Cerpen Labostra – I AM NOT READY !

 

I AM NOT READY !

Oleh Irma Alvionita

PART 1

“hahahaahaha…..” Suara dari keberisikan kami yang memang sangat keras dan menggelitik. Tidak salah bahwa kami dijuluki cewek-cewek cerewet yang memiliki banyak akal untuk bisa mengubah suasana menjadi riang dengan berbagai gaya lelucon kami. Kami adalah siswa dari salah satu SMA favorit di Bandung

            Iya, itu aku Rara dengan 3 teman-temanku yang bernama Risa, Nia, dan Tika. Mereka sahabat yang bisa mengubah suasana hatiku di kala sedang sedih. Mereka penyemangatku untuk kembali dari keterpurukan masa lalu dan benar-benar dalam kondisi yang down.

“Hai Raaa, dorrrr. Jangan melamun terus dong” suara Risa yang mengagetkanku.

“Heeeeee, eh kamu Ris. Nggak nglamun kok, Cuma aku lagi memikirkan sesuatu”

 “Halahh, kamu melamun ya itu pasti. Jangan sedih terus dong Ra, masa abis kita ketawa sama-sama kamu sekarang sedih sih…” Nia pun berusaha menenangkan.

“ i..iyaa maaf teman-teman kuuuu.” Akupun sambil memeluk sahabat-sahabatku yang lucu itu sambil merubah suasana yang kelam.

“Iya-iya Ra. Kamu emang kenapa tadi, kok tiba-tiba jadi begini. Padahal kita tadi ketawa lepas banget dan kamu juga ngerasa senang banget kok tadi”  Tika pun berbicara dengan gaya yang lucu

“Maaf ya Ris, Ni, Tik”

“iya kenapa!!?” mereka bertiga serentak bertanya

“Tadi aku tidak sengaja melihat lagi sosok itu, perempuan itu. perempuan itu sangat jelas sekarang dan dia mau berinteraksi dengan ku. Tapi aku takut, aku takut banget kalau yang dulu terulang lagi. Aku gak mau liat sosok itu lagi” aku berbicara sambil mataku berkaca-kaca.

“Yahhh, maaf Risa” . Akhirnya kami pun saling berpelukan. Saling menguatkan satu sama lain. Dan saling menenangkan bahwa aku gak akan lagi melihat sosok perempuan yang sangat menakutkan itu.

           Memang dulu aku korban dari pembuka mata batin. Mata batinku di buka dan aku bisa melihat semuanya. Memang dulu aku sangat penasaran dnegan sesuatu yang berbu gaib. Tetapi dengan keegoisanku akhirnya mata batinku tidak bisa bisa di tutup lagi dan seumur hidupku aku akan melihat berbagai sosok gaib yang sangat menakutkan. Lambat  laun aku mengerti semua hal dan aku masih takut dengan sesosok yang berusaha berinteraksi denganku serta makhluk-makhluk lain yang disekitarnya.

PART 2

            Pada keesokan harinya kami juga akan berencana untuk pergi ke puncak, karena memang terdapat hari libur yang membuat kami ingin berlibur sebentar untuk melepas penat dari berbagai macam kegiatan di sekolah.

            Kemudian pada hari kamis, 14 Oktober kami sedang berkumpul di depan Balai Kota Bandung untuk berlibur ke Bukit Moko Bandung. Disana kami menginap di villa orang tua Risa yang pada waktu itu masih kosong. Setelah kami melakukan perjalanan sekitar 4 jam akhirnya kami sampai juga di villa tersebut.

“Yeyeeyeyye akhirnya kita sampai juga yaaa….”suara Nia yang kegirangan

“Hehehe iya juga ya, alhamdulillah kita sampek. Pemandangan nya indah banget yaa, aku seneng disini ..” aku pun merasa sangat menikmati suasana yang ada.

“Guys, ayo kita mindahin barang-barang kita ke situu, villa itu siap menampung kita, hahahahhha…” Risa pun berbicara sambil menunjuk ke arah villa dan dengan guyonan yang menggelikan

“Ayoooo … let’s go” Nia dan Tika pun menjawab serempak

            Setelah mereka membawa tas bawaanya masing-masing akhirnya mereka mask dalam villa, tetapi tidak denganku. Karena barang-barang yang ku bawa banyak akupun masih tetap berada di mobil. Dan tiba-tiba…..

“Raa, ayo ikut denganku kesitu..” Tika pun mengajakku dengan menunjukkan arah ke kebun.

“Haaaaa,, bukannya kamu tadi kedalam ya, lah sekarang kok cepet banget keluar. Ngajak aku kesana juga mau ngapain? Ah males aku capek mau istrahat kedalam..” akupun menolak ajakannya. (“tapi kok cara dia bicara beda ya sama kayak yang biasanya”) akupun berkata dalam hati.

“Ayolah-ayolah ikut aku bentar. Aku mau nunjukkan sesuat ke kamu”Tika pun meminta sambil memaksa

“Iyalah-iyalah bawel, ayoo mau kemana. Bentar aku taruh dulu barangku di depan mobil”

            Tiba-tiba ada yang memanggilku dengan suara cempreng dan membuatku kaget.

“Raaaaa, disitu terus. Ayo kesini, kita makan sama istirahat”

            Ternyata yang memanggilku adalah Tika. Setelah aku menengok dan kembali ke posisi awal ku, ternyata dia sudah menghilang. Dan ternyata yang aku ajak bicara bukan Tika melainkan sesosok makhluk halus itu.

            Benar,,,  aku sangat takut dan takut semua yang terjadi di masa lalu terulang kembali. Aku mempunyai firasat bahwa dia ingin berinteraksi denganku, tetapi aku sangat takut dan tidak mau melihatnya. Karena wajahnya yang amat sangat rusak, penuh darah, dan tidak beraturan. Dan yang amat sangat penting sosok wanita itu yang menyebabkan aku frstasi karena aku sangat dan tidak mau berinteraksi dengannya tapi dia terus mencoba mendekatiku dan tak tahu alasannya.

PART 3

            Setelah kami bersih diri dan makan, akhirnya kami bercanda gurau di ruang tengah. Kami memainkan sebuah mainan yang sangat menakutkan dan menantang yaitu”Jelara”. Itu merupakan sebuah permainan turunan dari jelangkung tetapi dibuat lebih guyon.

“Jelara,,, jelara,,, kesinilah aku ingin berbiacara dengan mu dan dengan sahabat cantikku ini”… kami berempat memainkannya

Dengan pena yang kami pegang akhirnya menulis dengan sendririnya.

“APA KABAR SEMUA”.. kami pun menganggap semua ini guyonan dan tidak percaya bahwa jelangkung itu menkakutkan.

“hahahhaahha, lucu ya jelara kita”… Tika pun berbicara

“TIKA APA KABAR”…. pena pun menulis sendirinya

            Dan tanpa disadari dengan awalnya, Tika pun mulai menyadari ada yang menjanggal dengan permainan tersebut. Risa, Nia dan aku juga mulai bingung, karena memang itu tidak kita gerakan dan secara spontan bisa mengenal nama Tika.

            “Tika… Tika” Aku pun dengan teriak memanggilnya. Awas Tikaaaaaa….. Tika berlari ke luar rumah dan tiba-tiba ada sesosok wanita misterius yang memang aku kenal dan itu berbiacra dengan Tika.

“KAU TIDAK INGAT DENGAN WAKTU ITU,, KAU BERSUMPAH DENGAN NAMA RARA. KALAU KAU TIDAK BISA MEMBERIKANKU SEDIKIT DARAH DARI JEJAKA MAKA AKU AKAN BISA UNTUK MEMBUNUH RARA. TAPI SAMPAI SEKARANG MEMANG TIDAK BISA KARENA RARA MEMILIKI PENGHUNI DI SEBELAHNYA. DAN SEKARANG YANG KUTUNGGU ADALAH MEMBUNUHMU” wanita itu berbicara sambil mengungkakan amarahnya.

“Tidak,,, tidak ,,, ampun Nis, ampun. Maafkan aku Nis..” dia meminta kepada wanita itu.

“ENYALAH KAU” sambil melukai Tika dan kemudian menghilang

“Tidakkkkkkkk…..” Tika teriak

            Aku dan kedua sahabatku memang sangat takut dan mendengar pembicaraan mereka. Dan Rara memang sangat marah denganTika karena dia mengatasnamakan aku dengan janjinya.

‘ Tika… Tika kau tidak apa… Tikaaaaaa” aku dan kedua sahabatku panik.

“A..kuu ti  dakk apa-apa sa ha bat. Ma..af.kan aku ka..re..na telah ber…tin.dak bo doh. Terutama ka.. mu Rara ma..afkan a..ku. i..tu” Tika berbicara dengan sepatah-sepatah karen memang sudah tidak kuat lagi. Dan akhirnya selang berapa menit Tika pun meninggal

“Tikaaaaaaaa…” aku, Risa dan Nia pun menangis.

“apa yang sebenarnya terjdi disini Risa apakah kau tau? Nia apakah kau tau?” akupun sangat terpukul sekali.

“Maaf ya teman-teman, sebenarnya dulu waktu Tika sebelum dengan kita, Tika memilliki satu sahabat perempuan dan mereka menyukai lelaki yang sama yaiitu Tito. Tetapi Tito menyuaki Tika dan Nisa bunuh diri. Smapai matipun dia tdak rela dan dia dalam arwahnya meminta darah jejaka setiap satu bulan sekali. KetikaTika tidak bisa memberikannya pada 1 tahun kemarin karena memang Tika sibuk. Sebelumnya Tika sudah janjji bahwa jika dia tidak bisa memenuhi keinginannya maka Nisa boleh meghantui kau Rara karena kau memang korban mata batin yang sudah terbuka dan memang kau memang dulu sangat suka yang berbau gaib” Risa pun menjawabnya

“kenapa kau bisa tahu Ris dan kau selama ini tidak memberitahuku?” Akupun menanyakannya dengan penasaran dan menangis berderu-deru

“ karena aku memang dari dulu sudah kenal Tika dan mengenai itu akku takut memberitahumu karena tkut persahabat kita putus dan aku mohon sama kamu maafkan Tika yaa, ini sudah terjadi biar kita juga bisa lebih hati-hati. Mungkin dia janji begitu agar dia selalu bisa menepati janjinya sama Nisa.” Risa pun menjawab

“Sudah semua, ayo kita minta bantuan sama tetangga sekitas unutk membersihkan semuanya dan besok kita pulang dan kamu Risa segera menghubungi keluaganya” Nia pun menengahkan

“iya ayo..”. semua pun menangis

            Akhirnya dengan semua kejadian ini, kami bertiga berjanji untuk lebih terbuka untuk semua masalah yanng ada dan janji untuk saling membantu sama lain, tidak sling egois dna menyalahkan.

            Dan tentang aku Rara. Aku harus lebih berhati-hati dan berusaha tidak takut dengan hal gaib dan aku harus menggunakan sebaik-baiknya mata batinku yang memang terbuka untuk mengetahui dunia yang jarang diketahui orang lain