Essay Inkubator : DESA SAMBIREJO SEBAGAI WILAYAH PENGHASIL ‘SI MERAH’ (Hylocereus costaricensis (F.A.C Weber) Britton & Rose) INOVASI KECANTIKAN PEREMPUAN MASA KINI

DESA SAMBIREJO SEBAGAI WILAYAH PENGHASIL ‘SI MERAH’ (Hylocereus costaricensis (F.A.C Weber) Britton & Rose) INOVASI KECANTIKAN PEREMPUAN MASA KINI

Oleh: Novia Nina Safitri dan Rosi Nur Azizah

PENDAHULUAN

            Perkotaan merupakan wilayah strategis bagi perkembangan bisnis dan industri. Fakta tersebut menjadi salah satu penyebab timbulnya masalah polusi terutama polusi udara. Asap dan debu yang telah bercampur menjadi satu dalam polutan menjadi dua hal ekstrim yang banyak dikeluhkan oleh kaum wanita sebagai penyebab masalah kecantikan pada kulit wajah. Tidak dapat dipungkiri apabila keduanya menyebabkan wajah menjadi kusam dan berminyak akibat produksi kelenjar sebaceae yang berlebihan. Di sisi lain, polutan melepaskan radikal bebas yang mampu menyebabkan munculnya kerutan pada dahi dan memicu terjadinya penuaan dini. Radikal bebas sangat berbahaya bagi kesehatan kulit karena dapat menghancurkan oksigen di dalam jaringan dan sel-sel kulit. Akibatnya, produksi kolagen terhambat. Permasalahan kecantikan tersebut menjadi dasar munculnya inovasi-inovasi baru dan terbilang unik untuk merawat kulit wajah.

              Berbagai merk kosmetik berbahan dasar kimia sangat banyak beredar di pasaran dan menjadi pilihan utama kaum wanita.  Sayangnya, semua produk tersebut belum tentu memberikan hasil yang diharapkan, justru memberikan dampak negatif bagi kulit dalam penggunaan jangka panjang. Oleh sebab itu, penggunaan kosmetik berbahan dasar alami lebih dianjurkan.

              ‘Si Merah’ atau yang dikenal sebagai buah naga (Hylocereus costaricensis (F.A.C Weber) Britton & Rose) merupakan komoditas lokal yang banyak dibudidayakan di Desa Sambirejo Kecamatan Bangorejo Kabupaten Banyuwangi. Selama ini, pemanfaatan buah naga terbatas hanya untuk konsumsi masyarakat. Padahal, buah naga kaya manfaat bagi kecantikan. Pengetahuan tersebut masih minim dan belum banyak diketahui oleh masyarakat luas. Buah naga banyak mengandung zat alami yang baik diantaranya vitamin B3, vitamin C, flavonoid dan lycopen sebagai zat antioksidan. Berdasarkan kandungannya, buah naga dapat digunakan sebagai sediaan masker berupa gel peel-off sebagai satu langkah untuk mengurangi dampak radikal bebas pada kulit wajah. Masker dipilih karena dapat merangsang produksi kolagen untuk mencegah penuaan dini dan mengurangi munculnya keriput dengan cara mengencangkan wajah (Aloette dalam Masluhiya, 2016). Produksi masker dari ekstrak buah naga dalam jumlah besar tentunya dapat mendatangkan kemajuan bagi daerah Banyuwangi karena secara tidak langsung dapat meningkatkan jumlah penjualan, sehingga memungkinkan petani hidup sejahtera.

NILAI-NILAI KEARIFAN LOKAL DESA SAMBIREJO KECAMATAN BANGOREJO, KABUPATEN BANYUWANGI

              Pembuatan masker alami dari buah naga dapat mengangkat nilai-nilai kearifan lokal Kabupaten Banyuwangi baik dalam pendidikan atau ranah teknologi. Daerah pertanian dapat dijadikan konservasi untuk kegiatan penelitian dan pembelajaran. Masyarakat yang tinggal di dalam atau di luar wilayah tersebut dapat belajar bagaimana cara menanam, membudidayakan, hingga membuat masker alami dari buah naga.

             Wilayah pertanian buah naga di Desa Sambirejo luas. Media massa “Travel Kompas” melansir pernyataan dari Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar bahwa luas lahan pertanian Desa Sambirejo yang ditanami buah naga sebanyak 125 hektar dan mampu memproduksi 3.750 ton buah naga pertahun, sedangkan di Banyuwangi sendiri luas lahan pertanian buah naga yang siap panen sekitar 678,5 hektar dengan produksi 20.364 ton. Tidak heran jika di Indonesia, Banyuwangi menempati posisi pertama sebagai daerah penghasil buah naga.

               Peluang untuk membangun wilayah konservasi pembelajaran sains sangat terbuka di wilayah ini, mengingat hasil panen yang meningkat sejak 4 tahun terakhir. Hal ini juga mampu mengangkat nama Banyuwangi menjadi terkenal di nusantara, bahkan di wilayah mancanegara. Dengan adanya daerah konservasi, nilai-nilai khas yang ada di Banyuwangi termasuk kebudayaannya secara tidak langsung akan ikut terangkat.

Gambar 1. Desa Sambirejo Kecamatan Bangorejo Banyuwangi

               Pada wilayah konservasi, pengunjung bisa memperoleh informasi-informasi mengenai kandungan buah naga yang sangat berkhasiat bagi kecantikan dan bagaimana proses pengolahan buah naga hingga menjadi masker. Pengunjung juga dapat turun tangan secara langsung dalam proses pembuatan masker. Oleh sebab itu, ketika berkunjung ke wilayah Banyuwangi wisatawan dapat berwisata dan belajar ilmu pengetahuan serta teknologi terkait pengolahan buah naga sebagai produk kecantikan.

               Kehadiran wisatawan ke Banyuwangi memberikan banyak keuntungan baik secara financial atau pun secara peradaban. Banyuwangi merupakan salah satu daerah yang kental akan budaya, bahkan terdapat satu suku yaitu Suku Using yang budayanya tidak meluntur hingga sekarang. Kehadiran wisatawan dapat menimbulkan terjadinya komunikasi lintas budaya. Fenomena-fenomena tersebut dapat mendorong proses terjadinya akulturasi tanpa menghilangkan keaslian budaya masyarakat Banyuwangi. Ragam budaya ini merupakan suatu sinergi yang dapat menjadi tombak kemajuan wilayah Banyuwangi sekaligus memberikan warna serta keunikan tersendiri bagi wilayah tersebut.

LATAR BELAKANG PEMANFAATAN BUAH NAGA SEBAGAI MASKER KECANTIKAN

            Buah naga banyak dibudidayakan bukan tanpa alasan. Buah naga selain mengandung zat-zat yang bermanfaat bagi kesehatan, ternyata juga memiliki kandungan yang baik untuk kecantikan. Akan tetapi, belum banyak produk kecantikan yang memanfaatkan khasiat alami dari buah naga ini.

            Buah naga (Hylocereus costaricensis (F.A.C Weber) Britton & Rose)  berdasarkan makalah Manfaat Buah Naga yang ditulis oleh Dra. Purnomowati, SU, memiliki beberapa kandungan setiap seper 100 gram diantaranya air 87 g; protein 1,1 g; lemak 0,4 g; serat 11,0 g; serat 3 g; vitamin B1 (Thiamine) 0,04 mg; vitamin B2 (Riboflavin) 0,05 mg; vitamin B3 (Niacin); vitamin C (Asorbic acid) 20,5 mg; kalsium (Ca) 8,5 mg; Besi (Fe) 1,9 mg; dan senyawa yang bersifat antioksidan yaitu  antosianin dan lycopen. Antosianin memegang dua peranan penting yaitu sebagai antioksidan karena termasuk ke dalam golongan zat flavonoid dan sebagai pigmen warna violet.

Kandungan vitamin C pada buah naga yang cukup tinggi bermanfaat untuk mempercepat penyembuhan luka pada jaringan kulit serta dapat merangsang pembentukan kolagen dan elastin yang dapat mencerahkan kulit wajah (Ningsih, 2016). Selain vitamin C, kandungan lain yang bermanfaat untuk kecantikan kulit adalah antioksidan. Antioksidan merupakan senyawa yang mampu menangkal atau meredam dampak negatif oksidan dalam tubuh, yang bekerja dengan cara mendonorkan 1 elektronnya kepada senyawa yang bersifat oksidan, sehingga aktivitas senyawa oksidan tersebut dapat dihambat (Winarti dalam Sayuti, 2015). Lycopen merupakan kelompok karotenoid sebagai senyawa yang memiliki daya antioksidan tinggi, senyawa ini mampu melawan radikal bebas akibat polusi dan radiasi UV (Di Mascio dalam Ningsih, 2016).

TEKNIK PENGOLAHAN MASKER BUAH NAGA

            Buah naga perlu diolah dengan teknik tertentu untuk menghasilkan masker dengan kualitas tinggi. Tidak semua bahan-bahan alami yang terkandung dalam buah naga bermanfaat bagi kecantikan. Oleh sebab itu, kandungan-kandungan tersebut perlu dipisahkan. Langkah awal dari proses pemisahan adalah uji organoleptis yang tidak dapat dipisahkan dari kajian kimia analitik. Uji organoleptis adalah metode uji dengan mengamati struktur atau bentuk fisik suatu sampel yang meliputi bentuk, warna, dan bau.  Salah satu metode yang dapat digunakan adalah metode pemisahan secara fisika yaitu ekstraksi. Ekstraksi adalah proses menarik yang dapat melibatkan banyak perubahan, baik perubahan fisika maupun perubahan kimia yang menyangkut perubahan lebih struktural terhadap bahan (Wonorahardjo, 2016). Metode ekstraksi yang dipilih dalam pemisahan ini adalah maserasi. Maserasi merupakan suatu proses untuk mendapatkan suatu zat dari simplisia dengan pelarut dan pengocokan beberapa kali serta pengadukan pada suhu kamar. Metode ini dipilih karena termasuk ke dalam proses ekstraksi dingin. Oleh sebab itu, kekhawatiran dari kerusakan bahan-bahan alami akibat pemanasan dapat dihilangkan.

            Sediaan masker buah naga dibuat dalam bentuk gel peel-off. Sediaan gel peel-off untuk masker memiliki keunggulan daripada gel atau bentuk peel-off secara terpisah. Beberapa keunggulan tersebut diantaranya mudah untuk dilepaskan tanpa proses pencucian, efektif dalam mengangkat sel kulit mati, komedo, minyak berlebih, dan penyumbatan pada pori-pori (Moris dalam Ningsih, 2016). Sediaan berupa gel merupakan bentuk dasar dari koloid. Gel peel-off akan memberikan rasa yang dingin di kulit karena berbasis aquadest. Gel  peel-off ketika dioleskan ke kulit akan meresap dan membentuk lapisan film tipis serta transparan.

            Berdasarkan Jurnal Scientia vol. 6 no. 1 yang ditulis oleh Wida Ningsih, Firmansyah, dan Hasnatul Fitri yang dipublikasikan pada bulan Februari 2016 bahan-bahan yang dibutuhkan dalam proses pembuatan masker gel peel-off adalah buah naga merah, etanol 70%, asam sitrat 3%, polivinil alcohol (PVA), carbomer 940, propilena glikol, hidroksi propil metil selulosa (HPMC), nipagin, trietanolamin (TEA), aquadest, dan oleum rosae. Bahan-bahan tersebut diolah dengan proses sebagai berikut.

“Polivinil alkohol ditambah aquadest empat kalinya lalu dipanaskan dalam gelas piala, diaduk sampai warnanya bening dan homogen. Carbomer 940 ditaburkan dalam aquadest, selanjutnya dibiarkan 24 jam agar carbomer 940 mengembang dengan baik, kemudian ditambahkan TEA 5 tetes hingga pH 5-6. HPMC dikembangkan dengan aquadest, dibiarkan selama 30 menit. Campurkan ketiga masa dalam lumpang, dan digerus hingga homogen. Tambahkan propilena glikol dan nipagin yang telah dilarutkan dalam alkohol 70%, gerus sampai terbentuk massa yang homogen. Ekstrak buah naga dilarutkan dengan sisa aquadest, digerus kemudian tambahkan basis sedikit demi sedikit dan gerus kembali. Tambahkan 5 tetes oleum rosae, dan digerus kembali hingga homogen”.

Ekstrak yang didapat dari pemisahan buah naga memiliki bentuk berupa cairan yang cukup kental dan berwarna violet. Warna violet yang dihasilkan ini akan  menguntungkan untuk menunjang produksi masker buah naga karena sesuai dengan berkembangnya trend serba ungu pada tahun 2016. Antosianin merupakan pigmen warna dari buah naga penghasil warna violet sekaligus termasuk ke dalam golongan zat flavonoid yang bertindak sebagai antioksidan. Ekstrak harus dibiarkan berada dalam pH 3 agar pigmen antosianin tidak berubah warna. Antosianin akan bersinergi  dengan lycopen dan vitamin C untuk menjaga wajah agar awet muda. Kandungan vitamin C pada proses pengolahan sempat nonaktif karena mengalami oksidasi. Vitamin C tersebut akan kembali aktif dengan bantuan vitamin E.

            Bahan-bahan yang digunakan pada proses pengolahan masker buah naga memiliki fungsi tersendiri dalam upaya menjaga struktur koloidal masker buah naga. PVA merupakan bahan dasar yang digunakan untuk formula pembentukan gel yang tipis dan elastis, dibantu oleh basis dan carbomer 940 untuk membentuk gel dengan viskositas ideal. Carbomer dalam aquadest akan memberikan pH kurang dari 7. Artinya, lingkungan berada dalam suasana asam. Dalam suasana asam, gugus karboksil dari polimer carbomer terputus dan terurai sebagian, sedangkan dalam keadaan basa dengan penambahan TEA akan meningkatkan pemutusan gugus karboksil menyebabkan gaya tolak menolak antara gugus karboksil, ikatan hidrogen pada gugus karboksil meregang sehingga terjadi peningkatan viskositas (Florence and attwood dalam Ningsih, 2016). Komposisi antara TEA dan alkohol diatur sedemikian rupa agar konsentrat carbomer tidak terganggu.

            Propilena glikol memiliki dua gugus fungsi hidroksil (-OH) yang bermanfaat untuk meningkatkan kekentalan dan menarik air. Kemampuannya dalam hal menarik air menyebabkan gel tetap dalam konsistensi yang lembab. Nipagin bertindak sebagai suatu zat pengawet untuk memperpanjang masa simpan masker. Etanol 70% dalam skala industri biasa digunakan sebagai pelarut. Dalam pembuatan masker, etanol sebagai pelarut yang dikombinasikan dengan air suling akan memberikan sensasi dingin saat masker diaplikasikan pada kulit. Sebagai pemberi aroma (esens) digunakan oleum rosae  yang memberikan kesegaran aroma bunga mawar. Oleum rosae  dipilih karena warna bunga mawar identik dengan ekstrak buah naga yang berwarna violet.

SIMPULAN DAN SARAN

            Desa Sambirejo, Kecamatan Bangorejo, Kabupaten Banyuwangi merupakan daerah penghasil buah naga terbesar di Indonesia. Fakta tersebut dapat dijadikan peluang untuk memperkenalkan dan mengangkat nama Banyuwangi di nusantara atau mancanegara dalam ranah pendidikan, ilmu pengetahuan, dan teknologi. Hal tersebut dapat dilakukan dengan membangun wilayah konservasi. Masyarakat dan wisatawan akan diperkenalkan dengan khasiat buah naga yang tidak hanya sebatas untuk konsumsi, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai produk kecantikan yaitu masker.

               Berdirinya wilayah konservasi sangat diharapkan dapat membuat Banyuwangi menjadi wilayah pembelajaran dan penelitian melalui pendidikan kearifan lokal dan merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kesejahteraan petani buah naga karena secara tidak langsung penghasilan akan bertambah. Selain itu, keunikan dari wilayah Banyuwangi semakin beragam dengan didorong oleh munculnya komunikasi lintas budaya antar orang-orang yang bersangkutan, sehingga akulturasi dimungkinkan terjadi. Hal tersebut memberikan peluang bagi peradaban kearifan lokal Banyuwangi agar dapat  terangkat di nusantara dan di mancanegara.

DAFTAR RUJUKAN

Google Maps. 2017. Sambirejo Bangorejo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. (Online), (https://www.google.com/maps/place/Sambirejo), diakses 11 Februari 2017.

Masluhiya, Swaidatul , Widodo, dan Sri Widyarti. 2016. Care. Formulasi Masker Alami Berbahan Dasar Bengkoang dan Jintan Hitam untuk Mengurangi Kerutan pada Kulit Wajah, (Online), 4 (2): 22-35, (jurnal.unitri.ac.id/), diakses 11 Februari 2017.

Ningsih, Wida, Firmansyah, dan Hasnatul Fitri. 2016. Scientia. Formulasi Masker Peel Off dengan Beberapa Konsentrasi Ekstrak Etanol Buah Naga Super Merah (Hylocereus costaricensis (F.A.C Weber) Britton & Rose), (Online), 6 (1): 18-24, (www.jurnalscientia.org), diakses 11 Februari 2017.

Rachmawati, Ira. 2014. Berkunjung ke Sambirejo, “Desa Buah Naga” di Banyuwangi. (Online), (http://travel.kompas.com/read/2014/

02/050821532/Berkunjung.ke.Sambirejo.Desa.Buah.Naga.di.Banyuwangi, diakses pada 12 Februari 2017.

Sayuti, Kesuma dan Rina Yenrina. 2015. Antioksidan Alami dan Sintetik, (Online), (http://repository.unand.ac.id/23714/1/Kesuma%20Sayuti_Antioksidan%20Alami%20dan%20Sintetik%20OK.pdf), diakses 17 Februari 2017.

Wonorahardjo, Surjani. 2016. Metode-metode Pemisahan Kimia. Jakarta: Indeks.