Essay Inkubator : Limit dan Kekontinuan: Manusia dengan Alam

Limit dan Kekontinuan: Manusia dengan Alam

Nilam Manik Malela

        Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mewartakan bahwa wilayah Jawa Timur sedang dilanda angin ekstrim akibat dari low pressure di Samudera Hindia. Sepanjang jalur Ngantang dari arah Malang menjadi licin karena longsoran tanah. Air sungai juga sudah bebaur dengan lumpur mengalir deras dan lebih tinggi dibanding hari biasa. Sebenarnya keadaan iklim ekstrim dan tak menentu sudah dapat dirasakan sejak lama.

        Apakah Bumi memang setua itu? Mengingat sejarah dari Bumi yang dipijaki kehidupan, manusia lupa bahwa Bumi ini sudah ada sejak lama. Entah menurut usia planet, Bumi ini tergolong muda atau tua. Ahli geokimia UCLA menemukan bukti bahwa kehidupan telah ada di Bumi setidaknya 4,1 miliar tahun yang lalu. Mulai dari awal Bumi terbentuk ketika masih bersuhu tinggi hingga akhirnya muncul makhluk hidup yang berfotosintesis dan sampai Bumi seperti sekarang. Penelitian menunjukkan bahwa pada awal terbentuknya Bumi sudah ada mikroorganisme purba yang melestarikan lingkungan mereka. Kemudian mikroorganisme tersebut berevolusi selama jutaan tahun mengembangkan kemampuan berfotosintesis. Sekarang ini yang disebut sebagai pelaku fotosintesis utama di Bumi adalah pohon dan tumbuhan hijau.

Pemanasan Global

       Selain iklim yang berubah tak menentu, semakin terasa juga pemanasan global dan iklim yang tidak tertata. Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menyatakan bahwa 2016 merupakan tahun terpanas sepanjang sejarah. Sekretaris Jendral WMO menyebutkan Indikator perubahan iklim yang ekstrim disebabkan oleh aktivitas manusia yang meningkat. Tanpa disadari aktivitas manusia lah penyebab kenaikan suhu di Bumi. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) melaporkan bahwa salah satu gas rumah kaca yang bertanggung jawab atas pemanasaan global. Gas-gas ini berasal dari pembakaran bahan bakar fosil di mobil, pabrik dan produksi listrik.

Limbah Plastik

        Memang benar pada limbah gas kendaraan bermotor penyumbang pemanasan global tetapi tak dapat dipungkiri aktivitas manusia yang menggunakan dan membuang-buang samapah plastik juga menimbulkan efek luar biasa pada keseimbangan lingkungan. Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebutkan lebih dari satu juta kantong plastik digunakan setiap menitnya, dan 50% dari itu hanya sekali dipakai kemudian langsung dibuang. Kantong plastik juga menyumbang ketidakseimbangan iklim, mulai dari proses pembuatan hingga ketika sudah dibuang. Kegiatan produksi plastik membutuhkan 12 juta barel minyak dan 14 juta pohon setiap tahunnya di dunia.

Pemborosan Air Bersih

       Aktivitas manusia memang tidak ada hentinya mengeksploitasi alam. Direktur Eksekutif PERPAMSI Ashari Mardiono mengatakan bahwa orang Indonesia masih boros dalam pemakaian air bersih. Misalnya di kota Surabaya,  rata-rata konsumsi air per orang mencapai 190 liter per hari. Konsumsi air tersebut jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan negara Singapura yang hanya mengkonsumsi 120 liter per hari untuk setiap orang.

       Penggunaan air yang besar dan tidak diimbangi dengan aktivitas yang menjaga siklus hidrologi akan mengurangi ketersediaan air bersih, seperti penggunaan plastik yang berlebihan, membuang limbah ke sungai, dan pembangunan gedung tanpa ada daerah resapan air jelas membuat Bumi semakin kehilangan kesegarannya.

       Semua permasalahan diatas bila dikaitkan dengan teorema Kekontinuan dalam Kakulus, maka bisa jadi mewakili hukum sebab akibat yang terjadi. Di dalam Kalkulus, untuk mengetahui kekontinuan suatu fungsi menggunakan logika matematika sebagai berikut.

       “Jika suatu fungsi punya limit, maka fungsi bersifat kontinu”. Pernyataan ini ekuivalen dengan mengatakan bahwa, “Jika fungsi tidak kontinu, maka fungsi tidak punya limit.”

       Sejatinya limit adalah suatu nilai batas, sedangkan kontinu menurut berarti keberlanjutan. Pernyataan di atas dapat kita analogikan sebagai aktivitas manusia terhadap alam. Jika manusia punya batasan dalam beraktivitas dan menggunakan sumber daya alam, maka Bumi ini akan secara kontinu terjaga sebagai tempat manusia tinggal. Dengan kata lain, umur Bumi akan lebih panjang.

       Lalu apa yang terjadi jika mulai banyak terjadi kerusakan di alam? Berarti, telah banyak aktivitas manusia yang tidak punya batasan dalam mengeksploitasi alam. Mengutip sebuah kalimat yang dilontarkan oleh Ketua Pelaksana WFF Inggris, Tanya Steele, “Ada semakin banyak tanda-tanda bahaya yang menunjukkan bahwa kita telah melampaui batas-batas kemampuan lingkungan di planet ini.” Semestinya bisa disadari setiap hal yang manusia lakukan harus ada batasan. Bumi tempat tinggal seluruh makhluk hidup juga perlu hidup untuk menghidupi generasi di masa depan. Menjaga Bumi bisa dimulai dari hal yang paling sederhana seperti, menggunakan air seperlunya dan meminimalkan penggunaan sampah plastik. Meski hanya hal kecil yang dilakukan, setidaknya dapat menyokong kehidupan Bumi di masa depan.

Sumber Pustaka:

Lutfi Fauziah dalam http://nationalgeographic.co.id/berita/2015/10/penelitian-ungkap-usia-bumi-sebenarnya.

Lutfi Fauziah dalam http://nationalgeographic.co.id/berita/2017/01/tahun-2016-catat-rekor-terpanas-sepanjang-sejarah.

Tim National Geographic dalam http://nationalgeographic.co.id/berita/2017/02/penyebab-penyebab-pemanasan-global.

Tri Wahyuni dalam http://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20160222182308-277-112685/indonesia-penyumbang-sampah-plastik-terbesar-ke-dua-dunia/.

http://perpamsi.or.id/berita/view/2016/03/22/177/orang-indonesia-masih-boros-air

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2010/10/17/15020598/Inilah.Bahaya.Kantong.Plastik.-8