Cerpen Labostra – CERMIN MASA LALU SI BURUK RUPA

 

CERMIN MASA LALU SI BURUK RUPA

Robi’atul Adawiyah

Aku kembali terdiam, badanku masih bergetar, pandanganku berkunang-kunang. Apa yang aku lihat beberapa saat lalu sungguh membuat terkejut. Antara mimpi dan kenyataan. Nenek berkata benar, ia tidak berbohong, tidak pernah berbohong. Cermin tua itu benar-benar milik si manusia buruk rupa. Cermin itu memutar kehidupan manusia si buruk rupa dan putri cantik yang menikahinya. Sungguh menakjubkan. Awalnya, aku bahagia saat menyaksikan hal itu, aku merasa sedang menonton sebuah film di layar kaca. Namun, tiba-tiba adegan demi adegan dalam film itu berubah menjadi mengerikan. Sungguh mengerikan, hingga membuat bulu kudukku berdiri. Kehidupan manusia buruk rupa dan Putri Cantik yang bernama, Belia tak seindah yang terdengar selama ini.

Setelah pernikahan mereka yang digelar dengan megah dan meriah, mereka tidak hidup bahagia selamanya. Manusia buruk rupa yang mendapatkan kutukan dari nenek sihir karena keangkuhan dan kekerasan hatinya, tidak pernah berubah menjadi baik. Si buruk rupa tetaplah si buruk rupa dengan hati seburuk rupanya. Kebaikannya di depan Belia hanyalah kedok semata, meski cinta Belia telah menjadikannya pangeran yang rupawan lagi, namun sifatnya tidak pernah berubah.

Si buruk rupa yang bernama asli Arnold itu adalah manusia dengan perangai terburuk di muka bumi ini. Kutukan itu tidak pernah merubahnya, namun menjadiannya semakin buruk dan berhati busuk. Ia berpura-pura menjadi manusia baik hati, berhati lembut untuk menarik perhatian Belia, wanita yang telah lama diincarnya. Pertemuan Arnold dengan Ayah Belia bukanlah suatu kebetulan, semua telah direncanakannya sejak lama. Telah lama Arnold mengintai kehidupan Belia dan keluarganya. Berita tentang kecantikan Belia telah lama di dengarnya, jauh sebelum nenek sihir peyot itu mengutuknya. Oleh karena itu, Arnold sangatlah mengenal Belia, melalui bantuan cermin ajaibnya, Arnold dapat mengetahui kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan oleh permaisuri hatinya. Kekaguman Arnold pada Belia bukan karena kecantikan hati yang dimiliki gadis jelita itu, namun karena kecantikan fisiknya, nafsu birahilah yang menguasai Arnold, yang membuatna terobsesi untuk memiliki Belia, gadis tercantik di negerinya.

Melalui trik busuknya, Arnold sengaja menutup jalan yang biasanya dilewati Ayah Belia untuk kembali ke desa. Hal itu, dilakukan Arnold agar Ayah Belia tersesat di hutan dan menemukan kastil tempat tinggalnya. Tak disangka rencana Arnold berjalan lancar, pria tua itu benar-benar tersesat dan secara tidak sengaja menemukan kastil Arnold. Rasa lelah yang melanda dan rasa lapar yang terkendali dengan mengumpulkan keberaniannya Ayah Belia masuk ke dalam kastil dan menemukan berbagai macam makanan lezat tersaji di atas meja. Tanpa ragu, pria tua itu langsung memakannya tanpa berpikir siapa pemiliknya. Setelah merasa kenyang, pria tua itu berjalan-jalan berkeliling kastil, ketika tiba di halaman belakang kastil, ia teringat pesanan anak bungsunya untuk membawakan mawar merah dari kota. Pria itu melihat bunga mawar yang begitu indah tumbuh di belakang kastil, ia pun memetik beberapa tangkai sebagai hadiah untuk Belia. Tiba-tiba terdengar langkah kaki dari belakang tubuhnya, membuatnya bergidik. Saat membalikkan tubunya, dilihatlah wajah Arnold, manusia si buruk rupa. Arnold dengan muka marah mencengkram bahu pria itu, membuat si pria tua menjadi pucat pasih.

“Berani-beraninya kau mencuri mawarku!” Arnold berteriak marah di depan wajah Ayah Belia.

“Maa…maafan aku Tua, aku…aku hanya mengambil beberapa tangkai mawar ini untuk Putri bungsuku,” pria tua itu menjelaskan dengan terbata-bata.

“Tidak peduli alasanmu, tidak ada maaf bagi seorang pencuri. Tubuhmu akan aku persembahkan pada binaang-binatang hutan yang kelaparan, hingga tak tersisa secuil pun,” Ujar Arnold tanpa belas kasihan.

Pria tua itu terus meminta pengampunan pada si buruk rupa, namun tidak dipedulikan. Arnold pun menawarkan sebuah penawaran untuk si pria malang derngan seringai penuh kemenangan.

“Baiklah aku akan mengampunimu, tapi kau harus membawa Putri bungsumu itu kepadaku, sebagai gantinya putri bungsumu itu akan ku jadikan pelayan di kastilku. Jika kau tidak membawanya dalam tiga hari aku akan pergi ke desamu dan membunuh semua orang yang ada di sana.”

Mendengar ancaman Arnold, wajah pria tua itu semakin memucat. Setelah si manusia buruk rupa melepaskannya, ia berlari dengan kencang meninggalkan kastil itu.

***

Sesampainya di rumah, pria malang itu menceritakan semua kejadian yang dialaminya, kepada ketiga putrinya. Belia merasa bersalah, karena bunga mawar pesanannya telah membawa petaka bagi sang ayah, untuk menebus rasa bersalah itu, akhirnya Belia bersedia untuk dikirim ke kastil si manusia buruk rupa. Sang ayah dengan berat hati melepaskan kepergian putri bungsu yang paling disayanginya itu. Manusia buruk rupa merasa bahagia karena setelah sekian lama akhirnya berhasil bertemu dengan wanita impiannya.

Waktu berjalan dan pergi, awalnya Belia merasa takut dengan Arnold. Namun, setelah berjalannya hari, rasa ketakutan itu berubah menjadi rasa simpatik. Di depan Belia, Arnold selalu berpura-pura menjadi pria buruk rupa yang baik hati, hangat, dan penuh kasih sayang. Hal itulah yang membuat Belia semakin bersimpatik dengan Arnold.

Semakin hari, kedekatan mereka semakin intim. Belia menyadari bahwa dirinya telah jatuh hati pada pria buruk rupa itu. Namun, tidak demikian pada diri Arnold, ia tidak pernah berubah. Arnold tetap licik dan picik, dia hanya ingin menggunakan Belia pembebas kutukan dan pemuas nafsu syahwatnya. Arnold tidak sabar lagi untuk segera terbebas dari kutukan yang selama ini  telah menyiksanya. Ia mencari cara agar Belia memberikan air mata ketulusannya. Namun, tentu saja itu harus dilakukan dengan tanpa sepengetahuan Belia.

Akhirnya, muncullah niat jahat dari Arnold, ia sengaja membuat ayah Belia sakit. Melalui cermin ajaib miliknya, Arnold masuk ke dalam mimpi Ayah Belia. Di dalam mimpi itu, Arnold menunjukkan keadaan Belia yang mengenaskan karena tersiksa tinggal di kastil. Usai mendapatkan mimpi buruk tentang putri kesayangannya itu, keesokan harinya Ayah Belia sakit, badannya demam tinggi dan terus menggigau, menyebut-nyebut nama putri bungsunya. Arnold merasa kemenangan sebentar lagi akan berada di tangannya, sedikit lagi ia akan terbebas dari kutukan itu.

Arnold pun mengatakan keadaan Ayah Belia pada Belia. Melalui cermin ajaib, Arnold memperlihatkan keadaan pria malang itu. Sontak saja Belia berkeinginan untuk menemui sang ayah. Namun, ia tidak mempunyai keberanian untuk mengungkapkan keinginannya itu. Tentu saja si buruk rupa tahu keinginan Belia, ia pun dengan senang hati memberikan izin agar Belia kembali ke rumahnya selama tujuh hari.

“Ingatlah Belia, hanya tujuh hari. Jika lebih dari itu, saat kau kembali ke kastil ini, hanya tubuh kaku tak bernyawa yang akan kau temui.”

Belia menyanggupi persyaratan itu, ia dengan segera meninggalkan kastil untuk bertemu ayah dan dua saudara perempuannya yang telah berbulan-bulan ditinggalkannya.

***

Sesampainya di rumah, Belia tidak dapat membendung air mata harunya karena dapat kembali bertemu dengan keluarga tercintanya. Ayah Belia seketika merasakan kelegaan, setelah berbulan-bulan tak bertemu dan tanpa kabar berita, akhirnya ia dapat bertemu kembali dengan putri bungsunya.

Belia menceritakan semua keseharian yang dilakukannya bersama si buruk rupa, ia mengatakan bahwa selama ini, dirinya diperlakukan dengan sangat baik bak seorang puteri. Ayahnya tentu saja bahagia, namun tidak dengan kedua kakaknya. Kedua saudara Belia merasa iri dan mencari cara agar adik bungsunya itu terlambat kembali ke kastil. Arnold mengetahui niat buruk kedua Kakak Belia. Senyum kepuasan terukir diwajah Arnold. Niat jahat kakak Belia membuat Arnold tidak perlu turun tangan untuk membuat Belia terlambat sampai di kastil. Keterlambatan itu akan mempermudah Arnold berpura-pura sekarat karena rindu pada Belia, dengan demikian rasa bersalah akan menerpa gadis jelita dan membuatnya mengeluarkan air mata ketulusan.

Seperti yang direncanakan oleh kakak Belia, di hari ketujuh mereka berhasil mencegah kepergian Belia. Mereka memaksa Belia untuk tinggal sehari lagi di rumah karena mereka masih merindukan adik bungsunya. Belia tanpa curiga sedikit pun pada kedua kakaknya, akhirnya menyetujui, ia juga berpikir bahwa manusia si buruk rupa pasti akan tetap baik-baik saja, lagi pula dirinya hanya terlambat sehari.

Di hari kedaelapan, di saat hari masih berkabut, Belia dengan mengendarai kuda kesayangannya kembali ke kastil si buruk rupa. Arnold telah menciptakan kejutan untuk calon permaisurinya, ia membuat seisi kastil berantakan, membuat semua mawar di taman mati, dan terakhir ia berpura-pura sekarat di pekarangan mawar.

Ketika Belia masuk ke dalam kastil betapa terkejutnya ia melihat pemandangan kastil yang begitu kacau. Rasa khawatir menguasai dirinya. Belia berteriak-teriak memanggil manusia buruk rupa sambil berlari-lari ke setiap ruangan dalam kastil. Hasilnya nihil, ia tidak dapat menemukannya. Belia pun berlari ke belakang kasti, tempat mawar-mawar tumbuh. Rasa terkejut kembali melanda dirinya, pekarangan mawar itu telah berubah menjadi mengerikan, semua mawar mati tak ada satu pun yang hidup. Di tengah-tengah pekarangan, tubuh manusia buruk rupa itu tergeletak tak berdaya. Belia berlari dengan kencang menuju tubuh manusia buruk rupa itu. Air mata kesedihan terurai dari dua bola mata bening miliknya. Ia menyesali keputusannya untuk tinggal lebih lama dengan keluarganya.

“Kau melanggar janjimu Belia, kenapa? kau membuatku tersiksa. Kenapa kau lakukan ini?”

Ucap Arnold lirih di sela-sela isak-tangis Belia.

Di sela-sela tangisnya, Belia memohon maaf dan mngucapkan penyesalannya. Namun, Arnold tidak bergeming. Ia diam. Tangis Belia terdengar semakin pilu.

“Ku mohon buka matam, ku mohon jangan pergi seperti ini, aku tidak ingin kehilangan dirimu, ku mohon,” Belia menciumi wajah Arnold dengan air mata yang berurai dan dengan ketulusan hatinya.

Keajaiban terjadi, tubuh Arnold tiba-tiba bercahaya, kemudian tubuhnya terangkat ke udara, melayang, membuat Belia terperangah melihat pemandangan dihadapannya itu. Sepersekian detik kemuadian tubuh itu kembali menapak di tanah. Namun, kali ini bukan manusia buruk rupa lagi yang nampak, tapi pria gagah rupawan. Belia membelalakkan kedua bola matanya. Rasa tak percaya menggelayuti dirinya.

“Jangan kau heran permaisuriku, inilah diriku yang sebenarnya, pria buruk rupa yang kau kenal selama ini adalah pangeran gagah yang ada di hadapanmu.”

Antara percaya dan tidak. Itulah yang dipirkan Belia, namun setelah Arnold menatap mata Belia dengan tatapan yang tajam barulah gadis cantik itu percaya bahwa pria di hadapannya itu merupakan manusia buruk rupa yang selama ini dikenalnya.

***

Tidak berhenti di situ saja kisah manusia buruk rupa dan si jelita Belia. Selama ini dikisahkan mereka berakhir dengan hidup bahagia untuk selama-lamanya. Namun, cermin itu menunjukkan hal sebaliknya. Setelah manusia buruk rupa itu terbebas dari kutukan, ia memang menikahi Belia. Tapi sayang sekali kehidupan mereka tidak berjalan dengan bahagia. Di awal-awal pernikahan, mereka memang selalu terlihat romantis, membuat orang lain yang melihatnya merasa iri, begitu pula dengan dua kakak Belia. Semua keadaan mulai berubah ketika Belia mengandung anak Arnold. Belia mengira suaminya itu akan bahagia mendengar kabar dirinya mengandung, tapi semua perkiraannya salah. Arnold tidak suka ada anak kecil di sekitarnya, dia tidak ingin menjadi seorang ayah. Arnold meminta agar Belia menggugurkan kandungannya, namun Belia menolak.

“Ini anakmu yang mulia, darah dagingmu, sampai mati aku tidak akan membunuhnya.” Teriak belia menggema di langit-langit kamarnya.

Berawal dari inilah, hubungan Arnold dan Belia semakin memburuk. Ditambah lagi dengan perubahan bentuk tubuh Belia yang tidak lagi semenarik dulu akibat kehamilannya, Arnold semakin jijik melihat istrinya itu.

Di tengah-tengah hubungan yang semakin berjarak itu, kakak pertama Belia, Neli datang pada Arnold dan merayu pria itu. Tentu saja Arnod menyambutnya dengan lapang dada.

Saat usia kandungan Belia memasuki tujuh bulan, tubuhnya semakin gemuk, tak berbentuk. Neli pun menghasut Arnold untuk membuang Belia keluar dari kastil.

“Adikku itu sudah tidak ada gunanya lagi, tubuhnya sudah seperti karung goni, untuk apa kau pertahankan dia? Lebih baik kau membuangnya saja daripada mengganggu pemandangan.”

Arnold mendengarkan usul itu. Pada malam yang kelam, di tengah hujan petir. Arnold dan kakak pertama Belia itu melancarkan aksinya. Arnold mencampur makanan Belia dengan ramuan obat tidur agar istrinya cepat tertidur dan mempermudah Arnold untuk membuang Belia ke dalam hutan.

Tepat tengah malam, Arnold mengikat tangan dan kaki Belia, kemudian membawa wanita malang itu ke dalam hutan. Neli merasa puas karena kini tidak akan ada lagi penghalang untuk menguasai Arnold. Namun, wanita licik itu salah besar. Kelicikan dibalas dengan kelicikan. Diam-diam ternyata selama ini adiknya, Amor telah mencampur racun ke dalam makanan dan minuman yang dikonsumsinya, adik pertamanya telah mengetahui sejak lama bahwa kakak tertuanya itu ada hubungan dengan Arnold. Tentu saja ia tidak terima dan ingin merebut Arnold.

“Kau piker sekarang kemenangan ada di tanganmu Neli, kalau iya, artinya kau salah besar. Kemenangan hanya ada di tanganku,” ucap Amor dalam hati.

Dua bulan setelah pembuangan Belia, Neli sakit keras, kondisi tubuhnya menurun drastis. Arnold sama sekali tidak peduli. Pria arogan itu pun akhirnya memutuskan untuk membuang istri keduanya. Jadilah Amor yang menjadi istri Arnold yang selanjutnya.

Di tengah kebahagian Arnold dengan istri barunya, Belia yang telah melahirkan dengan bantuan nenek sihir yang pernah mengutuk Arnold kembali melancarkan serangan balas dendam. Belia menyebarkan bubuk penyakit ke seluruh kastil. Dengan cepat penyakit aneh menjalari seluruh kastil, ruam-ruam merah dan nanah muncul di sekujur tubuh Arnold, ia histeris. Tubuhnya merasakan panas terbakar. Tidak ada yang peduli, semua orang sibuk dengan diri mereka sendiri, karena mengalami hal yang sama.

“Panas…ini panas sekali, aku tidak sanggup lagi,” Arnold terus berteriak-teriak histeris.

Arnold tidak tahan lagi, ia pun menjatuhkan dirinya dari bangunan tertinggi kastil. Satu per satu orang di dalam kastil itu mati dengan mengenaskan.

Belia tidak pernah merasa bahagia dengan apa yang dilakukannya, dalam hatinya, ia masih sangat mencintai Arnold. Ia tak ingin Arnold bersama wanita lain karena itula ia mau bekerjasama dengan nenek sihir itu.

“Sungguh Arnold, taka da niatku untuk membunuhmu, aku mencintaimu dengan setulus hatiku, bahkan setelah kau mencampakkanku, aku masih tetap mencintaimu. Namun, aku tak sanggup bila melihatmu dengan wanita lain, maafkan aku sayang, terpaksa aku lakukan semua ini,” ucap Belia penuh sedu-sedan sambil membelai wajah anaknya.

Setelah kematian Arnold, Belia membawa anaknya masuk ke dalam telaga yang letaknya tak jauh dari kastil. Sejak saat itu, Belia dan ananknya tak pernah lagi muncul ke daratan.

***

Aku kembali menatap cermin yang masih ku genggam. Dalam hati ku berkata bahwa cerita nenek memang benar. Tidak ada kebahagian yang hakiki. Semuanya tidak kekal. Selama ini dongeng-dongen itu hanya memberikan mimpi palsu. Hari ini, ku tahu alasan nenek membenci cerita dongeng. Kini, aku sadar kebahagian itu hanyalah bersifat semu, mulai hari ini aku harus bangun dari mimpi-mimpi indah itu, sebelum aku menjadi gila dalam khayalan.