Cerpen Labostra – Kamar Mandi Nomor 5

Kamar Mandi Nomor 5

Dinda Puspa Savitri

            Aku berjanji pada seluruh dunia dan isinya, juga pada diriku sendiri. Bahwa mulai saat ini juga aku tidak akan pernah mengunjungi toilet terkutuk itu lagi. Bahkan meskipun seluruh toilet di dunia ini menghilang pun, aku tidak akan pernah mengizinkan kaki ku menginjak lantai kamar mandi nomor 5 di asrama ku ini.

           Sebelumnya aku tidak pernah memasuki kamar mandi dengan angka 5 didepan pintunya itu. Memang banyak gosip yang mengatakan bahwa kamar mandi nomor 5 ini angker. Bahkan beberapa santri ada yang sampai kesurupan setelah keluar dari kamar mandi nomor 5. Tapi bukan itu alasanku tidak pernah menggunakan kamar mandi nomor 5. Aku tidak menggunakannya hanya karena memang letaknya yang berada di ujung, terlalu jauh dari pintu keluar kamar mandi. Jika aku akan mencuci pakaian, akan sangat kesulitan untuk membawa cucian dari sana, apalagi dengan tubuhku yang mungil ini. Ya, bisa dibilang aku tidak mempercayai adanya hantu atau semacamnya. Hingga kemudian mereka menyadarkanku dan membuatku percaya.

           Hari ini aku benar-benar sangat sibuk. Banyak sekali tugas dari pesantren yang harus aku setorkan hari ini juga. Hingga pakaian kotor ku menumpuk seolah tak terurus. Malam hari setelah semua tugas terselesaikan, aku memutuskan untuk mencuci pakaian. Saat itu kamar mandi sangat penuh, aku sempat menunggu beberapa menit hingga salah satu kamar mandi terbuka. Aku langsung memasukinya begitu saja, tanpa memperdulikan angka di pintu kamar mandi tersebut.

           Satu jam berlalu aku baru selesai mencuci. Aku membuka pintu dan keluar dari kamar mandi. Kamar mandi itu terasa benar-benar sunyi. Tidak ada lagi suara santri yang tersisa di sekitar situ. Aku berhenti sebentar untuk membenarkan jepit rambut yang hampir terlepas sambil melihat bayanganku sendiri. Tapi, apa itu? Ada dua titik merah menyala di bayangan tersebut. Titik itu tepat di bayangan bagian kepala. Seperti sepasang mata yang tepat menatapku.

           Aku terbelalak setelah menyadari bahwa itu bukanlah bayanganku. Bagaimana mungkin ada bayangan tepat di bawah lampu. Bayanganku yang sebenarnya ada di belakangku. Tubuhku seketika menegang, seolah seluruh syarafku menolak untuk bekerja. Aku mencoba untuk melangkah. Namun tiba-tiba aku merasakan ada yang menarik kaki kanan ku dari belakang, hingga kemudian aku terjatuh di lantai licin itu.

          Ketakutanku semakin bertambah. Aku ingin sekali berteriak meminta tolong. Namun suaraku seolah tidak mau keluar. Aku mencoba berdiri dan mengambil cucianku, membawanya menuju tempat penjemuran pakaian. Dan mengabaikan rasa sakit di kaki ku ini. Setelah beberapa langkah dari kamar mandi nomor 5, aku mendengar pintu kamar mandi tersebut terbuka-tutup sendiri dengan suara yang sangat keras. Perlahan aku menengok ke belakang. Sebuah kepala dengan rambut dan jenggot panjang melayang tanpa tubuh di depan pintu kamar mandi nomor 5, sepasang matanya menatapku sambil melemparkan senyuman mengerikan.

           “Sial, harusnya aku tadi tidak menengoknya!”, umpatanku pada diriku sendiri.

          Aku langsung keluar kamar mandi dengan langkah secepat mungkin. Di tempat penjemuran pakaian, aku dengan asal-asalan menjemur pakaian-pakaian tersebut. Berharap segera selesai dan aku bisa segera pergi ke kamar. Tapi sepertinya mereka tidak mengizinkanku untuk segera kembali.

          Setelah turun melewati tangga dan akan berbelok menuju kamar asrama, aku melihat banyak bercak darah di lantai. Aku mengamatinya, siapa tau itu bukanlah darah. Tapi tiba-tiba ada suara gesekan dari lantai, seperti gesekan orang yang tidaak mampu berjalan. Pakaiannya putih dan wajahnya benar-benar hancur. Ia menuju ke arahku, seolah akan menghampiri dan meraih tubuhku.

          Jantungku menjadi benar-benar tidak karuan sekarang, keringat sudah semakin deras mengucur. Aku berharap ada tangga lain yang bisa aku lewati tanpa harus bertemu makhluk-makhluk mengerikan ini lagi. Aku berusaha mengalihkan pandanganku darinya dan melewati bagian tepi tangga. Setelah berhasil melewatinya, aku langsung berlari secepat-cepatnya  menuju ke dalam kamar dan mengunci rapat-rapat pintu kamar tersebut.

          “Ada apa dengan wajahmu?”

          “Aaaaaaaa…”

          “Disa, ada apa sih??”, seluruh anggota kamarku terbangun dan langsung menghampiriku yang masih berdiri di pintu.

          “Wajahmu benar-benar pucat, Sa”, kata seorang senior ku.

          “Mereka sangat mengerikan”

          “Siapa??”, mereka serentak bertanya.

          “Penunggu kamar mandi nomor 5”

          “Kenapa kamu menggunakannya, kita kan sudah sering menceritakan kalau kamar mandi nomor 5 itu angker”, kata senior ku.

          “Jadi, kamar mandi itu benar-benar angker ya?”, kata teman yang seangkatan denganku.

           Aku diam sebentar, mengingat kejadian beberapa waktu lalu. Kejadian yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Dan sekarang aku percaya bahwa hantu benar-benar ada.

          “Iya. Sangat. Dan aku tidak akan pergi ke kamar mandi itu lagi. Aku bersumpah”