Sosial Media sebagai Ajang Belajar & Bekerja: Sebuah Persepsi Filosofis

Sosial Media sebagai Ajang Belajar & Bekerja: Sebuah Persepsi Filosofis

Oleh: Muhammad Roy Asrori

Era revolusi industri 4.0 telah dimulai. Ini menyisakan banyak tantangan. Tantangan tersebut dapat berupa masalah bagi individu yang belum siap dan berupa keberuntungan bagi individu yang siap. Kesiapan mereka dapat dikenali dan dilihat dari persiapan mereka pada tahun-tahun sebelum era revolusi industry bermula. Mereka yang mempersiapkan dengan mengasah keterampilan bekerja dan ilmu pengetahuan akan memiliki daya saing yang tinggi sehingga mereka dapat sukses.

Kesuksesan seorang individu memang berbeda-beda. Hal ini menjadi penilaian tersendiri, terkadang individu tidak memerlukan tanggapan orang lain, dan terkadang individu menanggapi penilaian orang lain. Kedua sisi ini memang berlainan, tetapi dapat diarahkan menuju tindakan yang lebih baik. Orang menilai kesuksesan bermacam-macam, diantaranya dapat dijumpai orang menilai kesuksesan dari keberhasilan bekerja di perusahaan tertentu, sukses menikah, sukses masuk perguruan tinggi negeri, dan lain-lain. Lain halnya dengan kegagalan, orang menilai kegagalan karena tidak dapat mencapai tujuan yang selama ini dikejar.

Nah, era revolusi industri ini erat dengan sukses atau gagalnya seorang individu dalam menghadapi segala perubahan, tantangan, dan masalah yang menyertai segala bidang kehidupan. Semua negara di dunia, terutama Indonesia sebagai negara maritim dengan kisaran 200 juta penduduk, benar-benar terjerumus dalam era ini. Oleh karena itu, hal yang dapat kita tahu adalah era revolusi industry ini disinyalir banyaknya pertumbuhan penduduk, perkembangan iptek, dan perubahan kondisi alam.

Perkembangan iptek memberikan dampak signifikan terhadap segala macam kelangsungan hidup. Individu yang tidak mahir dengan iptek akan mengalami kendala/masalah pengembangan diri. Lain hal itu, Individu yang mahir dengan iptek akan dengan mudah melaju pesat dalam pengembangan diri. Hal ini akan menciptakan kesenjangan yang sangat jauh antar keduanya. Imbasnya, pengamat dapat memahami perasaan ketidakadilan yang maju dengan yang masih berkembang (tidak maju).

Iptek telah mendorong individu dapat belajar dan bekerja dengan sangat cepat dan tepat dengan kualitas dan kuantitas yang sangat baik. Hal itu dicapai apabila individu mampu menguasai iptek. Tidak jarang ditemui, negara yang mengusai iptek akan mudah menguasai roda kehidupan. Roda kehidupan ini disinyalir dengan pentingnya kelangsungan hidup berupa kesejahteraan, kemakmuran, kedamaian sepanjang hayat. Oleh karena itu, tidak salah untuk memastikan kejadian persaingan antar individu bahkan antar negara. Persaingan ini dapat bersifat halal dan haram. Inilah baik-buruknya iptek yang terus berkembang pesat.

Iptek menjadikan individu untuk dapat belajar dan bekerja dengan mudah dengan syarat ada kemauan keras. Salah satu iptek yang dapat memfasilitasi individu adalah sosial media seperti youtube, facebook, Instagram, line, whatsapp, dan lain-lain. Semua orang akan terus membutuhkan sosial media karena berkaitan erat dengan kelangsungan hidup. Oleh karena itu, penulis memberikan paparan sosial media di era revolusi industry 4.0 bagi penduduk Indonesia.


Sosial Media sebagai Ajang Belajar

Subjek belajar adalah individu yang telah dapat membaca dan mendengar. Individu dapat belajar dengan membaca teks, bacaan, berita, informasi yang tersebar di sosial media karena mereka dapat merasakan arus informasi dan membuat mereka tidak bosan dengan informasi terbaru. Individu dapat belajar dengan mendengarkan audio yang dibantu oleh individu lain. Hal ini mengingatkan pengamat (kita) bahwa kehidupan ini tidaklah berbatas, tetapi persepsi masing-masing individu lah yang membatasi dan memberi batasan. Dalam hal ini, perlu ditekankan bahwa tidak boleh mengganggap ada batasan dalam belajar. Belajar itu dilakukan sepanjang hayat, selagi tubuh masih dapat mendengar, melihat, atau berbicara. Apabila belajar hanya terbatasi hal-hal lain, Maka individu ini dapat dikatakan telah terjun dalam kelemahan alias tidak ingin belajar lagi dan muncullah kemalasan yang berlebihan.

Penduduk Indonesia tidak boleh banyak malasnya. Mereka harus dibangun motivasi, tekad, dan komitmen membangun Indonesia lebih baik lagi. Apabila malas, maka mereka tidak belajar, dan berujung pada kemunduran negara. Hal ini harus dicegah, kemunduran negara menjadikan kondisi buruk dan dimungkinkan dapat berkelanjutan di masa mendatang.

Penduduk Indonesia harus belajar terus menerus. Banyak cara agar tetap belajar dan tidak dapat ditolak bahwa sosial media telah banyak berkembang menjadi sumber belajar. Entah sosial media pengajian, kata-kata motivasi, kata-kata tokoh, dan berbagai bentuk lainnya. Artinya, individu tinggal harus memiliki kemauan belajar yang kuat dan memanfaatkan sosial media di tengah-tengah kesibukan sehari-hari. Individu tidak boleh berlainan belajar seperti malas, rebahan, nobar drakor, kecuali hanya sekedar menyegarkan pikiran.

Selama belajar, individu dapat mengasah kemampuan untuk memilah informasi dan mengamati apakah informasi ini benar atau tidak. Tidak dapat ditolak saat ini, informasi yang tersebar di sosial media adalah konten hoaks. Inilah tantangan era revolusi industry 4.0, yakni banyak hoaks dan rahasia pribadi demi kebaikan sepihak. Rahasia-rahasia dalam ilmu pengetahuan seperti menyembunyikan hasil riset sebenarnya, tidak memaparkan kondisi nyata dan menyembunyikan ilmu. Imbasnya, lahir informasi berupa hoaks sehingga menyesatkan banyak orang. Hal ini harus dicegah dan ditindaklanjuti oleh masing-masing individu.


Sosial Media sebagai Ajang Bekerja

Bekerja telah menjadi jalan kehidupan yang dialami oleh semua individu. Tidak dapat disalahkan, bekerja ini untuk melangsungkan kehidupan, mencari penghasilan, dan investasi masa depan yang tidak menentu. Bekerja akan menentukan hasil berupa perkara halal dan haram. Keterampilan bekerja perlu diasah sejak mulai bekerja dikarenakan kualifikasi pekerjaan bermacam-macam.

Sosial media telah memberikan fasilitas untuk berkreasi dan berinovasi dalam pekerjaan. Pekerjaan di berbagai bidang kehidupan telah banyak perubahan. Jadi, sosial media saat ini benar-benar dimanfaatkan untuk mencapai penghasilan dengan sistem manajemen yang telah ditentukan.  Dapat dirasakan bahwa dampak penggunaan sosial media adalah pelayanan yang cepat, tepat, dan efisien. Pekerjaan yang biasanya dikerjakan dalam 1 minggu dapat diselesaikan dalam waktu 1 hari. Ini bukti akibat kemajuan iptek.

Berbagai macam penggunaan sosial media untuk bekerja karena sistem kerja sudah mendukung dan dapat diterima oleh pengguna. Tidak dapat dipungkiri, bahwa individu dapat berpenghasilan senilai $1000 hanya bekerja melalui laptop/komputer, apabila dia dapat memiliki keterampilan tertentu dan memiliki pelanggan terpercaya. Hal ini tidak menutup kemungkinan bahwa sosial media dapat menjadi alat/perantara untuk melakukan kejahatan seperti para hacker yang dengan mudah membobol pemasukan seorang pekerja.

Hacker juga merupakan pekerja, tetapi cara bekerjanya yang salah. Pekerjaan yang haram dapat memberi benih penyesalah baik dirasakan dalam waktu dekat atau bahkan dalam waktu lama hingga terbawa mati, sehingga sebagai individu yang berakal tidak selayaknya menerima penghasilan haram. Individu diberi akal untuk dapat menghadapi perkara dunia dan mengambil pelajaran semasa perjalanan hidup. Bagi individu yang lalai, sebenarnya ia telah melukai diri sendiri, sehingga pengamat (kita) perlu membantu seseorang yang lalai, karena tindakan demikian dapat mengobati kesalahan yang berlalu dari diri (kita) sendiri. Tidak dapat ditolak, bahwa takdir manusia selalu disertai kebaikan dan keburukan, dan tidak ada di dunia ini manusia yang tidak berbuat kesalahan. Manusia memiliki hati dan nafsu, telah diberi anugerah kehidupan yang luar biasa.

Berdasarkan paparan di atas, pengamat (kita) dapat mengerti bahwa Iptek berkembang pesat dengan hikmah. Hikmah yang dapat diambil adalah kemajuan iptek ini tidak lain untuk menyediakan ladang pekerjaan dan pelajaran bagi kehidupan era revolusi industri 4.0. Tidak dapat dibayangkan bahwa seandainya pekerjaan yang dilakukan masih terbatas alat tradisional dan jumlah penduduk terus bertambah, dimana ladang pekerjaan dan pelajaran itu akan cukup. Ternyata, dunia masih cukup hingga pada waktu yang ditentukan. Tidak ada masalah tanpa solusi, masalah hidup merupakan perjalanan kehidupan yang mau diarahkan menuju kebaikan atau keburukan. Dengan demikian, keberadaan manusia adalah kebaikan dari Tuhan yang Maha Pencipta.

Related posts

Leave a Comment