Sebuah Tangga di Utara

Sebuah Tangga di Utara
Oleh: Lian

Malam itu hujan baru saja turun, menyisakan udara dingin yang menusuk tulang begitu kuat. Keadaan sangat senyap karena orang-orang tidak berniat keluar rumah sama sekali, memlih untuk tetap tinggal di dalam ruangan dengan lapisan selimut tebal. Namun, hal ini tidak berlaku untuk Satria Pamujiono. Pemuda yang biasa dipanggil Mas Tri oleh tetangga sekitar rumahnya, masih terduduk tenang di teras rumah, menatap rintik kecil hujan yang masih sedikit turun dari balik genteng rumahnya yang berlubang. Padahal jarum jam sudah berada tepat di angka sebelas, tetapi Tri tidak beranjak juga dari duduknya.

Pemuda itu masih meratapi rumah tuanya, menatap nanar genteng rumah yang kian hari makin banyak lubang. Salah satu alasan mengapa ia tidak masuk ke dalam tentu saja karena keadaan di dalam rumah jauh lebih mengerikan. Ada banyak genangan karena genteng yang bocor di mana-mana, sekian tahun tidak ia perbaiki sama sekali. Sebenarnya bukan ia tidak ingin memperbaiki, hanya saja dia tidak cukup uang untuk mewujudkannya. Tinggal seorang diri di perantauan, tanpa keluarga atau saudara tetapi masih saja menjadi pecundang di akhir usia 20-annya, jelas mustahil untuk mendapatkan uang puluhan juta. Tetangganya bahkan mengira jika dia adalah orang gila karena memilih tinggal di rumah tua ini yang dijual sangat murah beberapa tahun lalu kemudian dibeli oleh Tri dengan separuh harga setelah proses tawar menawar yang sulit dari seorang pria tua yang mungkin seumuran kakek Tri.

Tri tidak senang ketika mengingat dirinya adalah pecundang meski semua tetangganya memanggilnya begitu. Dia datang ke pulau kecil ini enam tahun lalu. Berbekal uang dari orang tua, ia memulai bisnis percetakan di pulau kecil ini yang sudah pasti gagal. Setelah gagal, tentu saja Tri tidak menyerah. Ia mencoba untuk menjual makanan tetapi dagangannya tidak selaku teman-temannya. Mungkin ada lima kali, Tri gagal berbisnis sebelum akhirnya ia menyerah. Dari sisa uang yang ada, ia membeli rumah tua ini.

Meski rumahnya tua, Tri berani bertaruh jika rumahnya belum setua menara penjaga pantai di daerah pesisir utara. Orang-orang asli pulau bercerita jika menara itu ditinggalkan oleh pemiliknya puluhan tahun lalu, mungkin hampir seabad lamanya. Menara setinggi 206 meter itu dahulu difungsikan dengan baik. Dijaga oleh seoang pria tua yang tingal di sana, tepat di bagian paling atas menara. Namun, ketika si pria tua tiada, tak ada lagi yang mau menggantikan untuk menjaga menara itu, dibiarkan terbengkalai hingga saat ini. Rumor yang beredar, dibalik dinding-dinding yang masih kokoh itu, menara itu terkenal menakutkan. Ditinggalkan hampir seabad lamanya, jauh dari kerumunan orang-orang, dibiarkan berdiri di tepi pantai yang sepi, tentu tidak akan ada orang yang berani mendekati menara itu. Tri sendiri tak tahu mengapa hingga saat ini menara itu tidak diruntuhkan saja. Padahal, atap menara itu sudah hampir roboh.

Ketika udara malam semakin dingin, Tri memutuskan masuk ke dalam rumah, membiarkan genangan air hujan di lantai rumahnya menenggelamkan kakinya hingga sebatas mata kaki kemudian ia pergi tidur, berharap esok pagi air akan segera surut. Namun, begitu bangun esok paginya, keadaan rumahnya masih sama kacaunya meski air sudah tidak setinggi semalam.

Rutinitas Tri di pagi hari yaitu pergi ke pasar untuk mencari pekerjaan serabutan atau apapun yang bisa ia jadikan uang. Hari masih sangat pagi, matahari bahkan belum keluar dari peraduannya tetapi orang-orang sudah berdesak-desakan di depan pintu masuk pasar. Tri yang berbadan kurus ringkih, tertabrak sana-sini hingga menabrak seorang pria yang berbadan cukup tambun di depannya.

“Maaf bang,” gumam Tri sembari sedikit membungkukkan badan, benar-benar meminta maaf.

“Satria?” Seseorang yang ditabrak oleh Tri bersuara, menepuk pelan bahu pemuda kurus itu.

Tri mengangkat kepalanya, menatap wajah pria di hadapannya ini. Sebuah kumis tipis menghiasi wajah bulat itu dengan pipi tembam juga setelan rapi yang dikenakannya, Tri tidak merasa mengenal pria ini.

“Kau tidak mengenaliku?” Si tambun bersuara lagi sedang Tri memberikan satu gelengan sebagai jawaban.

“Sepertinya anda salah orang, Tuan.”

“Ey, bagaimana mungkin kau tidak mengenali teman sekelasmu? Aku Bagas. Teman SMA-mu.” Si tambun mengenalkan dirinya, mengajak Tri berjabat tangan tetapi Tri masih bergeming di tempatnya. Berdiri diam, menatap heran ke arah Bagas.

“Bagas?” Tri mencoba mengingat kembali ingatan lamanya.

Ketika ia berhasil mengingat siapa Bagas yang dimaksud, sebuah senyum lebar terbit di wajah Tri yang tirus. “Dulu kau tidak segagah ini, Bagas.”

Bagas membalas dengan sebuah tawa, “aku bersyukur aku sudah sangat sukses sekarang. Kupikir kau sudah sukses di pulau orang, Satria.”

Senyum di wajah Tri hilang ketika mendengar ucapan kawan lamanya ini. Rasanya, air dingin baru saja mengguyur sekujur badannya hingga Tri hanya ingin lari pergi, menutup wajahnya yang luar biasa malu.

“Ah, ya. Bisnisku tidak lancar di sini. Kalau begitu aku permisi. Lain kali—“

Tri benar-benar berniat pergi, berharap ia tidak akan bertemu Bagas lagi tetapi kawan lamanya itu mencekal lengan Tri yang kecil, “aku tau kau butuh uang. Jika kau mau, ayo ikut berbisnis denganku, Satria.”

*****

Malam ini, hujan tidak turun seperti kemarin-kemarin. Entah mengapa langit malam justru terlihat bersih. Tidak ada awan tebal yang menutupi sehingga bintang-bintang bisa dilihat jelas oleh mata. Tri yang menghabiskan setengah jamnya di luar rumah seperti biasa, hanya bisa menatap datar langit yang masih sama tepat di atasnya. Ia berada di luar rumah lagi seperti kemarin. Namun, siapa yang menduga rumahnya akan disita pagi ini ketika ia baru saja bangun tidur karena ia kalah berjudi dengan Bagas.

Oleh karena itu, di sinilah Tri. Di depan menara penjaga pantai yang orang-orang bilang menakutkan setelah ia menghabiskan hampir setengah hari untuk berjalan dari rumahnya yang sudah disita ke arah bagian paling utara pulau kemudian memutuskan untuk menjadikan menara ini sebagai tempat tidur sementara karena ada sebuah kamar kosong bekas si penjaga di bagian paling atas menara. Tri mulai menaiki tangga menara yang seolah tak ada habisnya sedang tinggi menara ini jelas bukan tinggi yang normal untuk sebuah bangunan. Terlebih jika harus menaiki tangga hingga tiba di atas sana.

Siapa orang yang mau menghabiskan tenaga untuk menaiki tangga menara hanya agar ia bisa memiliki tempat untuk bermalam? Tentu saja hanya Tri karena ia pecundang. Pada awalnya, ia tidak berniat menerima ajakan Bagas untuk ‘berbisnis’. Namun, mengingat jika ia membutuhkan uang untuk pulang ke kampung halaman, berharap keberuntungan berada di pihaknya, Tri menjadikan tempat tinggalnya sebagai taruhan dan yah, dia kalah.

Di tengah usahanya untuk terus menaiki tangga, Tri menghentikan langkahnya sedang bagian atas menara masih belum nampak oleh matanya. Ia berpikir setidaknya ia harus beristirahat sebentar dan dari balik dinding menara yang tebal juga keadaan seluruh ruangan yang gelap tanpa cahaya, Tri merenungi kembali hidupnya.

Bagaimana bisa ia menjadi sebegini gagalnya?

*****

Hampir tiga jam atau mungkin empat jam, Tri menghabiskan waktu untuk menaiki tangga agar tiba di bagian atas menara. Ia berharap ia bisa segera tidur di bagian atas menara, menghalau dirinya dari dingin angin malam yang sedari tadi menerpa tubuhnya. Namun, begitu tiba di bagian atas menara, pemuda berusia 28 tahun itu tidak mendapati apapun selain sebuah cermin retak yang besarnya memenuhi hampir separuh dinding ruangan. Kamar atau tempat tidur yang orang-orang bilang milik pria tua penjaga menara itu tidak ada wujudnya. Bahkan sisa-sisa pernah digunakan pun tidak ada.

Tri menyandarkan punggungnya pada dinding ruangan, menatap cermin berdebu yang berada tepat di hadapannya. Dari balik cermin meski tidak begitu jelas, ia bisa melihat pemandangan laut yang masih gelap sehingga Tri beringsut bangun dari duduknya, berjalan pelan ke arah cermin dan mengusap kasar benda itu sehingga hampir seluruh ruangan dipenuhi oleh debu yang berterbangan.

Baru ketika pemandangan nampak jelas dari balik cermin, Tri kembali mendudukkan tubuhnya, membiarkan angin pantai yang dingin menerpa tubuhnya sedang di sisi kanan Tri ada sebuah jendela yang mungkin seukuran cermin dengan sebuah lampu besar berada tak jauh dari jendela. Dipukulnya lampu itu agar menyala tetapi tidak bisa sehingga Tri memilih menyerah, hanya terduduk diam menatap cermin yang memantulkan bayangan jendela dan pemandangan pantai. Terus begitu hingga beberapa menit setelahnya, seberkas sinar nampak dari balik laut yang tenang. Matahari sudah terbit dan niat awal Tri untuk tidur jelas gagal. Di tangga utara ini, Tri menemukan matahari terbit lagi.

Jika diingat kembali alasan mengapa dirinya gagal, Tri juga tidak tahu tetapi yang pasti karena dia masih muda. Masih diminta untuk sabar, tekun, dan terus berusaha. Di manapun tempatnya, seharusnya matahari akan selalu terbit, tetapi Tri mungkin lupa seperti apa rasanya matahari terbit di pulau ini. Satu-satunya yang ia ingat hanya sinar matahari yang hangat di kampung halamannya. Bisa dibilang, ini kali pertama Tri tahu jika di pulau ini matahari terbit juga sama indahnya.

Tri menunggu hingga matahari agak sedikit meninggi baru memutuskan untuk turun dari menara. Begitu ia tiba di luar menara, matahari masih sama indahnya. Tidak begitu terik tetapi hangat. Seharusnya Tri ingat jika matahari juga bersinar. Bahkan untuk seorang pecundang.“Jika kamu terus berkata bahwa kamu bisa, akhirnya kamu akan mencapainya.

Related posts

Leave a Comment