Putus Sekolah, Indikator Problematika Pendidikan di Indonesia Belum Tuntas

Putus Sekolah, Indikator Problematika Pendidikan di Indonesia Belum Tuntas

Oleh Dhea Revita

Kualitas Pendidikan di Indonesia belum bisa dikatakan baik atau cukup baik, sebab dapat dilihat bahwa kualitas Pendidikan Indonesia terdapat pada peringkat ke-10 dari 14 negara berkembang yang berpartisipasi dalam Global Education Monitoring (GEM) Report 2016, diselenggarakan oleh UNESCO (Herawati et al., 2021). Kualitas Pendidikan Indonesia yang masih buruk juga dapat diketahui dari data hasil studi Programme for International Student Assessment (PISA) 2018 yang dibandingkan dengan hasil PISA tahun 2015. Hasilnya mengalami penurunan. Pada PISA ini, kemampuan yang diuji  adalah kemampuan membaca, matematika, dan kinerja sains. Pada tahun 2015 studi PISA diikuti oleh 70 negara, dengan rincian hasil nilai rata-rata PISA Indonesia diantaranya, pada kemampuan membaca (397), kemampuan matematika (386), dan kemampuan kinerja sains (403). Sementara pada tahun 2018, PISA diikuti oleh 79 negara, dengan rincian hasil nilai rata-rata PISA Indonesia diantaranya, pada kemampuan membaca (371) dengan menduduki peringkat 6 dari bawah (peringkat 74), kemampuan matematika (379) menduduki peringkat 7 dari bawah (peringkat 73), dan kemampuan kinerja sains (396) yang menduduki peringkat 9 dari bawah (peringkat 71) (Tohir, 2019).

Dari data tersebut, dapat dijadikan acuan bahwa banyak problematika  dalam Pendidikan di Indonesia yang harus segera dibenahi. Hal-hal tersebut diantaranya layanan Pendidikan, sistem pendidikan (mulai dari kurikulum, kompetensi, dan kepemimpinan), serta kualitasnya (Herawati et al., 2021). Apalagi ketika Indonesia dilanda pandemi covid-19, perbaikan berbagai sector khususnya Pendidikan mendapat tantangan lebih. Hal yang dapat diosroti dari problematika Pendidikan yang ada hingga saat ini, yaitu putus sekolah.

Angka anak putus sekolah dalam kurun waktu 2018 hingga 2021, pada setiap jenjang pendidikan dasar ada yang mengalami peningkatan dan adapula yang mengalami penurunan.

Gambar 1: Grafik jumlah anak putus sekolah di Indonesia

Berdasarkan gambar 1, menunjukan bahwa anak putus sekolah dalam kurun waktu enam tahun terakhir mengalami penurunan. Namun untuk jenjang sekolah dasar angka putus sekolah masih tergolong tinggi (Cindy Mutia Annur, 2022).

Berdasarkan salah satu penelitian terkait faktor penyebab anak putus sekolah diantaranya riwayat Pendidikan orang tua, ekonomi keluarga yang lemah, keinginan atau motivasi bersekolah yang kurang, anggapan bahwa Pendidikan tidak penting dari masyarakat, dan lingkungan anak yang tidak mendukung serta mempengaruhi anak untuk tidak bersekolah (Mujiati, Nasir and Ashari, 2018). Hal ini sangat memprihatinkan, sebab hak dan kewajiban individu untuk memperoleh Pendidikan, utamanya Pendidikan formal telah diatur dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas. Dalam undang-undang tercantum, mulai dari Pendidikan agama hingga biaya serta sistem Pendidikan (Habe and Ahiruddin, 2017). Anak putus sekolah sendiri, Pendidikan formal yang dihentikan untuk dijalaninya. Ada beberapa alasan pentingnya Pendidikan formal, diantaranya adanya interaksi yang menimbulkan diskusi dan bertukar pikiran sehingga individu dapat mengembangkan kemampuan dirinya, individu  dapat memiliki kecerdasan dan aktif dalam berbagai hal positif, terlatihnya kemampuan memecahkan masalah,serta kemampuan bekerja sama (Zahida (Princess) & Dewi, 2016). Hal-hal tersebut relevan dengan kehidupan sehari-hari yang dialami.

            Permasalahan putus sekolah ini, sesungguhnya telah ada beberapa solusinya, bahkan melibatkan pemerintah. Contohnya program Campus Social Responsibility (CSR) di Surabaya (Ridwan, Sholihah and Wike, 2022), program Bnatuan Operasional Sekolah (BOS) (Husein, 2017), subsidi pulsa di masa pandemic covid-19 (Triwiyanto, 2020), dan masih banyak lainnya.

Jadi solusi yang telah ada akan lebih baik jika diimplementasikan di daerah yang sesuai untuk penerapan solusi tersebut. Kemudian permasalahan putus sekolah ini akan lebih baik jika menemukan solusi yang lebih efektif, agar pendidikan di Indonesia juga dapat dibenahi dengan cepat dan problematika pendidikan di Indonesia dapat dituntaskan. 

Daftar Pustaka:

Cindy Mutia Annur (2022) ‘Berapa Jumlah Anak Putus Sekolah di Indonesia?’, Databoks, p. 1. Available at: https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2022/03/16/berapa-jumlah-anak-putus-sekolah-di-indonesia#:~:text=Laporan Kementerian Pendidikan%2C Kebudayaan%2C Riset,yang tertinggi sebanyak 38.716 orang.

Habe, H. and Ahiruddin, A. (2017) ‘Sistem Pendidikan Nasional’, Ekombis Sains: Jurnal Ekonomi, Keuangan dan Bisnis, 2(1), pp. 39–45. doi: 10.24967/ekombis.v2i1.48.

Herawati, T. N. et al. (2021) ‘Analisis Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Angka Putus Sekolah di Indonesia’, (Snso). Available at: www.covid19.go.id,.

Husein, M. T. (2017) ‘Evaluasi Pelaksanaan Program Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dalam Upaya Mengurangi Angka Putus Sekolah’, Jurnal Pemikiran dan Pencerahan Rausyan Fikr, 13(1), pp. 1391–1406.

Mujiati, M., Nasir, N. and Ashari, A. (2018) ‘Faktor-Faktor Penyebab Siswa Putus Sekolah’, Didaktis: Jurnal Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan, 18(3), pp. 271–281. doi: 10.30651/didaktis.v18i3.1870.

Ridwan, A., Sholihah, Q. and Wike (2022) ‘Jurnal Ilmiah Administrasi Publik ( JIAP ) Implementasi Program Campus Social Responsibility ( CSR ) pada Masa Pandemi’, Jurnal Ilmiah Administrasi Publik, 8(1), pp. 23–34.

Tohir, M. (2019) ‘Hasil PISA Indonesia Tahun 2018 Turun Dibanding Tahun 2015’, Paper of Matematohir, 2(1), pp. 1–2. Available at: https://matematohir.wordpress.com/2019/12/03/hasil-pisa-indonesia-tahun-2018-turun-dibanding-tahun-2015/.

Triwiyanto, T. (2020) ‘Bukan Sekedar Subsidi Pulsa, Untuk Mengurangi Angka Putus Sekolah Dampak Pandemi Covid-19’, Seminar Nasional – Jurusan Administrasi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang, 200, pp. 325–335.

Zahida (Princess) & Dewi (2016) Homeschooling Tunggal Sebagai Model Pendidikan Pilihan Bagi Anak (Studi Analisis Penerapan Konsep Homeschooling Pada Princess), Jurnal Pendidikan Luar Sekolah.

Related posts

Leave a Comment