ESAI – SISTEM ZONASI

0
156

Sistem Zonasi: Esensi Pendidikan yang Merata, Menepis Perbedaan Kasta
Oleh: Yuli Agustina

Agustinyuli19@gmail.com

“Kemajuan suatu bangsa terletak pada pendidikan dan generasi di suatu bangsa”
-Ki Hajar Dewantara-

Masa pendidikan merupakan masa termanis dan ternikmat sepanjang sejarah kehidupan manusia. Di Indonesia, terdapat beberapa macam tingkat pendidikan mulai dari sekolah dasar, sekolah menengah, sampai perguruan tinggi. Faktor pendidikan merupakan tonggak kemajuan suatu bangsa karena pendidikan adalah creator generasi penerus suatu bangsa. Masalah pendidikan menjadi rata-rata permasalahan yang dihadapi oleh negara-negara berkembang di dunia, termasuk Indonesia. Perbaikan demi perbaikan dilakukan oleh Pemerintah dalam rangka tercapainya tujuan pendidikan nasional.
Berdasarkan standar PISA (Programme for International Student Assesment), tingkat kualitas pendidikan Indonesia masih tergolong rendah. Beberapa faktor yang mempengaruhi kualitas pendidikan di Indonesia adalah biaya pendidikan, fasilitas pendidikan yang kurang memadai, serta rendahnya pemerataan pendidikan. Masalah pemerataan pendidikan merupakan masalah yang kini menjadi perhatian Pemerintah Indonesia. Merujuk pada laporan UNDP yang melaporkan bahwa angka Human Development Index (HDI) masyarakat Indonesia jauh tertinggal dari negara-negara lain di Asia Tenggara.
Secara sederhana, masalah rendahnya pemerataan pendidikan dapat terlihat pada kondisi dimana banyak anak berbondong-bondong keluar kota untuk memperoleh pendidikan yang dianggap lebih “wah” dibanding pendidikan di desa. Banyak perspektif dari masyarakat yang menyatakan bahwa sekolah di kota lebih maju, keren, berkualitas, dan berkelas. Perspektif tersebut tidak sepenuhnya dapat dipatahkan, karena kenyataannya memang benar seperti itu. Terdapat kesenjangan pendidikan antara pendidikan di wilayah kota dan di wilayah desa. Lebih ironis lagi, jika mencermati angka putus sekolah masyarakat Indonesia. UNICEF (2017) menyebut sekitar 2,5 juta anak Indonesia tidak dapat menikmati pendidikan. Data tersesebut diperkuat dengan temuan sementara survei dari Badan Pusat Statistik (BPS, 2017) yang mencatat lebih dari 2 juta anak Indonesia tidak sekolah.
Berdasarkan fenomena tersebut, sekilas dapat dipahami bahwa selama ini belum semua masyarakat Indonesia dapat merasakan manisnya pendidikan. Jika dikaji lebih lanjut, persoalan pemerataan pendidikan dapat disebabkan oleh (1) perbedaan tingkat sosial ekonomi masyarakat; (2) Perbedaan fasilitas pendidikan; (3) Sebaran sekolah tidak merata; (4) Nilai masuk sebuah sekolah dengan standar tinggi; (5) Rayonisasi. (Idrus, 2012)
Seiring berjalannya waktu, pembaharuan-pembaharuan sistem pendidikan terus dilakukan oleh Pemerintah dalam hal ini adalah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Berdasarkan Permendikbud Nomor 14 Tahun 2018 tentang Penerimaan Peserta Didik Baru, kedekatan jarak antara rumah dengan sekolah menjadi kriteria utama dalam penerimaan peserta didik baru. Menurut Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikbud, Hamid Muhammad, pada PPDB saat ini hasil Ujian Nasional bukan lagi menjadi kriteria utama, namun sistem zonasilah yang lebih utama.
Sekolah yang diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah wajib memberikan kuota sebanyak 90% dari keseluruhan murid yang diterima untuk calon peserta didik yang berdomisili pada radius zona terdekat. Hanya 10% sisanya yang boleh diberikan untuk siswa diluar daerah provinsi sekolah. Presentase 10% dengan rincian pertimbangan 5% prestasi dan 5% alasan khusus yang ditentukan sekolah masing-masing. Beberapa aturan lain pada sistem zonasi diantaranya (1) Mengacu pada alamat di KK; (2) Ada bonus poin bagi pendaftar yang memilih sekolah dekat dengan tempat tinggal; (3) Usia anak (min 6 tahun) untuk masuk SD menjadi poin penting
Tiada gading yang tak retak, pun pada sistem zonasi memiliki dampak positif negatif yang juga dikeluhkan oleh para akademisi. Dengan adanya sistem zonasi, peserta didik akan mudah menerima pelajaran dengan pertimbangan jarak rumah mereka yang tidak terlampau jauh dari sekolah sehingga mampu datang tepat waktu dan masih fresh ketika tiba di sekolah. Selain itu, mereka juga akan mudah merasa nyaman karena tidak lagi memerlukan proses yang lama untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitar.
Sistem zonasi merupakan esensi dari pendidikan yang merata tanpa adanya perbedaan kasta. Kasta yang dimaksud disini adalah dalam hal tingkat kecerdasan serta latar belakang ekonomi peserta didik. Sebelum ditetapkannya sistem zonasi, peserta didik akan membidik sekolah yang lebih favorit yang memiliki kesan lebih mahal dan hanya mampu dimasuki oleh anak-anak yang termasuk dalam kategori pintar berdasarkan tes-tes masuk yang telah ditetapkan. Jadi yang pintar akan semakin pintar, namun di sisi lain yang kurang pintar akan semakin tertinggal karena mereka seolah terasingkan.
Tantangan baru muncul bagi sekolah-sekolah yang pada mulanya kurang dianggap favorit. Peningkatan kualitas tenaga pengajar sangat diperlukan agar kualitas pendidikan dapat tergapai. Dari sisi sarana prasaranapun harus diperbaiki agar menunjang pembelajaran. Dengan berbagai perbaikan tersebut, maka tingkat kepercayaan masyarakat terhadap sekolah-sekolah yang pada mulanya dianggap kurang favorit dapat semakin baik. Tingkat kesenjangan pendidikan juga dapat diatasi karena tidak ada penggolongan siswa yang cerdas-cerdas dengan siswa yang kurang cerdas. Semua dapat berbaur menjadi satu sehingga proses penyebaran semangat belajar dapat terjadi dan harapan kedepannya kualitas pendidikan akan mampu meningkat.
Cara-cara berpikir dan terobosan yang baru memang harus diperkenalkan dan diciptakan untuk mengatasi permasalahan pendidikan pada saat ini dan masa yang akan datang. Pendidikan adalah hak setiap orang yang dalam pelaksanaan sistemnya tidak boleh terdapat diskriminasi atau pembedaan. Sistem zonasi adalah imperative action sebagai solusi mengatasi kurangnya pemerataan pendidikan yang dilaksanakan tanpa maksud sedikitpun memberikan peluang terciptanya diskriminasi dan merupakan esensi suatu pendidikan yang merata tanpa perbedaan kasta.

Daftar Pustaka
Idrus, Muhammad. 2012. Mutu Pendidikan dan Pemerataan Pendidikan di Daerah.
PSIKOPEDAGOGIA,2012, 1(2).
Pratama, Andrian. 2018. Sistem Zonasi: Disyukuri Orang Tua Siswa, Jadi Tantangan
Sekolah. Online (https://tirto.id/sistem-zonasi-disyukuri-orangtua-siswa-jadi
tantangan-sekolah-cLHL) diakses tanggal 16 Juni 2018.
Rochaedi, Dhedi. 2017. UNICEF 2017: Sekitar 2,5 Juta Anak Indonesia Tidak Bisa
Masuk SD dan SMP. Online (Busurnews.com)
Zamroni. 1999. Reformasi Pendidikan. JPI FIAI Jurusan Tarbiyah Volume V Tahun IV
Agustus 1999.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here