TRANSFORMASI PEMBELAJARAN DALAM PARADIGMA KONSTRUKTIVISTIK SELAMA PANDEMI: MASALAH DAN SOLUSINYA

TRANSFORMASI PEMBELAJARAN DALAM PARADIGMA KONSTRUKTIVISTIK SELAMA PANDEMI: MASALAH DAN SOLUSINYA

Zahid Zufar At Thaariq

Indonesia saat ini tengah dilanda banyak masalah sebagai akibat dari penyebaran COVID-19 yang semakin meningkat. Permasalahan ini menimbulkan banyaknya perubahan-perubahan sentral, khususnya dalam bidang pendidikan. Dunia pendidikan kini telah bertransformasi menjadi “belajar dari rumah” sebagai akibat dari penyebaran tersebut melalui kebijakan-kebijakan yang telah ditetapkan. Kebijakan ini bertujuan untuk memutus mata rantai penyebaran COVID-19, khususnya bagi kalangan insan pendidikan. Meskipun memiliki tujuan yang baik, kebijakan ini juga menimbulkan masalah tersendiri dalam pelaksanaannya. Hal ini karena tidak semua wilayah dapat disamaratakan dalam penerapannya. Sehingga masalah ini perlu dipecahkan dengan solusi yang dapat memacu kesenangan belajar bagi siswa, sebagaimana paradigma konstruktivistik yang sedang terjadi. Dalam tulisan ini sedikit akan menjelaskan mengenai masalah-masalah pendidikan selama pandemi berlangsung dan solusi ke depan dalam memecahkan masalah tersebut.

Pendidikan merupakan kunci gerbang emas untuk menjadikan manusia yang berkualitas. Asumsi ini diperkuat sebagaimana yang tercantum dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 Sistem Pendidikan Nasional yang menyatakan bahwa tujuan dari pendidikan adalah untuk mengembangkan potensi dirinya guna memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Lebih dari itu pendidikan merupakan proses “memanusiakan manusia” dimana manusia diharapkan mampu memahami dirinya, orang lain, alam dan lingkungannya (Ibrahim, 2015). Pencapaian tujuan pendidikan tersebut memiliki banyak tantangan, khususnya di masa pandemi COVID-19. Hal ini disebabkan sejak adanya pandemi ini, dunia pendidikan mengalami banyak perubahan, khususnya berkenaan dengan proses belajar mengajar yang dilakukan.

Penyebaran COVID-19 hingga saat ini semakin meluas. Berdasarkan rilis data dari Satuan Tugas Penanganan Covid-19 (2020) per 7 November 2020 menunjukkan bahwa kasus yang terkonfirmasi positif sebesar 433.836 orang dengan rincian sebanyak 364.417 orang dinyatakan sembuh dan 14.540 orang meninggal dunia. Jumlah ini akan terus bertambah setiap harinya sampai dengan waktu yang tidak dapat ditentukan. Virus ini termasuk ke dalam virus yang mematikan, karena telah merenggut jutaan nyawa di dunia. Maka dari itu pemerintah, khususnya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, menetapkan perubahan-perubahan substansial di bidang pendidikan. Perubahan-perubahan tersebut salah satunya adalah mewajibkan daerah yang terkena zona oranye hingga merah melaksanakan pembelajaran dari rumah. Sedangkan untuk daerah yang sudah masuk zona kuning dan hijau boleh melaksanakan pembelajaran tatap muka dengan syarat dan ketentuan yang telah diberlakukan (Kemendikbud, 2020; Makarim, 2020).

Perubahan ini telah menjadikan suatu transformasi pembelajaran dari yang awalnya belajar hanya bisa dilakukan di dalam kelas dan terpusat kepada guru, menjadi lebih bebas kapan saja dan dimana saja serta terpusat kepada siswa itu sendiri. Transformasi ini oleh pakar pendidikan sering disebut sebagai paradigma konstruktivistik. Paradigma ini menyatakan bahwa peserta didik harus membangun pengetahuan mereka sendiri melalui informasi yang didapatkan dan pengalaman sebelumnya (Ahmad, Ching, Yahaya, & Abdullah, 2015). Ini menegaskan bahwa pengetahuan berada pada individu, di mana pengetahuan tidak dapat sepenuhnya ditransfer dari guru ke siswa, sehingga siswa harus mencoba memahami apa yang diajarkan dengan mencoba menyesuaikannya dengan pengalaman mereka (Lorsbach & Tobin, 1992). Sehingga dalam hal ini, belajar akan dilihat sebagai suatu aktivitas yang menyenangkan dan menggairahkan, karena penekanan dari paradigma ini adalah proses pembelajaran yang menumbuhkan sikap positif dari peserta didik (I. Nyoman S. Degeng, 1998).

Paradigma konstruktivistik melalui konsep “belajar dari rumah” yang ditetapkan oleh Kemendikbud ini tentu memiliki maksud yang baik, karena proses pembelajaran yang dapat menumbuhkan kepercayaan diri peserta didik. Namun pada kenyataannya perubahan ini juga menimbulkan permasalahan sendiri dalam pelaksanaannya. Terdapat dua masalah utama dalam penerapan ini. Permasalahan pertama adalah tidak meratanya akses pendidikan. Dalam hal ini yang menjadi masalah adalah akses internet sebagai kebutuhan utama pembelajaran daring. Akses internet di Indonesia cenderung masih belum merata, karena berdasarkan data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia tahun 2019, dari 171,17 juta pengguna internet  pada 2018, Pulau Jawa masih berkontribusi terbesar terhadap peningkatan jumlah pengguna tersebut. Pasalnya 55 persen pengguna internet tinggal di Pulau Jawa. Disusul Pulau Sumatera  21 persen, Sulawesi-Maluku-Papua (10 persen), Kalimantan (9 persen), dan Bali-Nusa Tenggara (5 persen). Sehingga pembelajaran melalui internet menjadi hal yang sulit dilakukan di beberapa daerah tertentu dengan jaringan yang tidak memadai (Hastini, Fahmi, & Lukito, 2020).

Permasalahan kedua adalah memicu kecemasan dalam pelaksanaan pembelajaran daring. Hal ini sebagaimana penelitian dari Oktawirawan (2020) yang menunjukkan faktor-faktor kesulitan belajar daring adalah (1) kurang memahami materi, (2) deadline pengerjaan tugas, (3) internet yang tidak stabil, (4) kesulitan mengerjakan tugas, (5) kesulitan membeli kuota internet dan (6) kendala teknis. Tidak semua guru dan siswa siap menghadapi perubahan sistem pembelajaran selama pandemi ini (Morgan, 2020). Kondisi tersebut menuntut guru untuk terampil dalam menerapkan berbagai cara untuk melaksanakan pembelajaran online secara efektif (Kaufmann & Vallade, 2020). Guru yang belum pernah menggunakan media online harus berusaha lebih keras untuk menyesuaikan kemampuannya dengan tuntutan saat ini. Begitu pula siswa perlu lebih mandiri dalam mempelajari materi agar lebih mudah mengikuti proses pembelajaran online yang sedang berlangsung (Rusdiana & Nugroho, 2020).

Dari kedua masalah utama tersebut dapat dipahami karena selama ini sebelum terjadinya pandemi  COVID-19 pembelajaran masih menggunakan konsep tatap muka, dimana pembelajaran ini sudah banyak penelitian yang sudah dilakukan. Sedangkan untuk pembelajaran daring, belum banyak penelitian-penelitian yang telah dilakukan, karena pembelajaran daring baru dilakukan secara masif saat terjadinya pandemi (I Nyoman Sudana Degeng, 2020). Maka dari itu perlu adanya solusi dalam pemecahan masalah tersebut.

Berbicara mengenai solusi yang bisa diterapkan untuk pembelajaran daring, maka terdapat komponen-komponen pendidikan yang perlu untuk diperhatikan. Komponen-komponen tersebut seperti (1) tujuan, (2) isi, (3) metode, (4) alat, (5) lingkungan, (6) pendidik dan (7) peserta didik. Keseluruhan komponen tersebut harus terpenuhi dalam pelaksanaan suatu pembelajaran. Ketika salah satu tidak terpenuhi, maka akan menghambat pelaksanaan pembelajaran itu sendiri.

Gambar 1 Komponen-Komponen Pendidikan (Diadaptasi dari (Anissa, 2015)

Berkenaan dengan tujuan, maka yang harus dilakukan dalam masa pandemi ini adalah penyederhanaan tujuan pendidikan. Penyederhanaan tujuan ini bisa seperti penyederhanaan kompetensi yang dicapai peserta didik, penyederhanaan tujuan pengajaran dan sebagainya. Penyederhanaan ini perlu untuk dilakukan mengingat perbedaan wilayah yang beragam di Indonesia, sehingga dalam prosesnya tidak bisa disamaratakan keseluruhan wilayah tersebut.

Berkenaan dengan isi atau kurikulum, maka yang harus dilakukan selama masa pandemi ini adalah penyederhanaan materi yang diajarkan pada setiap masing-masing mata pelajaran. Seperti contoh pada mata pelajaran ekonomi, sebaiknya materi yang disediakan adalah materi yang berkenaan dengan kehidupan peserta didik (wirausaha atau kebutuhan primer, sekunder dan sebagainya) sehingga materi yang disajikan tidak terlalu kompleks seperti sebelumnya. Penyederhanaan materi perlu dilakukan, karena masa seperti saat ini yang dibutuhkan peserta didik adalah kenyamanan dalam belajar dari rumah. Kenyamanan ini perlu diprioritaskan karena dapat meningkatkan imunitas peserta didik dalam menghadapi bahaya COVID-19 (Sirohiya & Ratre, 2020).

Berkenaan dengan metode, maka yang harus dilakukan adalah penyesuaian penerapan metode pembelajaran selama pandemi. Maksudnya dalam hal ini adalah metode yang dipakai dalam pembelajaran perlu disesuaikan dengan kondisi dan situasi dari masing-masing daerah yang melaksanakan pembelajaran daring. Hal ini karena karakteristik wilayah di tiap daerah sangat beragam, sehingga perlu ada kecocokan antara karakteristik wilayah dengan metode yang akan digunakan.

Berkenaan dengan alat, maka yang harus dilakukan selama pandemi adalah penggunaan media dan sumber belajar yang ada sesuai dengan kondisi atau daerah masing-masing. Hal ini merupakan upaya pemerataan media dan sumber belajar yang dapat diakses oleh peserta didik. Sebagai contoh untuk daerah dengan jaringan yang terbatas, kajian yang dilakukan oleh Praherdhiono, Adi, & Indreswari (2020) dimana dalam tulisannya disebutkan bahwa konsep “kantong belajar” dapat diupayakan untuk diterapkan selama masa pandemi sedang berlangsung. Kantong belajar ini dapat digunakan baik oleh guru maupun siswa. Guru dapat memberikan penugasan melalui surat untuk ditaruh ke dalam kantong tersebut. Lalu orang tua dapat mengambil surat penugasan dari guru seminggu sekali di sekolah dan menyerahkan surat-surat tersebut kepada siswa. Lalu siswa mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh guru dan menyerahkan kembali hasilnya melalui kantong belajar. Di samping itu masih banyak cara-cara pemanfaatan media dan sumber belajar selama masa pandemi berlangsung.

Berkenaan dengan lingkungan, maka yang harus dilakukan selama pandemi ini adalah menciptakan dukungan positif dari lingkungan dalam pembelajaran selama masa pandemi. Hal ini dapat berlaku baik dari orang tua maupun masyarakat sekitar. Kedua pelaku lingkungan ini perlu bahu membahu dalam memberikan dukungan positif pada peserta didik. Sehingga motivasi belajar dari peserta didik akan meningkatkan, karena setiap yang akan dilakukannya mendapat dukungan positif.

Berkenaan dengan pendidik, maka yang harus dilakukan adalah pengembangan kompetensi lanjutan yang berkaitan dengan pembelajaran di masa pandemi. Kata “lanjutan” dimaksudkan bahwa guru perlu mengembangkan kompetensi-kompetensi tambahan yang khusus dipelajari mengenai karakteristik-karakteristik selama masa pandemi berlangsung. Hal ini perlu dilakukan karena guru merupakan penentu keberhasilan belajar dari peserta didik. Pengembangan kompetensi lanjutan itu seperti pedagogi lanjutan, sosial lanjutan, dan sebagainya. Sehingga dengan kemampuan pendidik yang meningkat, diharapkan kemampuan peserta didik juga akan meningkat.

Berkenaan dengan peserta didik yang merupakan subjek belajar, yang harus dilakukan adalah pembelajaran yang mampu menyesuaikan dengan kondisi dan situasi peserta didik. Dalam hal ini, peserta didik perlu diberikan kebebasan berekspresi atau berpendapat dalam belajar. Kebebasan ini bisa berupa pendapat peserta didik mengenai keluhan selama pembelajaran daring, hambatan pembelajaran daring dan sebagainya. Hal ini bisa melatih peserta didik untuk mengemukakan pendapat yang nantinya penting untuk dirinya di masa depan. Sehingga dengan orientasi student centered learning ini dapat menjadi suatu pedoman bagi guru dalam pelaksanaan pembelajaran selama pandemi.

Terlepas dari beragam masalah yang dihadapi, terdapat dampak positif dari adanya pandemi COVID-19, khususnya di bidang pendidikan. Dampak positifnya adalah adanya pandemi ini dapat menjadi suatu momentum transformasi pembelajaran ke arah yang lebih baik. Baik guru maupun siswa mulai terbiasa untuk melaksanakan proses belajar mengajar tidak hanya di sekolah saja, namun dapat juga di rumah maupun di tempat lainnya. Sehingga hal semacam ini juga dapat membangun persepsi, bahwa pembelajaran bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja, tidak terpaku hanya di sekolah.


DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, C. N. C., Ching, W. C., Yahaya, A., & Abdullah, M. F. N. L. (2015). Relationship between constructivist learning environments and educational facility in science classrooms. Procedia-Social and Behavioral Sciences, 191, 1952–1957.

Anissa, R. N. (2015). Komponen-Komponen Pendidikan. Retrieved November 8, 2020, from http://blog.unnes.ac.id/seputarpendidikan/2015/10/13/komponen-komponen-pendidikan/

Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia. (2019). Survei APJII yang Ditunggu-tunggu, Penetrasi Internet Indonesia 2018. Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia.

Degeng, I. Nyoman S. (1998). Mencari Paradigma Baru Pemecahan Masalah Belajar dari Keteraturan Menuju Kesemrawutan. Makalah Disajikan Dalam Pidato Pengukuhan Guru Besar IKIP Malang.

Degeng, I Nyoman Sudana. (2020). Tren Pembelajaran Daring: Landasan Teoritik, konseptual, Teknologis Baru. In Trend Pembelajaran Daring dan Tantangannya. Malang: UM Channel. Retrieved from https://www.youtube.com/watch?v=yhXLPnmaD-0&t=8s

Hastini, L. Y., Fahmi, R., & Lukito, H. (2020). Apakah Pembelajaran Menggunakan Teknologi dapat Meningkatkan Literasi Manusia pada Generasi Z di Indonesia? Jurnal Manajemen Informatika (JAMIKA), 10(1), 12–28.

Ibrahim, R. (2015). Pendidikan Multikultural: Pengertian, Prinsip, dan Relevansinya dengan Tujuan Pendidikan Islam. Addin, 7(1).

Kaufmann, R., & Vallade, J. I. (2020). Exploring connections in the online learning environment: Student perceptions of rapport, climate, and loneliness. Interactive Learning Environments, 1–15.

Kemendikbud. (2020). Dua Prinsip Kebijakan Pendidikan di Masa Pandemi COVID-19. In Prinsip Kebijakan Pendidikan di Masa Pandemi. Jakarta: Youtube. Retrieved from https://www.youtube.com/watch?v=0WQJR2-F8eo&feature=youtu.be

Lorsbach, A., & Tobin, K. (1992). Constructivism as a referent for science teaching. NARST Newsletter, 30, 5–7.

Makarim, N. A. (2020). Penyesuaian Kebijakan Pembelajaran di Masa Pandemi COVID-19. Presented at the Rapat Online Terbuka, Jakarta. Retrieved from https://covid19.go.id/p/protokol/penyesuaian-kebijakan-pembelajaran-di-masa-pandemi-covid-19

Morgan, H. (2020). Best Practices for Implementing Remote Learning during a Pandemic. The Clearing House: A Journal of Educational Strategies, Issues and Ideas, 93(3), 135–141.

Oktawirawan, D. H. (2020). Faktor Pemicu Kecemasan Siswa dalam Melakukan Pembelajaran Daring di Masa Pandemi Covid-19. Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi, 20(2), 541–544.

Praherdhiono, H., Adi, E. P., & Indreswari, H. (2020). Mendirikan Kantong Belajar Dinding Sekolah sebagai Korespondensi Belajar di Era Pandemi. In Implementasi Pembelajaran di Era dan Pasca Pandemi Covid-19. Malang: Seribu Bintang.

Rusdiana, E., & Nugroho, A. (2020). Respon Mahasiswa Pada Pembelajaran Daring Bagi Mahasiswa Mata Kuliah Pengantar Hukum Indonesia UNESA. Integralistik, 31(1), 1–12.

Satuan Tugas Penanganan Covid-19. (2020). Data Sebaran. Retrieved November 8, 2020, from https://covid19.go.id/

Sirohiya, P., & Ratre, B. (2020). COVID-19 pandemic and limited palliative care response:“Lack of comfort care.” Anaesthesia, Critical Care & Pain Medicine.

Undang-Undang No. 20 tahun 2003 Sistem Pendidikan Nasional.

Related posts

Leave a Comment