Sepasang Sayap

Sepasang Sayap
Oleh: Nuril

“Kampret, gila lu!”

          Seorang pria berpiak tengah menatap tajam wajah Audy yang terburu menahan lidahnya saat menyadari ia menjadi sorotan setelah mengucap kalimat ternodai pada seekor kucing hitam. Audy memalingkan wajah berusaha menjauh dari tatapannya. Bukannya menghindar, pria ini terus mendekat perlahan pada Audy.

          “Mbak, ini earphone milikmu?” Oh shit! Audy pikir pria ini akan memarahinya setelah ia menggertak kucing tak bersalah karena terus mengikuti di mana pun Audy berada. Ia menunduk sambil berpura-pura membenahi kerudungnya.

          “Eh iya Mas punya saya, terima kasih.” Wajah Audy mendadak bangkit saat mengambil earphone di tangan kanan pria ini dan langsung mengeluarkan ponsel dari tasnya sembari membalikkan badan berlawanan dengan pria ini. Pikirannya terkontaminasi dengan perasaan malu, ia berjalan cepat dengan mengetuk layar ponselnya tak terarah menjauhi pria tak berdosa ini.

          “Ah, syukur wajahnya sudah tak nampak.” Audy berusaha tenang, menikmati pemandangan indah yang tersaji tepat di depan matanya.

          “Wah parah, Subang memang sejuk dipandang.” Audy baru dua hari berada di Desa Subang setelah ia dicetuskan untuk tinggal bersama nenek dan kakeknya. Kedua orang tuanya menyebut Audy preman kota, bisanya hanya membuat onar saat berada di Jakarta.

**

          Senin, hari di mana Audy menjadi siswa baru di salah satu SMA di Subang. Ia diantar neneknya dengan sopir pribadi untuk pergi ke sekolah yang akan ia pijaki. Pukul setengah tujuh pagi Audy sampai di gedung sederhana dengan sambutan ‘selamat datang siswa baru’ di atas gerbang yang sejak tiga tahun yang lalu tak pernah dilepas. Audy disambut oleh guru berkacamata gelap dengan wajah tak begitu mengenakkan, hmm siapa lagi jika bukan guru BK yang siap mengantarkan Audy ke kelas barunya.

          “Assalamualaikum, hari ini ada siswa baru, silakan perkenalkan diri.”

          “Baik Bu, terima kasih atas waktunya. Assalamualaikum, nama saya Audy pindahan dari SMA di Jakarta.” Remaja ini memperkenalkan dirinya dengan santai tanpa ada pikiran gugup sekalipun.

          “Wah…, anak kota bro, ajarin bicara lo gue ya bro.”

          “Weh..., mantap kali atuh Neng.” Satu dua siswa saling melontarkan pembicaraan mencoba menggoda Audy.

          “Gila nih orang, belum tau aja gue ketua gengster di Jakarta, awas aja!” Desakan Audy berbicara dalam hatinya.

          “Sudah diam, Audy silakan duduk bersama Adit ya.” Bergegaslah Audy ke bangku kosong di pojok kanan bagian tengah cukup mendefinisikan bagian hampir belakang. Sikap cuek Audy tak menghiraukan pria di sampingnya hingga menggertak pria ini untuk berkenalan dengannya.

          “Hai Audy, aku Adit, salam kenal ya kemarin kita bertemu.”

          “Astaga,” mulut Audy spontan mengeluarkan kalimat ini dengan kepala menoleh ke bagian kanan tepat di bagian Si pria duduk tenang.

          “Kenapa Audy?”

          “Tidak apa-apa, iya salam kenal.” Di dalam hati, ia masih tidak percaya bisa bertemu dengan pria yang ia tinggal begitu saja setelah sempat menolongnya. Sepanjang pembelajaran berlangsung, Audy hanya diam melihat papan tulis sekilas lalu menutup mata, begitupun seterusnya secara bergantian, tanpa ada satupun pelajaran yang masuk dalam otaknya. Sementara Adit di samping Audy dengan tekun menulis dan memperhatikan semua yang dijelaskan oleh guru.

          Sore hari, setelah beribu jam memerangi pelajaran yang Audy anggap musuh terbesarnya, akhirnya yang ditunggu ia bisa keluar dari rasa terpuruknya dengan bebas. Pikirannya mulai fresh dengan melihat pemandangan alam Subang di sekitar gedung sederhana sembari duduk di kursi samping gerbang menunggu sopir pribadinya yang tak kunjung datang. Bergantian orang sudah mulai menghilang dari sekolah, gedung ini terlihat mulai sepi dan hanya menyisakan segelintir murid saja yang masih mengikuti beberapa kegiatan di sekolah. Kebencian Audy yang terus saja terjadi adalah menunggu tanpa ada kepastian.

          “Di Jakarta, di Subang sama aja aelah…, nunggu terosss.” Gertak Audy cukup keras. Tanpa pikir panjang, akhirnya ia memutuskan berjalan kaki untuk keluar dari sekolahnya tanpa tahu di mana arah untuk pulang.

          “Ah biar saja aku tidak tahu jalan, hal yang penting aku tidak berdiri mematung di depan gerbang. Bentar lagi pasti ketemu rumah nenek.” Audy memang anak cekatan dalam hal nekat mengambil keputusan tanpa memikirkan ke depannya. Pikirnya, jika tersesat ia tinggal menghubungi sopir atau neneknya dengan handphone yang ia miliki. Waktu terus berputar, langit mulai menunjukkan kegelapannya, Audy merasa letih tak kunjung menemukan titik terang untuk menuju rumah nenek. Ia mencoba untuk menghubungi nenek dan sopirnya tetapi hal sial datang pada Audy. Saat hendak menelepon, baterai Audy tidak tersisa sedikit pun alias habis. Audy mencoba tenang dan fokus mencari penyelesaian walaupun ia jelas terlihat kebingungan dengan situasi ini, ia melihat kanan-kiri depan-belakang namun tak ada satupun orang yang dikenali. Ia berniat untuk bertanya kepada seseorang yang ditemuinya, tapi lagi-lagi diterpa keadaan sial. Audy tidak tahu alamat rumah nenek, Audy hanya tahu nama nenek kesayangannya. Ia terus saja bertanya pada orang sekitar dengan nama neneknya, tapi tidak ada satupun yang mengenalnya.

Perlahan, Audy merasa lelah berjalan tak kenal arah. Bagi Audy ini adalah malapetaka. Selama belasan tahun ia hidup, sama sekali belum pernah merasakan terjebak di suatu daerah. Semua ini karena perilaku cerobohnya.

“Eh Audy sedang apa? Kenapa kamu masih berpakaian seragam?” Suara itu tak asing Audy dengar di telinganya. Benar saja, ternyata itu Adit.

          “Syukurlah aku bertemu kamu, plis bantu aku Adit!!!”

          “Bantu apa Audy? Kenapa?”

          “Aku sama sekali tidak tahu arah pulang, mau menghubungi nenek tapi baterai handphone habis, plis bantu aku.”

          “Hmm…, mau tidak ke rumahku dulu? Kebetulan dekat sini, sekalian mengisi baterai ponselmu.”

Tanpa berpikir panjang bergegaslah mereka ke rumah Adit dengan berjalan kaki.

**

          Rumah dengan cat dinding berwarna merah yang agak lebih kecil dibandingkan ukuran rumah nenek Audy ini menerima tamu seorang wanita cantik.

          “Sudah beli bawangnya Adit?” Terdengar suara kaki mendekat menuju arah Audy dan Adit.

          “Iya, Bu. Ini sudah Adit belikan.”

          “Alhamdulillah, eh ini siapa Adit geulis pisan.

          “Teman Adit Bu, ia murid baru di sekolah Adit yang kebetulan duduk bersama Adit.”

          “Wah…, akhirnya anak ibu sudah punya teman sebangku ya.”

Fun fact, jarang sekali yang mau duduk sebangku dengan Adit karena sifat terkenalnya yang sangat rajin dan pintar, banyak yang beranggapan Adit terlalu jauh di atas level otak teman-temannya.

          “Ah Ibu apa sih, dia namanya Audy bu, barusan Adit bertemu Audy di pinggir jalan, ia tak tahu arah pulang dan tidak bisa menghubungi neneknya karena baterai handphone Audy habis.”

          “Ya ampun, Adit cepet ambilkan charger di ruang tv, kasian Audy duduk dulu sayang, ibu buatin teh anget ya?”

          “Aduhmerepotkan saja Ibu.”

          “Tidak apa-apa sayang, tunggu sebentar ya.” Mendengar suara ibu Adit, Audy merasa rindu dengan mamanya di kota asal Jakarta yang sampai saat ini pun belum menanyakan kabar Audy. Sedari dulu Audy memang jarang mendapat kasih sayang orang tuanya yang terlalu sibuk, bahkan ia jarang sekali mendapat panggilan ‘Sayang’ dari setiap ucapan orang tuanya, hati Audy tersentuh ketika ibu Adit memanggilnya ‘Sayang’ kepadanya.

          Cukup lama Audy berada di tempat tinggal Adit, ia bercengkrama dengan Ibu Adit yang sangat cantik dan sabar. Audy sangat senang bisa becanda dengan Ibu Adit dan juga anaknya, cukup lama ia tidak pernah merasakan kebahagiaan bersama orang sekitar apalagi bersama orang tuanya. Beberapa waktu sudah terlewati, akhirnya sopir Audy menjemput tepat di depan rumah Adit, Audy pamit untuk pulang dan beranjak ia masuk ke dalam mobil. Saat sampai rumah, ia diterpa omelan nenek yang sangat panjang. Mulailah terpacing rasa badmood dalam hati Audy, bergegaslah ia ke dalam kamar dengan melempar seluruh barang yang ia pegang ke ranjang tempat tidurnya.

          “Baru saja aku bahagia bisa becanda di rumah Adit, sekarang malah murung di dalam kamar. Tahu gitu aku bermalam di rumah Adit. Eh apa sih Audy ngaco aja, lu itu belum begitu kenal dengan Adit, Adit juga ga kenal sama lu. Lagian Adit juga cowo aelah…, bego!” Sahut Audy mencerca dirinya sendiri sembari memukul sedikit kepalanya dengan handphone yang ia pegang.

**

          Esoknya adalah hari yang sangat cerah, Audy bersiap pergi belajar untuk yang kedua kalinya di sekolah baru. Kehidupan Audy cukup tenang saat ia melihat wajah Adit di sampingnya yang sedang membaca buku, Audy melamun dengan tubuh menghadap ke wajah samping Adit.

          “Wahanak baru rupanya suka dengan Adit nih ya hahaha,” suara keras seorang pria bebadan tinggi besar terdengar jelas di telinga Audy. Audy mencoba untuk bersikap tenang dan menghadapkan badannya ke depan meja yang ia pakai. Namun, pria ini terus saja mengejek Audy hingga membuat remaja preman sekolah ini geram. Sontak ia berdiri dan perlahan berjalan ke depan pria yang mengejeknya. Pria ini terus saja mengejek dan meremehkan Audy yang hanya cewek biasanya menurutnya. Tiba-tiba saja tangan kanan Audy mencekik leher pria bertubuh besar sembari tangan kiri yang mengepal dan menonjok tulang pipi kiri pria ini. Seketika pria tinggi nan besar ini roboh dan tidak sadarkan diri. Teman sekelas Audy yang menonton kejadian ini merasa ketakuan dengan kekuatan Audy, mereka langsung meminta ampun kepada Audy agar tidak dicerca seperti pria yang tak berdaya di lantai kelas. Adit yang semula membaca buku langsung kaget melihat Audy yang sangat berani dengan temannya yang dikenal dengan pria terseram di sekolah. Nahas, akibat hal itu Audy mendapat skor yang cukup banyak, padahal dia masih dua hari menempati sekolah ini.

          Semakin hari Audy semakin terlihat seram dan kejam menurut teman-temannya. Namun, Adit teman sebangku Audy tidak pernah takut dengannya. Ia selalu menasihati Audy secara terus menerus. Audy juga sangat senang karena bisa kenal dengan Adit. Mereka selalu bersama, teman-teman menyebut mereka pasangan saling melengkapi. Setiap ada yang mengejek Adit, Audy selalu menerkam orangnya. Sebaliknya, setiap Audy emosi, Adit selalu mencegah Audy dan mengajarkannya untuk selalu bersabar.

**

Hari demi hari berlalu, kehidupan Audy semakin hari semakin terlihat lembut. Sifat kejamnya sudah mulai luntur karena ia selalu bahagia jika bersama Adit. Apalagi ia tak jarang pergi ke rumah Adit untuk bercengkrama dengan ibu Adit yang sangat sabar dan baik hati. Audy juga mulai semangat untuk belajar karena Adit yang selalu mengajarkan Audy dengan sabar demi masa depan Audy sedikit lebih cerah.

Di rumah, Audy juga mulai lebih disayang oleh nenek dan kakenya karena Audy sering membantu mereka dalam mengurus rumah. Bukan hanya itu, semenjak Audy berada di Subang, ia tidak pernah lagi marah kepada orang yang lebih tua seperti nenek dan kakeknya. Rasa bangga dan senang terpampang pada wajah nenek dan kakek Audy karena bisa mendidik Audy menjadi lebih baik lagi. Tiba saatnya nenek Audy memberi tahu orang tua Audy untuk menjemputnya karena Audy sudah bisa melunturkan sifat negatif yang ada pada dirinya.

Suatu hari orang tua Audy datang ke rumah nenek dan Audy sedikit kaget karena kedatangan orang tuanya. Orang tua Audy memastikan apakah anaknya memang sudah berubah dengan cara mereka membentak Audy mati-matian. Ternyata, Audy sama sekali tidak berbeda dengan yang dulu.

“Mama Papa, sehat?” sontak hati kedua orang tua Audy tersentuh saat mendengar suara Audy yang sangat lembut dan sopan.

          “Sehat sekali, Sayang,” Audy sangat terharu saat mendengar perkataan orang tuanya karena memanggil Audy ‘Sayang’ yang sangat jarang mereka sebut saat Audy berada di Jakarta.

          Orang tua Audy meminta Audy untuk pindah kembali ke Jakarta tapi Audy menolaknya, ia sangat nyaman berasa di Subang semenjak ada Adit teman Audy yang sangat tulus dan menjadikan Audy seperti yang sekarang. Mendengar ucapan itu, orang tua Audy menyetujuinya demi kebaikan Audy dan ingin sekali bertemu dengan Adit yang katanya sangat baik dan sabar. Audy dan orang tuanya beranjak untuk pergi ke rumah Adit. Saat sampai di rumah Adit, dikenalkanlah Adit pada orang tua Audy sekaligus mereka berkenalan dengan ibu Adit. Lama sekali mereka berbincang dan becanda bersama.

          Hal ini membuat Audy sangat bahagia, ia bisa merubah dirinya menjadi lebih baik, bahkan sangat jauh lebih baik dari sebelumnya. Orang tua Audy juga berubah menjadi sangat baik kepadanya begitupun nenek dan kakek Audy. Audy juga mempunya teman yang sangat setia, baik dan sabar kepadanya yakni Adit begitupun dengan Ibu Adit. Hari demi hari berlalu, bulan demi bulan berlalu, Audy semakin baik, semakin lembut dan semakin pintar. Begitu juga dengan Adit teman dekatnya. Karena hal inilah Audy juga Adit kembali disenangi oleh teman-temannya. Kehidupan bahagia tercermin dalam wajah kedua anak SMA ini yang saling melengkapi satu sama lain dalam persahabatan layaknya sepasang sayap.

Related posts

Leave a Comment