4 April 2020

Unit Kegiatan Mahasiswa Penulis

Universitas Negeri Malang

Cerpen – Titik Temu

   Titik Temu

Oleh : Rahmawati Eka Lestari

 

          Kata orang jatuh cinta itu rasanya sangat indah.

          Seseorang akan mengaku bahwa dunianya akan lebih berwarna ketika menyukai seseorang. Berada didekatnya membuat irama jantung seakan indah didengar. Senyuman dari orang yang disuka pun mampu mengalihkan dunia.

          Bagaikan kupu-kupu berterbangan didalam perut, itu yang dirasa ketika ia menyapamu. Kemudian meronanya kedua pipi ketika ia balas memperhatikanmu. Ah, indahnya cinta.

          Tapi… itu kata mereka.

          Karena… kisah cintaku tidak akan seindah mereka.

          Tidak seperti sepasang adam dan hawa yang saling menatap penuh cinta. Tidak ada balasan senyum yang melegakan hati. Yang ada hanya caci dan maki yang membuat perasaan tersakiti.

          Dia Haidar Damar Lintang. Entah sejak kapan aku mulai menyukainya, mungkin sejak pertama kalinya ia tersenyum di dalam kelas pada saat pelajaran seni rupa saat itu. Atau mungkin ketika ia memanggil namaku untuk yang pertama kalinya.

          Aku rasa itu adalah saat-saat pertama aku mulai jatuh cinta dengannya. Aku pikir semuanya akan baik-baik saja setelah ku ungkap semua. Aku pikir perasaan ini akan terbalaskan pada saatnya nanti.

          Ternyata dugaanku salah. Ia membenciku. Aku tidak mengerti dimana kesalahanku, yang ku lakukan hanyalah jujur padanya mengenai perasaanku. Ia tersenyum sinis, kemudian pergi meninggalkanku.

          Badanku rasanya seperti jeli, bahkan kaki ku seakan tak mampu lagi rasanya untuk berdiri. Aku menumpukan dahiku diatas lutut lalu dengan kurang ajarnya air mataku mengalir di kedua pipiku.

          Apakah aku ditolak?

 

***

 

          “Wah… ini nih yang sok kecantikan sama Haidar. Eh… liat deh Sof, cantikan elo deh sumpah.”

          Gadis yang bernama Sofia ini menganggukkan kepalanya setuju. Ia maju selangkah lalu mengangkat daguku.

          “Lo serius Nad, denger dia yang nyatain perasaannya ke Haidar?”

          Sepertinya Sofia tidak begitu yakin dengan apa yang diucapkan oleh Nadia temannya. Dengan tegas Nadia menganggukkan kepalanya yakin, kemudian memberikan tatapan sinis kepadaku.

          “Sumpah deh, gue denger tadi jelas-jelas dia ngomong suka sama Haidar… tapi langsung ditinggal dong. Utututu… kasian banget sih.”

          Yang ku lakukan hanya terdiam ketika tangan Nadia mulai mendorong beberapa kali kepalaku ke samping. Bukannya aku tidak berani melawannya, hanya saja… aku ingin semuanya cepat berakhir.

          Sofia lalu menarikku ke salah satu bilik toilet. Kalian bisa menebak apa yang terjadi setelahnya… mereka merisakku.

          Baik Nadia maupun Sofia mereka menarik rambutku, lalu tertawa licik melihat ringisan di wajahku. Bukan seperti ini yang aku harapkan. Berapa kali aku mencoba melawan mereka, nihil, dua lawan satu bukanlah tandingan yang seimbang.

          “Sakila gue ingetin sekali lagi ya… lo jangan terlalu berharap banyak dengan Haidar. Lo emang cantik, tapi masih cantikan gue.” Sofia mengangkat dagunya angkuh, membuat Nadia disampingnya menyeringai.

          “Haidar lebih cocok sama gue, Sofia Alexa. Degar baik-baik dan lo harus ingat itu.”

          Setelah itu Nadia dan Sofia pergi meninggalkanku yang terduduk di kamar mandi, merenungi nasib pakaianku yang basah karena disiram oleh Nadia.

***

 

          “Kamu ingat gak sama gadis yang dulu nemenin kamu selama di rumah sakit?”

          Haidar yang awalnya tengah membaca buku biologi ditangannya langsung mengalihkan atensinya kepada sang mama yang berada di sampingnya.

          “Ingat kok, tapi kan Haidar gak sempet melihat mukanya.”

          Mama Haidar tersenyum tipis, tangannya terulur mengelus puncak kepala anak semata wayangnya.

          “Katanya kamu mau ketemu sama dia terus mengucapkan terima kasihkan? Mama dengar dari Mang Udin ternyata gadis itu satu sekolahan sama kamu.”

          Haidar mengerjapkan mataya, kini dia benar-benar meletakkan bukunya di atas meja. Menurutnya info tentang gadis itu lebih membuatnya penasaran ketimbang buku pelajaran miliknya.

          “Kalau gak salah, namanya… sebentar, mama lupa. Kalau gak salah namanya Sakila Bella… ah iya, Sakila Bella Permata.”

          Deg…

          Bagai disambar petir di siang hari, Haidar terkejut mendengar fakta tersebut. Sebentar, Sakila yang mamanya maksud ini bukan Sakila Bella Permata anak kelasnya itu bukan? Tapi ia rasa gadis yang memiliki nama seperti ini di sekolahnya hanya Sakila anak kelasnya, Sakila yang tempo lalu menyatakan perasaannya kepada Haidar.

          “Mama yakin kalau nama panjangnya emang Sakila Bella Permata? Gak salah.”

          Alis sang mama langsung mengkerut bingung, kemudian wanita yang sudah berumur namun masih cantik parasnya itu langsung tersenyum menatap putranya.

          “Iya, mama yakin banget namanya Sakila Bella Permata. Kenapa Dar?”

          Haidar mengusap wajahnya kasar kemudian menatap sang mama dengan wajah menyesal.

          “Haidar bikin perasaan dia hancur ma, Haidar bikin dia nangis.”

 

***

 

          Pemuda itu menunggu seseorang dengan gelisah. Sedari tadi kepalanya tak henti-hentinya menoleh ke kiri dan kanan demi mendapatkan seseorang yang ia tunggu. Namun nihil, sampai bel tanda masuk berbunyi pun gadis itu tak menunjukkan batang hidungnya sama sekali.

          Bahkan ketika Ibu Arina mengabsen siswanya, gadis itu belum muncul juga.

“Sakila Bella Permata sedang sakit.”

Lamunan Haidar terpecah ketika teman sebangkunya, ketika Raihan berbisik pelan padanya.

“Lo tau dari mana?”

“Gue kan tetangganya Sakila, lo lupa atau emang gak tahu?”

Haidar meringis lalu menggelengkan kepalanya. “Gue gak tahu.”

Setelah kelas benar-benar berakhir, Haidar menggeser bangkunya menghadap ke arah Reihan yang sibuk memasukkan buku-bukunya ke dalam tas.

“Dia sakit apa?”

Raihan menggelengkan kepalanya. “Gak tau gue… kata mamanya sih tadi cuma demam, kenapa? lo mau jenguk dia?”

Ada nada mengejek di sana, tapi anggukan dari Haidar membuat Raihan membulatkan kedua matanya. Bukankah teman sebangkunya ini sangat membenci gadis itu?

Tapi lihatlah sekarang dia, Haidar Damar Lintang ingin menjenguk gadis itu, Sakila Bella Permata? Wah… rasa-rasanya Raihan ingin menceburkan diri ke dalam kolam renang sekolah saking kagetnya dengan keputusan pemuda disampingnya ini.

“Lo gak sakitkan?”

Dengan kurang ajarnya punggung tangan kanan Raihan menempel di kening Haidar, membuat Haidar menepis kasar tangan Raihan lalu menatapnya tajam.

“Kenapa sih lo?!”

Raihan menunjukkan cengirannya lalu ia menggedikkan bahunya. “Ya gue kaget aja gitu, sebelumnya kan lo gak suka sama dia. Terus sekarang lo malah nyariin dia, gila gak sih?”

“Lo yang gila.”

Haidar mendengus, ia berdiri lalu melangkahkan kakinya meninggalkan kelasnya.

“Tunggu woy!”

Raihan menyusul Haidar lalu menyamakan langkah kakinya, dia menatap Haidar dengan bingung.

“Lo gak mau cerita sama gue, Dar?”

“Sekarang yang terpenting anterin gue ke rumah Sakila, nanti gue ceritain sambil jalan”

***

          Raihan membulatkan menatapnya dengan pandangan tidak percaya. Beberapa kali pemuda itu mencubit lengan kirinya, memastikan bahwa informasi yang baru saja diberi tahu oleh Haidar itu nyata bukan imajinasinya saja.

          “Lo serius?! Jadi Sakila itu cewek yang nyelametin lo? Yang bawa lo ke rumah sakit pas lo balap liar beberapa bulan yang lalu?”

          Haidar mendengus, reaksi yang Raihan tunjukkan menurutnya sangat berlebihan. Pemuda itu berjalan meninggalkan Raihan yang masih sibuk memahami informasi yang baru saja mengejutnya.

          Sadar kalau dirinya ditinggalkan, Raihan melangkahkan kakinya mengejar sahabatnya itu. Setelah sampai di parkiran sekolah, Haidar melemparkan kontak motor miliknya yang langsung ditangkap dengan baik oleh Raihan.

          “Lo yang bawa motor, gue lagi males.”

          Raihan menganggukkan kepalanya paham. Kemudian kedua pemuda itu meninggalkan area sekolahnya. Tujuan mereka kali ini adalah rumah Sakila. Di dalam perjalanan menuju rumah Sakila, Raihan tak henti-hentinya mengoceh membuat Haidar kesal setengah mati.

          Pasalnya Raihan tengah menyetir tetapi pemuda itu asik berbicara sehingga mereka hampir menabrak mobil didepannya ketika berada di lampu merah.

          Raihan hanya menunjukkan cengirannya karena membuat Haidar kesal, untungnya lelaki itu sedang membutuhkan Raihan kali ini jadi dia memaafkannya dan mereka pun melanjutkan perjalanan ke rumah Sakila.

          Sesampainya di depan rumah Sakila mereka berdua saling bertukar pandang. Setelah bernegosiasi alot tentang siapa yang duluan menekan bel di pintu akhirnya Haidar mengalah, pemuda itu memberanikan dirinya sehingga membuat sang sahabat karib tersenyum lebar.

          “Dari tadi kek Dar, kan gue jadi gak capek ngebacot.”

          Haidar hanya memutar kedua matanya malas. Tak lama setelah itu seseorang membukakan pintu rumah. Ketika pintu terbuka lebar, muncul wanita yang sudah berumur namun masih cantik parasnya.

          Baik Raihan maupun Haidar sama-sama tersenyum lalu mereka menyalimi ibunda dari Sakila.

          “Permisi tante, perkenalkan nama saya Haidar.”

          Bundanya Sakila tersenyum hangat. Beliau mempersilahkan kedua pemuda itu masuk ke dalam rumahnya setelah mendengar penjelasan bahwa kedua teman anaknya ini ingin menjenguk Sakila.

          “Raihan sama Haidar masuk aja ke kamar Sakila. Tante mau nyiapin makanan dulu buat kalian.”

          “Aduh gak usah repot-repot tan, saya sama Raihan cuma mau jenguk Sakila sebentar kok.”

          “Gak papa tan, Raihan laper banget habis pulang sekolah. Hehehe.”

          Haidar memberikan tatapan tajam ke Raihan, namun hanya dibalas cengiran tak berdosa dari lelaki itu.

          Bundanya Sakila hanya terkekeh geli. “Gak papa Nak Haidar, si Raihan emang kayak gitu. Sebentar ya bunda siapin dulu makanannya kalian naik aja ke atas.”

          Setelah itu Bundanya Sakila meninggalkan mereka berdua. Kedua pemuda itu pun langsung menaiki anak tangga, dalam diamnya Haidar berdoa agar gadis itu nanti mau memaafkannya.

***

          Decitan pintu kamar membuatku mengalihkan atensi yang tadinya fokus ke layar ponsel kini teralih ke arah pintu. Mataku membelalak kaget ketika menyadari bahwa Haidarlah yang datang, namun langsung bernafas lega ketika tahu bahwa ia tak sendiri, ada Raihan yang datang mengekorinya.

          Baik Raihan maupun Haidar sama-sama tersenyum canggung ketika mereka melangkahkan kakinya mendekat ke kasurku. Aku tersenyum tipis menyambut kedatangan mereka.

          “Tumben banget kalian berdua jenguk aku, ada apa nih?”

          Haidar menggusap tekuknya, kemudian dia menatap lurus ke arah mataku. “Ada yang mau gue omongin.”

          Aku hanya menganggukkan kepala mengerti. Sedang Raihan tiba-tiba menyahut, “gue mau bantuin bunda lo di dapur deh… kalian berdua selesaikan masalah kalian baik-baik ya, Dar jangan macem-macem lo ya  gue tinggal sama anak perawan berduaan!”

          “Bacot amat anaknya Om Adi!”

          Raihan tertawa puas, setelah itu ia benar-benar meninggalkanku bersama Haidar di dalam kamar dengan suasana yang sangat canggung. Kita sama-sama terdiam beberapa saat menikmati dentingan jam di setiap detiknya.

          Haidar tiba-tiba melangkahkan kakinya, duduk dipinggiran kasur milikku yang hampir saja membuatku salah tingkah karenanya. Haidar menatapku lembut, tatapan yang sebelumnya belum pernah ia tunjukkan kepadaku.

          “Sa, gue mau minta maaf sama lo. Maaf banget karena ucapan kasar yang gue ke lo tempo lalu buat perasaan lo sakit, gue nyesel.”

          Aku tersenyum tipis. Sebenarnya aku sudah memaafkan Haidar.

          “Haidar gak usah khawatir, Sakila udah maafin Haidar kok.”

          Haidar tersenyum senang, dia memandang Sakila yang balas tersenyum menatapnya. “Serius lo maafin gue?”

          “Iya Haidar…”

          “Terima kasih ya.”

          Aku memiringkan kepala, menatap Haidar dengan bingung. “Untuk?”

          “Semuanya.”

***

          Sekarang aku membenarkan perkataan orang-orang  tentang indahnya perasaan jatuh cinta. Kali ini bukan lagi tentang cinta tak terbalas atau ia membenciku.

          Sekarang adalah tentang aku, Sakila Bella Permata dan juga Haidar Damar Lintang yang saling mencintai. Tepat sehari setelah aku sembuh, Haidar selalu datang mencuri perhatianku. Awalnya aku takut akan dibully kembali oleh Sofia dan teman-temannya.

          Namun siapa sangka, ternyata Haidar sudah mengetahui semuanya. Dia melaporkan apa yang telah dilakukan oleh Sofia dan teman-temannya yang tentu saja langsung ditindak lanjuti dengan barang bukti CCTV yang ada di depan toilet sekolah.

          Beberapa minggu setelahnya Haidar yang dengan segala kejutan yang ia buat menyatakan perasaannya padaku di lapangan basket. Aku tahu rencana Tuhan akan selalu indah disetiap jalannya. Tuhan tak akan memberikan cobaan kepada umatnya melebihi kemampuannya.

          “Filmnya ngebosenin ya?”

          Aku menggelengkan kepala lalu tersenyum. Walau pun pencahayaan kurang namun aku masih bisa melihat raut wajah khawatir Haidar. Jemarinya saling bertautan dengan jemariku. Haidar kemudian mencium punggung tanganku lalu mendekatkan wajahnya ke telingaku.

          “Maaf dan terima kasih.”

          Haidar mencium pelipisku kemudian ia merangkulku. Bahkan film yang sedang diputar di bioskop tidak semenarik Haidar di sebelahku. Aku mencintai Haidar, jauh sebelum kecelakaan itu terjadi. Haidar pun mengetahuinya sekarang dan aku tak punya alasan untuk menolak cintanya.

 

 

 

End