SEMPURNA

SEMPURNA
Oleh: Tajj

Sakti mengayunkan badannya dengan sempurna seperti ranting kayu yang tidak berdaya melawan angin kemarau. Bibirnya semencolok wanita muda yang merias diri di hari kedua pernikahan, berwarna merah darah dibubuhi simpul senyum bak pelawak. Kakinya pecicilan diiringi alunan kendang dengan paduan nada tritone. Sejenak ia telah mencicipi surga yang dikarang di pikirannya sendiri.

“Sial…, sialan! Sampai kapan aku sial begini.” Ujo kembali mengeluh pada nasib. Tidak berbeda dengan kemarin dan hari-hari sebelumnya, Ujo terus mengutuk perbuatan nasib kepadanya. Ia telah menjadi manusia yang tidak bersyukur. Menurutnya, namanya adalah padanan yang unggul. Seharusnya ia menjadi kepala desa atau setidaknya menjadi pemimpin para petani. Di dalam otaknya telah terpikirkan kumpulan kemungkinan yang bisa memajukan desa, meski pada kenyataannya hanya terbersit monopoli yang memajukan volume perutnya dan beberapa gadis desa yang bisa digaulinya.

Ayah Ujo adalah saudagar terkaya yang pernah hidup di Desa Nyonggo Geni. Kekayaannya dikenal orang hingga ke sembilan desa. Setidaknya itu yang bisa Ujo banggakan, sebuah kemakmuran turun-temurun dari keluarga. Ujo selalu menggunakan cerita kemasyhuran ayahnya dengan sederet bualan agar mendapat hak istimewa saat menginginkan sesuatu. Meski begitu, Ujo merupakan seorang penderma. Terhitung setengah kekayaan ayahnya telah ia sumbangkan ke rumah dadu paling terkenal di Nyonggo Geni. Ujo memilih cara yang indah dengan mengalah di setiap permainan yang ia ikuti. Sungguh, sebuah kesalehan yang dilakukan dengan tidak sengaja.

Pada suatu malam, Ujo kembali meniatkan diri untuk menderma di rumah dadu. Kali ini dibawakannya bungkusan sebanyak sesajen bersih desa ke rumah dadu itu. Orang-orang menatap keheranan atas kemurahan hati Ujo. Semabuk-mabuknya pengunjung, mereka masih bisa mengira berapa banyak harta yang Ujo bawa. Seperti biasa, secara tidak sengaja, Ujo tetap saja mengalah di setiap permainan. Tiba-tiba tubuhnya menggigil, sepertinya nyawa Ujo sudah di pangkal lidah. Ujo tersulut jahatnya tuak, ia-pun tidak terima dan berteriak marah. Berbekal sopan para penjaga rumah dadu melayangkan sebongkah kayu ke kepala Ujo. Keesokan harinya, Ujo terbangun di tengah sawah dengan wajah seperti sehabis disengat tawon.

Kemurahan hati Ujo yang mendermakan seluruh harta pemberian keluarga ke rumah dadu itu seakan memacu keputusan Ayah Ujo untuk memberi hadiah tiket satu arah keluar dari Nyonggo Geni. Kalimat terakhir yang diucapkan ayahnya merupakan kenangan yang tak pernah ia lupakan, “Bocah colo urip ora iso ditoto, saiki kowe gudu anakku maning. Metuo soko deso iki utowo ndasmu misah soko rogomu!1 Sejak saat itu Ujo menjadi orang yang tidak bersyukur. Nasib menjadi musuh baginya, setiap kali memejamkan mata, ia membayangkan nasib seperti sosok manusia dan tidak jarang nasib itu ia gambarkan seperti sosok manusia yang sedang memakan kotorannya sendiri.

Terlampau sering Ujo membayangkan nasib sebagai suatu sosok, baginya lebih mudah untuk melupakan masa lalunya dengan cara tersebut. Setiap nasib yang Ujo jalani memiliki sosok yang berbeda-beda, lengkap dengan nama yang ia berikan. Bosok adalah nama yang ia berikan kepada sosok nasib yang memakan kotorannya sendiri. Di dalam khayalannya, Ujo seringkali mengutuk, menendang, bahkan memukuli sosok ini. Bosok terlihat ringkih kurus kecil dengan badan lusuh dan rambut tubuh bagaikan rumput liar. Hal ini bertolak belakang dengan Sakti, sosok tinggi besar dengan badan tegap dan perawakan prajurit—sebuah sosok yang ia bayangkan saat nasib sedang mujur.

Setelah keluar dari Desa Nyonggo Geni, Ujo pergi ke Desa Segoro Arto—desa tempat ayahnya lahir. Harapannya, ia bisa bertemu dengan saudara ayahnya dan meminta dipekerjakan. Sayangnya, Ujo harus kembali bertemu dengan Bosok. Kali ini Ujo mengambil sebilah batu dan melemparkanya ke Bosok hingga mengeluarkan darah, sebuah bayangan yang tidak ia harapkan. Selama berbulan-bulan, Ujo terus bermimpi bertemu dengan Bosok. Akibatnya, perawakan mereka pun mulai menyerupai. Badan Bosok yang kering dan lusuh kini telah menjamah tubuh Ujo. Ujo semakin tak terawat dan sedikit lagi akan menjadi Bosok, sampai suatu ketika Sakti datang dalam bayangan Ujo yang sedang bersama Bosok. Sakti menendang Bosok hingga tersungkur kemudian meraih tangan Ujo. Pada saat itulah Ujo bertemu dengan Tin, wanita yang menjadikan Ujo menjadi sosok Sakti.

 Tin adalah seorang wanita mandiri, di usianya yang hampir kepala empat, ia sudah memiliki banyak cabang usaha dan pekerja. Seringkali Tin memungut pekerja dari jalanan, memilih orang-orang yang di kepalanya diselimuti awan mendung keputusasaan dan sinar wajah yang telah meredup. Tin beranggapan orang yang sedang memasuki ruang gelap akan mengikuti cahaya sekecil apapun meski hanya sepotong lilin. Dengan iming-iming dan harapan yang ditawarkan pada orang-orang itu, ia bisa menjadikan mereka sebagai anjing yang setia kepada majikannya. Terbukti pada Ujo yang telah menjadi tangan kanan Tin.

Kepada majikannya, Ujo memperkenalkan diri sebagai Sakti, sebuah nama yang menunjukkan bagaimana nasib yang ingin ia ubah. Berbekal kekayaan dan kuasa yang dimiliki Tin, Ujo sedikit demi sedikit meninggalkan sosok Bosok dan perlahan telah menyerupai Sakti. Sampai pada suatu saat Bosok sudah tidak pernah ia kunjungi dan Saktilah yang berkuasa. Ujo telah menjadi sosok Sakti yang ia idam-idamkan, manusia yang ideal dengan banyak hak istimewa yang dimiliki. Sayangnya, semua itu tidak semata-mata ia dapatkan. Harga yang sangat mahal harus Sakti bayarkan. Sebuah harga menjadi pencabut nyawa di dunia.

Seiring berjalannya waktu, Sakti telah meninggalkan nama lamanya, mungkin karena telah lama menjalani sosok nasib yang ia dambakan. Setiap tidak ada perintah dari Tin, Sakti bebas melakukan kebiasaan lama menderma di rumah dadu. Kali ini ia tidak pernah mengutuk dirinya kembali. Bagaimana tidak, di mimpinya ia tidak lagi bertemu dengan Bosok, tapi dengan sosok lain. Ia melihat sosok yang samar-samar ia kenal. Dia menamainya sebagai Ujo, sosok nasib masa muda yang menggambarkan masa kini yang ia jalani. Sosok Ujo kini telah makmur dengan volume perut yang besar dan gadis-gadis yang siap untuk digauli. Setidaknya satu dekade dengan sangat riang Sakti jalani dengan sosok Ujo yang sering ia temui, sampai suatu ketika sosok Bosok muncul untuk menuntut balas.

Sosok yang lusuh dan kering kerontang itu kembali muncul dengan gumpalan asap hitam yang menyelimuti di sekitarnya. Pada bayangan itu terlihat Bosok telah memasukan asap ke dalam mulut sosok Ujo hingga matanya mengeluarkan darah. Aliran darah itu mengalir deras seperti sumber air yang mencari hilir. Sontak Sakti terbangun dari lamunan dan kembali menenggak tuak yang ada di sebelahnya. Permainan menjadi pencabut nyawa telah berakhir, sepertinya Tuhan telah mengirimkan pencabut nyawa yang asli ke kediaman Sakti. Tubuhnya sudah tak selincah singa yang memburu mangsanya. Terlebih saat itu Tin sudah tiada, sehingga hak istimewa yang ia dapat darinya itu tidak diperoleh kembali.

Bisnis dan dinasti yang dibangun Tin telah diambil alih oleh anak-anaknya. Sakti dianggap sebagai singa tua yang lemah, sehingga ia didepak dari Dinasti Tin. Sejak saat itulah Sakti bertemu sosok Ujo. Ia menghamburkan hartanya seperti petani yang membuka lahan dengan api. Kebiasaan Sakti menenggak tuak dan merokok mempersilahkan sosok Bosok memberikan buah tangan penyakit kanker yang menyebabkan kerusakan organ lainnya. Di dalam bayangannya, ia melihat Bosok memasukkan gumpalan asap hitam ke dalam sosok Ujo dengan tawa yang menggelegar. Pada saat itulah, ia batuk berdarah dan mewarnai bibirnya dengan sempurna.

Ujo yang sudah mulai gila telah menjadi satu dengan Bosok. Rambut tubuh Bosok dan seluruh perawakannya adalah tubuh Ujo yang sekarang. Ia tergeletak di pojok pasar Desa Segoro Arto sambil mengunyah makanan busuk yang dibuang oleh warga pasar. Setiap hari ia memandangi Tin, penjual sayur yang bermuka masam dan judes, tetapi sering kali Tin membuang barang bagus yang bisa mengisi perut Ujo. Badan Ujo yang tidak sehat membuat ia sering mengalami halusinasi dan bergumam ngawur. Sepertinya ia telah berperang dengan nasib yang ia gambarkan menjadi sosok seorang manusia. Sebelum meninggal, Ujo membayangkan bertemu sosok Sakti yang sedang menari.

Catatan:

1 = Bocah sialan hidup tidak bisa ditata, sekarang kamu bukan anakku lagi. Keluarlah dari desa ini atau kepalamu terpisah dengan tubuhmu!

nike-dunk-low-coast-uncl | Yeezy Boost 350 Trainers

Related posts

Leave a Comment