SENI MURAL SEBAGAI EKSPRESI DIRI DI KALA PANDEMI

SENI MURAL SEBAGAI EKSPRESI DIRI DI KALA PANDEMI
Oleh: Adinda Nur Safitri

Karya seni mural dikenal sebagai seni visual jalanan (street art), yaitu seni dua dimensi yang dibuat dan ditampilkan pada ruang publik kota. Seni visual jalanan ini terdiri dari berbagai macam bentuk graffity, mural, whitepaste, stencil, dan sticker slap (Prasetyo, 2013). Seni jalanan yang banyak bisa dijumpai dijalanan kota Surabaya antara lain: Graffity dan Mural. Mural dan graffity adalah karya seni yang berbeda. Sifat mural yang penuh ketelitian dalam pengerjaan sehingga memunculkan kesan sempurna tentu berbeda dengan graffity maupun bentuk street art lain yang sifatnya cepat digoreskan pada tembok (Wicandra, 2009).

Kutipan dari artikel salah satu kampus terkenal dari Wicandra (2009) yang berjudul Berkomunikasi Secara Visual melalui Mural di Yogyakarta  diatas adalah pedoman yang tepat saat ditanya, bagaimana seni mural sebagai ekspresi diri di kala pandemi?. Dalam kehidupan, kebutuhan manusia tidak hanya ingin bertahan hidup, tetapi ia juga ingin meningkatkan kualitas kehidupannya, keinginan akan pengakuan, keinginan untuk memenuhi potensi dan lain-lain. Manusia selalu bergantung pada manusia yang lainya dalam memenuhi hajat hidupnya. “Karenanya seni seharusnya berdampingan dengan masyarakat. Mampu menalar persoalan dan sanggup menyuarakan keresahan.” (Bunuhdiri Revold, 2018:52).

Siapa yang berkata bahwa kreativitas mempunyai batas, pasti belum pernah melihat karya seni yang dihasilkan selama masa pandemi ini. Siapa sangka terkungkung di suatu tempat yang sama selama berkarantina justru meluaskan perspektif akan berbagai macam hal? Jika pandangan dan opini sudah meluas, apa lagi cara terbaik untuk menerjemahkan inspirasi selain merealisasikannya dalam bentuk karya seni dua dimensi? Mungkin hal tersebut menjadi salah satu motif di balik pembuatan mural-mural di berbagai sudut penjuru kota besar. Lagipula, sepertinya ini merupakan cara yang tepat untuk mengabadikan peristiwa historis yang (mudah-mudahan) tidak akan terulang lagi di masa depan (Wirasto, 2020). 

Pada kurun waktu 1 setengah tahun ini (2020-2021) bisa dikatakan tahun yang berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya. Banyak hal-hal yang baru, budaya-budaya baru, kebiasaan baru, sampai perilaku baru yang mungkin ditahun-tahun sebelumnya belum ada atau malah tidak ada sama sekali. Beragam cara dilakukan memutus rantai penyebaran COVID-19 yang melonjak pada saat ini. Salah satunya juga menggunakan seni mural yaitu yang dilakukan para purna tugas di Pacitan. Melalui seni mural para purna tugas di Pacitan mengkampanyekan pesan protokol kesehatan pencegahan COVID-19 di Kota Surabaya Jawa Timur. Beberapa pesan yang tertulis di antara lukisan memang sarat nuansa positif. Seperti ‘Semangat’, serta pesan patuh protokol kesehatan.

(para purna tugas pacitan kampanyekan protokol kesehatan melalui mural)

Segala bentuk masalah pasti ada baiknya, munculnya pandemi ini membuat nilai-nilai leluhur atau budaya asli indonesia mulai terasa di antara kita yaitu sistem gotong royong. Sebagaimana dicetuskan oleh Prof Mohammad Nasroen (1907-1968), gotong-royong memiliki kharakteristik dari Bahasa Jawa yang berarti mengangkat (gotong) dan bersama royong. Salah satu bentuk pemerintah dalam mempertahankan nilai-nilai budaya dan gotong royong adalah dengan menghadirkan sejumlah kegiatan pertunjukkan seni secara daring (online). Kemendikbud melalui akun youtube ‘budayasaya’ dari Direktorat Jenderal Kebudayaan, mendukung gerakan tersebut dengan menghadirkan sejumlah karya yang disiarkan langsung (live) maupun rekaman. Nadiem pun menyebut secara khusus mengapresiasi gerakan para pekerja seni dan pelaku budaya ini.

“Ini wujud nyata gotong royong memajukan kebudayaan. Kita tidak tinggal diam menghadapi pandemi Covid-19 ini, tapi justru secara aktif membantu sesama dengan karya kreatif, dengan cara yang juga inovatif. Luar biasa,” ujar Nadiem.

Karya seni mural ini pun dibuat dengan berbagai pesan: sebagai bentuk apresiasi untuk pejuang garda depan dan pekerja esensial yang tidak kenal lelah dalam membasmi pandemi COVID-19, sebagai kalimat ajakan untuk melindungi diri sendiri dan orang terdekat, serta sebagai inspirasi untuk tetap produktif di masa sulit ini.

Bagi para seniman, melukis mural di tengah kosongnya penjuru kota mungkin merupakan keleluasaan sendiri. Tidak ada pandangan “ingin tahu” dari pejalan kaki yang berlalu lalang, maupun ketakutan diberhentikan oleh petugas berwenang.

DAFTAR RUJUKAN

Bunuhdiri Revolt. 2018. Cerita Jalanan dan Kebudayaan Urban Surabaya, (Online) , (https://turukene.wordpress.com/2018/08/22/menjejaki-perjalanan-skena-street-art-surabaya/), diakses 04 Juli 2021.

Prasetyo, A.R. 2013. Persaingan Seni Visual Jalanan (Studi Deskriptif Persaingan Antar Seniman Visual Jalanan Pada Ruang Publik di kota Surabaya). Skripsi tidak diterbitkan. Surabaya: Universitas Airlangga.

Wicandra. 2009. Berkomunikasi Secara Visual melalui Mural di Yogyakarta. Nirmana, 7(2). Dari https://www.researchgate.net/publication/43649268_Berkomunikasi_Secara_Visual_Melalui_Mural_di_Jogjakarta. Wirasto.2020. Seni Karya Mural Selama Pandemi, (Online) , (https://written.id/seni/karya-seni-mural-selama-pandemi/), diakses 04 Juli 2021.

Related posts

Leave a Comment