Ritual Kurban, Tradisi Semua Agama

 

Oleh Royyan Julian

 

 

Bilamana kita tahu bahwa kurban adalah tradisi yang dilaksanakan oleh umat muslim setiap hari raya Idul Adha, maka penulis menepis pendapat tersebut dengan bertolak dari tradisi-tadisi selain Islam. Dengan kata lain, sebenarnya tradisi kurban bukan hanya ritus yang hanya ditunaikan oleh pengikut Muhammad saja, melainkan menjadi ritual yang dilaksanakan oleh agama-agama lain. Oleh karena itu, jangan heran bila kita (sebagai umat muslim) menemui ibadah serupa pada tradisi-tadisi selain Islam.

Kurban, sebagaimana ibadah seperti puasa dan haji (ziarah) adalah ibadah universal yang bisa kita jumpai dalam beberapa ajaran agama. Sejarah kurban yang dilaksanakan oleh umat Islam, tidak terlepas dari hikayat biblikal yanga meriwayatkan pengorbanan Ibrahim terhadap putranya atas perintah Allah Yang Maha Esa. Muhammad, sebagai rasul umat Islam mewajibakan kurban kepada pengikutnya yang telah mampu berkurban. Muhammad sangat mengecam umatnya yang telah mampu berkurban, tapi enggan menunaikannya. Hal ini tergambar jelas dalam sabdanya. Dalam hadist lain, Muhammad bersabda, “Barang siapa yang sudah mampu dan mempunyai kesanggupan tapi tidak berkurban, maka dia jangan dekat-dekat ke musallaku”. Dalam kitab umat Islam paling otoritatif pun (baca: Al-Quran), pemeluk agama Muhammad diwajibkan menunaikan ibadah kurban setelah ia mendirikan kewajiban paling vital, yaitu salat. Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadanya nikmat yang banyak. Maka dirikanlah salat kerana Tuhanmu, dan berkurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus (Al-Kautsar: 1-3).

Dengan dasar yang sama, kedua agama serumpun Islam, yakni agama semitis Kristen dan Yahudi juga mewajibkan kurban. Hal ini bisa ditarik dalam satu benang merah, yaitu sejarah kurban itu sendiri yang berakar dari peristiwa yang dialami oleh Bapa Ibrahim/Abraham yang telah rela berkorban putranya, Ismail (dalam Islam) dan Ishak/Isak (dalam Bibel). Dalam kisah ini, Tuhan ingin menguji apakah hambanya, Ibrahim benar-benar mencintainya atau tidak. Maka Tuhan mengujinya dengan memerintahnya untuk mengorbankan putra tunggalnya dengan menyembelihnya. Tanpa ragu, Ibrahim memenuhi titah Tuhannya. Dengan rela ia korbankan anak satu-satunya itu. Sebelum peristiwa berdarah itu dilaksanakan, Tuhan mengutus malaikatnya untuk menggantikan kurban itu dengan seekor domba.

Oleh karena itu, tiga rumpun agama semitis ini percaya bahwa berkurban adalah ibadah yang niscaya. Ketulusan Ibrahim mengorbankan putra satu-satunya bukan hanya menjadi pesan moral bagi mereka, melainkan juga menjadi bagian ibadah yang mesti dilaksanakan. Bahkan, dalam doktrin Kristen, Tuhan juga mengorbakan putra satu-satu, Yesus Kristus sang penebus dosa manusia. Sebegitu pentingnya ritual kurban sehingga ibadah yang satu ini diwariskankan turun-temurun, mulai dari manusia pertama, Adam yang dilakukan oleh kedua putranya, Habil (Abel) dan Kabil (Kain). Habil si peternak memersembahkan ternak terbaiknya kepada Tuhan dan Kain si petani menghaturkan panennya kepada Tuhan. Sembahan Habil diterima karena ia dengan tulus memersembahkan ternak terbaiknya daripada Kain yang memersembahkan hasil panennya yang busuk. Di sini kita mendapat pesan bahwa ketulusan adalah syarat utama dari sebuah pengorbanan.

Dalam Hindu, kurban (akrab dengan istilah persembahan) bukanlah ritual yang asing. Ajaran Hindu membagi kurban menjadi lima macam. Pertama, dewa yadnya yaitu kurban yang dipersebahkan kepada Tuhan. Kedua, butha yadnya, yaitu kurban yang ditujukan kepada raksasa, jin, dan lain sebagainya bukan untuk disembah, tetapi untuk menjaga keharmonisan alam semesta. Ketiga, pitra yadnya, yaitu kurban yang ditujukan kepada para leluhur agar mereka tenang hidup di alam sana (kurban ini mirip dengan upaca tahlilan kaum nahdliyin Indonesia). Keempat, rsi yadnya yaitu kurban yang ditujukan kepada para orang suci sebagai terda penghormatan. Kelima, manusia yadnya yaitu kurban yang ditujukan kepada diri sendiri untuk memeroleh kesempurnaan dalam hidup.

Meskipun Budha menentang kurban binatang, tetapi sebenarnya kurban yang dilarang sang Budha adalah kurban yang mengeksploitasi binatang. Hampir semua agama di dunia menghendaki agar pemeluknya berkurban. Berkurban di sini bukan berarti bahwa Tuhan butuh belas kasih manusia, tetapi sebaliknya, kurban adalah tanda syukur hamba kepada Tuhannya yang selama ini telah mengaruniakan berbagai nikmat yang tak terhitung banyaknya. Hal ini dijelaskan dalam surat Al-Kautsar dan beberapa ayat dalam Bibel, “Persembahkanlah syukur sebagai korban kepada Allah” (Mazmur 50:14).

Lebih dari itu, kurban bukan hanya memiliki nilai kesalehan spiritual (vertikal), tetapi memiliki nilai kesalehan sosial (horisontal). Kurban bukan hanya bentuk penyerahan diri kepada Sang Pencipta, tetapi bentuk kepedulian antar manusia. Di dalam ibadah kurban, kita dituntut untuk membagikan kurban kita kepada orang-orang muskin papa, karena sejatinya yang membutuhkan uluran tangan kita adalah mereka, bukan Tuhan yang mewajibkan kurban. Tuhan Yang Maha Kasih memberi teladan kepada makhluknya untuk berkurban demi kebaikan sesama. Tirulah Allah, sebagai anak yang dikasihi dan hidup dalam kasih kehidupan, sebagaimana Kristus mengasihi kita dan menyerahkan dirinya sendiri sebagai ganti kita menjadi persembahan dan korban kepada Allah (Efesus 5: 1).

Kurban, sebagai ritual universal dibutuhkan oleh bangsa kita yang sedang mengalami keterpurukan multidimensional. Dalam hal ini, tampaknya masyarakat kita mengalami krisis kurban yang disebabkan oleh ketidakpekaan dan sikap egoisme yang mengakar pada diri kita. Yang paling tampak adalah sikap pemimpin-pemimpin kita yang apatis dan masa bodoh terhadap apa yang terjadi di sekitar mereka. Perilaku  semacam ini bisa dikatakan sebagai sikap berpaling dari agama. Sebab, sebagai golongan orang yang mampu, mereka enggan berkurban untuk rakyatnya yang menjadi tanggung jawabnya. Fenomena semacam ini sebelumnya telah diingatkan oleh Muhammad dalam sabdanya, “Kenapa kamu beribadah kepada Allah begitu tekun, tapi kenapa kamu tidak mau berkurban padahal kamu memiliki harta yang berlebihan?”

Sebenarnya, ritual kurban bukan sekedar menyembelih hewan yang telah ditentukan. Kurban dalam pengertian yang lebih hakiki yaitu bersedia mengulurkan tangan bagi mereka yang membutuhkan. Kurban dalam pengertian inilah yang dibutuhkan oleh bangsa kita yang sekarat. Celakanya, pemimpin kita hanya memahami kurban secara harfiahnaya saja, yakni sebatas membagikan daging binatang. Alhasil, mereka tidak menemukan makna esensial kurban, yakni sikap tulus untuk untuk menolong sesama. Akibatnya, setelah upacara kurban selesai, maka selesai pulalah kewajiban mereka untuk menunaikan tugas agama.

Refleksi kita sebagai bangsa multiagama menghendaki agar seluruh umat beragama bersatu padu berkurban secara esensial (bukan lahiriah, yaitu kurban binatang) untuk mengentaskan permasalahan bangsa kita yang datang secara beruntun, mulai dari masalah ke miskinan hingga masalah bencana alam. Sudah saatnya pemimpin dan masyarakat melepaskan ego yang selama ini telah menutupi mata hati kita. Sekali lagi, permasalah bangsa ini tidak cukup diselesaikan dengan ritual kurban umat muslim yang hanya dilakukan setahun sekali saja. Namun, masalah ini perlu dituntaskan dengan menjalin hubungan harmonis antar umat beragama yang memiliki persamaan visi dalam ritual kurban, yakni menciptakan umat yang sejahtera.

 

Related posts

2 Thoughts to “Ritual Kurban, Tradisi Semua Agama”

  1. Dalam kisah semua bangsa, kurban atau pengorbanan adalah salah satu metode untuk mendekatkan diri pada Tuhan-Nya

  2. Setiap hari raya idul adha umat muslim yang mampu memang disunahkan melaksanakan qurban. Tapi dalam paragraf 1 ada kalimat “melainkan menjadi ritual yang dilaksanakan oleh agama-agama lain” maksud agama lain itu selain islam atau bagaimana?

Leave a Comment