, mulai sekarang, biasakan baca buku yang berkualitas dan nikmatilah setiap teguk kesegaran di dalamnya. Selamat menulis esai!

 

—Siti Mahmudah,

anggota aktif UKMP, Jurusan Sastra Indonesia 2012 Universitas Negeri Malang (UM)

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here