Pendidikan Merdeka Belajar Sesuai Bakat dan Minat Masing-masing Siswa guna Mewujudkan Indonesia Maju di Era Indonesia Emas

Pendidikan Merdeka Belajar Sesuai Bakat dan Minat Masing-masing Siswa guna Mewujudkan Indonesia Maju di Era Indonesia Emas

Oleh Zahrotul Jannah

Pendidikan di Indonesia masih perlu adanya peningkatan. Pendidikan yang dilakukan di sekolah-sekolah masih kerap memberikan tekanan kepada peserta didik karena kegiatan belajar yang tidak sesuai dengan keinginan diri sendiri sehingga tidak adanya kemerdekaan dalam belajar (Putri et al., 2020). Pendidikan merupakan suatu proses yang ada didalam kehidupan manusia. Proses ini yang akan mengantarkan manusia pada kebahagiaan untuk mencapai kesejahteraan. Setelah adanya pandemi covid-19, dunia pendidikan di Indonesia seperti menata ulang kembali tatanan yang sudah ada. Dunia pendidikan saat ini terus  berbenah diri dibuktikan dengan adanya beberapa pergantian kurikulum. Pergantian kurikulum tersebut untuk mempersiapkan Sumber Daya Manusia menjadi generasi produktif di era Indonesia emas. Menurut Baro’ah dalam (Putri et al., 2020), Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nadiem Anwar Makarim menciptakan program inisiatif merdeka belajar. Istilah “Merdeka Belajar” diluncurkan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Istilah tersebut merupakan kebijakan baru dalam dunia pendidikan (Baro’ah, 2020). Pendidikan Merdeka belajar merupakan salah satu inovasi baru untuk memajukan dunia pendidikan. Menurut (Bahar dan Herli, Sundi, 2020) merdeka belajar merupakan kemerdekaan berpikir, yang lahir pertama dari guru sebagai esensi kemerdekaan berpikir. Arti “merdeka” dalam konteks ini yaitu membuat peserta didik merdeka bepikir, merdeka berkreativitas, merdeka berimajinasi, dan merdeka berekspresi. Hal tersebut dapat senantiasa dilakukan dengan menyesuaikan bakat dan minat  dari masing-masing siswa.

            Bakat dan minat dari siswa merupakan hal yang seharusnya menjadi landasan dalam pendidikan saat ini. Bakat merupakan potensi yang dimiliki masing-msing indivisu yang dibawa sejak lahir. Sedangkan, minat merupakan dorongan yang berasal dari dalam diri seseorang yang dapat menimbulkan ketertarikan atau perhatian secara selektif yang akhirnya akan menimpulkan perasaan yang menyenangkan (Risnanosanti, et al., 2022). Merdeka belajar yang saat ini telah berlaku dibeberapa sekolah sudah harus menjadi salah satu pembelajaran yang akan memberikan rasa nyaman.  Konsep dari merdeka belajar menurut (Khabib Bastari, 2021) seharusnya menciptakan rasa ingin tahu yang tinggi, berani, aktif, percaya diri, dan tidak takut salah. Kembali menurut (Khabib Bastari, 2021) terdapat empat syarat merdeka belajar yaitu, 1) Bebas dari belenggu aturan, tekanan, maupun paksaan dari pihak manapun. 2) Bebas memilih objek belajar sesuai minat dan bakat masing-masing. 3) Bebas menggunakan  cara  belajar  sesuai  dengan bidang  kecerdasan  dan  gaya  belajar  masing-masing.  4)  Bebas memilih  waktu kapan  dan  di  mana  saja

            Disisi lain, menurut (Muniarti, 2020) bakat siswa dapat dipengaruhi oleh 2 faktor yaitu faktor internal dan eksternal. Pada faktor internal meliputi: minat, motivasi, keberanian atau resiko, keuletan, dan kegigihan. Sedangkan, pada faktor eksternal meliputi: kesempatan maksimal untuk mengembangkan diri, sarana dan prasarana, dukungan dan dorongan keluarga, dan lingkungan tempat tinggal. Langkah yang dapat dilakukan untuk mengembangkan bakat seseorang, diantaranya yang dikemukakan oleh Asrori dalam (Muniarti, 2020), yaitu:

  1. Mengembangkan situasi dan kondisi yang memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk mengembangkan bakat dengan mengusahakan yang baik.
  2. Berupaya motif berprestasi yang tinggi di kalangan anak baik dalam lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat.
  3. Meningkatkan kegigihan dan daya kekuatan dalam menghadapi tantangan dan kesulitan.

Menyeimbangkan antara bakat minat dengan dunia pendidikan saat ini merupakan hal yang sangat penting. Bakat dan minat masing-masing siswa dijadikan sebagai esensi pada kurikulum Merdeka Belajar ini (Wiguna, Adi dan Tristaningrat, 2022). Menurut Ainia dalam (Daga, 2021) menyatakan jika Merdeka belajar dapat mendorong siswa belajar dan mengembangkan dirinya, membentuk sikap peduli terhadap lingkungan di mana siswa belajar, mendorong kepercayaan diri dan keterampilan siswa serta mudah beradaptasi dengan lingkungan masyarakat. Pencanangan Kurikulum Meerdeka Belajar oleh Kemendikbudristek ini seakan menjadi jawaban untuk menjadikan pendidikan sebagai pembelajaran yang mengacu pada pendekatan bakat dan minat anak (Wiguna, Adi dan Tristaningrat, 2022)

Perbaikan yang terus dilakukan oleh pemerintah dalam dunia pendidikan ini salah satunya untuk mempersiapkan adanya era generasi emas di tahun 2045. Menurut Rahmat dalam (Hamdani, Nurhafsah dan Silvia, 2022) menyatakan jika pada tahun 2045 tepatnya 23 tahun lagi, Indonesia akan menuju yaitu 100 tahun memperingati kemerdekaan yang dikenal dengan Indonesia emas. Adanya ke merdekaan dalam belajar ini merupakan salah satu langkah awal untuk menyambut era Indonesia emas. menurut (Wisnujati, et al., 2021) program “Merdeka belajar” juga menjadi kesempatan yang baik bagi guru untuk dapat mewujudkan siswa-siswa yang berkualitas dan mandiri serta memiliki kemampuan berpikir kritis yang baik. Dengan adanya ruang “kebebasan” untuk menentukan metode belajar-mengajar bersama, guru dapat melakukan langkah-langkah yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis.

Persiapan-persiapan didunia pendidikan untuk menyambut Indonesia emas ditahun 2045 harus dilakukan mulai saat ini. Dengan adanya pendidikan yang lebih baik tentu akan menghasilkan SDM yang akan lebih siap untuk menghadapi tantangan dan mampu bersaing dengan negara-negara maju lain. Kemajuan pada dunia pendidikan untuk mempersiapkan generasi emas Indonesia. Menurut (Darman, 2017) Untuk bisa mengiringi Negara maju lainnya maka kita perlu mempersiapkan generasi emas Indonesia dengan cara mengikuti atau melihat kiat-kiat yang di lakukan oleh Negara lain dalam dunia pendidikan mereka. Untuk itu dengan terus memperhatikan bakat dan minat dari masing-masing siswa akan turut memperhatikan potensi yang dimiliki oleh siswa. Dan potensi-potensi tersebut akan diarahkan melalui pendidikan merdeka belajar.

DAFTAR PUSTAKA

Bahar, H. dan Herli, Sundi, V. (2020) “Merdeka Belajar Untuk Kembalikan Pendidikan Pada Khittahnya,” PROSIDING SAMASTA Seminar Nasional Bahasa dan Sastra Indonesia, hal. 115–122.

Baro’ah, S. (2020) “Kebijakan Merdeka Belajar Sebagai Peningkatan Mutu Pendidikan,” Jurnal Tawadhu, 4(1), hal. 1063–1073.

Daga, A. T. (2021) “Makna Merdeka Belajar dan Penguatan Peran Guru di Sekolah Dasar,” Jurnal Educatio FKIP UNMA, 7(3), hal. 1075–1090. doi: 10.31949/educatio.v7i3.1279.

Darman, R. A. (2017) “Mempersiapkan Generasi Emas Indonesia Tahun 2045 Melalui Pendidikan Berkualitas,” Edik Informatika, 3(2), hal. 73–87. doi: 10.22202/ei.2017.v3i2.1320.

Hamdani, A. D., Nurhafsah, N. dan Silvia, S. (2022) “Inovasi Pendidikan Karakter Dalam Menciptakan Generasi Emas 2045,” JPG : Jurnal Pendidikan Guru, 3(9), hal. 170–178.

Khabib Bastari (2021) “BELAJAR MANDIRI DAN MERDEKA BELAJAR BAGI PESERTA DIDIK, ANTARA TUNTUTAN DAN TANTANGAN,” Inovasi Riset Akademik, Vol.1(1), hal. 68–77.

Muniarti, E. (2020) “Pengertian Bakat, Ciri-cri Anak Berbakat, dan Implikasi Pendidikan,” Bahan Ajar, hal. 156–159.

Putri, Y. A. et al. (2020) “Pelaksanaan Ekstrakurikuler Seni Musik,” Pendidikan Sendratasik, 9(1), hal. 13–28. doi: https://doi.org/10.26740/jps.v9n1.p13-28.

Risnanosanti, et al., 2022. Pengembangan Minat & Bakat Belajar Siswa. In: Malang: CV. Literasi Nusantara Abadi.

Wiguna, I. K. W., Adi, M. dan Tristaningrat, N. (2022) “Langkah Mempercepat Perkembangan Kurikulum Merdeka Belajar,” 3(1), hal. 17–26.

Wisnujati, N. S., Sitorus, E. & Anggusti, M., 2021. Merdeka Belajar, Merdeka Mengajar, Medan: Yayasan Kita Menulis.

Related posts

Leave a Comment