Analisis Sistem Penanggalan Di Jawa

Analisis Sistem Penanggalan Di Jawa

Leni Sagita

E-mail: Lenisagita45@yahoo.co.id

Universitas Negeri Malang

           Sistem penanggalan merupakan hal yang vital dalam kehidupan manusia, hal tersebut dikarenakan melalui sistem pertanggalan  kita dapat mengetahui jangka waktu suatu hal atau peristiwa  terjadi, misalnya waktu-waktu penting dalam auatu acar atau ritual yang biasa dilakukan oleh mastayarakat. Sistem ini sendiri tidak semata-mata terjadi dengan sendirinya, terdapat suatu tahapan dimana manusia mulai berfikir mengenai bagaimana cara untuk menghitung waktu dengan mudah. Dari pemikiran yang berkembang tersebut, manusia mulai mengembangkan sistem pertanggalan, guna mempermudah perhitungan waktu.

           Sistem ini memiliki beberapa macam jenis, diantaranya ialah sistem pertanggalan Jawa. Sistem pertanggalan Jawa ini berbeda dengan sistem pertanggalan lainya, karena memiliki ciri khas tersendiri. Sistem ini memiliki nilai tersendiri, karena sistem pertanggalan jawa ini selalu dikaitkan dengan hal-hal yang sakral. Melalui sistem pertanggalan jawa, seseorang dapat menentukan hari baiknya, weton, hari pernikahan, jodoh, dan lainya, sehingga fungsinya lebih difokuskan pada ramalan akan hal yang akan terjadi. Sehingga dapat diketahui bahwa, sistem pertanggalan jawa selain menjadi patokan waktu juga merupakan patokan atau aturan yang yang digunakan dalam menentukan setiap waktu baik yang dianggap sakral oleh masyarakat, dan jika patokan itu tidak dilakukan maka dipercaya dapat menghadirkan kesialan. Bagi masyarakat Jawa, sistem pertanggalan diibaratkan sebagai arah dalam penentu kelangsungan hidup manusia. Oleh karena itu, penulis berpendapat bahwa sistem penaggalan jawa memiliki ciri yang khas, karena dalam sistem penanggalan jawa terdapat hal-hal sakral yang tidak boleh dilanggar , yang tanpa sadar mengikat pemikiran manusia dalam lingkup hal-hal yang berbau kepercayaan atau gaib. Hal tersebut juga dikarenakan sebelumnya, masyarakat jawa kuno telah menganut sistem animisme dan dinamisme.

           Sistem penanggalan jawa sendiri didasarkan atas peredaran bulan mengelilingi bumi, sehingga nama bulan ditetapkan dengan suro, sapar, mulud, bakdomulud, jumadil awal, jumadil akhir, rejeb, ruwah, poso, sawal, selo, besar. Dalam sistem penaggalan jawa juga dikenal adanya 5 hari pasaran, yang berbeda dengan penanggalan lainya, yaitu kliwon, legi, pahing, wage, dan pon. Dalam hari pasaran yang ada dalam penanggalan jawa, tidak hanya istilah tanpa makna, melainkan didalmnya terdapat makna yang tersembunyi, yang didasarkan pada kepercayaan masyarakat Jawa, yakni:

Kliwon (asih), yang melambangkan sikap berdiri

Legi (manis), melambangkan mungkur atau berbalik ke arah belakang

Pahing (pahit), melambangkan madep atau menghadang

Pon (petak), melambangkan sare atau tidur

Wage (cemeng), melambangkan lenggah atau duduk

           Sehingga dapat diketahui bahwa penaggalan jawa bukan hanya berisi mengenai penentuan waktu saja, melainkan juga didalmnya terdapat esensinya. Sehingga dapat diketahui bahwa, sistem penanggalan jawa tidak hanya melulu mengenai oerhitungan waktu, tapi juga merupakan pedoman yang digunakan manusia dalam menentukan hari-hari penting dalam kehidupanya, khusunya dalam masyarakat Jawa.

Daftar Rujukan

 eprints.walisongo.ac.id/3751/3/102111087_Bab2.pdf

digilib.uin-suka.ac.id/…/BAB%20I,%20BAB%20V,%20DAFTAR%20PUSTAKA.pdf

http://repo.iain-tulungagung.ac.id/2895/2/SRIPSI%20BAB%20I-V.pdf