Revitalisasi Sadar Pluralitas

 

Oleh Royyan Julian

            Benar apa yang dikatakan saudari Islamiyah dalam tulisannya yang berjudul Fenomena Keagamaan di Tengah Pluralitas Bangsa dalam Tabloid on Line bahwa sila pertama Pancasila menandakan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang berketuhanan. Meskipun sejauh ini sila tersebut telah dianggap mampu mewadahi keberagaman agama dan kepercayaan di Indonesia, namun menurut penulis, ini masih belum cukup. Bila kita cermati lebih dalam lagi, maka kita akan menemukan bahwa sila pertama tidak bisa melindungi pluralitas seratus persen. Buktinya, agama yang boleh dianut oleh masyarakat Indonesia hanya beberapa saja. Tentu hal ini menunjukkan bahwa sila pertama tidak bisa berbicara apa adanya, karena telah dikunci mati oleh konstitusi. Sangat aneh bila sebuah konstitusi bisa membungkam landasan meterialnya sendiri. Bila Pancasila ingin dikatakan sebagai sebuah ideologi yang mampu mewadahi kenyataan pluralitas, maka sila pertama harus bermurah hati mengizinkan masyarakat Indonesia memeluk agama selain agama yang telah ditentukan oleh undang-undang. Bahkan, bila pancasila memang ingin dikatakan sebagai ideologi pluralis, maka Pancasila juga harus menerima orang-orang yang tidak beragama (fideis) dan tidak bertuhan (atheis). Jangan gara-gara trauma pada peristiwa G30S/PKI, lantas Pancasila kehilangan komitmennya untuk memayungi orang-orang yang berbeda (atheis). Bukankah zaman semakin berkembang? Bukankah Pancasila adalah ideologi terbuka? Jadi, apakah benar seratus persen apa yang dikatakan saudari Islamiyah dalam tulisannya bahwa Pancasila dengan segala ajarannya lahir untuk menjadi pilihan terbaik bagi kehidupan masyarakat di tengah pluralitas?

Berbicara masalah pluralitas bangsa, maka di dalamnya juga ada pluralitas agama. Tidak bisa dipungkiri bahwa Islam adalah agama yang paling banyak penganutnya di Indonesia. Penulis setuju dengan apa yang dikatakan saudari Islamiyah bahwa di dalam tubuh Islam itu sendiri terdapat banyak warna dan itu tidak perlu dipermasalahkan, karena bila hal itu dipermasalahkan, maka ujung-ujungnya hanya akan menimbulkan truth claim yang menganggap bahwa Islamnyalah yang benar, sedangkan Islam yang lain bid’ah, bahkan kafir. Tidak ubahnya seperti agama-agama lain yang juga dianggap kafir. Dari sikap inilah, maka pada akhirnya akan memicu konflik. Agama yang pada awalnya hadir untuk menciptakan kedamaian, lalu menjelma menjadi malapetaka yang justru berlawanan dengan watak agama itu sendiri.

Di negara ini, kita telah dihadapi oleh kasus-kasus yang mencoreng-moreng agama dari citranya yang hadir sebagai pembawa ketenteraman. Kita telah mengalami serentetan peristiwa wajah legam agama yang datang membawa konflik kemanusiaan. Kasus pengrusakan mesjid jamaah Ahmadiyah, bom Bali, dan tragedi monas menunjukkan bahwa aksi-aksi radikal itu dilakukan atas nama agama (Islam). Saudari Islamiyah menulis, ”Mungkin banyak yang lupa bahwa Indonesia bukan Arab dan juga bukan negara Islam.” Intinya, kita tidak bisa memaksakan kehendak dan iman kita kepada orang lain. Kita harus bisa menerima kenyataan bahwa Indonesia plural dan Islam warna-warni. Penulis pernah mengalami pengalaman pahit tentang toleransi pada saat masih SMA. Saat itu, penulis menulis sebuah tulisan di majalah sekolah tentang Ahmadiyah. Bagaimana penulis saat itu mengemukakan bahwa Ahmadiyah layak berkembang di Indonesia karena tidak bertentangan dengan undang-undang. Setelah majalah itu beredar, sekolah menerima berbagai protes dari lembaga-lembaga Islam seperti HTI, MUI, FPI, bahkan juga institusi pemerintahan seperti Dinas P & K dan Departemen Agama, karena tulisan itu dinilai telah melecehkan agama. Tidak tanggung-tanggung, penulis dicurigai sebagai antek-antek Jaringan Islam Liberal. Kasus semacam ini menunjukkan bahwa umat Islam masih belum bisa menerima fakta pluralitas di tubuh Islam itu sendiri.

Sekali lagi penulis setuju dengan saudari Islamiyah bahwa kita bukan hidup pada zaman Rasulullah. Biarlah Islam versi Rasulullah hidup pada zamannya dan Islam sekarang berjalan dan berkembang sesuai konteks. Kita perlu mereinterpretasi kembali ajaran Islam agar relevan sesuai zaman, karena sejatinya Islam adalah agama rahmatan lil alamin. Bila ajaran Islam masih ditafsirkan secara literal dan tekstual, maka Islam hanya akan menjadi monomen yang tidak boleh diotak-atik, sehingga melahirkan pemeluk yang konservatif, fundamentalis, eksklusif, ekstrimis, dan ortodoks. Dan pada akhirnya, kaum-kaum seperti inilah yang sering menimbulkan konflik gara-gara tidak dapat menerima perbedaan baju luar. Jelas sekali bahwa kaum-kaum seperti ini juga menjadi salah satu faktor yang dapat mengancam keutuhan bangsa.

Cara terbaik yang bisa kita lakukan saat ini adalah merevitalisasi toleransi kita terhadap kenyataan pluralitas. Emha Ainun Najib mengajak kita pentingnya dialog antar umat beragama untuk meminimalisasi atau bahkan menghilangkan keegoisan sikap beragama kita. Dialog di sini bukan memperdebatkan hal-hal musykil seperti kapan Yesus menjadi Tuhan. Justru itu akan memicu permusuhan. Tetapi dialog di sini lebih menekankan pada sikap kebersamaan, misalnya gotong-royong membersihkan parit. Berangkat dari sesuatu yang sederhana seperti inilah yang bisa menjadikan kita sadar bahwa beragam adalah sebuah keniscayaan.

Related posts

One Thought to “Revitalisasi Sadar Pluralitas”

  1. Di Indonesia setiap manusia memang wajib memilih salah satu agama diantara 5 agama. Mengapa anda berpendapat bisa memilih agama lebih dari 1?

Leave a Comment