Pemanfaatan Platform Kemdikbud sebagai Media Pembelajaran Daring di Tingkat Sekolah Dasar

Pemanfaatan Platform Kemdikbud sebagai Media Pembelajaran Daring di Tingkat Sekolah Dasar
Oleh : Ghilmani Firdausiyah

Sejak sekitar 2 tahun yang lalu hingga saat ini Indonesia bahkan negara di dunia sedang dilanda pandemi virus COVID-19. Pandemi COVID-19 pertama kali muncul di Wuhan, China. COVID-19 merupakan sebuah virus yang penularannya sangat cepat dan sulit untuk mengetahui ciri-ciri orang yang sudah terjangkit virus ini karena masa inkubasinya kurang lebih selama 14 hari. WHO telah menetapkan wabah virus corona sebagai kedaruratan masyarakat yang meresahkan dunia, karena hampir seluruh negara mengalami dampak pandemi ini, hingga banyak negara-negara yang menetapkan status lockdown dan antisipasi lainnya guna memutuskan mata rantai penyebaran COVID-19. Penyebaran COVID-19 sampai terjadinya krisis pandemi ini pada awalnya sangat memberikan pengaruh yang kurang baik terhadap kehidupan di dunia kesehatan dan ekonomi secara global, namun saat ini pandemi memberikan dampak buruknya bahkan sampai pada dunia pendidikan yang ikut merasakan pengaruh yang kurang baik (Mar’ah et al., 2020). Menurut UNESCO tercatat setidaknya 1,5 milyar anak usia sekolah yang terkena dampak COVID-19 dari 188 negara termasuk 60 juta diantaranya ada di negara Indonesia. Akibat pandemi ini sekolah-sekolah ditutup, hal ini dilakukan dengan tujuan untuk mencegah penyebaran COVID-19.

Di Indonesia sendiri telah banyak cara yang dilakukan pemerintah untuk mencegah penyebaran virus COVID-19 ini, salah satunya di bidang pendidikan yaitu dengan dikeluarkannya Surat Edaran Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Direktorat Pendidikan tinggi No. 1 Tahun 2020 mengenai pencegahan penyebaran COVID-19 di dunia pendidikan. Dalam surat tersebut Kemdikbud menyarankan para peserta didik untuk belajar dari rumah masing-masing dengan menggunakan sistem pembelajaran jarak jauh (daring). Hal ini sejalan dengan Sintema (2020) menyatakan pada masa darurat pandemi saat ini mengharuskan sistem pembelajaran diganti dengan pembelajaran daring. Dengan banyaknya perubahan yang terjadi dalam sektor pendidikan, di mana sebelumnya peserta didik datang ke sekolah dan melakukan kegiatan belajar secara tatap muka, peserta didik tidak hanya belajar tatap muka secara langsung namun juga mendapatkan pengalaman belajar langsung dan juga pendidikan karakter maupun interaksi sosial yang lebih kuat, Dale dalam Kerucut Pengalaman Dale (Dale’s Cone Experience) mengatakan: “hasil belajar seseorang diperoleh melalui pengalaman langsung (kongkrit), kenyataan yang ada dilingkungan kehidupan seseorang kemudian melalui benda tiruan, sampai kepada lambang verbal (abstrak), guru menyiapakan materi secara langsung, serta melakukan berbagai kegiatan di sekolah secara langsung, semuanya berubah menjadi daring. Dalam pembelajaran daring siswa dituntut untuk lebih mandiri dari segala aspek seperti memahami materi yang diberikan secara tanggap, mengerjakan tugas secara mandiri, merasa percaya diri akan tugas yang dibuat, dan dapat memaksimalkan waktu dengan efisien. Namun, hal ini tidak cukup mudah untuk dapat dilakukan siswa, dengan kata lain tidak semua siswa mampu beradaptasi dengan kondisi saat ini. Banyak faktor yang menjadi penghambat dalam proses pembelajaran daring seperti; suasana rumah yang tidak kondusif, keterbatasan sarana dan prasarana penunjang pembelajaran daring, akses internet yang susah, keterbatasan kuota internet, kegiatan pembelajaran yang membosankan, pemberian tugas yang terlalu banyak, guru yang belum mengoptimalkan teknologi dengan baik dan lain sebagainya.

Menurut Riyana (2019) pembelajaran daring lebih menekankan pada ketelitian dan kejelian peserta didik dalam menerima dan mengolah informasi yang disajikan secara online. Konsep pembelajaran daring memiliki konsep yang sama dengan e-learning. Adanya pembelajaran online ini hanya membuat beberapa peserta didik kurang paham akan materi yang diberikan karena pemberian materi dari guru kurang maksimal. Akibatnya, kemampuan peserta didik untuk memahami materi semakin menurun. Hal ini selaras dengan fakta yang menyatakan bahawa siswa tidak seluruhnya mampu beradaptasi dengan mudah pada pembelajaran online (Wulandari et al., 2020). Meski tidak menutup kemungkinan di masa sekarang dan di masa yang akan datang masyarakat terutama peserta didik harus melek teknologi. Dengan adanya krisis pandemi ini pada dasarnya memberikan contoh sistem pendidikan yang akan terjadi di masa yang akan datang yang tak luput dengan adanya bantuan dari teknologi. Akan tetapi, secanggih apapun penggunaan teknologi dalam pembelajaran tentunya peran guru, dosen, seluruh tenaga pendidik dan kegiatan interaksi belajar yang terjadi diantara pendidik dan peserta didik tidak akan mampu tergantikan. Namun, pada digitaliasi dikala pandemi ini tentunya memberikan tantangan bagi setiap siswa dan guru dalam penggunaan dan pemanfaatan teknologi dalam kegiatan belajar mereka guna meningkatkan perkembangan dunia pendidikan.

Menurunnya kemampuan peserta didik dalam memahami materi sangat tampak di tingkat sekolah dasar. Usia anak sekolah dasar ini masih tergolong sangat muda, hal ini akan berpengaruh pada pengoperasian gawai atau gadget yang belum maksimal. Selain itu, seharusnya pada usia ini siswa sekolah dasar masih dalam tahap pengembangan karakter, sehingga proses pembelajaran tatap muka sangat di perlukan. Pakar psikologi mengatakan, karakter siswa akan terbentuk jika mereka bertemu secara langsung dengan gurunya. Selain mengingat gaya gurunya mengajar, mereka juga dapat terbentuk karakternya. Namun, karena kondisi yang tidak memungkinkan untuk melakukan tatap muka, pembelajaran dialihkan secara daring. Poin penting dalam pembelajaran daring yakni bagaimana guru memberikan materi pembelajaran dan siswa dapat menerima materi tersebut dengan antusias dan tentunya pembelajaran yang dilakukan tidak membosankan. Berdasarkan riset di lingkungan sekitar, rata-rata siswa begitu bosan dengan pembelajaran yang menggunakan WAG sebagai media pembelajarannya. Karena guru hanya memerintahkan siswa membaca teks di buku dan kemudian memberikan tugas. Penggunaan WAG menjadi pertimbangan guru dalam peroses pembelajaran daring karena komunikasi teks ini tidak membutuhkan kuota yang besar sehingga biaya yang dikeluarkan untuk pembelian paket internet juga menjadi rendah. Selain itu, melalui WhatsApp sudah disediakan berbagai fitur yang dapat digunakan dan menunjang pembelajaran seperti dapat mengirimkan gambar, voice note atau pesan suara, panggilan suara juga panggilan video. (Pratiwi, 2020) menjelaskan bahwa WhatsApp adalah aplikasi yang memiliki peminat yang sangat besar. Akan tetapi dalam pengaplikasiannya, guru menggunakan fitur WhatsApp hanya sebatas mengirimkan foto, pesan teks, dan voice note saja, tentu hal ini yang menjadikan siswa malas untuk belajar karena pembelajaran yang monoton. Pemilihan media pembelajaran yang tepat pada masa pandemi COVID-19 merupakan hal penting untuk dipertimbangkan. Dengan adanya media pembelajaran maka peserta didik terbantu untuk memahami materi pembelajaran yang diberikan, walaupun peserta didik belajar di rumah masing-masing. Media pembelajaran juga dapat disesuaikan dengan karakteristik peserta didik dan kemampuan peserta didik dalam menggunakan media tersebut (Ahmadi, 2017). Media video pembelajaran dianggap tepat digunakan saat pandemi COVID-19  karena mudah digunakan dan dapat diikuti oleh seluruh peserta didik (Trisnadewi, 2020; Susmiati, 2020; Alami, 2020). Selain itu, selama masa pandemi pendidik tidak dapat menemui peserta didik secara langsung, maka media video pembelajaran dianggap tepat untuk memudahkan pendidik menjelaskan materi-materi pembelajaran (Atsani, 2020). Kemudian, media video pembelajaran juga dianggap mengatasi kebosanan dan kejenuhan peserta didik saat belajar di rumah (Hadi, 2017). Selain itu, pendidik juga dapat memanfaatkan atau mengakses platform yang telah dirancang oleh kemdikbud secara gratis. Namun, masih banyak pendidik dan masyarakat luas belum mengetahui adanya platform-platform yang telah disediakan oleh kemendikbud. Maka dari itu, penulis akan mencoba memaparkan beberapa platform kemdikbud yang dapat dimanfaatkan selama pembelajaran daring.

  1. TV Edukasi

Platform  ini hanya bisa diakses secara online, tetapi user bisa mendownload video pembelajaran yang diinginkan. Adapun caranya sebagai berikut :

  • Arahkan kursor ke bagian icon VOD, dan pilih kelas sesuai kebutuhan user (misal: kelas 1)
  • User dapat memilih terkait video yang akan di tontonnya matematika, ilmu pengetahuan alam, dan belajar dari rumah (misal: belajar dari rumah (BDR)).
  • User dapat memilih video mana yang akan di tonton atau di download, jika hanya ingin menonton user hanya perlu menekan icon play,  akan tetapi jika user ingin mendowload video tersebut maka user perlu mengikuti langkah-langkah berikut :
    User memilih icon “titik tiga” di bagian kanan bawah video, selanjutnya user mengarahkan kursor pada icon “download”

User hanya perlu menunggu hingga video selesai di download.

2. Rumah Belajar

Platform ini hanya bisa diakses secara online, tetapi user bisa mendownload beberapa kategori pembelajaran yang diinginkan. Adapun cara penggunaan platform rumah belajar sebagai berikut :

  • Arahkan kursor pada icon seperti gambar di bawah ini
  • User dapat memilih aplikasi rumah belajar (misal: bank soal)
  • User dapat memilih berbagai latihan, ulangan dan ujian untuk tingkat sekolah dasar (misal: kelas 6) maka tampilan akan tampak seperti gambar di bawah ini
  • User dapat memilih mata pelajaran yang tertera (misal: matematika), selanjutkan arahkan kursor pada icon “Evaluasi Umum”
  • Selanjutnya user dapat memilih jenis evaluasi yang akan dikerjakan (misal: ulangan harian 1) kemudian user memilih icon “Lihat”
  • User bisa mengerjakan latihan ulangan sampai selesai, dan user dapat mengetahui skor dan juga kunci jawaban dengan mengarahkan kursor pada icon “hitung”

Demikian merupakan dua platform kemdikbud yang dapat dimanfaatkan oleh pendidik maupun orang tua siswa dalam pembelajaran daring guna untuk meningkatkan literasi dan numerasi siswa sekolah dasar. Dengan adanya tulisan ini diharapkan dapat mempermudah pembaca dalam mencari referensi platform pembelajaran daring di masa pandemi.

DAFTAR PUSTAKA

Alami, Y. (2020). Media Pembelajaran Daring pada Masa Covid-19. Tarbiyatu wa Ta’lim: Jurnal Pendidikan Agama Islam, 2(1), 49-56.

Ahmadi, F., Sutaryono, S., Witanto, Y., & Ratnaningrum, I. (2017). Pengembangan media edukasi “Multimedia Indonesian Culture”(MIC) sebagai penguatan pendidikan karakter siswa Sekolah Dasar. Jurnal Penelitian Pendidikan, 34(2), 127-136.

Atsani, K. L. G. M. Z. (2020). Transformasi Media Pembelajaran pada Masa Pandemi COVID-19. Al-Hikmah: Jurnal Studi Islam, 1 (1), 82-93.

Hadi, S. (2017, May). Efektivitas penggunaan video sebagai media pembelajaran untuk siswa sekolah dasar. In Seminar Nasional Teknologi Pembelajaran Dan Pendidikan Dasar 2017 (pp. 96-102).

Mar’ah, N. K., Rusilowati, A., & Sumarni, W. (2020). Perubahan Proses Pembelajaran Daring Pada Siswa Sekolah Dasar. Prosiding Seminar Nasional Pascasarjana UNNES.

Pratiwi, G. F. (2020). Pengaruh Kedisiplinan Dan Motivasi Belajar Siswa Saat Pandemi Covid-19 Terhadap Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Alam Pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 2 Getasan Tahun Pelajaran 2019/2020. Http://E-Repository.Perpus.Iainsalatiga.Ac.Id/9406/

Riyana, C. (2019). Produksi Bahan Pembelajaran Berbasis Online. Universitas Terbuka.

Sintema, E. J. (2020). Effect of COVID-19 on the Performance of Grade 12 Students: Implications for STEM Education. Eurasia Journal of Mathematics, Scince and Technologi Education, 16(7), 1-6.

Susmiati, E. (2020). Meningkatkan Motivasi Belajar Bahasa Indonesia Melalui Penerapan Model Discovery Learning dan Media Video Dalam Kondisi Pandemi Covid-19 bagi Siswa SMPN 2 Gangga. Jurnal Paedagogy, 7(3), 210-215.

Wulandari, D. R., F, M. R., Hidayah, D. Y., & Yaumi, D. F. (2020). Sekolah Dasar (Sd) Di Masa Pandemi Covid-19

air-jordan-4-retro-cement-x-new-era-chicago-bulls-sneaker-hook-up-hat | 『アディダス』に分類された記事一覧

Related posts

Leave a Comment