Perlukah Detox Media Sosial ?

Perlukah Detox Media Sosial ?  

oleh Zahira Nathasa

Pernahkah anda merasa kurang update, ketinggalan berita dari teman-teman atau rekan-rekan? Ditambah dengan keadaan saat ini dimana masyarakat yang kecanduan melihat media sosial baik itu instagram atau facebook. Update tentu perlu dilakukan tetapi harus seimbang juga dengan gaya hidup, jangan sampai terobsesi yang nantinya akan menjadikan stress bagi diri sendiri. Fenomena ini biasa disebut sebagai FoMO (Fear of Missing Out), menurut Przyblylski, dkk. dalam (Sianipar and Kaloeti, 2019) merupakan suatu kondisi dimana seseorang merasa ingin terus menerus mendapat berita atau informasi terbaru mengenai orang lain, hal ini dikarenakan adanya rasa khawatir atau takut kehilangan momen atau pengalaman milik orang lain yang dinilai lebih berharga atau memuaskan dibandingkan dengan dirinya. Fenomena FoMO ini merupakan salah satu dampak dari ketergantungan media sosial. FoMO merupakan pendorong dibalik penggunaan intenet dan terutama media sosial, tingkat FoMO tertinggi dialami oleh usia remaja dan dewasa awal (emerging adulthood) (Przybylski et al., 2013).

Dunia maya rasanya memang tidak bisa dipisahkan dengan keseharian masyarakat, hampir seluruh aktivitas dapat diselesaikan dengan efisien menggunakan media sosial. Berdasarkan pada data yang diperoleh dari Hootsuite (We are Social) pengguna media sosial aktif di Indonesia pada awal tahun 2022 tercatat sebanyak 191,4 juta orang, yang mana mengalami kenaikan sebesar 12,65% dari tahun 2021 yaitu 170 juta pengguna (Riyanto, 2022). Dari data tersebut, dapat diartikan bahwa hampir semua warga Indonesia menghabiskan waktunya menggunakan media sosial. Hal ini mengakibatkan banyak perusahaan digital atau para content creator yang tertarik dengan pasar teknologi digital Indonesia, bisa dilihat dari betapa mudahnya kita menemukan video atau konten milik orang asing yang berbau Indonesia. Entah itu memang benar-benar tertarik dengan Indonesia atau mereka hanya memanfaatkan pasar tersebut untuk menggaet masyarakat Indonesia agar mendapat penonton dan pengikut atau subscriber saja.

Menurut Dr. Rizki Edmi Edison PhD, seorang akademikus dan juga seorang Kepala Pusat Neurosains Universitas Muhammadiyah melalui berita pada laman Media Indonesia yang berjudul “Respon ‘Like’ Medsos Bisa Membuat Ketagihan” beliau menyatakan bahwa melalui internet yang berkembang begitu pesat membuat masyarakat berkorban lebih untuk sekedar mendapatkan ‘like’ di media sosial, hal tersebut akan menimbulkan rasa kepuasan dan berakhir menjadi candu atau ketagihan dengan media sosial. Beliau juga mengatakan bahwa kepuasan tersebut berkaitan dengan bagian otak tengah (VTA) manusia yang akan mengeluarkan hormon dophamine. (Mediaindonesia.com, 2018).

Dikutip dari pemaparan (Astono, 2021) dalam salah satu video youtube nya yang berjudul “Dopamin Detox-Reset Otak”, dophamine sendiri merupakan hormon yang berkaitan erat dengan motivasi seseorang untuk mencapai suatu hasil yang diinginkan, hormon ini utamanya juga bertanggungjawab terhadap sensasi senang dalam otak manusia. Menurut penelitian dari (Setianingsih, Ardani and Khayati, 2018) fungsi prefrontal cortex (PfC) dalam tubuh anak akan terjadi gangguan pemusatan perhatian dan hiperakivitas (ADHD) jika tubuhnya memproduksi hormon Dophamine secara berlebihan, dan tidak menutup kemungkinan gangguan tersebut bisa muncul pada orang dewasa. Penggunaan media sosial yang digunakan secara tidak benar tak hanya merusak otak melainkan juga akan menghancurkan hidup kita, dan juga akan menimbulkan rasa malas, tidak fokus, candu, selain itu dampak negatif yang ditimbulkan akibat penggunaan media sosial yang berlebihan, yaitu:

  • Membandingkan diri dengan orang lain yang dapat mengakibatkan rasa insecure dan overthinking 
  • Gangguan mental
  • Hate speach dan cyber bullying. Melalui media sosial orang bisa bebas menulis apa saja tanpa memperdulikan perasaan orang lain, dan ini juga memberikan kemungkinan menimbulkan pikiran yang serius bagi orang-orang “nanti kalau aku posting gini bakal di bully ga ya?”. Terutama bagi mereka yang berperilaku oversharing dalam ber media sosial, mereka kemungkinan besar akan mendapat hinaan atau bully-an dari netizen yang selalu mencari celah dari orang tersebut.
  • Mengurangi produktivitas. Hal ini sepertinya sudah sering kita jumpai atau bahkan kita sendiri yang mengalaminya,
  • Ter-influence hal negatif dari orang lain

Walaupun kehadiran media sosial memberikan kemudahan bagi masyarakat dalam berkomunikasi atau mencari informasi, sebagai manusia terpelajar hendaknya sadar dan paham begitu mengerikannya media sosial, mulai dari berita atau informasi palsu, penipuan, bahkan yang terbaru dikutip melalui laman kompas.com “Pada Selasa sore (19/7/2022) seorang remaja tewas akibat terlibat dalam aksi tawuran di bilangan Jakarta Barat. Tawuran tersebut dipicu dari aksi saling hina antar kelompok pelajar di media sosial.” (Hapsari, 2022).

Melihat pengguna media sosial yang cenderung tidak bisa mengontrol diri mereka, maka penulis menyarankan untuk melakukan detox media sosial, dengan cara seperti uninstal atau logout dari semua aplikasi media sosial, jika perlu bisa melakukan deactivate smartphone selama waktu yang ditentukan. Akhir-akhir ini detox media sosial sering terlihat berseliweran melalui konten para youtuber, salah satunya yaitu Fiersa Besari. Ia menjelaskan bagaimana kehidupannya selama beristirahat sejenak dari hiruk pikuk sosial media, yang penulis rasa tidak seburuk apa yang dibayangkan. Ia juga mengatakan bahwa awalnya terasa sulit dan menyiksa tetapi lama kelamaan menjadi mudah (Besari, 2021). Memang hal tersebut tidak semudah membalikkan telapak tangan, keberhasilan kembali pada diri masing-masing jika memiliki niat serta usaha yang sungguh-sungguh maka akan berhasil melakukannya. Berikut beberapa kegiatan yang bisa dilakukan pada saat istirahat dari media sosial:

  1. Workout atau olahraga. Selain terhindar dari gangguan media sosial dengan berolahraga tubuh kita akan terasa lebih sehat, tubuh yang biasanya digunakan untuk duduk ataupun tidur akan jauh terasa lebih bugar.
  2. Membaca buku. Memang apa bedanya membaca tulisan dibuku dengan timeline media sosial? Membaca buku adalah membaca tulisan yang sudah diedit atau dikurasi informasinya, sudah tersaring sedangkan membaca tulisan yang ada di media sosial informasinya belum tentu benar atau hoax.
  3. Berkumpul dengan keluarga. Menikmati waktu bersama keluarga adakah salah satu hal yang berharga bagi kehidupan, maka dengan momen ini kita bisa lebih dekat dengan orang-orang yang kita sayang.
  4. Membantu pekerjaan rumah
  5. Membereskan kamar
  6. Berkebun
  7. Jalan-jalan, dan masih banyak lagi.

Selain itu dengan sejenak melupakan media sosial, kita akan jadi lebih fokus terhadap apa yang sedang kita kerjakan. Seringkali saat berkumpul keluarga, makan, bahkan saat mengerjakan tugas/kerjaan akan cepat merasa bosan dan tidak nyaman jika tidak dibarengi dengan membuka media sosial walupun hanya sekedar scroll atau menonton youtube tetapi itu bisa memberi kebahagiaan tersendiri. Hal tersebut juga bisa menimbulkan rasa acuh tak acuh dengan lingkungan sekitar, maka dari itu kita harus segera menata tujuan kita kedepannya apa saja, memprioritaskan mana yang lebih penting dan bermanfaat, menghibur diri secukupnya dan mempersiapkan masa depan dengan matang. Setelah selesai rehat dari dunia media sosial berikut dampak yang dapat diperoleh:

  • Mempunyai banyak waktu yang bermanfaat, yang sebelumnya waktu bersama teman, kekasih atau keluarga tanpa sadar hilang dengan detox media sosial lambat laun kita bisa mendapat waktu yang berkualitas dengan orang-orang di dekat kita.
  • Merubah perspektif dalam hidup baik dari psikis maupun fisik (emosi stabil, pikiran tenang, lebih menghargai hidup)
  • Tubuh dan pikiran fresh
  • Tidur lebih cepat
  • Lebih peduli dengan orang di sekitar

Pada dasarnya dampak penggunaan media sosial tidak melulu negatif, media sosial dapat memberikan motivasi terhadap diri agar bisa lebih baik melalui bacaan online ataupun melihat video self-Improvement dari media sosial. Media sosial juga bisa mendukung karir atau pekerjaan, seperti adanya linkedin untuk mencari informasi mengenai magang serta menambah relasi. Bahkan sekarang tidak sedikit masyarakat yang menggunakan media sosial sebagai pekerjaan utama. Sering kali kalangan seperti ini menjadi sasaran empuk bagi warganet atau hatters untuk menjadi bahan cacian mereka yang ingin mendapat perhatian saja. Oleh karena itu jangan terlalu fokus dengan komentar negatif, karena pasti akan kehilangan fokus untuk melakukan hal-hal positif. Bagi para pekerja di bidang ini, tentunya tetap bisa melakukan detox media sosial dengan cara meminimalisir aktivitas yang berhubungan dengan media sosial dan bisa melakukan aktivitas bermanfaat lainnya. Hal tersebut dapat disimpulkan bahwa jika masyarakat mampu memanfaatkan dunia jejaring media sosial dengan bijak maka akan menuai kebaikan dan juga sebaliknya. Media sosial bisa diibaratkan seperti pisau, bisa digunakan sebagai senjata atau malah bisa melukai diri sendiri.

Sampai saat ini media sosial tetap memiliki peran penting bagi kehidupan masyarakat, dengan menggunakan media sosial secara bijak maka akan membantu mengurangi ketergantungan serta dampak negatif yang ditimbulkan oleh media sosial. Penulis juga menyadari betapa pentingnya media sosial bagi masyarakat, terutama bagi mereka yang bekerja dibidang industri digital seperti sekarang ini. Media sosial tidak bisa dipukul rata sebagai penghalang masa depan, melalui media sosial banyak orang yang mendapatkan berbagai manfaat. Jangan sampai masyarakat terlena dengan kebahagiaan yang didapatkan dari media sosial, sebaiknya masyarakat senantiasa mengingat bagaimana media sosial dapat memberikan dampak negatif bagi diri sendiri dan orang lain. Jadi berhati-hatilah dalam menggunakan media sosial, jaga diri baik-baik dan jangan lupa untuk memanfaatkan segala peluang yang ada.

Daftar Pustaka

Astono, R. (2021) Dopamine Detox-Reset Otak. Available at: https://youtu.be/kO622GyHa28.

Besari, F. (2021) Berhenti Main Media Sosial. Indonesia. Available at: https://youtu.be/7iNJPT6WaaM.

Hapsari, M. A. (2022) Tawuran Pelajar di Tamansari Berawal dari Saling Ejek di Media Sosial. Jakarta. Available at: https://megapolitan.kompas.com/read/2022/07/21/22361811/tawuran-pelajar-di-tamansari-berawal-dari-saling-ejek-di-media-sosial.

Mediaindonesia.com (2018) Respons ‘Like’ Medsos Bisa Membuat Ketagihan, Media Indonesia. Available at: https://mediaindonesia.com/humaniora/192167/respons-like-medsos-bisa-membuat-ketagihan.

Przybylski, A. K. et al. (2013) ‘Motivational, emotional, and behavioral correlates of fear of missing out’, Computers in Human Behavior, 29(4), pp. 1841–1848. doi: 10.1016/j.chb.2013.02.014.

Riyanto, A. D. (2022) ‘Hootsuite (We are Social): Indonesian Digital Report 2022’. Available at: https://andi.link/hootsuite-we-are-social-indonesian-digital-report-2022/#:~:text=Pengguna Internet%3A 204%2C7 juta,juta%2C naik 12%2C6%25).

Setianingsih, Ardani, A. W. and Khayati, F. N. (2018) ‘Dampak Penggunaan Gadget Pada Anak Usia Prasekolah Dapat Meningkatkan Resiko Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas’, Gaster, 16(2), p. 191.

Sianipar, N. A. and Kaloeti, D. V. S. (2019) ‘Hubungan Antara Regulasi Diri Dengan Fear of Missing Out (FoMO) Pada Mahasiswa Tahun Pertama’, Jurnal Empati, 8(1), pp. 136–143.

Related posts

Leave a Comment