OPINI – HARI BUMI SEBAGAI REFLEKSI KEADAAN ALAM MASA KINI

0
99

 Hari Bumi sebagai Refleksi Keadaan Alam Masa Kini
Oleh: Yunis Roisatul

Hari Bumi diperingati setiap tanggal 22 April di seluruh dunia. Awalnya, John McConnell seorang aktivis perdamaian pada tahun 1969 ketika posisi matahari tepat berada di garis Khatuilistiwa atau disebut Ekuinoks mencanangkan Hari Bumi diperingati pada 20 Maret. Namun, setahun setelahnya, yaitu pada tahun 1970, Gaylord Nelson mencanangkan hari Bumi pada 22 April yang bertepatan dengan musim semi di Northen Hemishere di belahan bumi utara dan musim gugur di belahan bumi selatan.
Hal ini bermula dari keprihatinan Gaylord Nelson melihat ulah manusia yang semakin tidak peduli dengan alam, Ia mengajak masyarakat untuk meningkatkan kesadaran akan isu-isu lingkungan dengan menyempatkan diri dalam satu hari khusus untuk kegiatan pelestarian lingkungan. Sejak saat itu, setiap tanggal 22 April diperingati sebagai Hari Bumi di seluruh dunia.


Meningkatnya jumlah manusia di bumi setiap tahunnya semakin meresahkan. Tercatat pada tahun 2017 populasi manusia di bumi diperkirakan berjumlah 7,6 miliar orang. Jumlah penduduk diperkirakan akan terus mengalami peningkatan. Departemen Populasi Divisi urusan Sosial dan Ekonomi PBB memprediksi bahwa jumlah populasi di bumi pada tahun 2050 mencapai angka 9,8 miliar, setengah pertumbuhan populasi dunia akan terkonsentrasi di sembilan negara, yakni India, Nigeria, Kongo, Pakistan, Amerika Serikat, Uganda, dan Indonesia. Jumah penduduk di Indonesia pada tahun 2017 mencapai sekitar 262 juta jiwa, dalam satu tahun laju pertumbuhan penduduk Indonesia sekitar 4 juta jiwa.
Pertumbuhan penduduk membawa dampak negatif pada lingkungan. Semakin bertambahnya jumlah penduduk, konsumsi dan produksi barang meningkat dan secara otomatis limbah atau sampah juga meningkat. Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mencatat bahwa total sampah di Indonesia mencapai 187,2 juta ton per tahun. Keterbatasan lahan dan kurangnya pengelolaan sampah menjadi faktor penyebab menggunungnya sampah. Permasalahan sampah tidah hanya terjadi pada kota-kota besar di Indonesia. Bahkan permasalahan sampah juga terjadi di gunung.
Tren pendakian gunung membuat volume sampah di gunung meningkat, berdasarkan data dari Trashbag Community sedikitnya 5 ton sampah yang terkumpul dari 15 gunung di Indonesia. Kebiasaan buruk para pendaki gunung membuang sampah sembarangan dan tidak membawa turun kembali sampah yang mereka bawa membuat jalur pendakian atau tempat camp menjadi kotor.
Berdasarkan pengalaman saya, ketika mendaki Gunung Buthak melalui jalur pendakian Bukit Panderman, Batu, Jawa Timur sepanjang jalur pendakian saya menemui sampah yang tercecer, apalagi pada tempat-tempat camp banyak sampah yang menumpuk. Sampah didominasi oleh sampah plastik dan botol plastik. Bayangkan saja jika kantong plastik membutuhkan waktu 12 tahun dan botol plastik membutuhkan waktu 20 tahun untuk terurai. Jika setiap pendaki membawa dua botol plastik dan lima sampah plastik, dalam 20 tahun kemudian berapa banyak sampah plastik yang ada di gunung?
Apabila para pendaki terus membawa naik sampah ke gunung dan tidak membawanya turun, 20 tahun kemudian bisa jadi bukan keindahan gunung yang akan kita lihat, namun gundukan sampah. Apabila tujuan mendaki gunung adalah untuk menikmati dan mensyukuri keindahan ciptaan Tuhan harusnya para pendaki dapat menjaga keindahan itu agar tetap indah bukan mencemarinya.
Jika tujuan seseorang mendaki gunung untuk mengabil gambar keindahannya, seharusnya mereka tidak merusak keindahan itu. Sebenarnya, tujuan dari adanya peringatan Hari Bumi adalah menyadarkan manusia terhadap bumi yang ditinggalinya. Manusia harus sadar bahwa saat ini telah terjadi degradasi lingkungan secara besar-besaran yang melanda bumi. Bumi ini perlu dijaga dan dirawat untuk kita dan anak cucu kita, jangan sampai generasi mendatang hanya dapat melihat kerusakan yang kita sebabkan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here