Essay Inkubator : AKTIVIS KAMPUS, TERASING DI KAMPUNG

AKTIVIS KAMPUS, TERASING DI KAMPUNG

Oleh : Ferry Albyfani

              Menelisik kegiatan mahasiswa yang disibukkan oleh kertas dan kertas seakan tanpa berhenti untuk dikeluhkan. Menjadi mahasiswa memang sebuah keharusan, namun kebanyakan orang melihat sudut peningkatan status sosial selepas lulus nanti. Menyandang gelar mahasiswa merupakan suatu kebanggaan sekaligus tantangan. Betapa tidak, ekspektasi dan tanggung jawab yang diemban oleh mahasiswa begitu besar. Mahasiswa sering diartikan atau disamakan dengan aktivis kampus. Hal-hal yang dilekatkan pada diri seorang mahasiswa adalah kuliah dan organisasi. Sepandai apapun mahasiswa namun jika belum mengikuti organisasi seakan dirinya belum mampu mengenal dunia yang lebih dari sekedar tulisan dan buku, sebaliknya bagi yang mendominasi bagian organisasi dan melupakan kuliahnya adalah mahasiswa yang lalai tujuan awal dari kuliah. Memang, menyeimbangkan antara kuliah dan organisasi sesuatu yang tidak mudah, namun seseorang yang telah diberi label mahasiswa seharusnya mampu mengatur waktu dengan baik tanpa mengabaikan salah satunya.

             Tidak cukup dengan itu, mahasiswa pula dihadapkan dengan cap Agent of Change. Apa itu? Jika diartikan maka bermakna agen perubahan, maksudnya adalah manusia penggerak perubahan di dalam masyarakat. Perubahan yang terkonsep dan memang dikehendaki ke arah masa depan yang lebih teratur. Dalam hal ini, mahasiswa harus mampu membawa perubahan pada masyarakat. Tidak hanya pada lingkup kampus, mahasiswa atau bahkan seorang aktivis mampu memberikan solusi dalam problema yang ada pada masyarakat. Selain Agent of Change, satu lagi nama yang perlu disandang oleh seorang mahasiswa/aktivis yaitu Social Control. Social Control merupakan sebagai mahasiswa seharusnya menumbuhkan jiwa kepedulian yang peduli terhadap masyarakat karena mahasiswa juga bagian dari masyarakat pula. Kepedulian tersebut tidak hanya diwujudkan dengan demo atau turun ke jalan saja, melainkan dari pemikiran-pemikiran solutif dari diskusi-diskusi, atau bahkan memberikan bantuan berupa moril maupun materiil kepada masyarakat.

Aktivis di Kampung, Sudahkah?

              Telah dijelaskan peran mahasiswa sebagai Agent of Change dan Social Control. Realisasinya terwujud atau terpuruk? Memang, tidak dapat dengan dinyatakan dengan data pasti jumlah mahasiswa yang mampu membawa perubahan bagi masyarakat. Secara empiris, banyak mahasiswa justru seakan terasing di kalangan masyarakat luas. Hal ini tidak dapat dipungkiri, dengan alasan bahwa waktu yang lebih banyak dihabiskan di kampus dengan organisasi dan segala tumpukan tugas. Jika kenyataan seperti, dengan modal apalagi istilah perubahan dalam masyarakat terwujud.

              Bukankah mahasiswa berasal dari masyarakat? Seperti kacang lupa kulit, sebagian mahasiswa mempersepsikan bahwa melakukan kegiatan di kampus lebih prestise jika dibandingkan melakukannya di masyarakat. Tanpa ditelisik lebih jauh, perlu memaknai jika masyarakat lebih membutuhkan peran mahasiswa untuk dapat membawa dampak perubahan bagi aspek kehidupan mereka,

             Sebagai contoh, kampung Jodipan yang dahulunya terkenal dengan pemukiman kumuh dan tak terawat kini telah menjadi salah satu tujuan destinasi wisata rujukan di Kota Malang. Melalui ide kreatif mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang, kampung Jodipan telihat lebih berwarna hingga saat ini terkenal sebagai kampung warna warni. Dengan adanya pemukiman yang lebih terstruktur dan cantik, mampu mendatangkan pendapatan bagi kampung itu sendiri serta adanya perusahaan cat yang mau untuk memberikan perawatan intensif terhadap rumah-rumah warga.

Merangkul Masyarakat.

             Sebagai seorang mahasiswa, pentingnya mengamalkan tri dharma perguruan tinggi salah satunya adalah pengabdian masyarakat. Memang tidak semudah dikatakan untuk dapat memberikan perubahan langsung bagi masyarakat. Perlu tahapan-tahapan untuk sampai pada tujuan tersebut. Pertama, mahasiswa perlu melakukan pendekatan secara personal atau kelompok kecil dalam masyarakat. Dengan adanya pendekatan ini, nantinya mahasiswa akan diperhatikan keberadaannya lalu personal atau kelompok kecil tersebut akan diarahkan untuk bersosial pula di kalangan masyarakat. Kedua, mahasiswa akan mampu menganalisis apa yang dibutuhkan dalam masyarakat. Dengan telah melakukan pendekatan terhadap masyarakat, problema dalam masyarakat akan ditemukan dan mahasiswa perlu menganalisis penyebab dan dampak masalah yang timbul tersebut. Ketiga, mahasiswa memberikan ide inovatif dan solutif. Adanya masalah tersebut, ide yang inovatif dan solutif muncul sebagai pembawa dampak perubahan untuk kedepannya yang lebih baik. Terakhir, mahasiswa perlu melaksanakan komunikasi yang berkelanjutan dan kontrol terhadap apa yang telah diberikan kepada masyarakat. Hal ini berguna untuk menjaga hubungan yang baik antara mahasiswa dan masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

Gustian. Peran Mahasiswa (Agent of Change, Social Control dan Iron Stock). (Online).(http://www.gusti8official.org/2013/09/kritikan-terhadap-pemimpin-bangsa.html), diakses 21 Februari 2017

Santoso, Budi. Definis, Fungsi, dan Peran Mahasiswa. (Online). (http://pamuncar.blogspot.co.id/2012/06/definisi-peran-dan-fungsi-mahasiswa.html), diakses 21 Februari 2017.