[Mengenal Fiersa #3]

 

[Mengenal Fiersa #3]

Review Singkat: Garis Waktu (Sebuah Perjalanan Menghapus Luka)

Oleh: Windy A. Alicia Putri

 

“Sebuah kebahagiaan, tidak perlu dipamerkan kepada dunia” (Besari, 2016:81)

Pada sebuah garis waktu yang merangkak maju, akan tiba masanya buku ini teronggok berdebu. Dan sebelum datang waktu itu, mari kita ulas sedikit mengenai isi buku, yang pada ucapan terima kasihnya ada tiga kali kata Ibu.

Penulis             : Fiersa Besari

Penerbit           : Mediakita

Jumlah Hal.     : iv + 212 halaman

Cetakan           : Pertama, 2016

Garis Waktu adalah sebuah buku yang merekam kumpulan kisah “aku” dan “kamu”. Kumpulan kisah yang pada mulanya hanya tersimpan dalam database pelbagai sosial media sang penulis, yang kemudian dirangkai dalam satu kesatuan cerita utuh. Dinamai Garis Waktu, sebab menurut penulis kata tersebut mampu merepresentasikan peristiwa antara “aku” dan “kamu”.

Buku ini sederhana, baik dari segi cerita maupun cara penulisan. Seperti judulnya, kisah dalam buku ini konvergen ke suatu titik yang bernama menghapus luka. Diawali dengan masa di mana “aku” berjumpa dengan “kamu”, kemudian penantian, kebersamaan, hadirnya luka, dan mengikhlaskan. Sekilas memang seperti buku curhat yang dikemas dalam cara berbeda dan kemudian diterbitkan. Meski begitu isinya tidak melulu soal cinta, tidak saja soal dimensi cerita “aku” dan “kamu”. Ada begitu banyak pelajaran akan makna kehidupan, yang disusun dalam untaian kata tanpa dialog layaknya novel kebanyakan. Ya, nyaris tidak ada dialog nyata dalam buku ini, sebab satu-satunya sudut pandang pencerita adalah “aku” dan dia berbicara pada buku.

Pada setiap chapter-nya selalu diawali dengan ilustrasi hitam putih yang terkadang memang sengaja dibuat blur atau terlalu pekat sebagai representasi cerita. Seolah penulis ingin mengungkapkan emosi dalam beragam bentuk yang berbeda: tulisan, gambar, dan musik. Ya, Garis Waktu tidak saja berupa buku tapi juga lagu, mengingat penulis—Fiersa Besari—yang juga dikenal sebagai seorang musisi.

 “Hatimu bukan untuk kucuri, tapi untuk kuminta baik-baik” (Besari, 2016:16)

“Entah mengapa hatiku berkata, kau pantas untuk semua pengorbanan” (Besari, 2016:25)

“Rasa yang tidak terbatas, tidak akan mempermasalahkan ketika tidak berbalas” (Besari, 2016:37)

“Yang sulit itu menghadapi risiko berdiri sendirian dengan hati yang terluka” (Besari, 2016:68)

Ada begitu banyak kata puitis yang sarat makna dalam buku ini, dan lagi-lagi tidak saja menyoal cinta tapi juga hal-hal sederhana mengenai kehidupan. Melalui kalimat-kalimatnya penulis seakan mengajak pembaca untuk memaknai kehidupan tidak sekadar untuk menjalankan rutinitas harian. Tidak sekadar menjalani kehidupan berdasarakan apa kata orang. Serta menjadi manusia yang menghamba.

“Lantas, apakah satu kata Maha indah yang boleh mengawali semuanya? Bagiku selalu “Ibu” (Besari, 2016:92)

“Ketika kau berusaha mendekati cita-citamu, di waktu  yang bersamaan cita-citamu juga sedang mendekatimu. Alam semesta bekerja seperti itu” (Besari, 2016:107)

“Pelajari sebelum berasumsi. Dengarkan sebelum memaki. Mengerti sebelum menghakimi. Rasakan sebelum menyakiti. Perjuangkan sebelum pergi” (Besari, 2016: 133)

“Dan Tuhan menitipkan kesuksesan, agar kita mengangkat derajat mereka yang dilanda kesulitan, bukan memakai kesuksesan tersebut sebagai media untuk pamer pencapaian” (Besari, 2016:118)

 “Kakimu bisa kau taruh di tempat tertinggi, tapi apakah hatimu bisa kau taruh di tempat terendah?” (Besari, 2016:119)

Secara keseluruhan, buku pertama Penulis ini ringan dan rapi. Cocok untuk bacaan di sela-sela kepenatan kuliah atau kerjaan sehari-hari, sebab menandaskan 212 halaman buku ini tidak akan menyita waktu lebih dari dua jam dan akan memberikan banyak pelajaran berharga setelahnya. Buku tanpa dialog ini perlu dibaca bagi siapa-siapa yang (mungkin) pernah terluka, bagi siapa-siapa yang ingin mendewasa dan belajar berpikiran terbuka. Dan bagi pembaca (entah buku Garis Waktu atau sekadar tulisan ini) yang kemudian merasa perlu bertemu penulis secara langsung, mari ikuti Talkshow bersama Fiersa Besari pada tanggal 13 Oktober 2017 di Gedung Sasana Budaya UM, info lengkapnya silakan lihat di poster bawah ini,

DAFTAR RUJUKAN:

Besari, Fiersa. 2016. Garis Waktu: Sebuah Perjalanan Menghapus Luka. Jakarta: Mediakita