Pengaruh Social Media Influencer Terhadap Perilaku Konsumtif Masyarakat pada Era Ekonomi Digital

Pengaruh Social Media Influencer Terhadap Perilaku Konsumtif Masyarakat pada Era Ekonomi Digital
Oleh: Reni Anggraini

Pada era digital saat ini yang semakin pesat dari waktu ke waktu telah memberikan berbagai perubahan besar terhadap manusia, sehingga antara kebutuhan manusia dengan teknologi hampir tidak ada pemisah antar keduanya. Dengan perkembangan teknologi yang telah menciptakan beragam inovasi telah mampu memudahkan seseorang untuk dapat mencukupi kebutuhan informasi akan sesuatu hal melalui adanya bentuk teknologi internet. Internet yang telah menciptakan inovasi berupa media sosial tersebut telah memudahkan masyarakat untuk memperoleh informasi melalui aplikasi-aplikasi yang disukai seperti Twitter, Facebook, Youtube, Instagram, dan lain-lain. Maka dapat dijelaskan bahwa media sosial berpotensi dalam mempermudah manusia untuk memenuhi kebutuhan mereka akan informasi yang diperlukan. Social Media adalah sebuah wadah yang memungkinkan manusia untuk berinteraksi secara online tanpa dibatasi ruang dan waktu.

Influence adalah kemampuan untuk mempengaruhi, merubah opini dan perilaku seseorang (Evelina dan Fitrie, 2018). Adanya perkembangan pesat dalam bidang teknologi mengakibatkan seseorang dengan sangat mudah untuk meng-influence banyak orang dalam berbagai media maupun platform seperti halnya melalui social networking. Social Networking Site (SNS) atau biasa disebut juga jejaring sosial didefinisikan sebagai suatu layanan berbasis web yang memungkinkan setiap pengguna dapat membangun hubungan sosial melalui dunia maya (Welta, 2013).

Pada era revolusi industri saat ini siapapun dapat meng-influence orang banyak, bahkan mereka dapat menjadi trendsetter, yang artinya semua orang memiliki kemungkinan untuk dapat menjadi pusat perhatian orang banyak. Hal itu sering kali disebut dengan konsep microcelebrity, yaitu gaya baru online performance yang melibatkan tindakan peningkatan popularitas melalui teknologi web seperti video, blog, dan situs jejaring sosial (Senft, 2008).Fenomena social media influencer yang sedang marak saat ini memberikan pengaruh yang besar terhadap pola konsumsi masyarakat. Gaya hidup yang lebih memperhatikan prestige membuat masyarakat terbawa oleh arus gaya kekinian yang dipopulerkan oleh para social media influencer. Besarnya konsumsi masyarakat akan produk-produk yang dipromosikan oleh social media influencer sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi digital. Hal ini didukung dengan tingkat kepercayaan terhadap social media sebanyak 51% pada tahun 2018 (Edelman, 2018). Kepercayaan yang dibangun oleh social media influencer dengan para pengikutnya tersebut menyebabkan konsumsi akan suatu brand meningkat.

Dari branding yang dilakukan oleh Social Media Influencer berdasarkan penelitian sebelumnya, terdapat korelasi yang kuat antara promosi yang mereka lakukan terhadap minat beli konsumen, dimana influencer meningkatkan minat pembelian sebanyak 89,7% (Astuti, 2016). Karena tingginya pengaruh tersebut, banyak perusahaan menggunakan influencer untuk meningkatkan engagement dari produk yang dijual. Daya tarik yang dimunculkan oleh influencer berdasarkan kredibilitas, kemampuan berkomunikasi, dan tingginya atensi publik terhadap influencer tersebut yang diamati dari banyaknya jumlah pengikut di media sosial mereka dapat meningkatkan pengenalan produk kepada masyarakat luas serta tingkat pemasaran.

Kebutuhan akan adanya promosi oleh social media influencer salah satunya disebabkan oleh jumlah online shopper yang terus meningkat di Indonesia dari tahun ke tahun. Peningkatan ini menjadi ladang yang tepat bagi para penjual untuk memasarkan produknya secara online dengan adanya bantuan influencer. Public Relations and Communications Manager CupoNation, Olivia Putri, menjelaskan bahwa pada tahun 2018 jumlah online shopper mencapai 11,9 persen dari total populasi di Indonesia dan mengalami peningkatan yang pesat dimana total pembeli pada tahun 2016 mencapai 9,6 persen dan 2017 menjadi 10,7 persen. Tingginya persentase pengguna ini menunjukkan bahwa di era ekonomi digital, pemasaran telah bergeser dari tradisional ke virtual (Smith, 2017), juga membantu menempatkan influencer di panggung utama (Brown dan Hayes, 2008). Pada penelitian mengenai Pengaruh Promosi Online terhadap Minat Beli Konsumen oleh Astuti (2016), influencer mempengaruhi minat beli sebesar 89,7 persen. Hasil yang ditunjukkan dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa apabila suatu konten yang bersifat komersil didukung oleh adanya influencer dengan teknik penawaran dan penjualan tertentu, maka akan dihasilkan dampak yang signifikan pada persepsi pembeli mengenai suatu barang atau brand tertentu (Booth dan Matic, 2011).

Umumnya, seorang Influencer memiliki 3 peran utama. Peran tersebut diantaranya adalah to inform, to persuade, dan to entertain. Fungsi to inform berkaitan dengan adanya e-commerce bertujuan untuk menginformasikan mengenai suatu produk atau brand ke audiens sehingga mereka tertarik untuk membeli produk tersebut. Dari adanya fungsi to persuade, influencer berusaha meyakinkan audiens menerima sudut pandangnya atau meminta untuk mengadopsi perasaan dan perilakunya, sedangkan to entertain berfungsi untuk menghibur sehingga konten yang disediakan bersifat persuasif dan pesan yang ingin disampaikan dari produk atau brand dapat diterima dengan baik (Sugiharto dkk., 2018).

Suyasa dan Fransisca (2005) mendefenisikan perilaku konsumtif sebagai tindakan membeli barang bukan untuk mencukupi kebutuhan tetapi untuk memenuhi keinginan, yang dilakukan secara berlebihan sehingga menimbulkan pemborosan dan inefisiensi biaya. Salah satu faktor pendorong terbentuknya perilaku konsumtif pada era revolusi Industri 4.0 saat ini ialah penjualan barang-barang dengan cara digital marketing yang menjadi langkah strategis dalam membentuk perilaku konsumtif, yaitu sebagai medium yang mudah untuk diakses dan juga lebih menarik perhatian konsumen.Melalui digital marketing, suatu produk akan sangat mudah untuk dipromosikan sehingga dapat mempengaruhi seseorang untuk membeli produk tersebut yang sebenarnya tidak perlu untuk di beli.

Peningkatan teknologi membuat informasi mengenai keunggulan dan manfaat yang didapatkan dari produk tersebut dapat dengan mudah masyarakat ketahui, terlebih lagi orang-orang yang selalu ingin mengikuti gaya kekinian dari trendsetter terpengaruh oleh barang-barang yang dipromosikan sehingga terjadilah perilaku konsumtif (Hanuning, 2011). Hal ini diperkuat dengan adanya influencer. Peningkatan jumlah pembelian dan atensi publik yang terjadi secara signifikan pada e-commerce di Indonesia akibat pengaruh adanya Influencer menunjukkan perilaku konsumtif terjadi di masyarakat karena teknik promosi secara persuasif yang mereka lakukan dalam social media. Hal ini tentunya berdampak pada kondisi sosial yang bersifat menguntungkan bagi para penjual dan penyedia jasa layanan e-commerce dimana keuntungan yang mereka dapatkan akan semakin bertambah dari adanya peningkatan pembelian namun berdampak negatif pada konsumen yang akan bertindak konsumtif.

Dampak negatif yang ditimbulkan dari perilaku konsumtif tersebut adalah munculnya sifat boros, ketergantungan, dan tidak pernah merasa puas akan hasil yang dicapai. Oleh karena itu, untuk menghindari dampak negatif dari perilaku konsumtif dapat dilakukan dengan cara menabung, berhemat, maupun dengan cara investasi (Khoirunnas, 2017). Sikap bijak terhadap segala macam promosi barang dan jasa di internet terutama dari social media influencer sangat dibutuhkan untuk dimiliki oleh setiap konsumen. Diperlukan adanya sikap keingintahuan terhadap suatu barang dan jasa yang akan dibeli dalam bentuk mencari informasi atau berupa review product sehingga lebih mempercayai baik buruknya produk tersebut. Selain itu, konsumen pun harus lebih mengetahui apakah barang yang akan dibeli adalah suatu kebutuhan atau hanya keinginan tanpa mengetahui manfaatnya. Dengan upaya tersebut, maka sikap konsumtif dapat diminimalisir.

Daftar Referensi

Astuti, R.L. M. B. 2016. Pengaruh Promosi Online dan Celebrity Endorser terhadap Minat Beli Konsumen Tas Online Shop Fani House. Skripsi. Semarang: Universitas Diponegoro.

Booth dan Matic, J. A. 2011. Mapping and Leveraging Influencers in Social Media to Shape Corporate Brand Perceptions. Corporate Communications. Vol 16 (3): 184 – 191.

Brown D. dan N. Hayes. 2008. Business & Economics. Amsterdam: Elsevier.

Edelman. 2018. Tingkat Kepercayaan Publik Terhadap Media Sosial/Mesin Pencari dan Jurnalis (2012-2018). Diakses dari https://databoks.katadata.co.id/

Evelina, L. W. dan F. Handayani.2018. Penggunaan Digital Influencer dalam Promosi Produk (Studi Kasus Akun Instagram @bylizzieparra). Warta ISKI. Vol 01 (01): 71-82.

Hanuning, Sri. 2011. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perilaku Konsumtif Mahaiswa (Studi Deskripsi Kualitatif Tentang Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Konsumtif Mahasiswa Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial san Ilmu Politik Universitas Sebelas Maret

Khoirunnas. 2017. Pola Konsumtif Mahasiswa di Kota Pekanbaru. JOM FISIP. Vol 4 (1):1-15.

Senft, Theresa M. 2008. Camgirls: Celebrity & Community In The Age of Social Networks. New York: Peter Lang

Sugiharto, S.A. dan M. R. Ramadhana. 2018. Pengaruh Kredibilitas Influencer terhadap Sikap pada Merek (Studi pada Mahasiswa Fakultas Komunikasi dan Bisnis Universitas Telkom). Jurnal Ilmu Politik dan Komunikasi. Vol 8(2): 1-9

Suyasa, P.T.Y.S dan Fransisca. 2005. Perbandingan Perilaku Konsumtif berdasarkan Metode Pembayaran. Jurnal Phronesis. Vol 07 (02). 172-199

Welta, F. 2013. Perancangan Social Networking sebagai Media Informasi Bagi Pemerintah. Proceeding PESAT (Psikologi, Ekonomi, Sastra, Arsitektur & Teknik Sipil). Vol 5: 511-516.

Related posts

Leave a Comment