Essay Inkubator : SEMANGAT NASIONALISME GENERASI MUDA PENGUBAH BANGSA DALAM BALUTAN NILAI-NILAI PERJUANGAN SERANGAN UMUM 1 MARET 1949

Lomba Penulisan 68th Serangan Oemoem (SO) 1 Maret 1949

SEMANGAT NASIONALISME GENERASI MUDA PENGUBAH BANGSA DALAM BALUTAN NILAI-NILAI PERJUANGAN SERANGAN UMUM 1 MARET 1949

Tasya Tamara (140332600468)

                Indonesia sebagai sebuah negara modern tidak bisa dipisahkan dari sejarah panjang identitas nasional, seperti peristiwa serangan umum 1 Maret 1949. Serangan Umum 1 Maret 1949 merupakan sebuah serangan besar-besaran kepada pihak Belanda yang dilakukan di kota Yogyakarta pada tanggal 1949. Serangan umum 1 Maret 1949 terjadi karena adanya resolusi Dewan Keamanan PBB dan penolakan Belanda terhadap resolusi tersebut dengan melancarkan propaganda yang menyatakan bahwa Republik Indonesia sudah tidak ada lagi. Setelah itu, jajaran tertinggi militer di wilayah Divisi III/GM III merencanakan dan mempersiapkan serangan umum dengan mengikutsertakan beberapa pucuk pimpinan pemerintah sipil setempat.

                  Hutagalung sebagai seorang dokter dan pembentuk jaringan di wilayah Divisi II dan III mengajukan pemikirannya untuk meyakinkan dunia internasional terutama Amerika Serikat dan Inggris bahwa Negara Republik Indonesia masih kuat dan memiliki pemerintahan (Pemerintah Darurat Republik Indonesia – PDRI), organisasi TNI dan pasukan tentara. Untuk meyakinkan dunia internasional dan  menembus isolasi dari belanda, maka harus diadakan serangan spektakuler yang tidak bisa disembunyikan oleh Belanda dan harus diketahui oleh United Nations Commission for Indonesia (UNCI) dan wartawan-wartawan asing untuk disebarluaskan ke seluruh dunia. Strategi penyampaian berita mengenai eksistensi Indonesia kepada dunia dilakukan dengan mengumpulkan pemuda-pemuda Indonesia yang dapat berbahasa Inggris, Belanda, atau Perancis untuk dikenakan seragam Tentara Nasional Indonesia. Tujuan utama penyerangan adalah menunjukkan eksistensi TNI dan Republik Indonesia kepada dunia internasional.

                  Ketua Paguyuban Wehrkreis (Daerah Perlawanan) III Yogyakarta, L Soejono, mengisahkan peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949 menjadi penanda keberadaan Republik Indonesia meski dirongrong oleh propaganda Belanda sejak setahun sebelumnya. Saat itu Belanda mengklaim Republik Indonesia sudah tidak ada dan jika ada serangan berasal dari pasukan liar. Serangan Umum 1 Maret 1949 juga menunjukkan kekompakan pejuang yang melakukan serangan terorganisasi memprioritaskan nilai persatuan dan kesatuan. Sebab itu, diharapkan generasi muda perlu mengetahui sejarah perjuangan para pendiri bangsa dalam peristiwa serangan umum 1 Maret 1949 agar mampu memompa semangat dan nasionalisme.

                 Pemuda merupakan generasi penerus suatu bangsa yang menentukan kualitas dan kekuatan negara. Pemuda bukan sekedar bagian dari lapisan sosial dalam masyarakat, namun agent of change dan agent of social control. Selain itu, pemuda juga menempati peran penting dalam berbagai perjuangan mempertahankan kedaulatan bangsa Indonesia. Sejarah juga telah membuktikan bahwa diberbagai belahan dunia pemuda merupakan sumber energi perubahan suatu negara. Bahkan bung Karno mengungkapkan betapa pentingnya pemuda dalam kemajuan bangsa melalui kalimat “ Beri aku sepuluh pemuda, maka akan kuguncangkan dunia”

                  Seorang sejarawan, Anhar Gonggong, telah menuliskan kalimat yang menyimpan banyak harapan kepada generasi muda penerus bangsa Indonesia, yaitu generasi muda saat sekarang jangan hanya menjadi penikmat kemerdekaan. Harapan itu adalah harapan akan semangat perjuangan yang perlu dibuktikan oleh para kaum muda dalam menghadapi tantangan zaman. Perjuangan yang dimaksud tentunya perjuangan yang berbeda dari perjuangan pada peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949. Pada peristiwa tersebut kaum muda Indonesia justru harus berjuang keras agar tatanan kehidupan bangsa Indonesia menjadi lebih kuat. Jangan sampai negara yang telah merdeka ini tetap gagal untuk mewujudkan mewujudkan tujuan kemerdekaan.

                Tantangan yang dihadapi pada masa itu adalah mempertahankan kedaulatan NKRI dari rongrongan musuh yang menyebabkan perang senjata (fisik) dan juga perang diplomasi. Periode itu kemudian juga melahirkan angkatan ’45 yang terdiri dari para kaum muda yang terjun dalam medan pertempuran sebagai pasukan tentara pelajar. Mereka mempertahankan kemerdekaan dan kehormatan bangsa dan negaranya.

                  Namun kehidupan masa depan yang ditandai dengan kuatnya arus globalisasi dan meluasnya paham materialisme telah membawa  kehidupan masyarakat sekarang ini cenderung pragmatis, konsumtif-materialistik, berorientasi kepada materi fisik-kebendaan, dan mengejar kepuasan sesaat. Format kehidupan ini ternyata juga membawa bencana kultural. Nilai-nilai sosial budaya keindonesiaan yang telah dibangun beratus-ratus tahun seperti, kesantunan dan kepeduliaan, gotong royong, saling bermusyawarah, semangat kebangsaan, jiwa kepahlawanan, rela berkorban, keteguhan dan kegigihan  serta kerja keras yang pernah dikembangkan oleh para pejuang pendahulu kita terasa hambar dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa dewasa ini. Pemuda yang cenderung individualistik; berkembang budaya nerabas dan tidak jujur yang dapat berujung pada pengkerdilan dan penumpulan inti dan makna kemanusiaan. Tawuran antarpelajar; perilaku amoral seperti korupsi, minum-minuman keras dan penyelewenagn seksual, di samping lunturnya semangat nasionalisme, kemandirian dan jati diri bangsa terus menghantui kehidupan bermasyarakat  dan berbangsa. Oleh karena itu, krisis ekonomi dan moneter menjadi berkepanjangan, sehingga berlanjut menjadi krisis multidimensional yang kemudian bermetamorfosis menjadi krisis intelektual dan hati nurani atau krisis akhlak dan moral.

                  Peristiwa 1 Maret 1949 sebenarnya telah mengajarkan generasi muda penerus bangsa untuk selalu terarah, tidak mudah dibelokan, terencana, dan tidak spontanitas dalam menghadapi tantangan apapun. Generasi muda di­tun­tut selalu meningkatkan keil­muan dan keterampilan agar mampu mengambil peran dalam perjalanan bangsa. Jika hal ini dapat dilakukan, maka rakyat Indonesia benar-benar belajar dari sejarah. Artinya belajar dari sejarah bukan hanya belajar dari segala yang baik-baik saja, tetapi hakekat belajar sejarah adalah belajar juga dari kesalahan di masa lalu agar kesalahan itu tidak terulang lagi di masa yang akan datang. Rasa curiga dan mencurigai antar kelompok yang bertikai akan benar-benar dapat teratasi sebagai sesama anak bangsa. Kalau itu tercapai maka berbagai kelompok dapat bersatu dalam menyongsong masa depan Indonesia seperti yang dicita-citakan bersama, yaitu masyarakat yang adil dan makmur. Kaum muda yang sudah terdidik jangan menjauh dari rakyat dan mengabdikan diri pada negara-negara kaya, tetapi pemuda harus bersatu dengan rakyat, memberikan penerangan kepada rakyat. Kaum muda jangan hanya terjun ke masyarakat pada waktu melakukan KKN saja, tetapi karena merasa senasib sepenanggungan dengan rakyat. Kaum muda lah bagian dari masyarakat yang membawa kehidupan bangsa ke depannya.

DAFTAR PUSTAKA

Ambarita,Biner. 2013. Profesionalisme, Esensi Kepemimpinan, dan Manajemen Organisasi. Jurnal Generasi Kampus. Vol. 6. No. 2. hh. 1-6

Gonggong, Anhar. 2008 “Peranan Pemuda Di Dalam Sejarah Perjuangan Bangsa”, Warta Sejarah, Vol.7.No. 11

Hanafi, Ristu. 2017. Momentum Teladani Semangat Juang Pahlawan. Koran Sindo. (Online).

http://www.koran sindo.com/news.php?r=5&n=4&date=2017-03-02. Diakses pada tanggal

12 Maret 2017

Jurnal Asia. 2016. Generasi Muda Jangan Lupakan Sejarah.(Online).  https://www.jurnalasia.com/medan/generasi-muda-jangan-lupakan sejarah/. Diakses pada 12 Maret 2017

Marta, A.G. dkk. 1984. Pemuda Indonesia Dalam Dimensi Sejarah Perjuangan Bangsa. Jakarta: Kantor Menpora.

Muljana, Slamet. 2008. Kesadaran Nasional: Dari Kolonialisme sampai Kemerdekaan. Jilid I dan II. Yogyakarta: LkiS

Purwanto, Bambang. 2012 “Belajar dari Mohammad Hatta: Nasionalisme Masa Lalu, Kebangsaan Masa Kini, dan Indonesia Masa Depan”. Makalah diseminarkan di UNY Yogyakarta

Scherer, Savitri. 2012. Keselarahan dan Kejanggalan Pemikiran-Pemikiran Priyayi Nasionalis Jawa awal Abad XX. Jakarta: Komunitas Bambu.

Wikipedia. Serangan Umuim 1 Maret 1949. (Online).

https://id.wikipedia.org/wiki/Serangan_Umum_1_Maret_1949. Diakses pada 10 Maret 2017