(Bukan Lagi) “Wani Ditata”

Oleh : Piha

 

Wanita = wani ditata,

begitulah kata orang jawa.

Wanita harus manut, harus taat,

harus patuh dengan peraturan yang ada.

Dahulu kala…

Derajad wanita lebih rendah dari pria,

mereka tak bisa berada di barisan terdepan,

tak diberi kebebasan bersuara,

dibiarkan tak berpendidikan,

bertugas mengurusi rumah,

dan dianggap pemuas nafsu belaka.

Wanita masa kini,

tenggelam dalam gemerlap modernisasi,

terjebak derasnya arus globalisasi,

banyak yang menjadi lupa diri,

hanya karna mampu menghasilkan materi,

mampu mencukupi diri sendiri,

hingga tak lagi menghormati lelaki, bahkan suami,

merasa derajat sama tinggi,

berlindung dibalik kata emansipasi.

Bukan!

Bukan seperti itu makna emansipasi,

mari kita ingat lagi R.A. Kartini,

yang dengan keras memperjuangkan derajat wanita,

namun tetap patuh pada suaminya.

Emansipasi bukanlah pemberontakan pada kaum lelaki.

Emansipasi adalah bentuk penegasan.

Bahwasanya,

tangan wanita tak hanya bisa memasak,

tubuhnya pun bukan hanya pemuas hasrat semata,

wanita berhak untuk menyuarakan pendapat,

wanita berhak terbebas dari kebodohan,

wanita berhak menjadi pemimpin,

wanita tak lagi “wani ditata” tapi juga “wani nata”.

Asalkan tidak menyalahi kodrat dari Yang Maha Kuasa.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here