Don’t Judge University by Accreditation

Don’t Judge University by Accreditation

Oleh. Windy A. Alicia Putri

Mari untuk tidak menghakimi universitas berdasarkan peringkatnya.

            Pepatah lama mengatakan “Don’t Judge Book by Cover” yang artinya jangan membiasakan menghakimi suatu buku dari sampulnya.  Sampul sejatinya memang merepresentasikan isi buku, tapi tidak ada jaminan bahwa sampul yang kurang bagus mencerminkan kualitas buku yang serupa, dan vice versa. Pun demikian, dalam hal kemanusiaan manusia tidak dapat dinilai dari penampilan luarnya, tidak semua. Kondisi lain yang perlu disepakati untuk tidak mengadili sesuatu tanpa melihat lebih dulu adalah lembaga pendidikan, dalam hal ini terkhusus pada Universitas.

            Ya, mayoritas manusia terdoktrin untuk mengklasifikasikan universitas ini ke kelompok A, universitas itu ke kelompok B dan universitas lain ke kelompok C. Kelompok pertama dideskripsikan sebagai kelompok universitas unggulan, yang  mencetak mahasiswa-mahasiswa cerdas, prestasinya banyak dan lulusannya akan digaji tinggi ketika kerja. Kelompok kedua satu tingkat di bawahnya, sebagai universitas yang mayoritas mahasiswanya rata-rata, sementara kelompok terakhir seringnya dipandang remeh dalam berbagai hal, tidak saja oleh masyarakat awam tapi juga mahasiswa kelompok pertama dan kedua.

            Pengkotakan yang demikian selanjutnya mengakar dan mengakibatkan persepsi mendiskreditkan universitas-universitas kelompok terakhir. Memang benar, kelompok A berisi mahasiswa-mahasiswa keren, tenaga pendidik yang tak kalah keren, dan memiliki sederet keunggulan yang tidak dimiliki kelompok B dan C. Tapi, apa benar kelompok A lebih bagus dalam segala hal dibanding kelompok B dan C?

Belum tentu.

            Apa jaminannya? Tau tidak, dalam logika ilmu matematika pernyataan bahwa “universitas-universitas yang masuk kategori A pasti lebih hebat dari universitas-universitas di kelompok B dan C” atau “Universitas-universitas dalam kelompok B dan C pasti lebih tidak bagus dari kelompok A” dapat dengan mudah disangkal. Cari saja “satu” ketidakunggulan di universitas kelompok pertama yang menjadi keunggulan bagi kelompok kedua dan ketiga. Pasti ada, segala sesuatu di alam ini yin dan yang, selalu ada sisi baik dan sisi buruk. Dan pernyataan-pernyataan angkuh tersebut sudah terpatahkan. Lalu apa? Ya, artinya tidak tepat kalau mengatakan bahwa universitas ini lebih baik dari universitas itu. Bahwa, hanya karena universitas X memiliki nilai akreditasi lebih rendah lalu dengan arogannya menyimpulkan tidak perlu berjejaring dengan orang-orang di universitas tersebut. Tidak, sama sekali tidak benar. Tidak ada jaminan bahwa hanya karena mereka dikategorikan lebih rendah lalu yang lain pasti lebih baik dari mereka. Kata siapa? Bisa jadi malah sebaliknya.

            Persepsi manusia tidak bisa dinyatakan betul-betul mutlak kebenarannya. Tidak bisa dijadikan landasan. Pun pada pengkategorian universitas yang dibuat berjenjang, memang ada data valid di balik pengelompokan tersebut. Tapi bukan berarti universitas di urutan terbawah pasti berisi mahasiswa-mahasiswa yang kurang pintar. Bukan berarti mahasiswa-mahasiswa kelompok atas merasa tidak perlu belajar dengan mereka. Ada peluang dalam beberapa hal mahasiswa kelompok B atau C lebih baik dibanding mahasiswa kelompok A. Dan pada titik tersebut keduanya perlu bertemu dan saling belajar. Belajar untuk tidak mempersempit sudut pandang dan memperluas jaringan serta berdiskusi untuk memberikan sumbangsih kemajuan bagi kedua belah pihak.

            Tidak perlu mengadili universitas X yang kategorinya lebih rendah. Pun tidak perlu memupuk sifat iri pada mereka yang dikategorikan lebih tinggi. Semuanya punya porsi masing-masing dan diciptakan untuk saling belajar satu sama lain.