Upaya Peningkatan Self Esteem sebagai Solusi Membangun Optimisme di Era New Normal

Upaya Peningkatan Self Esteem sebagai Solusi Membangun Optimisme di Era New Normal
Oleh: Farah Safirah

Saat ini setiap orang dituntut untuk beradaptasi dengan situasi new normal. Baik dalam kondisi ekonomi, sosial, dan kesehatan. Adanya pandemi tidak menghalangi warga dalam memberikan bantuan antar sesama. Hal tersebut justru menggugah antusias individu dan kelompok dalam membantu menangani dampak dari pandemi covid-19. Namun tidak dapat dipungkiri, bahwa masih banyak orang memiliki kesehatan mental yang kurang. Sehingga tak jarang kita temui beberapa orang mudah cemas, depresi, dan lain sebagainya. Terdapat faktor yang melatarbelakangi seseorang mengalami hal tersebut. Diantaranya karena timbulnya dari pikiran diri sendiri yang menjadikannya berasumsi hal-hal yang negatif. Pikiran negatif juga dapat muncul karena adanya pendapat atau kritik yang tidak membangun dari orang lain. Sehingga menjadikan seseorang merasa dijatuhkan atau tidak percaya diri terhadap suatu hal atas pencapaiannya sendiri. Kemudian dengan hilangnya rasa percaya diri akan menjadikan seseorang menyalahkan diri mereka sendiri bahkan membandingkan dengan kemampuan yang orang lain miliki.

Dalam penelitian yang telah dilakukan Ridlo (2020), mengenai kesehatan mental melalui swaperiksa yang dihimpun oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) menjelaskan bahwa sebanyak 63 persen responden mengalami cemas dan 66 persen responden mengalami depresi akibat pandemi COVID-19. Gejala cemas utama adalah merasa khawatir sesuatu yang buruk akan terjadi, khawatir berlebihan, mudah marah, dan sulit rileks. Sementara gejala depresi utama yang muncul adalah gangguan tidur, kurang percaya diri, lelah, tidak bertenaga, dan kehilangan minat. Kemudian sebanyak 80 persen responden memiliki gejala stres pasca trauma psikologis karena mengalami atau menyaksikan peristiwa tidak menyenangkan terkait COVID-19. Gejala stres pasca trauma psikologis berat dialami 46 persen responden, gejala stres pasca trauma psikologis sedang dialami 33 persen responden, gejala stres pasca trauma psikologis ringan dialami 2 persen responden, sementara 19 persen tidak ada gejala. Adapun gejala stres pascatrauma yang menonjol yaitu merasa berjarak dan terpisah dari orang lain serta merasa terus waspada, berhati-hati, dan berjaga-jaga (Perhimpunan Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa Indonesia, 2020).

Dari beberapa kasus depresi diatas dapat diketahui bahwa tingkat percaya diri yang rendah, kurang bertenaga atau lelah, dan hilangnya minat dalam suatu hal, akan menjadikan seseorang mengalami stres atau depresi. Sehingga untuk mengembalikan atau membangun kembali rasa percaya diri agar tingkat optimisme tidak hilang harus meningkatkan self esteem tersebut dalam diri. Seseorang harus melawan rasa cemas dan pesimisnya. Karena bersikap optimis sangat penting untuk menghadapi dan menjalani kehidupan di era new normal. Mental seseorang harus sehat sehingga ketika pikiran mereka sehat, jiwa dan tubuh mereka juga akan sehat dan mudah dalam beraktivitas sehari-hari dengan nilai-nilai positif yang diberi dari dalam diri.

Self esteem merupakan hasil penilaian yang dilakukannya dan perlakuan orang lain terhadap dirinya dan menunjukkan sejauh mana individu memiliki rasa percaya diri serta mampu berhasil dan berguna (Syahidah, dkk). Menurut Srisayekti, W., & Setiady, D. A. (2015) mengemukakan bahwa Harga diri (self-esteem) dipandang sebagai salah satu aspek penting dalam pembentukan kepribadian seseorang. Manakala seseorang tidak dapat menghargai dirinya sendiri, maka akan sulit baginya untuk dapat menghargai orang-orang di sekitarnya. Rasyid, M., dkk (2021) mengatakan bahwa self-esteem dalam perkembangannya terbentuk dari hasil interaksi individu dengan lingkungan dan atas sejumlah penghargaan, penerimaan, dan pengertian orang lain terhadap dirinya.

Self esteem (harga diri) menjadi salah satu faktor yang dapat membentuk optimisme dalam jiwa seseorang. Self esteem sangat penting keberadaannya di era new normal ini pada setiap elemen masyarakat. Dimana pelajar terutama mahasiswa yang harus melakukan sistem pembelajaran baru. Menerapkan protokol kesehatan, menjaga jarak, dan sebagian besar masih dengan pembelajaran online. Dimana dunia sosial dan pendidikan harus dapat mereka hadapi dengan tenang dan bijak. Segala tuntunan kehidupan di era kenormalan baru harus mampu membentuk karakter baik para pelajar.

Tantangan-tantangan yang dihadapi mahasiswa dalam pembelajaran setidaknya mampu mendewasakan mereka sehingga mereka akan terlatih dengan kondisi yang akan datang. Begitu pula masyarakat pada umumnya. Kehidupan ekonomi dan sosial harus mampu mereka hadapi dengan optimis setiap harinya. Tanpa adanya sikap optimis dalam diri, akan menyebabkan mereka depresi atau stres dengan keadaan yang terjadi. Sehingga  self esteem ini perlu ditingkatkan kembali pada diri setiap orang. Individu yang memiliki self-esteem tinggi menunjukkan dirinya menjadi pribadi yang optimis; puas dan bangga terhadap dirinya sendiri; lebih sensitif terhadap tingkat kemampuan/kompetensi, mengabaikan umpan kembali negatif & mencari umpan balik mengenai kompetensi; menerima peristiwa negatif yg dialami dan berusaha memperbaiki diri; tak jarang mengalami emosi positif seperti senang, bahagia fleksibel, berani, & lebih mampu mengekspresikan diri saat berinteraksi dengan orang lain yaitu dengan aktif dan berusaha untuk melakukan sesuatu supaya kemampuan dirinya meningkat (menumbuhkembangkan dirinya); berani merogoh resiko; bersikap positif terhadap orang lain, kelompok, atau institusi; berpikir konstruktif (fleksibel); mampu mengambil keputusan yang diambilnya dengan tepat.

Di era new normal ini, seseorang dapat meningkatkan self esteem dalam diri dengan melakukan kegiatan-kegiatan yang bernilai positif, meninggalkan aktivitas yang tidak memberi dampak baik bagi dirinya, dan selalu berusaha menerima dan menghargai capaian diri sendiri sehingga dengan begitu dapat meningkatkan motivasi dalam mengasah kemampuan. Kemudian juga tidak lupa untuk selalu mengevaluasi diri, sehingga minimnya terjadi kesalahan yang berulang kali. Adanya sistem kenormalan baru, menjadikan setiap individu harus mampu saling memahami antar sesama.  Tidak sedikit seseorang menyingkirkan sikap peduli, menghargai, dan toleransi, demi memenuhi keinginannya semata. Untuk itu, penting bagi kita dalam membasmi sikap-sikap negatif terutama dalam diri sendiri.

SIMPULAN

Self esteem menjadi hal yang sangat penting yang harus selalu ditingkatkan. Terlebih lagi di era kenormalan baru ini, dimana sistem kehidupan sosial bermasyarakat, kehidupan pendidikan, dan  ekonomi tidak lagi seperti sebelumnya. Setiap orang harus mampu beradaptasi dengan cepat dan tepat agar mereka dapat kembali melakukan segala kegiatan dengan memberikan dampak-dampak positif. Lemahnya self esteem dalam diri seseorang akan menjadikannya lebih mudah stres, depresi karena berbagai masalah yang mereka hadapi saat ini. Segala tantangan baru bermunculan, sehingga tiap individu harus meningkatkan self esteem agar mereka memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Mampu menghargai capaian diri mereka sendiri. Dengan adanya motivasi yang tinggi tentu menjadikan individu lebih optimis dalam menjalani masa depannya.

DAFTAR RUJUKAN

Febrina, D. T., Suharso, P. L., & Saleh, A. Y. (2018). Self-esteem remaja awal: Temuan baseline dari rencana program self-instructional training kompetensi diri. Jurnal Psikologi Insight2(1), 43-56.

Rasyid, M., Rahmah, D. D. N., & Permatasari, R. F. (2021). Teacher’s Academic Optimism dalam Menghadapi Proses Belajar Mengajar Daring Selama Masa Pandemi Covid-19. Psikostudia: Jurnal Psikologi10(1), 90-97.

Ridlo, I. A. (2020). Pandemi Covid-19 dan tantangan kebijakan kesehatan mental di Indonesia. INSAN Jurnal Psikologi Dan Kesehatan Mental5(2), 162-171.

Srisayekti, W., & Setiady, D. A. (2015). Harga-diri (self-esteem) terancam dan perilaku menghindar. Jurnal psikologi42(2), 141-156.

Syahidah, F. A., Cahyo, G. J. P., Nadziroh, I., Kristanti, S. A., Rahmawati, R. P. V., & Koeswirawan, B. A. (2020, August). SELF ESTEEM WARGA INDONESIA YANG DI EVAKUASI DARI WUHAN TERHADAP ONLINE SHAMING VIRUS CORONA CINA. In Seminar Nasional Psikologi UM (Vol. 1, No. 1).

Related posts

Leave a Comment