Cerpen Labostra – PETAKA JUBAH HITAM

PETAKA JUBAH HITAM

Mutmainnah

         Seorang wanita dengan wajah keriput menuju kamar seorang anak lelaki. Wajahnya merah padam dengan langkah yang terbata-bata. “Hey, Pemalas! Bangun kau! Teriak wanita itu.  Seketika anak laki – laki itu beranjak dari tidurnya. Namanya Micell, ia sangat nakal dan pemalas. Kerjaannya hanya tidur, bermain dengan binatang yang ada di hutan, berkeliaran di hutan, usil dengan lingkungannya dan tidak pernah mebantu pekerjaan neneknya. Tak hanya itu, seringkali dia berucap kasar terhadap nenek dan orang di sekitarnya.

         Akan tetapi, sang nenek terus saja menyayangi dan mengasihinya. Di hari ulang tahunnya, ia diberi kado sebuah jubah yang berwarna Hitam. Alangkah terkejutnya Micell, dia tidak menginginkan jubah itu. Bukannya berterimakasih, dia langsung memaki neneknya dengan nada keras dan kasar. “Apa ini! Aku tidak suka barang seperti ini! Tidak ada gunanya!” Ucap Micel dengan geramnya. Sang nenek hanya tesenyum seraya berkata” Pakailah nak! Suatu saat nanti barang itu akan berguna untuk dirimu”.

         Micell tidak tahu bagaimana sejarah dari jubah yang diterimanya. Dulu, ada seorang penyihir yang sangat terkenal karena kemampuanya serta budi baiknya. Dia sangat dikagumi oleh semua penyihir pada masa itu. Ada penyihir yang iri dan sangat tidak suka padanya. Berbagai cara sudah dilakukan untuk menakhlukan penyihir hebat itu. Hanya satu tujuannya, jubah penyihir hebat harus lepas dari tubuhnya sehingga tidak punya kemampuan apapun.  Suatu ketika, mereka terlibat pertempuran yang sangat dahsyat. Tidak ada satupun penyihir lain yang ingin melerainya karena mereka lebih memilih menyelamatkan diri masing – masing. Terpaksa penyihir hebat yang baik hati itupun melepaskan jubahnya lalu bersumpah ‘Jika yang memakai jubah ini orang baik, maka dia akan menjadi penyihir hebat serta punya hati yang baik dan dikagumi oleh semua makhluk, jika yang memakai jubah ini orang jahat, dia akan menjadi penyihir hebat dan berperilaku jahat serta akan dibenci oleh semua makhluk”. Seketika, penyihir hebat itu roboh dan menjadi serpihan debu.

         Suatu hari, Micell berniat untuk jalan – jalan ke Hutan. Entah kenapa dia ingin memakai jubah pemberian neneknya. Ketika berjalan – jalan Micell bertemu dengan seekor serigala. Seperti biasa, ada saja yang ingin dia ganggu.  “Hei Serigala tua, untuk apa kau disini! Kenapa kau tidak mati saja, kau sudah tidak pantas untuk hidup dengan tubuh kurus seperti itu” Tawanya. Serigala hanya mendengarkan dan menelan ludahnya. Ketika Micell hendak melambaikan tangan kepada serigala, tiba – tiba terdapat seperti sinar yang muncul di tangannya. Seketika itu, serigala yang diinginkannya mati, langsung mati saat itu juga. Alangkah terkejutnya si Micell ketika kejadian itu. Bukan merasa bersalah dia justru sangat girang karena tahu kalau punya kekuatan. Micell melanjutkan niatnya untuk berjalan – jalan di Hutan. Dipikiran Micell ada kebingungan yang mengusik perjalananya. Untuk meyakinkan diri, dia mencoba sekali lagi kejadiannya yang lalu. Dia bertemu seekor kelinci yang sedang makan wortel di lahan hutan. “Hey kelinci, sedikit sekali wortel yang kau makan! Kau harus makan banyak wortel agar kau bertambah besar” Ucap Micell. Lalu ia mengulurkan tangan ke arah kelinci. Ajaib, seketika tanaman wortel yang dilahan itu berjumlah banyak. Micell berpikir dan menyadari kalau kekuatan itu berasal dari jubah yang dipakai. Selama perjalanan, ada saja onar yang dibuatnya. Bukan dalam hal baik, tetapi hal buruk yang ia perbuat. “Seru sekali, aku akan memakai kekuatanku untuk menyulap makhluk di hutan ini” Pikir licik sambil berjalan ke arah rumahnya. Dia tidak cerita apapun kepada siapapun. Micell hanya ingin menggunakan kekuatannya untuk dirinya sendiri.

         Keesokan harinya, pagi – pagi sekali dia pergi untuk berjalan – jalan ke hutan tanpa memberitahu neneknya. Micell berjalan dengan langkah penuh semangat dengan wajah yang bergairah. Dia membayangkan kejutan apalagi yang terjadi ketika menggunakan kekuatannya.  Hampir semua binatang bersembunyi karena takut dengan kekuatan tangan Micell. Di tengah perjalanan, dia bertemu dengan anjing yang sedang menikmati daging buruannya. “Anjing… Gagah sekali kau bisa menangkap buruan sebesar itu ! Kau lebih baik jadi siput yang hanya hidup dicangkangnya” Ucap Micell. Keajaiban terjadi lagi, seketika anjing yang memakan daging itu berubah menjadi seekor siput. Micell tertawa terbahak-bahak melihat hal itu. Tak hanya anjing yang menjadi sasaran Micell, banyak binatang lain yang mengalami hal serupa.

         Penghuni hutan mulai geger dan geram dengan kejadian itu. Mereka sangat marah atas perlakuan Micell kepada penghuni hutan. Suatu malam, para penghuni mengadakan pertemuan untuk mencari cara membuat Micell jera. Tak ada satupun dari mereka yang menemukan cara menjatuhkan Micell. Datanglah seekor burung Gagak, dia mengajukan pendapat agar ditelisik terlebih dahulu kehidupan Micell. Keesokan harinya, Gagak terbang melintas kesana-kemari di atas rumah Micell. Tetapi dia tidak menemukan hal aneh apapun. Dia mulai berpikir, asal muasal kekuatan Micell. Setelah melintas sekian lama, Gagak melihat Micell mengenakan Jubahnya dan melihat keajaiban yang terjadi seketika itu. Tanpa berpikir panjang gagak langsung menemui penghuni hutan dan memberi tahunya.   

         Hampir setiap hari Micell berjalan – jalan ke hutan untuk mencari mangsa.  Micell tak pernah puas dengan kejadian – kejadian yang lalu. Suatu hari ketika ia berjalan – jalan ke Hutan, Dia bertemu seorang pengemis yang sedang menyusuri hutan untuk pulang kerumahnya. “Hei pengemis tua, lama sekali jalan itu! Kau sedah berumur. Sudah saatnya kau mempersiapkan bekal kematianmu! Hahahahaha” Ucap Micell. Tak disangka pengemis itu meneteskan air mata karena ucapan Micell. “Untuk apa kau mengurusku nak. Urus saja perilakumu yang tak baik itu” Jawab pengemis. Micell geram mendengarnya, seraya ia berkata “Hei pengemis tua, aku malas sekali melihat wajahmu yang seperti itu! Aku lebih suka melihatmu menjadi seekor anjing yang menggonggong setiap hari”. Namun kejadian aneh terjadi di hutan. Pengemis yang dikutuk oleh Micell tidak berubah menjadi apapun, Micell yang berubah menjadi anjing dengan jubah hitamnya. Kancil yang melihat kejadian ini langsung memberi tahu seluruh penghuni hutan. ”inilah saatnya balas dendam! Micell harus mati” teriak penghuni hutan. Seluruh binatang berkumpul lalu memukuli Micell tanpa ampun.

         Micell pulang ke rumah dengan tubuh anjingnya yang babak belur. Sesampainya di rumah ia bertemu dengan sang nenek yang sudah menunggunya dari tadi. Alangkah terkejutnya nenek ketika tahu perubahan yang terjadi pada diri Miicell. “Kenapa kau nak? Apa yang terjadi padamu sampai bisa seperti ini?”tanya nenek. Lalu Micell menceritakan semua kejadian di hutan kepada neneknya. “Kau baru saja dapat pelajaran berharga dari tingkah lakumu. Inilah balasan bagi orang sepertimu, yang suka menjahati makhluk lain. Jubah yang kau pakai ini bukan jubah sembarangan” ucap nenek. Micell mendengarkan penjelasan sang nenek dengan tangis dan ia sangat menyesali perbuatannya. “Hanya ada satu cara untuk mengembalikanmu seperti semula. Kau harus menemui pengemis itu untuk meminta ramuan ajaib. Namun tak semudah itu kau mendapatkan petunjuk kesana, kau harus melakukan kebaikan selama 30 hari . Selanjutnya pergilah kau dan temui pengemis itu” tambah sang nenek.  Tanpa berpikir panjang Micellpun keluar rumah untuk membantu siapa yang butuh pertolongannya serta siapa yang bisa dibantunya.

Kini hari – hari Micell penuh dengan kelakuan baiknya. Tak peduli siapapun yang membutuhkan pertolongan pasti ia sigap untuk membantunya. Awalnya penghuni hutan menolak  bantuan dari Micell. Namun suatu hari ketika kelinci mendapat masalah pada makanannya, Micell dengan sigap membantu kelinci. Sebab hal ini para penghuni hutan mulai mempercayai kebaikan Micell.

        Hari terus berganti dan hampir mendekati hari yang ke-30. Kelakuan Micell mebuat para penghuni hutan simpati terhadapnya. Hari sudah menunjukkan hari ke -30. Saatnya Micell pergi menemui pengemis yang dulu diolok-olok. Micell memulai perjalanan dengan hati penuh harap untuk bisa kembali menjadi manusia seperti semula. Ditengah perjalanan, Micell bertemu seekor Singa yang sedang kesakitan karena tembakan pemburu. Micell dengan senang hati menolong dan mencarikan obat untuknya. Hari semakin larut, namun Micell belum jua menemukan gubuk pengemis itu. Tiba-tiba dia menemukan seberkas sinar di balik pepohonan. “Hei anak muda, Jika kau menginginkan tubuhnya seperti sedia kala, lakukanlah semua yang kuperintahkan! Lakukan semua kebaikan, tolonglah yang butuh pertolongan, dan berjanjilah tidak ada kejahatan di kehidupanmu!” Seru suara yang tak jelas asal suara itu. Micellpun menyanggupi dan perjanji melakukan perintah itu. Seketika tubuh Micell perlahan-lahan menjadi seperti manusia seutuhnya.

        Setelah kejadian itu, Micell langsung pulang dan menemui neneknya yang sudah terlihat sangat khawatir. Sang nenek langsung menceritakan tentang jubah hitam Micell itu. “Dahulu, ada penyihir yang sangat baik dan kehebatannya  sangat luar biasa, semua penyihir sangat kagum kepadanya, namun diantara mereka terdapat satu penyihir yang sangat iri terhadapnya, dia ingin memusnahkan penyihir baik itu. Akhirnya pertempuranpun terjadi sangat sengit. Tak ada yang mau untuk melerainya karena semua penyihir lebih memilih menyelamatkan diri masing-masing. Pertarungan dimenangkan oleh penyihir iri itu karena dia mendapat bantuan dari para roh halus. Setelah pertarungan hampir selesai, penyihir hebat itu tak mampu menyelamatkan jubahnya. Lalu ia berkata” Jika yang memakai jubah ini orang baik, maka dia akan menjadi penyihir hebat serta punya hati yang baik dan dikagumi oleh semua makhluk, jika yang memakai jubah ini orang jahat, dia akan menjadi penyihir hebat dan berperilaku jahat serta akan dibenci oleh semua makhluk”. Aku mendapatkan jubah itu dari pengemis yang kau olok – olok di Hutan”. Sekarang Micell mengerti asal muasal jubah yang mebawa petaka baginya.

;/

Tidak ada yang tahu cara memusnahkan jubah Micell. Hampir banyak cara yang mereka lakukan, namun hasilnya nihil. Para penghuni hutan tak kuat dengan kelakukan Micell yang semakin menjadi – jadi. Terakir kalinya, Micell mengubah seekor kucing menajdi singa buas yang selalu memakan binatang dihadapannya.