The Sunset is Beautiful, Isn’t It?

The Sunset is Beautiful, Isn’t It?

Oleh: scriptgurl

       Bintang tidak pernah paham bagaimana konsep dari sebuah cinta. Apakah itu tentang payung yang 90% ada di atas kepala pasangan kita dan membiarkan pundak kita basah? Atau tentang cokelat favorit yang tetap kita simpan di dalam tas meskipun kita tahu dia selalu mengambilnya? Atau contoh lain, tentang kita yang membiarkan kulit ayam kita untuk dimakan pasangan kita meskipun kita sangat menyukainya? Atau mungkin juga tentang suapan ice cream terakhir yang kita relakan untuk pasangan kita? Masih banyak andai-andai lainnya, dan Bintang masih belum yakin itu cinta atau bukan. Satu hal yang selalu ia tahu, bahwa dirinya selalu membiarkan ruang-ruang di hatinya untuk Langit singgahi, bagaimanapun keadaannya.

       Malam ini sama seperti malam-malam sebelumya. Langit datang, memberi Bintang pelukan singkat dan sedikit kecupan di dahinya. Kemudian, laki-laki itu akan menangkupkan kedua tangannya di wajah sang puan sambil berkata bahwa Bintang selalu menggemaskan dan cantik. Semua sudah tiga tahun berlalu, tetapi setiap kali Langit mengatakan itu, kaki Bintang pasti lupa bagaimana caranya menapak bumi dengan benar. “Bintangku, hari ini semuanya baik?” tanya Langit setiap kali ia duduk di samping Bintang di penghujung hari.

       Malam ini keduanya memandangi langit yang sedang cerah, sambil sang gadis menceritakan banyak hal yang terjadi hari ini, termasuk dirinya yang dimarahi oleh ketua divisi di himpunannya karena lalai dan salah dalam mengerjakan tugas. Bintang selalu menggebu-gebu menceritakan semuanya pada Langit, dan laki-laki itu juga sangat paham tentang Bintang, yang selalu bersemangat jika Langit bertanya tentang bagaimana hari ini. Namun, ada satu hal yang tidak pernah Langit tahu, bahwa sesungguhnya Bintang menyadari bukan hanya bintang yang mengisi langit.

       Bintang, selama bertahun-tahun membiarkan dirinya dibodohi, hidup dengan naif, dan terus-menerus menyugesti dirinya dengan pemikiran bahwa hanya bintang yang ada di langit, tetapi nyatanya tidak pernah seperti itu. Mentari, bulan, awan, banyak elemen-elemen lain yang juga ada di langit.

       Bintang masih belum berhenti bercerita pada Langit yang kini sedang menatap gadis itu dengan dua matanya yang selalu berbinar, selalu tampak tertarik dengan segala hal yang keluar dari bibir sang puan. Bintang kembali luluh, hingga dirinya lupa sebuah fakta bahwa ia bukanlah satu-satunya. Sebenarnya, Bintang benci dengan pemikiran naifnya yang terlalu bodoh, tetapi ia juga enggan melepas semuanya karena sejauh ini Langit tidak pernah membuat sakit, laki-laki itu selalu ada, sebagai telinga, sebagai pundak, sebagai apapun agar Bintangnya satu ini tetap bertahan. Langit baik, sayang dia tidak pernah cukup dengan satu.

       Sehabis Bintang menyelesaikan ceritanya, Langit merentangkan kedua tangannya, kemudian membawa gadis itu ke dalam dekapannya yang tidak pernah tidak nyaman. “Bintang hari ini hebat banget, nggak apa-apa, semua orang pernah salah, kok. Inget, ya, salah itu juga salah satu proses, yang penting kamu bisa belajar dari kesalahan kamu biar nggak keulang kesalahan yang sama lagi,” ujarnya menenangkan ocehan Bintang perihal kemarahan ketua divisinya.

       Langit bilang apa? Belajar dari kesalahan supaya tidak terjadi kesalahan berulang? Apa Langit tidak sadar bahwa yang ia lakukan sekarang ini salah? Atau Langit memang tidak pernah menganggap ini sebuah kesalahan? Tidak, bukan hanya Langit yang salah, karena pada kenyataannya Bintang juga salah karena membiarkan Langit semena-mena dengan hatinya. Bagusnya, malam ini Bintang menyadarinya, gadis itu menyadari bahwa dirinya terlalu berharga untuk menjadi bodoh demi cintanya pada Langit yang tidak pernah sadar bahwa dirinya salah.

       Empat tahun lalu Bintang sudah tahu dan paham siapa seorang Langit Haraga Perwira. Laki-laki yang pada saat itu menjadi karakter utama di sekolah mereka. Laki-laki yang memiliki senyum manis dan selalu ramah, mereka menyebutnya “Everyone’s bff”. Namun, tidak banyak yang tahu betapa jahatnya seorang Langit yang tidak pernah cukup dengan satu itu, kecuali Bintang. Bintang tahu semuanya, tetapi ia dibutakan oleh rasa yang ia miliki untuk Langit.

       Cara Langit memperlakukan Bintang, cara Langit berbicara dengan Bintang, cara Langit menjadi pundak Bintang, cara Langit menjadi telinga Bintang. Langit bisa jadi apa pun bagi Bintang, kecuali satu hal. Menjadikan Bintang satu-satunya. Bintang yang salah, karena ia memiliki ambisi untuk membuat dirinya menjadi satu-satunya bagi Langit. Namun nyatanya, alih-alih menjadi satu-satunya, gadis itu malah terlena menjadi salah satunya. Mengizinkan Langit menginjak-injak sesuatu yang orang-orang sebut sebagai ketulusan.

       Bintang melepaskan pelukannya dari Langit, dengan alis terangkat, laki-laki itu menatap heran wajah Bintang yang telah basah oleh air mata. Gadis itu menangis. Namun, senyuman tipisnya masih menghiasi wajah cantik Bintang, yang teduh dan menenangkan, yang seharusnya nyaman untuk Langit jadikan satu-satunya rengkuhan. Laki-laki itu hendak meraih pipi Bintang, untuk menghapus air matanya. Namun, gerakan tangan Langit terhenti ketika Bintang menepis pelan tangannya, menyisakan tanda tanya di dalam benak Langit.

Bintang kini menarik napas dalam-dalam, sungguh ia mencintai laki-laki di hadapannya ini. Tapi Bintang lebih menyayangi hatinya. Ia merasa sudah cukup ia dengan Langit. Bintang menatap mata Langit yang memandangnya dengan penuh tanya. Mata itu, selalu jadi hal yang paling Bintang suka, karena hanya di mata itu Bintang melihat binar-binar ketika ia menceritakan segala hal. Namun sungguh Bintang sesali, kenapa Langit harus seperti ini? Atau Bintang yang memang bodoh?

“Langit….”

“Iya?”

Bintang menghembuskan napasnya pelan, kemudian setitik air matanya jatuh lagi, sesak. Ia tidak tahu jika akan semenyesakkan ini.

“Langit, kita cukup, ya?”

Laki-laki itu mengerjap, terkejut dengan penuturan Bintang. Benar, Langit memang sudah menebak jika akhirnya akan seperti ini. Namun, jauh di dalam hatinya, ia tidak ingin melepas Bintang. Laki-laki itu ingin menahan sang puan, tetapi ia tidak tahu bagaimana. Hingga yang terucap hanya satu kata, “Kenapa?”

“Langit, aku sayang sekali sama kamu, tapi aku harus jauh lebih sayang dengan diriku sendiri. Untuk saat ini, aku juga ingin egois, Langit. Aku ingin kita cukup sampai di sini. Sampai kapan pun kayanya aku aja nggak akan cukup buat kamu. Hati aku nggak bisa terus-terusan begini. Aku capek, Langit. Aku tetap sayang kamu, tapi aku harus ngelepas kamu, ngelepas kita. There’s no us anymore. Aku akan berjalan ke depan, tanpa kamu. Maaf, Langit.”

“Bi, nggak gini, dong. Aku nggak akan lepasin kamu.”

“Kenapa? Karena aku nggak pernah protes tentang kamu yang selalu main belakang?”

Langit diam. Jantungnya mendadak berdegup kencang. Ia marah, tetapi entah marah kepada siapa. Bintang membaca raut wajah lelaki itu. Rahang Langit mengeras, tetapi laki-laki itu berusaha sekuat tenaga meredam amarahnya.

“Langit, udah, ya? Aku sudah sakit terlalu lama. Aku mau kita jalan sendiri-sendiri. Iya, aku sayang kamu. Tapi ngebiarin kamu tetap ada di jangkauanku malah bikin aku makin sakit. Sebelum jadi benci, aku mau ngelepas kamu terlebih dulu, karena aku nggak mau ngelepas kamu sambil ninggalin kebencian.”

Bintang berdiri, meraih tangan Langit pelan, “Langit, kamu pulang dulu ya, sudah malam.”

Langit berdiri dengan tatapan kosongnya, menyambar jaketnya kemudian meraih pelan kepala Bintang dan mengecup puncak kepala sang puan, mungkin untuk terakhir kalinya. Kemudian, laki-laki itu melangkah ke luar rumah, pergi, dan tak tampak lagi. Sedetik kemudian hujan turun. Gadis pemilik rambut sebatas bahu menengadah sebentar, menatap langit yang kini sedang menjatuhkan airnya. Ia juga melihat langit yang mendung, dengan kemerlap bintang yang sangat redup, hampir tak nampak

Bintang kembali masuk dan menutup pintu. Ia duduk. Indera penciumannya masih menangkap sisa harum dari laki-laki yang belum sepuluh menit meninggalkan rumahnya. Gadis itu tersenyum getir, separuh hatinya masih berat. Kemudian gadis itu kembali membuka pintunya, entah apa yang ia pikirkan. Belum sempat pintu terbuka penuh, gerakan tangannya sudah berhenti. Langit kembali, basah kuyup, dan keadaannya kacau. “Bintang, aku yang bodoh.”

___

Highlight Part:

Cara Langit memperlakukan Bintang, cara Langit berbicara dengan Bintang, cara Langit menjadi pundak Bintang, cara Langit menjadi telinga Bintang. Langit bisa jadi apa pun bagi Bintang, kecuali satu hal. Menjadikan Bintang satu-satunya.

Related posts

Leave a Comment