Cerpen Labostra – Seorang Putri yang Kembali Menemukan Jati Dirinya

Seorang Putri yang Kembali Menemukan Jati Dirinya

(Kisah Putri yang Tertindas)

Dinda Puspa Savitri

        Apa kalian pernah mendengar kisah putri yang tertindas? Kisah dimana ada seorang putri yang sangat ingin sekali untuk bahagia. Tetapi ia tidak bisa. Entah apa alasannya yang pasti hatinya tidak pernah bisa merasakan bahagia. Dia merasa hidupnya kacau dan hatinya selalu tertekan. Dia butuh segalanya namun merasa tak mampu.

        Sebenarnya kisahnya bukan tertindas. Sang putri bahkan memiliki sebuah istana yang sangat megah dan juga barang-barang mewah. Dia memiliki gaun-gaun yang sangat cantik dan mewah. Sekolah sang putri berkualitas tinggi, yaitu sekolah terbaik di wilayah kerajaannya, bahkan banyak pangeran dan putri dari kerajaan lain yang bersekolah disitu. Orangtua putri, raja dan ratu, sangat menyayangi dan memanjakan dirinya. Dia memiliki kekasih yang sangat mencintai dirinya. Walaupun dikenal cuek, dia tetap memiliki pelayan yang sangat setia, serta pengikut-pengikutnya yang juga sangat setia.

        Namun entah apa yang difikirkannya. Putri tersebut merasa selalu tertekan. Dia merasa tak mendapatkan apapun yang menjadi keinginannya. Bukan, dia merasa telah mendapatkannya, namun tak sesuai. Dia mencintai kekasihnya. Dia mencintai keluarganya, pelayan serta pengikut setianya. Dia bahkan sangat mencintai kedua orangtuanya. Namun dia lebih mencintai dirinya sendiri. Iya, dia adalah putri yang egois. Dia sadar itu. Dan sifat itulah yang membuatnya selalu merasa tertindas. Putri tersebut ditindas oleh hatinya sendiri.

      “Seorang yang hatinya selalu tertindas apa mungkin bisa hidup dengan damai?” pertanyaan itu yang selalu memenuhi isi kepala sang putri. Tak jarang ia marah terhadap dirinya sendiri. Ingin menghilangkan sifat egoisnya namun tak mampu.

Tok tok tok

“Siapa?”

“Saya Tuan Putri, Varisa”, suara pelayan dari balik pintu kamar putri.

“Silahkan”

“Permisi Yang Mulia Putri Dineira, Pangeran Misafa ingin menemui Anda di taman sebelah kastil”, seorang pelayan membuka pintu dan mendekati Dineira, nama dari putri tersebut.

“Baiklah, terimakasih. Kamu boleh kembali Varisa”, perintah Dineira kepada pelayannya dengan ramah.

         Tidak berapa lama Dineira sudah berada di taman sebelah kastilnya. Dia menuju kearah seorang pangeran dari Kerajaan Traja dengan tubuh tinggi tegap serta badan yang sedikit berisi, terlihat pas dengan tubuh tingginya. Ditambah kulit sawo matang, iris mata hitam, hidung mancung serta kumis tipisnya membuat pangeran tersebut tampak sangat manis. Banyak orang menyebut bahwa dia adalah pangeran yang gagah berani dan pandai berperang. Tapi dimata Dineira, Pangeran Misafa hanyalah seorang yang selalu ingin dimanja.

“Ada apa?”, tanya Dineira dengan ekspresi datar khas dirinya.

“Jutek amat”

         Inilah yang membuat Dineira tidak suka. Orang selalu menganggap dirinya jutek bahkan kekasihnya. Dineira sebenarnya ingin mengubah sifatnya itu, namun ia merasa masih kesulitan.

“Aku kangen kamu”, kata pangeran Misafa dengan tulus.

“Jika tidak ada hal yang penting, lebih baik pulanglah”, ucap Dineira kemudian dan langsung berlalu pergi.

         Pangeran Misafa sudah empat tahun menjadi kekasih Dineira. Dia tahu betul bagaimana sifat kekasihnya tersebut. Dineira tidak akan rela menghabiskan waktunya untuk hal-hal yang dirasanya tidak penting.

          Hingga suatu malam Dineira bermimpi sesuatu yang aneh. Dalam mimpinya itu Dineira dipanggil seseorang dari dalam hutan. Orang tersebut berkata, “Jika tuan putri ingin menghilangkan perasaan tertindas, yang mulia bisa menuju ke dalam hutan belakang istana”. Wujudnya tidak terlihat, namun suara tersebut terdengar begitu jelas ditelinganya.

         Kemudian pagi harinya Dineira menuju hutan tersebut. Ini pertama kalinya Dineira melangkahkan kakinya ke dalam hutan. Ada perasaan takut menyelimutinya, namun Dineira penasaran dengan tawaran dalam mimpinya semalam.

         Dineira terus melangkah menyusuri hutan yang semakin lebat tersebut. Namun tiba-tiba ada sekelebat cahaya lewat di depannya. Ia tersentak. “Cahaya apa itu?”, tanyanya pada diri sendiri. Cahaya itu menambah ketakutannya. Keringat dingin mengucur di dahinya. Kakinya terasa kaku untuk digerakkan.

         Kemudian dari jauh terlihat beberapa cahaya berbaris beriringan seperti menuju suatu tempat. Cahaya-cahaya itu terlihat sangat cantik dan membuat ketakutan Dineira perlahan menghilang. Dineira mengikuti cahaya-cahaya cantik tersebut. Hingga berhenti pada sebuah sungai yang sangat indah dengan airnya yang sangat bening dan arusnya tenang.

       Ada seorang pertapa di salah satu batu besar di sungai tersebut. Dineira memandangi pertapa tersebut. Pertapa itu menggunakan jubah warna putih bersih dengan penutup kepala juga berwarna putih. Dia terlihat telah hidup selama ratusan tahun. Lalu pertapa membuka matanya dan tersenyum melihat Dineira. Dineira gugup, kemudian membalas senyuman pertapa tersebut.

      “Ketulusan berasal dari dalam hati seseorang. Jika kamu melakukan sesuatu, lakukanlah dengan perasaan yang tulus. Jangan mengharap imbalan atas apa yang kamu kerjakan. Syukuri apa yang sudah kamu miliki, dan jangan pernah berkecil hati”

       Dineira bingung dengan apa yang dikatakan pertapa tersebut. Lalu kemudian ia menyadari. Kalimat yang keluar dari mulut pertapa tersebut merupakan nasihat bagi dirinya. Dan suara yang ia dengar dalam mimpinya adalah suara dari pertapa.

        Saat matahari sudah mulai jatuh, Dineira baru keluar dari dalam hutan. Berbeda dari biasanya, kali ini Dineira memasuki istana dengan senyuman yang sangat hangat. Dineira bahkan menyapa seluruh orang yang ia temui di istana. Bahkan Dineira mengajak Pangeran Misafa untuk berjalan-jalan ke taman hiburan.

       Semua anggota istana merasa senang dengan perubahan yang dialami oleh putri kesayangan mereka. Pangeran Misafa tidak menyangka, pertapa yang telah hidup selama ratusan tahun itu ternyata berhasil mengubah kekasihnya menjadi lebih baik.