Sebuah Pamit yang Pahit

Sebuah Pamit yang Pahit
Oleh: Ind

Bumbung asap dan limbah gas rutin menggelapkan langit cerah, membakar semangat kaum muda-mudi untuk berkeliling stadion di pagi hari sembari menghirup udara segar. Sebagian besar mengalir bersama angin dan mengganggu pemuda-pemudi di wilayah sebelah; kaum tua dan lansia apalagi, hanya termenung menatap langit yang cerahnya tak dapat disapa lagi. Sebagian kecil resap di perawakan pepohonan. Sebagian lagi difiltrasi, katanya. Entahlah, udara, air dan segenap tanah seakan bukan milik kita lagi. Mereka dioptimalkan, lebih tepatnya dijadikan alat barter untuk mendinginkan ego kaum yang sedang kehausan, kelaparan dan s’lalu bertanya kepada Tuhan, “Tuhan, udara milikmu tak ada batasan, bukan? Begitupun dengan air dan tanah yang bersimpuh kepada-Mu?”

Luasnya ruang udara yang sebentar terlihat membiru, menyatu dengan euforia setelah meninggalkan rumah, lalu menghirup, “Duhai segarnya udara ini.” Namun, itu dipalak oleh sepintal mimpi buruk yang dihindari, tapi malah datang mendekap, semakin erat. Sial bukan main! Ruang udara semakin meninggalkan kesan warna birunya.

Senalores boni viri, senatus autem bestia.” Pona berbicara dengan nada tegas sembari melukai dahan pohon dengan tatapan ke arah bangunan bercerobong.

“Apa yang kamu baca, Pona? Sebuah mantra untuk mendapatkan makan siang?”

“Bukan. Ini mantra untuk menidurkan peri tidur.”

“Peri tidur bukannya udah tidur ya?”

“Pernah dengar mantra untuk membangunkan polisi tidur di jalan aspal?”

“Iya aku salah, aku diam dan aku minta maaf, Nona.”

“Nyonya! Diralat!”

“Iya, Nyonya. Eh, Pona? Aku beneran pengen tahu maksud kalimat tadi,” Gigil terus mendesak Pona untuk menjelaskan maksud kalimat asing tadi. Gigil, seorang perjaka yang jarang membaca buku itu selalu minta disuapin Pona. Padahal Gigil tahu, dia hanya sebatas sahabat masa kecilnya, masa di mana terbang bersama tanpa bertabrakan dengan sesama burung akibat jarak pandang yang pendek saat ini.

Pona berhenti menyakar dahan pohon dan menatap Gigil, paruh mereka nyaris menyatu, “Kalimat itu adalah salah satu tulisan Profesor Swiss. Pada intinya, masyarakat sulit cenderung sulit diarahkan dibandingkan individu yang tergerak oleh kesadaran dan rasa tanggung jawab. Kamu tahu kan kalau kita adalah secuil kehidupan yang menderita akibat penindasan yang memenuhi bumi dengan keluh kesah, pahit getir dan derita?”

Gigil masih mencerna penjelasan Pona, tetapi dia langsung menyahut, “Ohh…, gitu.”

“Buta pengetahuan dan pura-pura tahu itu juga bentuk penindasan.” Sahut Pona, kemudian terbang dan berkicau meninggalkan Gigil yang seperti kucing kelaparan.

Suatu sore dengan garis cahaya mentari seperti taburan kristal yang tersangkut di antara perdu dan pepohonan, lantas menjelma langit kristal. Di sudut mata yang berbeda, tepatnya di salah satu batang pohon ada segerombol burung yang sedang berkumpul.

“Kita harus memperdalam pengetahuan, memahami satu per satu objek kehidupan. Setidaknya dengan itu kita bisa menodong hukum untuk bekerja, karena sejatinya keadilan tidak akan tertembak di dada burung yang lemah. Benar kan?” Pona bersuara di tengah-tengah burung yang membentuk formasi lingkaran.

“Setuju!” seru Kalis, seorang pemimpin rumah tangga yang berjiwa tanggung jawab dan pantang ditundukkan keadaan.

“Aku pasti setuju dengan hal itu, tapi gimana caranya kita memperdalam pengetahuan? Sedangkan di sini tidak ada perpustakaan, hanya ada samudera cerobong.” Lelin menjawab dengan keraguan dan ditutup dengan kicauan bernada sedih.

Di tengah keheningan tanpa kicauan burung, Gigil menyeru dengan lantang, “Aku ada ide.” Sontak, seluruh leher terputar ke arah Gigil, keheranan.

“Udah, udah, jangan kaget gitu. Semuanya berhak bersuara, asal berbobot.” Kalis menengahi tatapan tajam dari sahabat mereka yang seakan-akan ingin menerkam Gigil dan mencabiknya, jikalau ide Gigil konyol.

“Gimana kalau kita mengungsi ke tepi sungai? Di sana ada perpustakaan kecil.” Gigil berkata dengan semangat dan binar mata yang mengkilau, suci.

“Ide konyol! Itu bukan habitat kita. Lagian kita juga nggak tahu, perpustakaan di sana masih ada atau udah hanyut.” Wika yang semula diam, sontak membuka paruh dan memarahi Gigil. Dia marah, karena ide konyol itu bisa menyerahkan nyawa mereka secara sukarela ke malaikat. Bagaimana tidak? Sungai itu terkenal ganas, entah apa yang ada di dalam sungai itu.

“Boleh juga ide Gigil.” Pona yang kali pertama mengiyakan pendapat Gigil membuat malam seakan lupa diri. Semuanya terkejut dan terdiam sejenak. Apa yang ada di pikiran Pona?

“Aku setuju dengan ide Gigil. Kepergian kita ke tepi sungai, khususnya berkunjung ke perpustakaan dan meminjam buku adalah langkah yang tepat. Kita bisa memperdalam pengetahuan dan bahkan menciptakan suatu gerakan baru untuk mengurangi gumpalan asap di langit pemberian Tuhan, di ruang udara ini. Betul?”

Tidak ada yang berani bersuara. Namun, di dalam hati mereka, apa yang diucapkan Pona adalah suatu kebenaran. Meskipun, hal itu menjadi mimpi yang sangat mahal untuk dibayar, karena basisnya hanyalah menerawang bukan hasil dari analisis dari pelatihan intelektual.

**

“Oke, kita sudah beberes dan mengajak anak-anak kita untuk berani mengambil langkah agar kehancuran bisa diperlambat dan penuh pesona akan digapai.” Pona berseru sembari menggendong sarang yang berisi ketiga buah hatinya. Pona bersama Gigil, Kalis, Lelin dan Wika terbang beriringan menuju tepi sungai, tempat mimpi mahal itu dibayar.

Mereka terbang sembari menyeringai senang dan membayangkan betapa leganya bisa bermukim di kawasan baru, udara baru dan suasana baru. Sungguh kehidupan yang didambakan. Namun, nampaknya lamunan siang bolong itu layaknya kertas yang terperas lima jari, kusut, rapuh dan tak utuh. Mereka mendapati sungai yang keruh, busuk, tidak ada tanda-tanda kehidupan, penuh limbah dan sampah, ikan-ikan terdampar tak bernyawa. Di kelamnya sungai, ada lumpur yang menjadi saksi betapa derasnya aliran cairan busuk yang keluar dari pipa, tertuang di badan sungai, segala apapun hal-hal buruk dilimpahkan ke sungai ini. Sungguh kegilaan yang luar biasa, di mana ikan-ikan yang berenang-menyelam menghindari hantaman kaleng yang ikut terbuang bersama cairan busuk itu tak dapat dikutuk berumur panjang, mereka mati. Sebagian lagi, ikan-ikan seperti ditarik paksa fungsi insangnya akibat banyaknya limbah, logam dan apapun itu, ujung-ujungnya; mereka mati terkapar. Sungguh sebuah pamit yang pahit.

“Dahsyat!” Lelin terucap satu kata itu.

“Sejauh apapun kita terbang, kalau kerusakan menjadi hasil dari tidak adanya kesadaran, untuk apa? Jauh di sana, di tempat tinggal kita, udara tak lagi menjadi pujaan, tak menyenangkan. Di sini, di tempat kita mengais mimpi, perairan terenggut. Jangankan meminjam buku, untuk meminjam setetes air bersih dari sungai ini saja kita tak mampu.” Pona begitu terpuruk. Dia, keluarga, anak-anaknya dan sahabatnya tak lagi bisa hidup tenang. Terbang ke manapun, pasti diburu kehancuran dan kematian.

“Apa kita perlu pindah planet?” Gigil berucap sembari menutup matanya dengan kedua sayap, takut dengan tatapan sahabat-sahabatnya yang seakan menghentikan napas Gigil.

Related posts

Leave a Comment