PKMM; Meneliti, Mengabdi, Menginspirasi

(disampaikan pada Kuliah Ilmiah hari rabu tanggal 14-03-2012)

oleh :

Millatuz Zakiyah

 

Satu hal yang membedakan kita dengan para abang becak (tanpa bermaksud merendahkan beliau-beliau) adalah kemampuan kita untuk meneliti, mendekati segala hal secara ilmiah. Demikian kata dosen saya suatu kali. Jika dirunut, memang perbedaan mendasar seorang akademisi dan praktisi di bidang lain adalah kemampuan untuk meneliti untuk menyelesaikan masalah yang akhir-akhir ini bermunculan melalui pemikiran cerdasnya. Peran inilah yang salah satu implementasinya diwadahi dalam PKMM (Program Kreativitas Mahasiswa Pengabdian Masyarakat).

 

PKMM dan Tri Darma Perguruan Tinggi

Tri Darma perguruan tinggi menjadi jargon arah pengembangan dan pembangunan perguruan tinggi. Pada tiga landasan utama ini, segala kegiatan dan pelayanan kampus diarahkan. Tiga dasar tersebut adalah pendidikan dan pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.  Tiga dasar ini jugalah landasan PKMM bermula. Sebagai akademisi yang peduli terhadap keberpendidikan –yang di dalamnya termasuk juga keberpengetahuan masyarakat— sudah laiknya pula kita turut rembug untuk menyelesaikan masalah kekinian di masyarakat.

Untuk menyelesaikan masalah-masalah tersebut, dibutuhkan pemikiran, tenaga, dan materi yang tidak sedikit. Sebagai contoh, pada kisaran tahun 2007 di Situbondo terjadi kelaparan disebabkan warga yang gagal panen. Selain kondisi tanah yang kurang baik karena kemarau yang cukup panjang, masa tanam padi yang cukup panjang tidak akan mengatasi kekurangan pangan rakyat. Saat itu, tiga orang mahasiswa menjadi motor penggerak. Dengan pengetahuannya di bidang pangan yang cukup, mereka mencoba menanam millet yang lebih pendek masa tanam dengan kebutuhan kalori dan karbo yang hampir sama dengan padi. Dengan pemikiran ini, mereka mengabdi pada masyarakat dan dituangkanlah idenya dalam PKMM. Sebagi buah dari pengabdian ini, mereka menyabet juara 1 PIMNAS 2008 di Semarang. Tiga mahasiswa inilah contoh nyata kepedulian akademisi terhadap masyarakat dengan menyumbangkan pemikiran cerdasnya.

Melalui PKMM tersebut, dapat kita lihat bahwa ketiga bakti perguruan tinggi, pendidika dan pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat telah dilakukan secara terpadu dan tepat sasaran. Dus, mengaca pada contoh tersebut, sudah saatnya ganti tangan dan otak kita mengulur bersama untuk memecahkan masalah bangsa ini.

 

PKMM, Sebuah Perkenalan

PKMM merupakan singkatan dari program kreativitas mahasiswa pengabdian masyarakat. PKMM merupakan bagian dari program kreativitas mahasiswa yang dikembangkan di universitas selain PKM-T (Teknik), PKM-P (Penelitin), PKM-GT (Gagasan Tertulis), PKM-K (Kewirausahaan), dan PKM- AI (Artikel Ilmiah). Selain PKM-AI, semua PKM ini bermuara pada PIMNAS (Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional), ajang bergengsi Dikti pada bidang penalaran.

PKMM memiliki ranah pengabdian masyarakat yang artinya pemikiran mahasiswa diarahkan untuk menyelesaikan masalah di masyarakat secara langsung. Semisal, masalah polusi udara yang dewasa ini mengganggu pengguna jalan yang bisa diseleikan, misal, dengan menanam sansivera (lidah mertua) di sepanjang jalan A, B, dan C. Ide ini langsung dipraktikkan saat PKMM ini didanai oleh Dikti. Mahasiswa pengusul harus langsung menjalankan idenya dengan menanam sansivera di sepanjang jalan A, B, dan C.

Pada PKM ini ditekankan adanya masalah di masyarakat yang perlu dan mampu diatasi secara teknis oleh mahasiswa. Semakin pelik dan besar pengaruh masalah ini, semakin besar pula peluang PKM tersebut untuk didanai. Selain itu, dalam PKMM diharuskan adanya penelitian terdahulu yang membuktikan keberhasilan pemikiran—seperti bukti bahwa sansivera benar-benar tanaman antipokutan yang berhasil mengurangi polusi udara di daerah X—. Yang terpenting adalah adanya masalah, kesolutifan ide yang ditawarkan, dan kemungkinannya untuk untuk diaplikasikan di masayarakat.

 

Meneliti, Mengabdi, Mengalami

Menyimak paparan sebelumnya, melalui PKMM, mahasiswa memiliki kesempatan untuk menyelesaikan permasalahan di masyarakat dengan pemikirannya. Pemikiran cerdas ini didasarkan pada penelitian yang sudah mapan sebelumnya. Kemudahan yang ditawarkan oleh PKMM adalah kita tidak perlu meneliti lebih dulu ide yang kita tawarkan. Kita cukup melakukan studi pustaka—bisa dengan bedah internet, membaca pustaka yang mendukung, atau mengaji penelitian sebelumnya—. Hasil bedah pustaka inilah yang akan kita aplikasikan di masyarakat sebagai wujud pengabdian kita.

Selain meneliti dan memberikan pengabdian, PKMM memiliki kelebihan lain yaitu memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk ‘mengalami’. Mengalami di sini berarti memiliki pengalaman untuk menyelesaikan masalah secara langsung dan berbaur dengan masyarakat. Masyarakat dengan segala permasalahannya tentu jauh berbeda dengan tawaran solusi yang selama ini hanya kita pelajari melalui buku. Terlepas dari pengalaman di masyarakat, ketika PKM kita lolos PIMNAS sudah barang tentu kita berkesempatan untuk ‘mengalami’ kompetisi bergengsi skala nasional. Lalu, mengapa masih membuang waktu untuk menjadi inspirasi bagi masyarakat? Mari menjadi peneliti yang mengabdi dan menginspirasi!