Essay Inkubator – Penghargaan Pembunuh Semangat Siswa

 

Penghargaan Pembunuh Semangat Siswa

            Pendidikan di Indonesia saat ini masih memiliki banyak hal yang harus diperhatikan lebih lanjut. Walaupun menurut Programme for International Student Assessment (PISA), indonesia memiliki kenaikan pencapaian murid yang besar hingga menempati kenaikan pencapaian murid tertinggi ke-4, kualitas pendidikan indonesia masih berada di bawah rata-rata global. Banyak dari kebiasaan-kebiasaan yang sering ditemui di sekolah-sekolah yang justru dapat menurunkan kualitas pendidikan Indonesia. Bukan hanya di lingkungan sekolah namun juga sangat mudah ditemui di lingkungan rumah siswa.

Nilai adalah keberhasilan

            Sudah menjadi hal yang biasa bagi siswa saat banyak orang menanyakan bagaimana dengan tugas, hasil ulangan, bahkan hasill ujian. Hasil-hasil tersebut memanglah penting bagi siswa, karena dengan hasil-hasil tersebut maka siswa memiliki bukti pendidikan. Dimana seperti yang kita ketahui, bukti pendidikan itulah yang akan digunakan untuk menempuh pendidikan yang lebih tinggi. Dan dengan menempuh pendidikan yang lebih tinggi maka siswa akan mendapat peluang yang lebih untuk masuk di dunia kerja.

            Di samping bukti pendidikan yang penting, tidak dapat kita kesampingkan masalah kualitas pendidikan siswa, serta nilai moral dari siswa. Banyak faktor yang dapat memengaruhi nilai yang akan muncul di bukti pendidikan nantinya. Namun dari pada itu kualitas pendidikan seperti apa yang ada pada siswa, bagaimana cara siswa berinteraksi dengan lingkungannya, serta apa skill lain yang ada pada diri setiap siswa jauh lebih penting. Sehingga lembaga-lembaga pendidikan sangat perlu memerhatikan hal ini, agar siswa yang telah mendapatkan bukti pendidikan tersebut bukan sekadar siswa yang memiliki nilai yang tinggi tanpa memiliki potensi diri yang lain.

            Berdasarkan hasil yang muncul pada tiap-tiap bukti pendidikan akan membentuk masyarakat untuk menyusun patokan-patokan tidak tertulis sehingga mereka dapat menyimpulkan mana siswa yang pintar mana siswa yang tidak, mana yang hebat mana yang tidak. Padahal apa yang ada di bukti pendidikan hanyalah angka-angka yang bahkan masyarakat tidak mengetahui sedikitpun dari mana asalnya. Hal ini sedikit banyak memengaruhi mental siswa yang berada di tengah masyarakat dengan cara berpikir yang mayoritas sama, yaitu mengukur dengan hal yang tidak dapat dibandingkan setiap siswa.

            Masih sering kita dengar dimasyarakat bahwa siswa yang pintar adalah siswa dengan nilai matematika yang baik atau siswa yang menempuh sekolah dengan jurusan  ilmu pengetahuan alam di sekolahnya. Faktanya banyak siswa dari jurusan selain ilmu pendidikan alam yang suskses di bidangnya dengan menjadi akuntan, jaksa, pengacara, dan sebagainya. Tidak jarang juga kita temukan siswa dengan jurusan ilmu pengetahuan alam yang sekolahnya terbengkalai. Tujuannya sekolah hanya formalitas untuk mengisi buku presensi saja. Masyarakat Indonesia masih kurang sadar bahwa keberhasilan seorang siswa berada pada usaha siswa, bukan tempat di mana siswa sekolah, bukan juga dari jurusan apa yang siswa pelajari. Percuma saja jika menempuh sekolah di sekolah dengan fasilitas lengkap dan terpandang namun siswa tidak berusaha belajar dengan baik.

            Harus diingat bahwa penentu kesuksekan bukanlah berapa nilai siswa, atau jurusan apa yang siswa pelajari. Walaupun dengan nillai yang tinggi siswa akan mendapatkan tempat untuk belajar yang memiliki standar yang tinggi, serta bidang apa yang siswa pelajari juga menentukan peluang kerja masing-masing siswa, namun bukan berarti siswa dengan sekolah yang bukan dari sekolah dan jurusan terpandang akan menjadi bawahan siswa dari sekolah dan jurusan terpandang. Kesuksesan siswa lebih kepada bagaimana siswa dapat menguasai materi yang selama ini siswa terima, bagaiamana siswa mengaplikasikan ilmu yang mereka punya kedalam pekerjaannya nanti, bahkan sangat berpengaruh bagaimana cara siswa berinteraksi dan mengutarakan gagasanya kepada orang lain.

Peringkat menentukan hidup

            Banyak dari sekolah-sekolah di Indonesia yang masih memunculkan peringkat siswanya pada saat pembagian rapor semester atau kenaikan kelas. Bahkan terkadang beberapa pengajar memunculkan peringkat setiap mengadakan ujian. Ada juga pengajar yang membagikan hasil ujian satu per satu berdasarkan hasil ujian siswa.

            Semua orang sangat paham bagaimana tujuan dari sistem peringkat ini, dimana siswa akan mengerti di mana posisi hasil belajar mereka sehingga siswa tahu apakah mereka masih di bawah teman-teman mereka.  Ini adalah sistem yang baik yang akan memacu persaingan antar siswa untuk mendapatkan peringkat teratas atau untuk sekedar menerima hasil ujian pertama jika gurunya membagikan hasil ujian. Sehingga sedikit banyak akan memengaruhi semangat belajar siswa. Namun di sisi lain, sistem ini belum sepenuhnya tepat jika di terapkan di seluruh siswa. Mengingat setiap siswa memiliki kemampuan yang berbeda-beda, disatu sisi siswa mungkin dianggap kurang namun siswa memiliki sisi lain yang mungkin jauh diatas rata-rata teman-temannya.

            Belum ada tindak lanjut dari sekolah maupun pengajar terhadap sistem peringkat yang ada. Siswa tetap belajar secara mandiri tidak peduli peringkat siswa berada di atas rata-rata atau di bawah rata-rata. Hal ini akan menjadikan sistem peringkat yang ada justru menjadi hal yang di benci oleh siswa serta di nilai menguntungkan siswa yang pintar saja. Jika peringkat siswa berada di bawah rata-rata nilai teman-teman mereka itu menandakan bahwa mereka belum mampu belajar seperti apa yang teman-teman mereka lakukan. Dari situ jika sekolah tidak memberikan perhatian lebih terhadap siswa yang nilainya berada di bawah rata-rata nilai temen-temannya maka sistem peringkat adalah hal yang tidak berguna.

            Selain tindak lanjut dari pihak sekolah terhadap siswa yang memiliki peringkat di bawah rata-rata, siswa juga berperan penting dalam kelanjutan sistem peringkat ini. Sistem rangking ada untuk mamcu belajar siswa agar dapat membenahi cara belajarnya sehingga mendapatkan peringkat yang baik. Namun harus diingat bahwa jiwa persaingan setiap siswa berbeda-beda. Benar jika sistem peringkat akan sangat berhasil di lingkungan sekolah dengan siswa yang memiliki daya saing yang tinggi. Namun tidak dengan siswa yang memiliki daya saing yang rendah, yang hanya akan menerima apapun yang muncul pada daftar peringkat.

             Siswa yang memiliki daya saing tinggi akan semakin membaik dengan peringkatnya sebagai pemicu semangat belajarnya. Namun untuk siswa dengan daya saing yang rendah itu tidak berpengaruh. Bahkan jika siswa dengan daya saing rendah berada pada peringkat yang di bawah rata-rata maka peringkatnya justru yang menjerumuskan siswa menjadi patah semangat. Terlebih jika sekolah memberi peringkat di akhir dari pembelajaran dimana siswa tidak dapat lagi memperbaikinya, sedangkan siswa masih harus melanjutkan pendidikannya di jenjang yang lebih tinggi. Ditakutkan hal ini dapat menjadi dampak buruk pada pendidikan siswa setelahnya. Hal ini yang menjadikan sistem peringkat bukan menjadi sesuatu yang dapat membantu siswa dalam belajar melainkan menurunkan semangat belajar siswa yang dapat berakibat fatal bagi masa depan siswa.

Daftar Pustaka

Kemendikbud. 2016. Peringkat dan Capaian PISA Indonesia Mengalami Peningkatan. (Online), (https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2016/12/peringkat-dan-capaian-pisa-indonesia-mengalami-peningkatan), diakses 31 juli 2017.