Essay Inkubator : Budaya Digitalisasi Kikiskan Budaya Nasional

 

Budaya Digitalisasi Kikiskan Budaya Nasional

Oleh: Ahmad Padhlillah

             Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai budayanya. Mungkin itu salah satu istilah untuk menggambarkan betapa beragamnya budaya Indonesia. Sabang sampai merauke, begitu banyak budaya yang di milik Indonesia. Hal ini menjadi daya Tarik tersendiri bagi mereka yang melihat budaya Indonesia. Menurut Koentjaraningrat, Budaya merupakan sebuah sistem gagasan & rasa, sebuah tindakan serta karya yang dihasilkan oleh manusia didalam kehidupannya yang bermasyarakat, yang dijadikan kepunyaannya dengan belajar.

            Menurut Ki Hajar Dewantara, kebudayaan nasional merupakan puncak dari kebudayaan daerah. Kutipan pernyataan ini mengarah pada paham kesatuan semakin dimantapkan, sehingga ketunggalikaan semakin dirasakan daripada kebhinekaan. Wujudnya ialah berupa negara yang berkesatuan, bahasa nasional , dan menimbulkan rasa bangga untuk orang Indonesia bila ditampilkan untuk mewakili identitas bersama.

              Dipandang dari adat ketimurannya, maka Indonesia sangat berbeda dengan daerah yang ada dibarat. Rata-rata orang timur sangat menjunjung tinggi nilai-nilai budayanya sendiri sebagai aset untuk melestarikan daerah dan budayanya secara turuntemurun. Nilai-nilai budaya yang secara turun-temurun yang dimaksud adalah sopan, santun, taat, menghormati, menghargai, menjunjung tinggi adat, menghormati hak milik orang merupakan gambaran betapa orang Indonesia merupakan bangsa yang sangat menjunjung tinggi budayanya.

Menjamurnya Budaya Digitalisasi

             Dalam dunia yang serba cepat dan terbuka seperti sekarang ini, satu hal yang sudah pasti atau mau tidak mau terjadi adalah perubahan gaya hidup yang begitu ekstrim. Bila kita kembali bandingkan zaman generasi X, Y dan Z, maka di zaman generasi Z hidup, gaya hidup yang paling dominan adalah ke-individualime-an; apaapa dianggap bisa dilakukan sendiri, seakan-akan orang lain tidak begitu penting keberadaannya. Individualisme itu malah semakin berkembang seiring waktu berjalan, terutama saat teknologi ikut berkembang. Semakin berkembangnya teknologi, semakin individualistik gaya hidup manusia. Makna bahwa manusia adalah zoon politicon mulai tergerus dan terlupakan. Tantangan baru dalam kehidupan manusia sudah muncul kepermukaan; manusia mulai dikuasai kecanggihan teknologi yang dibuatnya sendiri.

             Gaya hidup orang per-orang pada dasarnya akan menentukan bagaimana gaya hidup sebuah komunitas dimana ia berproses. Gaya hidup yang saling berinteraksi memunculkan semacam kesepakatan gaya hidup baru yang dipaksa dengan sengaja untuk disesuai-sesuaikan dan dicari titik temunya dari gaya hidup yang berbeda-beda itu. Jika gaya hidup itu sejalan dengan hakikat dirinya sebagai manusia yaitu sebagai mahluk sosial yang diciptakan untuk hidup bagi sesamanya, tidak masalah. Menjadi persoalan ketika gaya hidup bersama yang baru itu justru bertentangan dengan hakikat manusia sebagai mahluk sosial.

              Dalam konteks Indonesia, sudah tidak perlu diperdebatkan lagi tentang gaya hidup bersama yang sudah menjadi kesepakatan seluruh masyarakat-bangsa Indonesia, bahwa di tanah Nusantara seluruh manusia hidup dalam kebersamaan sebagai suatu komunitas besar, yang meski identik dalam perbedaan tetapi tetap bisa disatukan dalam satu kesepakatan bernama: Indonesia. Gaya hidup inilah yang dikemudian hari disebutsebut sebagai budaya masyarakat Indonesia, budaya bangsa Indonesia, budaya Indonesia. Kesatuan dalam keberagaman itulah inti dan pokok dari budaya Indonesia yang sampai saat ini tetap dipegang dan harus terus dijaga agar tidak terganti dengan budaya yang lain

             Budaya Indonesia itu terangkum jelas dalam Pancasila yang oleh Soekarno dikatakan sebagai jiwa bangsa Indonesia. Pancasila menjadi entitas bangsa yang melampaui setiap perbedaan dan dengan esensinya berusaha untuk memberikan persatuan. Di dalam Pancasila juga, selain budaya Indonesia termaktub, wajah masyarakat Indonesia tergambarkan. Pancasila yang penemuannya dicapai dengan berefleksi atas historitas. Nusantara adalah cermin yang jernih ketika masyarakat dunia ingin melihat siapa atau apa masyarakat Indonesia itu. Dalam kerangka berpikir seperti itu, saya mengatakan bahwa gaya hidup atau budaya masyarakat Indonesia tidak lain harus berlandaskan pada sila-sila di Pancasila itu. Dengan kata lain, Pancasila sebenarnya adalah budaya bangsa Indonesia.

Budaya Nasional Semakin Terkikis

             Pada zaman sekarang ini terutama memasuli abad ke 21 perkembangan teknologi terasa luar biasa terutama yang berhubungan dengan telekomunikasi dan informasi. Walaupun tujuan utama iptek adalah perubahan kehidupan masa depan manusia yang lebih baik, mudah, murah, cepat dan aman. Perkembangan iptek terutama teknologi informasi seperti internet sangat menunjang setiap orang mencapai tujuan hidupnya pada waktu singkat. Sementara orang bahkan memuja iptek sebagai liberator yang akan membebaskan mereka dari kefanaan dunia.

            Produk-produk digital dengan teknologi canggih yang juga merasuk ke kehidupan masyarakat Indonesia bukan hanya dalam bentuk social media, seperti: Friendster, FB, Twitter, Path. Tetapi juga segala bentuk produk yang memengaruhi secara langsung gaya hidup atau budaya, seperti telepon genggam yang semakin hari semakin canggih. Jika dulu ketika seorang warga yang tinggal di Tangerang ingin berkomunikasi dengan anaknya yang kuliah di Malang harus melalui sarana suratmenyurat, sekarang tinggal SMS, menelepon atau malah video call.

             Produk – produk digital cenderung menjadikan masyarakat Indonesia melupakan jati diri dan budayanya sendiri. Budaya Indonesia semakin lama semakin terkikis bahkan bisa jadi hilang dan terganti dengan budaya barat. Bila masyarakat Indonesia sudah malas dan tidak mau tahu lagi mengenai budayanya karena pengaruh gadget, bukan tidak mungkin kebudayaan Indonesia sedikit demi sedikit akan kembali di klaim oleh negara negara tentangga. Bila hal ini terjadi, maka hilanglah jati diri bangsa Indonesia sebagai bangsa yang berbudaya.

Digitalisasikan Budaya Indonesia

             Tidak mungkin untuk menuntut dan menghapus dinamika digitalisasi yang sudah menjamur di menjadi budaya baru bagi masyarakat di Indonesia. Tetapi hal tersebut bukan berarti menyimpulkan kalau generasi digital Indonesia tidak bisa lagi memiliki gaya hidup yang sesuai dengan budaya nasional. Solusinya adalah berusaha mensinergikan keduanya, bukan lagi dualisme yang terus dipertentangkan, melainkan sebagai dualitas yang saling mendukung. Caranya yaitu?

             Jadikan alat – alat digital canggih menjadi sarana untuk memperdalam pengetahuan para masyarakat Indonesia mengenai budaya – budaya Indonesia. Kemudian tanamkan kembali nilai – nilai pancasila pada pendidikan di Indonesia agar para penerus bangsa Indonesia memiliki jiwa nasionalis. Lalu sebarkan pengetahuan pengetahuan nasionalisme di berbagai konten media social dan ajak masyarakat luas agar mau ikut berpartisipasi dalam kegiatan kenegaraan dan kebangsaan.

              Jika kita bisa mendigitalisasikan budaya Indonesia, menjadi agen – agen untuk memperkenalkan budaya Indonesia kepada masyarakat dalam maupun luar negeri, bukan tidak mungkin budaya Indonesia akan terus bertahan. Bahkan dapat bertahan sampai ratusan bahkan ribuan tahun kedepan.

Daftar Rujukan

Tatamiefta. Pengaruh Perkembangan Teknologi Terhadap Budaya Bangsa Indonesia: 2014. https://tatamiefta.wordpress.com/2014/11/07/pengaruhperkembangan- teknologi-terhadap-budaya-bangsa-indonesia/. Diakses Tanggal 23 April 2017. Sholikhah. Zaimatus. Budaya ndonesia yang Semakin Terlupakan: 2015. http://www.kompasiana.com/zaim_kuning/budaya-indonesia-yangsemakin- terlupakan_5528c5ea6ea8340d468b4578. Diakses Tanggal 23 April 2017