Menyikapi Fakta Homoseksual


Oleh Royyan Julian

            Apa yang Anda rasakan ketika mendengar kata ‘homoseksual’? Barangkali Anda akan merasa benci dan jijik mendegarnya. Barangkali Anda juga akan berkata, “Bagaimana mungkin dia bisa menyukai sesama jenis?” Lantas, Anda akan berkata bahwa ia melanggar kodrat yang diturunkan langit kepadanya. Anda akan mengatakan bahwa dia yang homoseksual tidak pantas menginjakkan kakinya di bumi ini. Para homoseksual harus dikucilkan.

Sebenarnya, bila kita mengetahui fakta di balik homoseksual, barangkali pikiran kita akan berubah, bagaimana seharusnya memandang kaum homoseksual. Menjadi homoseksual bukanlah pilihan seseorang, tetapi merupakan bawaan sejak lahir. Fakta kedokteran menunjukkan bahwa laki-laki homo adalah laki-laki yang kekurangan hormon testosteron dan kelebihan hormon estrogen, sehingga sifat cinta sesama lelaki mendominasi libidonya. Begitu pula dengan perempuan lesbian. Dengan kata lain, homoseksual bukan muncul ketika ia berjumpa dan terpengaruh lingkungan sosialnya, tetapi dapat dikatakan bahwa homoseksual adalah cacat bawaan. Ia tak ubahnya seperti anak autis, idiot, atau anak bibir sumbing. Jadi, bila kita menghina kaum homoseksual, sama halnya dengan kita menghina anak yang lahir tanpa kaki.

Ketika masyarakat menghujat para kaum homoseksual lantaran dianggap perbuatan yang keji, tentu saja hal ini terjadi lantaran pola pikir kita selama ini lebih terorientasi pada nilai heterosentris. Artinya, kita memandang bahwa suatu pasangan dapat dikatakan wajar apabila antar individu dalam satu pasangan itu memiliki perbedaan seks. Yang satu harus laki-laki dan yang lain harus perempuan. Pola pikir yang sudah membudaya dalam masyarakat kita tidak menganggap lumrah bila suatu pasangan adalah sesama jenis. Maka tidak heran kalau masyarakat kita selama ini menganggap tabu bila ada pasangan sejenis.

Untuk lebih meyakinkan, mari kita—sebagai orang yang berorientasi heteroseksual—berpikir sejenak. Pikirkanlah bahwa Anda mencintai sesama jenis Anda! Bagaimana? Susah, bukan? Bila memang susah, tentu tidak mungkin ada seseorang yang pada mulanya normal, lalu ia memilih jalan homoseksual sebagai alternatif gaya hidupnya, karena memang sangat susah mencintai sesama jenis bagi orang-orang yang normal. Bukti semacam ini semakin memerkuat bahwa homoseksual bukan pilihan hidup, tetapi bawaan sejak lahir.

Sebagai bangsa demokratis, tidak semestinya negara kita bertindak diskriminatif terhadap para minoritas kaum homoseksual. Bila undang-undang memerbolehkan perkawinan antara laki-laki dan perempuan, maka selayaknyalah negara melegitimasi pernikahan sejenis. Bila tidak, negara bisa dikatakan memarginalkan orang-orang cacat. Untuk itu, cara menyikapi kaum homoseksual adalah dengan kacamata arif dan membuang egoisme kita sebagai manusia normal (heteroseksual). Tuhan menciptakan manusia dengan sempurna. Tidak mungkin Ia mengutuk makhluk yang telah diciptakan-Nya sendiri.

Revitalisasi Sadar Pluralitas

 

Oleh Royyan Julian

            Benar apa yang dikatakan saudari Islamiyah dalam tulisannya yang berjudul Fenomena Keagamaan di Tengah Pluralitas Bangsa dalam Tabloid on Line bahwa sila pertama Pancasila menandakan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang berketuhanan. Meskipun sejauh ini sila tersebut telah dianggap mampu mewadahi keberagaman agama dan kepercayaan di Indonesia, namun menurut penulis, ini masih belum cukup. Bila kita cermati lebih dalam lagi, maka kita akan menemukan bahwa sila pertama tidak bisa melindungi pluralitas seratus persen. Buktinya, agama yang boleh dianut oleh masyarakat Indonesia hanya beberapa saja. Tentu hal ini menunjukkan bahwa sila pertama tidak bisa berbicara apa adanya, karena telah dikunci mati oleh konstitusi. Sangat aneh bila sebuah konstitusi bisa membungkam landasan meterialnya sendiri. Bila Pancasila ingin dikatakan sebagai sebuah ideologi yang mampu mewadahi kenyataan pluralitas, maka sila pertama harus bermurah hati mengizinkan masyarakat Indonesia memeluk agama selain agama yang telah ditentukan oleh undang-undang. Bahkan, bila pancasila memang ingin dikatakan sebagai ideologi pluralis, maka Pancasila juga harus menerima orang-orang yang tidak beragama (fideis) dan tidak bertuhan (atheis). Jangan gara-gara trauma pada peristiwa G30S/PKI, lantas Pancasila kehilangan komitmennya untuk memayungi orang-orang yang berbeda (atheis). Bukankah zaman semakin berkembang? Bukankah Pancasila adalah ideologi terbuka? Jadi, apakah benar seratus persen apa yang dikatakan saudari Islamiyah dalam tulisannya bahwa Pancasila dengan segala ajarannya lahir untuk menjadi pilihan terbaik bagi kehidupan masyarakat di tengah pluralitas?

Berbicara masalah pluralitas bangsa, maka di dalamnya juga ada pluralitas agama. Tidak bisa dipungkiri bahwa Islam adalah agama yang paling banyak penganutnya di Indonesia. Penulis setuju dengan apa yang dikatakan saudari Islamiyah bahwa di dalam tubuh Islam itu sendiri terdapat banyak warna dan itu tidak perlu dipermasalahkan, karena bila hal itu dipermasalahkan, maka ujung-ujungnya hanya akan menimbulkan truth claim yang menganggap bahwa Islamnyalah yang benar, sedangkan Islam yang lain bid’ah, bahkan kafir. Tidak ubahnya seperti agama-agama lain yang juga dianggap kafir. Dari sikap inilah, maka pada akhirnya akan memicu konflik. Agama yang pada awalnya hadir untuk menciptakan kedamaian, lalu menjelma menjadi malapetaka yang justru berlawanan dengan watak agama itu sendiri.

Di negara ini, kita telah dihadapi oleh kasus-kasus yang mencoreng-moreng agama dari citranya yang hadir sebagai pembawa ketenteraman. Kita telah mengalami serentetan peristiwa wajah legam agama yang datang membawa konflik kemanusiaan. Kasus pengrusakan mesjid jamaah Ahmadiyah, bom Bali, dan tragedi monas menunjukkan bahwa aksi-aksi radikal itu dilakukan atas nama agama (Islam). Saudari Islamiyah menulis, ”Mungkin banyak yang lupa bahwa Indonesia bukan Arab dan juga bukan negara Islam.” Intinya, kita tidak bisa memaksakan kehendak dan iman kita kepada orang lain. Kita harus bisa menerima kenyataan bahwa Indonesia plural dan Islam warna-warni. Penulis pernah mengalami pengalaman pahit tentang toleransi pada saat masih SMA. Saat itu, penulis menulis sebuah tulisan di majalah sekolah tentang Ahmadiyah. Bagaimana penulis saat itu mengemukakan bahwa Ahmadiyah layak berkembang di Indonesia karena tidak bertentangan dengan undang-undang. Setelah majalah itu beredar, sekolah menerima berbagai protes dari lembaga-lembaga Islam seperti HTI, MUI, FPI, bahkan juga institusi pemerintahan seperti Dinas P & K dan Departemen Agama, karena tulisan itu dinilai telah melecehkan agama. Tidak tanggung-tanggung, penulis dicurigai sebagai antek-antek Jaringan Islam Liberal. Kasus semacam ini menunjukkan bahwa umat Islam masih belum bisa menerima fakta pluralitas di tubuh Islam itu sendiri.

Sekali lagi penulis setuju dengan saudari Islamiyah bahwa kita bukan hidup pada zaman Rasulullah. Biarlah Islam versi Rasulullah hidup pada zamannya dan Islam sekarang berjalan dan berkembang sesuai konteks. Kita perlu mereinterpretasi kembali ajaran Islam agar relevan sesuai zaman, karena sejatinya Islam adalah agama rahmatan lil alamin. Bila ajaran Islam masih ditafsirkan secara literal dan tekstual, maka Islam hanya akan menjadi monomen yang tidak boleh diotak-atik, sehingga melahirkan pemeluk yang konservatif, fundamentalis, eksklusif, ekstrimis, dan ortodoks. Dan pada akhirnya, kaum-kaum seperti inilah yang sering menimbulkan konflik gara-gara tidak dapat menerima perbedaan baju luar. Jelas sekali bahwa kaum-kaum seperti ini juga menjadi salah satu faktor yang dapat mengancam keutuhan bangsa.

Cara terbaik yang bisa kita lakukan saat ini adalah merevitalisasi toleransi kita terhadap kenyataan pluralitas. Emha Ainun Najib mengajak kita pentingnya dialog antar umat beragama untuk meminimalisasi atau bahkan menghilangkan keegoisan sikap beragama kita. Dialog di sini bukan memperdebatkan hal-hal musykil seperti kapan Yesus menjadi Tuhan. Justru itu akan memicu permusuhan. Tetapi dialog di sini lebih menekankan pada sikap kebersamaan, misalnya gotong-royong membersihkan parit. Berangkat dari sesuatu yang sederhana seperti inilah yang bisa menjadikan kita sadar bahwa beragam adalah sebuah keniscayaan.

Ritual Kurban, Tradisi Semua Agama


Oleh Royyan Julian

 

 

Bilamana kita tahu bahwa kurban adalah tradisi yang dilaksanakan oleh umat muslim setiap hari raya Idul Adha, maka penulis menepis pendapat tersebut dengan bertolak dari tradisi-tadisi selain Islam. Dengan kata lain, sebenarnya tradisi kurban bukan hanya ritus yang hanya ditunaikan oleh pengikut Muhammad saja, melainkan menjadi ritual yang dilaksanakan oleh agama-agama lain. Oleh karena itu, jangan heran bila kita (sebagai umat muslim) menemui ibadah serupa pada tradisi-tadisi selain Islam.

Kurban, sebagaimana ibadah seperti puasa dan haji (ziarah) adalah ibadah universal yang bisa kita jumpai dalam beberapa ajaran agama. Sejarah kurban yang dilaksanakan oleh umat Islam, tidak terlepas dari hikayat biblikal yanga meriwayatkan pengorbanan Ibrahim terhadap putranya atas perintah Allah Yang Maha Esa. Muhammad, sebagai rasul umat Islam mewajibakan kurban kepada pengikutnya yang telah mampu berkurban. Muhammad sangat mengecam umatnya yang telah mampu berkurban, tapi enggan menunaikannya. Hal ini tergambar jelas dalam sabdanya. Dalam hadist lain, Muhammad bersabda, “Barang siapa yang sudah mampu dan mempunyai kesanggupan tapi tidak berkurban, maka dia jangan dekat-dekat ke musallaku”. Dalam kitab umat Islam paling otoritatif pun (baca: Al-Quran), pemeluk agama Muhammad diwajibkan menunaikan ibadah kurban setelah ia mendirikan kewajiban paling vital, yaitu salat. Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadanya nikmat yang banyak. Maka dirikanlah salat kerana Tuhanmu, dan berkurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus (Al-Kautsar: 1-3).

Dengan dasar yang sama, kedua agama serumpun Islam, yakni agama semitis Kristen dan Yahudi juga mewajibkan kurban. Hal ini bisa ditarik dalam satu benang merah, yaitu sejarah kurban itu sendiri yang berakar dari peristiwa yang dialami oleh Bapa Ibrahim/Abraham yang telah rela berkorban putranya, Ismail (dalam Islam) dan Ishak/Isak (dalam Bibel). Dalam kisah ini, Tuhan ingin menguji apakah hambanya, Ibrahim benar-benar mencintainya atau tidak. Maka Tuhan mengujinya dengan memerintahnya untuk mengorbankan putra tunggalnya dengan menyembelihnya. Tanpa ragu, Ibrahim memenuhi titah Tuhannya. Dengan rela ia korbankan anak satu-satunya itu. Sebelum peristiwa berdarah itu dilaksanakan, Tuhan mengutus malaikatnya untuk menggantikan kurban itu dengan seekor domba.

Oleh karena itu, tiga rumpun agama semitis ini percaya bahwa berkurban adalah ibadah yang niscaya. Ketulusan Ibrahim mengorbankan putra satu-satunya bukan hanya menjadi pesan moral bagi mereka, melainkan juga menjadi bagian ibadah yang mesti dilaksanakan. Bahkan, dalam doktrin Kristen, Tuhan juga mengorbakan putra satu-satu, Yesus Kristus sang penebus dosa manusia. Sebegitu pentingnya ritual kurban sehingga ibadah yang satu ini diwariskankan turun-temurun, mulai dari manusia pertama, Adam yang dilakukan oleh kedua putranya, Habil (Abel) dan Kabil (Kain). Habil si peternak memersembahkan ternak terbaiknya kepada Tuhan dan Kain si petani menghaturkan panennya kepada Tuhan. Sembahan Habil diterima karena ia dengan tulus memersembahkan ternak terbaiknya daripada Kain yang memersembahkan hasil panennya yang busuk. Di sini kita mendapat pesan bahwa ketulusan adalah syarat utama dari sebuah pengorbanan.

Dalam Hindu, kurban (akrab dengan istilah persembahan) bukanlah ritual yang asing. Ajaran Hindu membagi kurban menjadi lima macam. Pertama, dewa yadnya yaitu kurban yang dipersebahkan kepada Tuhan. Kedua, butha yadnya, yaitu kurban yang ditujukan kepada raksasa, jin, dan lain sebagainya bukan untuk disembah, tetapi untuk menjaga keharmonisan alam semesta. Ketiga, pitra yadnya, yaitu kurban yang ditujukan kepada para leluhur agar mereka tenang hidup di alam sana (kurban ini mirip dengan upaca tahlilan kaum nahdliyin Indonesia). Keempat, rsi yadnya yaitu kurban yang ditujukan kepada para orang suci sebagai terda penghormatan. Kelima, manusia yadnya yaitu kurban yang ditujukan kepada diri sendiri untuk memeroleh kesempurnaan dalam hidup.

Meskipun Budha menentang kurban binatang, tetapi sebenarnya kurban yang dilarang sang Budha adalah kurban yang mengeksploitasi binatang. Hampir semua agama di dunia menghendaki agar pemeluknya berkurban. Berkurban di sini bukan berarti bahwa Tuhan butuh belas kasih manusia, tetapi sebaliknya, kurban adalah tanda syukur hamba kepada Tuhannya yang selama ini telah mengaruniakan berbagai nikmat yang tak terhitung banyaknya. Hal ini dijelaskan dalam surat Al-Kautsar dan beberapa ayat dalam Bibel, “Persembahkanlah syukur sebagai korban kepada Allah” (Mazmur 50:14).

Lebih dari itu, kurban bukan hanya memiliki nilai kesalehan spiritual (vertikal), tetapi memiliki nilai kesalehan sosial (horisontal). Kurban bukan hanya bentuk penyerahan diri kepada Sang Pencipta, tetapi bentuk kepedulian antar manusia. Di dalam ibadah kurban, kita dituntut untuk membagikan kurban kita kepada orang-orang muskin papa, karena sejatinya yang membutuhkan uluran tangan kita adalah mereka, bukan Tuhan yang mewajibkan kurban. Tuhan Yang Maha Kasih memberi teladan kepada makhluknya untuk berkurban demi kebaikan sesama. Tirulah Allah, sebagai anak yang dikasihi dan hidup dalam kasih kehidupan, sebagaimana Kristus mengasihi kita dan menyerahkan dirinya sendiri sebagai ganti kita menjadi persembahan dan korban kepada Allah (Efesus 5: 1).

Kurban, sebagai ritual universal dibutuhkan oleh bangsa kita yang sedang mengalami keterpurukan multidimensional. Dalam hal ini, tampaknya masyarakat kita mengalami krisis kurban yang disebabkan oleh ketidakpekaan dan sikap egoisme yang mengakar pada diri kita. Yang paling tampak adalah sikap pemimpin-pemimpin kita yang apatis dan masa bodoh terhadap apa yang terjadi di sekitar mereka. Perilaku  semacam ini bisa dikatakan sebagai sikap berpaling dari agama. Sebab, sebagai golongan orang yang mampu, mereka enggan berkurban untuk rakyatnya yang menjadi tanggung jawabnya. Fenomena semacam ini sebelumnya telah diingatkan oleh Muhammad dalam sabdanya, “Kenapa kamu beribadah kepada Allah begitu tekun, tapi kenapa kamu tidak mau berkurban padahal kamu memiliki harta yang berlebihan?”

Sebenarnya, ritual kurban bukan sekedar menyembelih hewan yang telah ditentukan. Kurban dalam pengertian yang lebih hakiki yaitu bersedia mengulurkan tangan bagi mereka yang membutuhkan. Kurban dalam pengertian inilah yang dibutuhkan oleh bangsa kita yang sekarat. Celakanya, pemimpin kita hanya memahami kurban secara harfiahnaya saja, yakni sebatas membagikan daging binatang. Alhasil, mereka tidak menemukan makna esensial kurban, yakni sikap tulus untuk untuk menolong sesama. Akibatnya, setelah upacara kurban selesai, maka selesai pulalah kewajiban mereka untuk menunaikan tugas agama.

Refleksi kita sebagai bangsa multiagama menghendaki agar seluruh umat beragama bersatu padu berkurban secara esensial (bukan lahiriah, yaitu kurban binatang) untuk mengentaskan permasalahan bangsa kita yang datang secara beruntun, mulai dari masalah ke miskinan hingga masalah bencana alam. Sudah saatnya pemimpin dan masyarakat melepaskan ego yang selama ini telah menutupi mata hati kita. Sekali lagi, permasalah bangsa ini tidak cukup diselesaikan dengan ritual kurban umat muslim yang hanya dilakukan setahun sekali saja. Namun, masalah ini perlu dituntaskan dengan menjalin hubungan harmonis antar umat beragama yang memiliki persamaan visi dalam ritual kurban, yakni menciptakan umat yang sejahtera.

 

Menyoal Dikotomi Agama Resmi dan Agama Tidak Resmi


Oleh Royyan Julian

            Adakah kita berpikir bahwa negara kita yang di bangun atas dasar demokrasi yang konon mampu mewadahi segala macam perbedaan ternyata dalam praktiknya justru mencampakkan yang namanya keberagaman? Pernahkah kita membayangkan bahwa negara kita yang memiliki slogan bhinneka tunggal ika tapi pada kenyataannya memiliki sejumlah persoalan vital menyangkut pluralitas? Tahukah bahwa negara majemuk yang kita pijak ternyata memiliki sejumlah cacat hukum hingga gagap berbicara masalah heterogenitas budaya?

Pertanyaan-pertanyaan eksistensial tersebut diajukan atas satu masalah yang saya anggap cukup fatal menggerogoti toleransi bangsa kita, yaitu masalah pengakuan kepercayaan lokal. Tentu saja permasalan ini saya anggap sebagai krisis akut karena sebenarnya kita sudah tidak perlu lagi membicarakannya mengingat negara kita telah menjamin kebebasan beragama dan berkepercayaan sesuai Undang-undang Dasar ‘45. Namun, dalam realitasnya, landasan konstitusional  tersebut berbenturan dengan peraturan-peraturan hukum lainnya, bahkan dikalahkan oleh peraturan-peraturan kecil itu sehingga terjadilah diskriminasi terhadap kepercayaan lokal.

Atas nama suara mayoritas, suara minoritas dimarginalkan demi alasan keamanan dan ketertiban umum. Implikasinya, selarik Undang-undang ’45 yang berbunyi,  Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu mandul tatkala dihadapkan pada suara mayoritas tersebut hingga lahirlah anak haram undang-undang diskriminatif, misalnya Penetapan Presiden RI No. 1 Tahun 1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama. Negara menjadikan wacana penilaian itu sebagai alat hukum mengikat yang bertujuan mengontrol dan mengintervensi kebebasan dan hak asasi masyarakat, termasuk kebebasan masyarakat dalam memilih dan menentukan keyakinan dan ritus keagamaannya. Selain itu,  melalui Lembaga Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat (Pakem), Kejaksaan berhak mengontrol keberadaan praktik-praktik keagamaan, bahkan pihak kepolisian dan tentara ikut dilibatkan bilamana ada hal-hal yang dianggap menodai agama sehingga praktik-praktik ibadah mereka dianggap sepadan dengan perilaku kriminal.

Dampak lebih jauh lagi, terjadilah dikotomi penamaan agama, yang satu berstatus agama resmi dan yang lain dianggap tidak resmi. Nahasnya, kepercayaan-kepercayaan lokal masuk dalam kutub agama tidak resmi. Akhirnya, penganutnya bukan disebut umat beragama, tetapi disebut penghayat kepercayaan. Kita akan menemui masalah lagi bila kita mengamati, mengapa yang satu disebut “agama” sedangkan yang lain disebut “kepercayaan”. Penamaan yang tidak setara ini seolah-olah menganggap bahwa yang bernama “kepercayaan” adalah iman yang purba dan primitif, sedangkan yang bernama “agama” adalah iman yang kompleks dan telah memenuhi “standar” universal.

Tidak dapat dipungkiri, duo bersaudara agama semit (yang dikenal dengan nama agama samawi/langit), Islam dan Kristen  ingin mendominasi kebenaran sehingga mereka berlomba-lomba melakukan kegiatan penyebaran agama mereka terhadap kaum-kaum zindik kafir. Munculnya peraturan baru yang melarang menyebarkan agama terhadap orang yang sudah beragama, menjadikan para penghayat kepercayaan sebagai sasaran dakwah dan missionaris mereka. Mereka menganggap bahwa para penghayat kepercayaan adalah kaum kafir dan domba yang tersesat. Hak penyebaran agama tersebut tidak diberikan kepada kepercayaan lokal, sebab mereka berstatus sebagai agama tidak resmi. Boro-boro diberi hak menyebarkan kepercayaannya, justru merekalah yang menjadi sasaran utama Islamisasi dan Kristenisasi.

Sebagai seorang muslim, saya mengakui bahwa ada banyak borok dalam agama saya (meminjam istilah Ulil Abshar Abdalla). Saya menganggap bahwa agama-agama semitik pada umumnya dan Islam pada khususnya ingin memonopoli kebenaran. Adanya teks autentik/syar’i dalam Islam (baca: Al-Quran) yang menegaskan bahwa agama yang paling benar di sisi Allah adalah Islam, membuat umat Islam menegasikan agama lain. Karena mayoritas di Indonesia berpenduduk muslim, maka elit agamawan muslim mempengaruhi bentukan undang-undang yang mendiskreditkan agama lain, terutama penghayat kepercayaan dengan mengatasnamakan suara mayoritas.

Adanya dikotomi agama resmi dan agama tidak resmi semakin menyulitkan hidup para penghayat kepercayaan.  Penyediaan fasilitas negara hanya diperuntukkan bagi mereka yang memiliki status KTP agama resmi (Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Konghucu). Misalnya, masalah pernikahan. Para penghayat kepercayaan terpaksa tidak dapat mencatatkan pernikahan mereka kepada pemerintah disebabkan oleh status mereka. Akibatnya, anak yang dilahirkan tidak akan memiliki akta kelahiran. Dampak lebih serius, si anak akan mengalami kesulitan pendidikan dan ekonomi, seperti pada saat ia akan mendaftar ke sekolah atau pekerjaan. Bila hal ini tidak ingin terjadi, mereka harus mengisi salah satu agama resmi pada kolom agama di KTP mereka. Bukankah ini kemunafikan yang dipaksa? Mereka harus mengisi kolom agama dengan agama yang bukan kepercayaan mereka demi mendapatkan perlakuan yang sama. Selain itu, mereka mengisi kolom agama dengan salah satu agama resmi agar mereka tidak dicap komunis/PKI, sebab bila mereka adalah penghayat kepercayaan, mereka harus mengosongkan kolom agama pada KTP mereka.

Mari kita refleksi diri, sebenarnya, apakah kesalahan menganut kepercayaan lokal? Apakah selama ini para menganut kepercayaan lokal seringkali melakukan perilaku kriminal sehingga mereka pantas dicap sebagai “sesuatu yang lain”? Pantaskah mereka dimarginalkan? Saya sendiri heran, mengapa kepercayaan lokal yang lebih lama tinggal di Indonesia justru menjadi budak di rumah sendiri? Bukankah dahulu kala saat agama-agama—yang kini menjadi agama resmi—datang ke Indonesia disambut baik oleh penduduk pribumi yang notabene menganut kepercayaan lokal? Tapi justru sekarang mengapa kepercayaan-kepercayaan lokal disingkirkan? Apakah karena selama ini mereka dianggap telah menodai agama-agama “besar” itu? Letak penodaannya di mana? Bukankah mereka juga memiliki kebenaran-kebenaran yang sama dengan agama lain? Bukankah mereka juga memiliki kearifan yang sama dengan agama lain? Saya sepakat dengan sastrawan kita, Ayu Utami dalam novelnya, Bilangan Fu bahwa kepercayaan-kepercayaan lokallah yang justru peka terhadap isu kontemporer pemanasaan global. Mereka telah menjaga alam dengan baik di tengah kepercayaan (Islam) yang menganggap bahwa pohon besar adalah berhala jahiliyah yang harus ditebang.

Terakhir, saya mengajak pembaca untuk merenung. Sebenarnya, mengapa agama seperti Islam, Kristen, Hindu, Budha mendunia? Ini hanya masalah keberuntungan saja. Bila untung, kepercayaan-kepercayaan lokal yang ada saat ini pun bisa menjadi besar. Sungguh ini hanya masalah kebetulan saja.

“Semua agama besar dimulai sebagai serangkaian impian,” kata Okri. Siapa yang mengira bahwa Muhammad, seorang yatim-piatu dari kota kecil di Semenanjung Arab, akan mengubah sejarah dunia dalam waktu yang singkat? Siapa yang dapat menerka, Yesus atau Isa, dengan ‘Khotbah di Bukit’-nya, akan meninggalkan sebuah ajaran yang kemudian menjadi salah satu agama terbesar di dunia saat ini, dengan pengikut yang jumlahnya lebih dari satu miliar. (Abdalla, 2006: 127-128)

Intinya, agama-agama besar pada saat ini adalah kepercayaan-kepercayaan lokal pada zaman dahulu. Agama-agama besar itu hanya menunggu waktu saja. Ini pun bisa terjadi pada kepercayaan-kepercayaan lokal saat ini. Siapa yang dapat menyangka bahwa kelak, kepercayaan-kepercayaan lokal saat ini akan menjadi agama-agama besar?

 

Daftar Rujukan

Abdalla, Ulil Absar. 2006. Menjadi Muslim Liberal. Jakarta: Nalar.

Abdalla, Ulil Absar. 2007. Menyegarkan Kembali Pemikiran Islam. Jakarta: Nalar.

Utami, Ayu. 2008. Bilangan Fu. Jakarta: KPG.

amongtani.multiply.com

hpk-nusantara.org

kompas.com

masdarsono.blogspot.com

nasional.kompas.com

puspek.averroes.or.id