Menyikapi Fakta Homoseksual

 

Oleh Royyan Julian

            Apa yang Anda rasakan ketika mendengar kata ‘homoseksual’? Barangkali Anda akan merasa benci dan jijik mendegarnya. Barangkali Anda juga akan berkata, “Bagaimana mungkin dia bisa menyukai sesama jenis?” Lantas, Anda akan berkata bahwa ia melanggar kodrat yang diturunkan langit kepadanya. Anda akan mengatakan bahwa dia yang homoseksual tidak pantas menginjakkan kakinya di bumi ini. Para homoseksual harus dikucilkan.

Sebenarnya, bila kita mengetahui fakta di balik homoseksual, barangkali pikiran kita akan berubah, bagaimana seharusnya memandang kaum homoseksual. Menjadi homoseksual bukanlah pilihan seseorang, tetapi merupakan bawaan sejak lahir. Fakta kedokteran menunjukkan bahwa laki-laki homo adalah laki-laki yang kekurangan hormon testosteron dan kelebihan hormon estrogen, sehingga sifat cinta sesama lelaki mendominasi libidonya. Begitu pula dengan perempuan lesbian. Dengan kata lain, homoseksual bukan muncul ketika ia berjumpa dan terpengaruh lingkungan sosialnya, tetapi dapat dikatakan bahwa homoseksual adalah cacat bawaan. Ia tak ubahnya seperti anak autis, idiot, atau anak bibir sumbing. Jadi, bila kita menghina kaum homoseksual, sama halnya dengan kita menghina anak yang lahir tanpa kaki.

Ketika masyarakat menghujat para kaum homoseksual lantaran dianggap perbuatan yang keji, tentu saja hal ini terjadi lantaran pola pikir kita selama ini lebih terorientasi pada nilai heterosentris. Artinya, kita memandang bahwa suatu pasangan dapat dikatakan wajar apabila antar individu dalam satu pasangan itu memiliki perbedaan seks. Yang satu harus laki-laki dan yang lain harus perempuan. Pola pikir yang sudah membudaya dalam masyarakat kita tidak menganggap lumrah bila suatu pasangan adalah sesama jenis. Maka tidak heran kalau masyarakat kita selama ini menganggap tabu bila ada pasangan sejenis.

Untuk lebih meyakinkan, mari kita—sebagai orang yang berorientasi heteroseksual—berpikir sejenak. Pikirkanlah bahwa Anda mencintai sesama jenis Anda! Bagaimana? Susah, bukan? Bila memang susah, tentu tidak mungkin ada seseorang yang pada mulanya normal, lalu ia memilih jalan homoseksual sebagai alternatif gaya hidupnya, karena memang sangat susah mencintai sesama jenis bagi orang-orang yang normal. Bukti semacam ini semakin memerkuat bahwa homoseksual bukan pilihan hidup, tetapi bawaan sejak lahir.

Sebagai bangsa demokratis, tidak semestinya negara kita bertindak diskriminatif terhadap para minoritas kaum homoseksual. Bila undang-undang memerbolehkan perkawinan antara laki-laki dan perempuan, maka selayaknyalah negara melegitimasi pernikahan sejenis. Bila tidak, negara bisa dikatakan memarginalkan orang-orang cacat. Untuk itu, cara menyikapi kaum homoseksual adalah dengan kacamata arif dan membuang egoisme kita sebagai manusia normal (heteroseksual). Tuhan menciptakan manusia dengan sempurna. Tidak mungkin Ia mengutuk makhluk yang telah diciptakan-Nya sendiri.

Related posts

One Thought to “Menyikapi Fakta Homoseksual”

  1. Memang homeseksual itu bawaan sejak lahir. Tapi adakah usaha pemerintah dalam mengobatinya seperti halnya narkoba ada rehabilitasi?

Leave a Comment