Sebuah Lagu dari Halte

Sebuah Lagu dari Halte

Oleh: g.

Ada satu kutipan kesayangan Raya dalam buku This Song Will Save Your Life. ‘Sometimes you just have those days where everything goes wrong. But sometimes, and totally unexpectedly, something can go right.’ Waktu itu, di hari yang sama saat Raya merasa hidupnya sedang berantakan, semuanya terasa lelah dan membuatnya takut untuk menyambut hari esok, ada satu kisah tersendiri di dalamnya. Sebuah pertemuan yang membuat Raya urung menyesali datangnya hari itu.

Pada suatu malam dengan berlatar sebuah halte, impulsif adalah kata tepat untuk menggambarkan apa yang Raya lakukan di sana. Keadaan sunyi membuat Raya memberanikan diri meluapkan segala beban dalam hatinya waktu itu. Konteksnya, malam itu adalah malam lelah bagi Raya akibat pikirannya yang banyak terbagi. Seperti biasa, kuliah, pekerjaan, keluarga menjadi beberapa hal signifikan yang berputar di kepalanya tanpa henti. Meski Raya masih meyakini suatu hari segala bebannya itu akan berhenti bergelayut di pundak dan hari-hari baik segera menggantikan, malam itu akhirnya Raya sudah tidak mampu membendungnya. Rasanya tiap tetes air mata yang telah perempuan itu buang berhasil menyingkirkan batu besar kasat mata yang terasa menindih dada.

Beberapa waktu berlalu, Raya sudah tidak acuh masalah bus yang ditunggunya akan tiba atau tidak.

“Resting for a bit is also good

Taking it easy is also good

You don’t have to overwork yourself”

Kemudian hening.

Tidak lucu rasanya jika di tengah air matanya yang berderai malah sosok tidak kasatmata menghampiri perempuan itu. Eh, tetapi apa memang ‘mbak kunti’ zaman sekarang lebih memilih menakut-nakuti dengan menyanyi daripada bersuara “hihihi”? Lagipula Raya yakin dengan pendengarannya. Jelas itu bukan ‘mbak kunti’, karena suara yang ditangkapnya adalah suara laki-laki.

Raya baru saja berniat mengintip, hanya untuk memastikan apakah orang di sebelahnya ini benar manusia. Lantas baru setengah dari niatan Raya terlaksana, sosok itu lebih dulu membuka suara, “Jangan khawatir. Bukan cuma lo doang yang lagi capek-capeknya sekarang.”

“…”

“EH MAKSUDNYA GINI! Bukan berarti lo nggak boleh merasa sedih, bukan! Justru rasa sedih, cemas, khawatir lo itu adalah hal nyata yang nggak boleh ditepis. Gue cuma mau bilang jangan takut dengan rasa capek dan kawan-kawan lo itu. Itu wajar dan gue yakin tiap manusia ada satu titik waktu di mana mereka lagi ngerasain juga.”

“…”

“I-iya maksud gue itu…, maaf kalau gue nggak bisa ngehibur orang. Duh bego…, Lo ngomong apa sih…,”

Setelah mengetahui pasti bahwa laki-laki itu manusia, Raya baru berani menoleh. Raya refleks terkekeh memperhatikan tingkah laki-laki di sebelahnya ini.

Alasan mengapa Raya masih belum meresponsnya karena dia terlalu malu berucap sepatah kata, juga di awal perempuan itu belum yakin secara penuh bahwa orang tersebut benar berbicara padanya. Anehnya, meskipun berakhir dengan lima menit tanpa tanggapan dari Raya sama sekali, laki-laki itu seperti mengerti keadaannya saat ini. Ia hanya duduk diam dengan setia di sebelah Raya, tidak lagi mengajak berbicara, dan justru melanjutkan kegiatan senandungnya yang sempat terpotong dengan berganti lagu baru.

Raya bersyukur setidaknya ada yang dapat memecah keheningan di antara mereka berdua. Lalu Raya berdeham dan menoleh sepenuhnya ke laki-laki itu.

“Kalau gitu…, boleh gue minta lo nyanyi aja?”

“Ini gue lagi nyanyi kok?”

“Haduh, bukan! Maksudnya gue minta dinyanyiin lagu yang gue penginin.”

“Oh…, mau request?”

“Hmm…, yang pertama lo nyanyiin tadi, boleh?”

“Hehehe oke, daripada gue ngomong makin melantur ya. Semoga nyanyian gue yang bisa hibur lo kali ini.”

*) “Don’t you run run run

It’s already been very hard

Even if you walk now

It’s okay

Resting for a bit is also good

Taking it easy is also good

You don’t have to overwork yourself

Don’t you run run run

It’s already been very hard

Even if you walk now

It’s okay

Right now by your side

I’m here

Walking together

I’m here

So it’s okay yeah

Even if you go slowly it’s okay yeah”

“Boleh tahu judul sama penyanyi lagu yang lo nyanyiin ini?”

“Oh, lagu ini belum ada di mana-mana.”

“Tapi kok lo udah tahu lagu itu?”

Raya akhirnya mengerutkan alis bingung, karena sosok di sebelahnya ini lebih memilih tertawa kecil daripada kembali menjawab pertanyaan yang Raya lontarkan tadi.

“Ini lagu bikinan gue soalnya. Barusan sih hehehe…,” akhirnya ia menjawab pertanyaan Raya, “Waktu gue nggak sengaja lihat seseorang yang lagi nunduk di halte. Nutupin muka pakai jaket denim tapi suara nangisnya jelas kedengeran.”

“O-oh sorry.” Jelas kalian tahu betapa malunya Raya saat ini, ketika seseorang mengaku menyadari tangisan yang dibuatnya seorang diri di sana. Sekali lagi Raya tekankan. Seseorang menyadari eksistensinya di tengah tangisan jeleknya.

Hahhh…., setelah ini Raya akan mengingatkan diri sendiri untuk menjadikan tempat umum sebagai nomor terakhir dalam list tempat terenak untuk menangis, karena ya…, memang enak sih. Hanya saja, jangan lupakan rasa malu yang hadir setelah mengetahui orang-orang tentu akan memperhatikan kalian.

“Jangan! Jangan bilang maaf, oke? Karena ini kemauan gue sendiri juga datengin lo yang lagi nangis. Bahkan gara-gara denger suara nangis lo, tiba-tiba gue bisa buat lagu itu.”

Meski telah mendengar jawaban positif laki-laki itu, Raya masih sulit menghapus rasa malunya. Bahkan kini ia berpikir akan lebih baik jika benar yang di sebelahnya ini adalah ‘mbak kunti’, bukan seorang laki-laki yang terinspirasi membuat lagu karena kesedihannya.

Ngomong-ngomong masalah sedih, Raya sangat berterima kasih atas lagu buatan laki-laki itu. Iya, bagi Raya sepotong lagu impulsif milik laki-laki itu menyelamatkannya.

Raya kemudian mendengar laki-laki itu lanjut berbicara. “Sekalian isinya curhatan gue sih. Harapan gue yang pengin orang-orang jadi punya pandangan lain tentang hidup ini. Pandangan bahwa hidup nggak selamanya harus lo jadikan perlombaan. Gue capek lihat orang-orang mandang hidup ini kayak lomba lari. Padahal buat apa?”

“Kita jadi capek sendiri kan? Karena tanpa sadar, ternyata selama ini kita menjadikan hidup sebagai arena lari dengan mengejar siapapun yang berada di depan kita. Dan ya, karena hidup bukan sebuah arena lomba lari, gue pikir tiap manusia berhak mengambil waktu istirahat. A little rest will be okay. Ya gitu deh inti pesan dari lagu ini.”

Selain dia menciptakan lagunya sebagai lagu yang mudah diingat, pesan di dalamnya benar-benar membuat Raya terkesan. It’s a good song, indeed. Setidaknya Raya bersyukur ternyata tangisannya memberi ilham seseorang untuk menjadikannya sebuah lagu yang…, ajaib.

“Makasih ya. Lagu lo agak banyak membantu gue sekarang.”

“Gue yang harusnya berterima kasih. Berkat pertemuan kita hari ini, gue bisa nyusun satu lagu utuh. Sebenernya gue tadi asal jalan, keliling-keliling nggak jelas, karena lagi suntuk abis stuck nulis sisa lagu yang harus gue selesaikan malem ini.”

“Oh wow. Jadi gue bener-bener ngasih lo inspirasi lagu nih?”

“Yep. Makanya gue yang harusnya bilang terima kasih ke lo. Entah seratus, atau seribu kali? Hahaha…,” dan tawanya refleks menular pada Raya.

Lalu keheningan kembali hadir dan deru angin beserta suara gesekan dedaunan menjadi lagu pengisi keheningan di antara mereka. Sebuah objek menarik di tangan manusia sebelahnya sempat tertangkap mata Raya. Benda sederhana berupa buku catatan kecil yang tampilannya telah usang, tidak bersampul, bahkan kertas halaman pertamanya telah terpatri beberapa garis lipatan (yang dugaan Raya tercipta karena laki-laki itu terlalu sering membawanya di dalam saku celana jeans-nya).

Alih-alih menyuarakan pertanyaan dalam kepala, Raya memilih mengamati dalam diam apa yang dilakukannya.

Buku dan sebuah pulpen. Oh, tentu sekarang Raya bisa menebak. Namun yang lebih menarik atensi Raya sekarang adalah bagaimana isi dari goresan yang pemilik buku itu lahirkan dalam buku catatan kecilnya.

Laki-laki itu ternyata menuliskan lirik lagu miliknya tersebut.

‘Kenapa nggak nulis di memo hape aja?’

“Ini buku kesayangan gue. Gue lebih seneng nulis pakai tangan di buku ini. Lagu-lagu asing tapi menarik dari rekomendasi temen, atau lirik ngasal yang tiba-tiba hinggap di kepala gue. Semua gue tulis di sini.”

Raya belum sempat menyuarakan pertanyaan itu, tetapi laki-laki di sebelahnya ini seperti cenayang dengan menjawabnya langsung atau mungkin tatapan rasa anak kecil penuh penasaran dari Raya membuatnya langsung tanggap mengerti. Ya, mungkin itu yang membuat isi kepala Raya seketika transparan di dekatnya.

Namun belum cukup dengan hanya satu, pertanyaan lain ikut berbaris di benak kepala perempuan itu. Ketika memandang bagian atas pada halaman lirik tersebut yang rasanya sengaja dikosongkan. Mungkin ada sekitar dua jarak spasi yang tercipta sebelum bait pertama ditulis.

“Hmm…, ternyata penyakit lama gue belum sembuh. Pasti masalah judul.”

Benar kan? Kebingungan Raya seperti bisa membaca kebingungan dari dirinya. Lucu melihat laki-laki itu bergumam sendiri mengucapkan kalimat tersebut, seraya kedua alisnya bertaut karena sama-sama sedang berkerut.

Marathon. Judulnya itu aja.”

“Ah iya, lari. Marathon. Wow! Thanks udah membantu lagu gue sepenuhnya hehe…,”

Raya begitu takjub ketika kesuraman pada raut sosok di sebelahnya itu kini telah berganti kelegaan.

Waktu itu jelas Raya hampir menyesal karena belum sempat mengajaknya berkenalan, bus yang ia tunggu sejak setengah jam lalu akhirnya tiba. Raya segera berdiri dan menatap laki-laki itu. Manusia yang ditatap juga balas menatap tanpa sepatah kata, hanya menaikkan sebelah alis.

“J-jadi…, gue pamit duluan.”

Laki-laki itu balas tersenyum tipis seraya mengangguk. Raya kemudian mengeratkan jaket di pelukannya tanpa kembali berbicara. Mengurungkan niat mengatakan hal yang seharusnya ia katakan. Seperti meminta diberi tahu nama laki-laki itu, mungkin?

Namun akhirnya Raya segera beranjak dan melangkah menuju bus setelah kalimat pamitnya itu. Hatinya sudah terlampau membaik hanya dengan bertemu laki-laki asing tersebut. Meski bertemu secara asing dan kembali menjadi asing, Raya merasa itu sudah cukup.

Sampai akhirnya sebuah tarikan pelan pada totebag-nya menahan langkah Raya.

“Tiga bulan lagi lo bakal lihat Marathon mengudara di tangga lagu. Gue pengen lo jadi orang pertama yang gue kabarin lahiran album gue.”

Hanya saja Raya dibuat tidak mengerti dengan tindakan lain laki-laki itu yang memberikan sepotong lipatan kertas. ‘Kenapa dia malah ngasih liriknya?’ Ingin sekali mulut Raya mengeluarkan pertanyaan tersebut, tetapi tanpa sadar ia telah didorong masuk ke bus oleh oknum yang membuatnya bertanya-tanya itu.

Masih dibuat heran dengan kertas tersebut, Raya terus memandanginya hingga bus berjalan. Tidak lama kedua sudut bibirnya membentuk garis tipis saat menemukan jawabannya. Raya tertawa kecil menatap tulisan tidak rapi di belakang lirik lagu.

“Hidup dijalani dengan melangkah, jangan pake lari, oke?”

 –Jenandra Prakasa. 089xxxxxxxxx

*) : lagu orisinal DAY6-Marathon

Related posts

Leave a Comment