Cerpen Labostra – PANGGILAN DARI SATORU

PANGGILAN DARI SATORU

           “Apa kau tahu Satoru-kun?”

           “Urband legend lama itu? kenapa?”

           “Dia sedang trend lagi sekarang. Kau mau coba?”

           “Tidak, aku tidak percaya cerita seperti itu.”

******

            Sudah seminggu terakhir ini Mai berteman dengan bau pesing toilet. Toilet lama yang ditinggalkan penghuni sekolah karena rumor hantunya. Toilet yang malah memberikan perlindungan khusus bagi Mai. Ia tidak bisa bersembunyi di tempat lain. Gadis-gadis Tokyo itu akan segera menemukannya lalu menyiksanya. Memukul, menjambak, atau bahkan menendangnya. Padahal belum genap satu bulan dia bersekolah. Yeah, belum genap, karena Mai seorang murid pindahan. Pindahan dari negeri nun jauh bernama Indonesia.

           Nama lengkapnya Mai Wenno Kagami, ini hal pertama yang menjadi bahan bulian gadis-gadis Tokyo itu. Kulitnya gelap karena ibunya orang papua, pulau besar dan tertinggal yang ada di Indonesia, tentu ini bahan bulian mereka yang kedua. Terakhir logat bicaranya yang aneh khas papua adalah bahan bulian terakhir. Seminggu awal sekolah semua berjalan lancar, namun minggu berikutnya, taring-taring para gadis Tokyo itu mulai timbul.

         “Tidak ada uang?” gadis sipit berkuncir kuda itu menatapnya tajam, menyisakan titik hitam kecil di sudut matanya. “Semua yang kuberikan pada kalian adalah uang jajanku sebulan. Sudah tidak tersisa lagi.” Mai menunduk, dia takut. “Kau berani membantah, dasar hitam!” satu makian dari gadis berkuncir kuda itu dan seribu tindakan dari pengikutnya. Mai bersiap, ia siap menerima segala kekerasan fisik dari teman-teman barunya ini. Dia harus mulai terbiasa. Hanya setahun hingga ayah kembali bertugas di Indonesia. Hanya setahun!

          Mai berpikir dia sudah siap. Tapi perkiraannya melenceng. Mereka tidak memukul kali ini. Tapi mereka menelanjanginya, tak menyisakan sehelai benang pun sebagai penghormatan atas rintihan ampunnya. Suara kamera ponsel terus menggema di telinga Mai sepanjang hari.

          “Siapkan uangnya minggu depan. Kalau tidak, kau pasti tahu apa yang akan terjadi dengan foto ini. Kau tidak ingin orang tuamu malu, bukan?”

          Gadis blasteran itu menangis. ia ingin pulang ke tanah air. Ia ingin kembali melawan arus sungai hanya untuk pergi ke gedung SMA. Ia ingin bermain di hutan bersama kawan-kawannya yang ramah di Papua. Ia benci Tokyo! Ia benci gadis-gadis Tokyo itu! Sangat benci!

******

“Apa kau tahu Satoru-kun?”

“Itu nama…”

“Bukan namaku! yang aku bahas ini soal urband legend!”

“Urband legend lama itu, maksudmu? Kenapa?”

“Bocah itu sedang trend lagi sekarang. Kau mau coba?”

“Tidak, aku tidak percaya cerita seperti itu.”

        Percakapan aneh. Siapa itu Satoru-kun? Urband legend? Apa dia semacam impalak yang ada di Kalimantan? Atau mungkin tuyul? Entah kenapa Mai sangat penasaran. Padahal dia juga tidak percaya hal di luar akal seperti ini. Ayahnya selalu mengajarinya berpikir logis layaknya keturunan Jepang.

“Ano… Siapa itu Satoru-kun?”

       Dua orang yang sedang mengobrol itu menatapnya heran. Mungkin Mai salah menanyakan hal itu. mungkin dia akan menambah musuh gara-gara pertanyaan ini. Mereka bertiga saling hening sejenak. Sebelum salah satu diantara mereka angkat bicara. “Satoru-kun itu…..”

******

        “Dia bocah dari dunia lain yang akan menjawab segala pertanyaanmu. Dia juga akan mengabulkan permintaanmu. Tapi ada beberapa syarat yang harus dilakukan untuk bisa bertemu meminta bantuannya.”

         Mai menatap gagang telepon umum itu ragu. Koin di genggaman tangannya basah karena keringat. Dia takut, tapi ada yang harus memenuhi permohonannya. Koin-koin itu meluncur pada lubang koin telepon umum. Dengan cepat Mai menekan tombol-tombol yang berjejer rapi di kotak telepon.

         “Pertama, pergi ke telepon umum, lalu hubungi nomor ponselmu sendiri. Lalu ucapkan mantranya…”

         Mai menelan ludah kering. Mulutnya gemetar. “Satoru-kun, Satoru-kun, datanglah kemari. Satoru, Satoru, tunjukkan dirimu. Satoru, Satoru, kumohon jawab aku jika kau di sana.” Segera ia tutup telepon umum itu. ia keluarkan ponselnya dari saku, lalu mematikannya. Matanya tegang menatap ponsel yang mati itu. napas Mai memburu. Tinggal tunggu hasil.

        “Tunggu 1×24 jam, jika ritualnya sukses, Satoru-kun akan menelpon ponselmu dan memberi tahukan posisinya padamu. Saat ia tiba di belakang mu, cepat ucapkan pertanyaan atau permohonanmu. Ingat! Jangan membalikkan badan, jangan mencoba untuk melihatnya, dan jangan menyentuhnya.”

       Bersabarlah Mai. Tunggu sehari lagi dan permohonanmu akan terkabul. Ya, hanya perlu bersabar sehari lagi. entah kapan senyum itu timbul di wajahnya. Senyum yang perlahan mengembang menjadi tawa. Mai tertawa riang sepanjang perjalanannya pulang ke rumah. Yeah, hanya sehari lagi.

******

         Sudah lewat dari 24 jam, tapi tak ada apa pun. Mai menatap ponselnya kesal. Tak ada telepon masuk semalam, bahkan hingga siang hari ketika ia kembali bersembunyi di balik bilik toilet yang pesing. Apa ritualnya gagal? Apa dia salah merapal mantranya? Seharusnya dia tidak percaya takhayul seperti ini. Mai menghembuskan napas berat. Harapannya pupus.

        Atau mungkin tidak. Ponselnya bordering tiba-tiba. Nomor panggilannya aneh, hanya angka 7 pada belasan digit nomor. Ia angkat panggilan itu dengan pikiran campur aduk. Siapa ini?!

        “Kak Maaaiii, aku berada di pertigaan jalan besar dekat rumah kakak sekarang.” Samar terdengar suara ringan bocah laki-laki, sebelum akhirnya sambungan terputus. Ritualnya sukses! Haruskah ia senang? Atau jadi takut. Kenapa takut? Bukankah permohonannya akan segera terkabul.

         Panggilan aneh itu datang lagi ketika Mai baru saja menginjakkan kakinya ke dalam kamar sepulang sekolah. Kali ini suaranya lebih jernih. “Kaakkk, aku sudah di depan gerbang rumah kakak. Aku masuk, ya!” kali ini Mai mendengar desis tawa seorang bocah sebelum akhirnya sambungan terputus. Entah kenapa ia menjadi sangat tegang. Sebentar lagi Satoru-kun akan tiba di belakang punggungnya.

        Malam menjelang, masih belum muncul panggilan terbaru dari Satoru-kun. Mai menatap tegang cermin meja riasnya. Ia duduk dengan tidak nyaman di depan meja rias. Ponselnya tergeletak pasrah di hadapannya. Kapan bocah setan itu tiba?!

         Setelah lama menunggu, ponselnya kembali berdering. Dari nomor yang sama, nomor milik Satoru-kun. “Aku sudah di depan kamar kakak. hmmm kakak tidak sabar, ya.” Suara bocah itu terdengar semakin jernih. Mai menutup kedua matanya tegang. Perasaan takut itu menguasai tubuhnya seperti racun. Dan ketegangan itu memuncak ketika sebuah suara terdengar dari balik punggungnya.

 “Kaakk, aku di belakangmu sekarang.”

         Tanpa pikir panjang Mai segera mengucapkan keinginannya. Keinginannya untuk balas dendam. “Aku ingin gadis-gadis yang menyiksaku itu mengalami cacat seumur hidup!”

 “Tentu, kak.”

        Jawaban itu memberikan angin segar di hati Mai. Angin kebebasan yang secara spontan membuatnya membuka mata yang terpejam karena rasa takut. Angin segar yang telah membawanya pada petaka yang tidak terkira. Bayangan bocah laki-laki berambut hitam lebat itu terlihat dengan jelas di cermin meja riasnya. Mata hitamnya menatap mata Mai yang tegang menatap cermin. Senyum riang yang menghiasi wajah sang bocah memberikan arti tersendiri baginya.

 “Kau… Melihatku… Lho… Kaakkkk!”

        Tawa bocah itu menggema diiringi teriakan gadis blasteran yang memecah keheningan malam.

******

 “Kau sudah mendengar berita?”

 “Berita apa?”

        “Gerombolan Harada yang suka menyiksa anak blasteran itu semalam kecelakaan berat. Mereka bilang hampir menabrak bocah laki-laki waktu menyetir mobil, jadi Harada banting setir untuk menghindar. Malangnya, mereka malah ditabrak truk kontainer. Rusak parah tubuh mereka. Aku pikir mereka bakal cacat seumur hidup. Harada tidak akan bisa pamer wajah cantiknya lagi sekarang.”

 “Lalu bagaimana dengan bocah laki-lakinya? Dia tidak terluka?”

        “Itu anehnya! Tidak ada bocah laki-laki yang asal menyeberang waktu itu. tapi Harada yakin dia melihatnya. Dari rekaman cctv di jalan raya juga tidak terlihat bocah laki-laki. Harada tiba-tiba banting setir begitu saja direkaman cctv.”

 “Kok ngeri, ya!”

       “Mungkin dia mabuk, makanya jadi halusinasi seperti itu. bukankah begitu, Satoru-kun?” gadis itu menatap teman laki-laki sebangkunya yang melamun. “Hei! Kau mendengarku, Satoru-kun?”

 “Maaf, kau bilang apa tadi?”

 “Menyebalkan! Apa yang kau lamunkan di hari yang cerah ini!”

       “Tidak ada, hanya saja…” mata remaja laki-laki itu melirik pada sebuah meja kelas yang tak berpenghuni.

       “Mai? Sepertinya dia sakit. Ibunya menelpon wali kelas tadi pagi untuk memberi kabar. Jangan katakan kau punya minat sama gadis blasteran itu.”

       “Tentu, tidak. Hanya saja, sepertinya adikku mendapat teman baru semalam.” Remaja laki-laki itu tersenyum sumringah. Menyisakan perasaan aneh bagi orang-orang yang tak sengaja melihatnya. “Teman baru, mainan baru, betapa menyenangkannya.” Imbuhnya senang.

******

         Wanita paruh baya berkulit hitam itu tak hentinya menangis. sementara pria berkulit putih disisinya terus berusaha menghibur. Bagaimana wanita itu tidak sedih. Anaknya baru saja divonis gila oleh seorang dokter. Padahal wanita itu yakin anak gadisnya baik-baik saja semalam. Ya, anak gadisnya sehat, sebelum tiba-tiba anaknya itu berteriak histeris semalam.

         “Ini hanya stress, nyonya. Mungkin dia memiliki masalah pertemanan di sekolah. Hal ini bisa saja menjadi faktor utama yang menyebabkan anak anda membuat teman khayalannya sendiri.” Dokter kejiwaan itu melirik ke dalam kamar dengan perasaan menyesal. “Dia hanya butuh rehabilitasi.”

         Gadis bernama Mai itu sedang duduk di atas tempat tidurnya. Matanya menatap kosong udara dihadapannya. Senyumnya terlihat jelas dari kejauhan, senyum yang membuat semua orang tahu bahwa gadis itu gila.

 “Selanjutnya kau mau main apa, Satoru-kun?”

 “Bagaimana kalau petak umpet? Aku yang jaga dan kau yang sembunyi.”

TAMAT

 

         Fatima Tuzzaroh gadis kelahiran mei 1997 dari Sidoarjo ini suka membaca sejak SD. Sekarang sedang menempuh jenjang kuliah di Universitas Negeri Malang, Program Studi S1 Bahasa dan Sastra Indonesia.